
Dewa dan Fadli telah bersiap siap dengan beberapa anggota terbaiknya. Seperti yang di perintahkan Aldyanta, malam ini mereka harus menyusup ke sebuah tempat hiburan malam yang menjadi tempat perjual belian narkoba dan berbagai jenis barang haram lainnya.
Dewa dan Fadli sengaja menyamar dan mengunakan identitas palsu agar tidak di kenali oleh penjaga di sana. Dewa dan Fadli segaja menyuruh beberap anggotanya untuk masuk terlebih dahulu dan memeriksa keadaan di dalam sana.
"Dew, itu bukannya" ucap Fadli melihat Frans sedang berbicara dengan beberapa penjaga di sana.
"Dia kan putra Ringgo sudah pasti dia juga turun tangan menjalankan bisnis haram tua bangka itu" ucap Dewa santai sambil menghidupkan sebatang rokok di mulutnya.
"Kamu benar. Walaupun suka bicara secara asal tapi mulutmu itu ada gunanya juga"
"Maksudmu apa?" ucap Dewa tidak mengerti.
"Ringgo dan ketua gangster Lord sama sama menjalankan bisnis haram. Jadi sudah di pastikan mereka mempunyai hubungan dekat. Jika kita berhasil menghancurkan salah satu bisnis haram mereka, pasti ketua gangster Lord secara tidak sengaja akan menunjukkan dirinya"
"Kamu benar juga. Kita akan mulai dengan tempat hiburan ini" ucap Dewa tersenyum licik.
"Tidak, kita tidak bisa mengikuti ide gilamu itu. Di sini banyak orang, jika kita menyerang tempat ini secara langsung. Akan di pastikan akan banyak korban yang akan bertaburan bahkan orang orang yang tidak bersalah" ucap Fadli tidak setuju dengan ide Dewa.
Walaupun Dewa belum memberitau apa yang ada di dalam pikirannya. Tapi, Fadli langsung mengetahui ide gila yang akan di ucapkan Dewa.
"Kamu terus saja memikirkan yang tidak tidak denganku. Aku tidak ingin menyerang tempat ini secara tidak langsung. Tapi, mengunakan ini" ucap Dewa memperlihatkan sebuah alat penyedot suara yang berukuran sangat kecil.
"Untuk apa ini?" ucap Fadli binggung.
"Untuk mengetahui siapa ketua gangster sialan itu yang sebenarnya. Kita akan meletakkan ini di beberapa tempat khusus di tempat ini. Salah satunya di ruangan pertemuan para pemasok barang barang haram itu" jelas Dewa.
"Terserahmu saja! yang penting ingat kata tuan muda. Malam ini harus tuntas" jelas Fadli.
"Baik, sekarang lebih baik kita masuk" ucap Dewa langsung saja melangkahkan kakinya memasuki tempat hiburan malam itu.
Fadli langsung saja melangkahkan kakinya mengikuti Dewa. Sesampainya di pintu masuk mereka di halangi oleh beberapa penjaga.
__ADS_1
"Bisa perlihatkan tanda pengenal kalian" ucap salah satu penjaga itu.
Dewa dan Fadli langsung saja memberikan tanda pengenal bandar narkoba, yang sengaja dia curi dari beberapa angota salah satu bandar narkoba yang selalu mengambil barang di tempat itu.
"Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu" ucap pengawal itu di mana hari ini jadwal pengambilan barang bandar narkoba yang Dewa curi identitasnya.
Dewa dan Fadli langsung saja menganguk lalu melangkahkan kakinya memasuki tempat hiburan itu. Sesampainya di dalam beberapa wanita langsung saja mengoda Dewa dan Fadli.
"Ingat waktu kita tidak lama. Kamu jangan gegabah" ucap Fadli mengingat pemilik asli kartu pengenal yang mereka gunakan masih terikat di dalam mobil mereka.
"Aman" ucap Dewa santai lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan penyerahan barang haram itu.
Namun, langkah Dewa langsung saja berhenti ketika melihat Frans sedang masuk ke sebuah ruangan dengan beberapa orang pria. Dewa yang sejak awal sudah mencurigai Frans langsung saja mencari cara agar bisa masuk ke ruangan itu.
