
Frans langsung saja mencari keberadaan Julia dan juga Vina. Dia tidak bisa membiarkan mereka menyakiti wanita yang dia cintai.
"Vina!" teriak Frans ketika dia telah menemukan Vina dan Julia di kamarnya.
"Ka... kakak! ada apa?" ucap Vina pura pura bodoh.
"Kakak tau, kamukan yang mencambutkan air krdalam minyak goreng agar Delissa terkena cimpratan minyak panas?" ucap Frans mencengkram tangan Vina.
"Kakak tega membentakku hanya untuk wanita kampungan itu?" ucap Vina dengan mata berkaca kaca.
"Jangan sekali kali kau menghinanya karna dia adalah wanitaku. Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi. Kakak harap kamu bisa menjaga sikapmu kepadanya" ucap Frans menatap tajam Vina.
"Jadi kakak menyukainya?" ucap Vina menatap lekat wajah sang kakak.
"Ia, aku mencintainya. Aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya" ucap Frans tersenyum sinis.
"Aku akan membantu kakak. Kita akan menghancurkan hubungan mereka" ucap Vina tersenyum sinis. Jujur saja dia tidak terima jika Delissa bahagia dengan Aldyanta karna dia juga masih mencintai Aldyanta.
"Baiklah! tapi, kakak tidak mau kamu menyakitinya sedikit saja. Jika sampai itu terjadi maka uang sakumu akan kakak hentikan" ucap Frans tegas.
"Aku setuju" ucap Vina langsung saja menyetujui persyaratan sang kakak.
"Ya, sudah aku pulang dulu" ucap Frans langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan Vina.
"Vin, apa yang kamu rencanakan?" ucap Julia tidak mengerti dengan maksud Vina.
"Apa mama tidak tau jika Al sangat mencintai wanita kampung itu. Jika kita berhasil menjauhkan mereka maka, akan dipastikan Al akan terpuruk. Di saat itu kita akan dengan mudah menjalankan rencana kita untuk merebut seluruh harta Al" jelas Vina tersenyum licik.
"Kamu ternyata sangat pintar. Kita akan memisahkan mereka berdua" ucap Julia setuju dengan rencana Vina.
__ADS_1
*****
Sesuai rencana mereka Ervan dan Aldyanta datang ke perusahaan cabang secara diam diam. Tidak ada yang tau jika mereka datang ke perusahaan itu. Sehingga ketika Aldyanta melangkahkan kakinya melewati loby perusahaan itu dengan beberapa pengawal dan juga Ervan yang ada di belakangnya.
"Gawat, Tu..tuan muda datang" ucap direktur di sana langsung saja mencari keberadaan Heri.
"Apa! bagaimana mungkin dia datang di waktu seperti ini?" ucap Heri panik.
"Lebih baik kita tunda saja dulu" ucap sekertaris Heri yang sedang membuat cacatan perusahaan palsu.
Heri sengaja menengelamkan banyak uang perusahaan dan membuat perusahaan seolah bangkrut. Dengan begitu dia akan dengan mudah mengambil alih perusahaan itu dengan cara alasan harus menjualnya.
"Selamat siang, Tuan. Tuan muda menyuruh kita untuk datang ke ruang rapat secepatnya" ucap salah karyawan di kantor itu.
"Baik. Kami akan segera ke sana" ucap Heri terus saja mengatur napasnya. Jantungnya berdetak kencang di tambah keringatnya yang bercucuran karna ketakutan. Semua rencana mereka belum selesai sehingga kemungkinan besar kejahatan mereka akan segera di ketahui oleh Aldyanta.
Sesampainya di ruang rapat Aldyanta langsung saja memeriksa semua dokument yang di berikan oleh orang kepercayaannya. Dia langsung saja tersenyum sinis ketika melihat jumlah uang yang di gelapkan Heri begitu besar.
Mata Aldyanta langsung saja tertuju kepada beberapa orang pria yang masuk ke ruangannya. Aldyanta menatap lekat satu persatu wajah orang yang berani menghianatinya.