"Fad, kamu jaga di sini" ucap Dewa melihat lorong itu sangat sepi dan hanya ada seorang cleaning servis yang sedang mendorong troli makanan.
Fadli langsung saja menurut lalu menatap Dewa yang berjalan mendekati cleaning servis itu. Terlihat Dewa sedang berbincang bincang dengan cleaning servis itu sehingga akhirnya Dewa memukulnya sampai pingsan.
"Sudah jangan banyak tanya. Sembunyikan saja dia di sana" ucap Dewa memakai pakaian cleaning servis itu.
Fadli langsung saja menurut lalu menyeret cleaning servis itu ke sebuah ruangan kosong. Setelah itu Fadli langsung saja menghampiri Dewa dengan kebingungan.
"Kamu jalankan rencana yang pertama. Aku akan jalankan rencanaku sendiri. Ingat waspada" ucap Dewa langsung saja mendorong troli itu ke ruangan yang di masuki Frans.
Melihat tingkah Dewa yang selalu memiliki rencana sendiri Fadli hanya mampu mengelengkan kepalanya pelan. Setelah itu Fadli langsung saja menelpon beberapa anak buahnya yang sudah berada di tempat hiburan itu. Karna bagaimanapun Fadli tidak akan mampu menjalankan rencana mereka seorang diri.
"pesanan makanannya, Tuan"
Ucap Dewa langsung saja masuk ke ruangan Frans dengan menyamar sebagai cleaning servis. Dewa memperhatikan ruangan itu sambil menata makanan di atas meja.
"Tunggu sebentar" ucap Frans sehingga membuat Dewa mengehentikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ia, Tuan" ucap Dewa menunduk. Jantung Dewa langsung saja berdetak tidak beraturan. Dia takut jika penyamarannya di ketahui oleh Frans. Karna dia tau Frans sudah menenali wajahnya sebagai pengawal keluarga Kusuma.
"Minumannya untuk tuan ini" ucap Frans menunjuk ke minuman yang ada di tangan Dewa.
"Maaf, Tuan" ucap Dewa langsung saja menyerahkan minuman yang ada di tangannya kepada rekan bisnis Frans yang ada di sampingnya.
Setelah selesai melakukan rencananya Dewa langsung saja pamit undur diri. Dia langsung saja merasa lega karna Frans tidak menyadari jika dia telah meletakkan alat penyedot suara di mejanya tadi.
"Rencana pertama berhasil. Sekarang aku akan periksa tugas Fadli" ucap Dewa santai langsung saja mengayunkan langkahnya menemui Fadli.
Sedangkan Fadli sedang berbicara dengan orang yang bertugas untuk penyerahan berbagai jenis narkoba. Di sela pembicaraan mereka Fadli memerhatikan situasi yang ada di ruangan itu. Setelah memastikan semuanya aman Fadli langsung saja menyodorkan senjata api kepada pria yang ada di depannya.
"Ada apa ini?" ucap pria itu gugup.
Melihat bos mereka sedang ada di dalam bahaya beberapa pengawal yang ada di dalam ruangan itu langsung saja mengangkat senjatanya ingin menyerang Fadli. Namun, angota Fadli datang tepat waktu.
"Turunkan senjata kalian! atau peluru ini akan menembus kepalanya" teriak Fadli dengan tatapan tajamnya.
Melihat mereka yang kalah jumlah para pengawal itu langsung saja menurunkan senjatanya. Mereka langsung saja mengangkat tangan mereka lalu mengikuti perintah Fadli.
Fadli langsung saja memberikan kode kepada angotanya yang sedang berjaga di bawah gedung. Dengan sigap mereka langsung saja menyiapkan alat pendaratan kepada semua orang agar selamat saat meloncat dari gedung lantai lima itu.
"Loncat sekarang!" perintah Fadli kepada pria yang berpropesi sebagai ketua pengawal yang ada di sana sambil meletakkan senjata apinya tepat di kepalanya.
"Ta... tapi, Tuan" ucap pria itu gugup sambil menatap ke bawah.
"Loncat sekarang! atau!" teriak Fadli sehingga membuat pria itu langsung saja terjun bebas tanpa banyak pikir.
"Hidup di dunia hitam yang begitu keras. Tapi, di bentak sedikit saja langsung menciut" ucap Fadli tersenyum sinis.
Bersambung.....
__ADS_1