"Coba jelaskan ini" ucap Aldyanta melemparkan dokument yang berisi kejahatan Heri.
Heri langsung saja mengambil dokement itu lalu membacanya dengan teliti. Di sana terlihat dengan jelas jumlah uang yang telah di gelapkan oleh Heri. Di sana juga terlihat dengan jelas beberapa produk emas mereka yang hilang tidak jelas kemana.
"Maaf, kak. Aku kena tipu. Aku telah melakukan penjual belian emas kita kepada salah satu rekan bisnis kita. Tapi, mereka membawa lari emas itu dan tidak membayarnya sepeserpun" jelas Heri menunduk.
"Apa benar yang di katakannya?" ucap Aldyanta menatap tajam sekertaris Heri yang berdiri di samping Heri.
"Ia, Tuan. Maafkan kami yang tidak bisa menjalankan tugas kami dengan baik" ucap sekertaris Heri menunduk ketakutan.
__ADS_1
"Terus bagaimana dengan rekaman ini?" ucap Aldyata memperlihat sebuah rekaman ke Heri.
Disana terlihat dengan jelas Heri dan beberapa karyawan kantor menyuruh beberapa orang yang tak di kenal membawa satu koper emas dari perusahaan mereka.
Heri langsung saja membulatkan matanya terkejut. Dari mana Aldyanta mendapatkan rekaman itu padahal Dia telah membersihkan semua bukti bukti tentang kejahatannya yang itu.
"Dan ini" ucap Aldyanta melemparkan dokument berisi surat mengalihan nama perusahaan dari nama Aldyanta ke Heri.
"Da... dari mana kakak mendapatkan ini?" ucap Heri gugup.
Mendengar ucapan Heri, Aldyanta langsung saja mengerakkan tangannya menyuruh Ervan untuk bertindak. Ervan langsung saja memberi kode kepada pengawal untuk membawa pengacara keluarga kusuma yang berhianat.
Pengawal Aldyanta langsung saja membawa pengacara keluarga kusuma yang telah babak belur masuk ke ruangan itu. Melihat itu Heri dan beberapa orang yang mendukung perbuatannya langsung saja menunduk ketakutan.
"Ma... maafkan kamu, Tuan. Kami hanya ingin mempertahankan jabatan kami. Karna dia mengancam akan memecat kami secara tidak hormat jika kami tidak membantunya" ucap Direktur perusahaan dan beberapa pegawai lainya bersimpuh di kaki Aldya ta.
Aldyanta langsung saja membuang napasnya kasar lalu menyuruh para pengawalnya untuk membawa para penghianat itu pergi dari hadapannya.
"Bereskan mereka" ucap Aldyanta dengan tatapan tajamnya sehingga membuat semua karyawan di sana langsung saja menunduk ketakutan.
Sedangkan Heri hanya terdiam menunduk tidak berani menatap Aldyanta. Dia meremas tangannya kasar sambil memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini. Heri mencoba memencet gelang yang ada di tangannya. Dimana gelang itu telah terhubung langsung dengan ketua gangter Lord.
Aldyanta yang mengetahui jika Heri sedang meminta bantuan langsung saja tersenyum sinis. Dia berusaha untuk diam seperti tidak mengetahui apa apa. Dia langsung saja berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya mendekati Heri.
Setelah sampai tepat di depan Heri, Aldyanta langsung saja menghentikan langkahnya lalu memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Dia menatap tajam pria yang bersetatus sebagai kakak tirinya itu dengan tatapan tajamnya.
"Jangan pernah terlintas di pikiran kalian untuk menghianatiku, jika kalian tidak ingin melihat wujud asliku yang sebenarnya. Karna, aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menghianatiku dan berani mengusikku" ucap Aldyanta dingin sambil menatap satu persatu karyawannya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaannya.
Setelah mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya. Aldyanta langsung saja memberi kode kepada Ervan untuk menyuruh semua karyawannya yang ada di sana untuk keluar.
__ADS_1
Bersambung.....