Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
57# Menjalankan Rencana


__ADS_3

Aldyanta menatap tajam pria yang ada di depannya. Kini dia hanya berdua dengan Heri dengan pengawasan Ervan dan juga beberapa pengawalnya yang berdiri memperhatikan mereka.


"Siapa yang ada di belakangmu?" ucap Aldyanta langsung saja melemparkan tatapan tajamnya.


"Maksudmu apa, Al? Tidak ada yang berada di belakangku sama sekali" ucap Heri membela diri.


"Katakan siapa yang ada di belakangmu! Atau aku yang akan mencaritaunya sendiri" ucap Aldyanta meneraskan rahangnya.


"Tidak ada Al, tidak ada yang berada di belakangku sama sekali"


"Lalu apa ini?" ucap Aldyanta menunjukkan sebuah rekaman cctv kepada Heri.


Di sana terlihat dengan jelas Heri dan beberapa orang pria yang sedang memakai pakaian dokter memasuki ruang rawat Deddy Aldyanta. Di sana terlihat mereka membagi tugas. Dimana Heri masuk kedalam ruang rawat Deddy Aldyanta dengan membawa sebotol obat dan alat suntik yang di berikan oleh seorang pria. Namun, wajah pria tersebut tidak terlihat karna posisinya sedang membelakangi cctv.


Setelah Heri masuk ke dalam ruangan itu, para pria yang tertinggal di luar langsung saja membagi tugas. Ada yang berjaga di pintu dan ada juga yang mengawasi area sekitar. Setelah beberapa menit Heri langsung saja keluar dengan senyuman penuh kemenangan.


Setelah tugas mereka selesai mereka langsung saja pergi meninggalkan ruangan itu. Setelah kepergian mereka seorang suster datang untuk memeriksa keadaan Deddy Aldyanta. Namun, suster itu langsung saja berteriak meminta pertolongan.


Di sana terlihat dengan jelas para suster dan dokter langsung saja berlarian ke arah ruangan Deddy Aldyanta. Mereka langsung saja sibuk keluar masuk untuk memberi pertolongan kepada Deddy Aldyanta.


Melihat itu Heri langsung saja membulatkan matanya terkejut. Dia tidak menyangka jika Aldyanta dan orang orangnya bisa mendapatkan bukti rekaman itu. Padahal Heri dan orang orangnya telah memusnahkan memori cctv yang ada di sekitar ruangan Deddy Aldyanta saat itu juga.


"Katakan apa tujuanmu masuk kedalam keluargaku?" ucap Aldyanta menarik kerah baju Heri lalu menatapnya dengan tatapan membunuhnya.


"Ti...tidak ada. Aku tidak punya tujuan untuk masuk ke rumahmu. Aku hanya menuruti keinginan mama yang ingin menikah dengan Deddy" jelas Heri gemetar ketakutan.


Bugh...


Aldyanta langsung saja melayangkan tinjunya sehingga Heri langsung saja jatuh tersungkur ke lantai. Tak hanya itu Aldyanta kembali menarik kerah baju Heri dengan penuh amarah. Dia menatap pria yang bersetatus sebagai kakak tirinya itu dengan penuh kebencian dan juga dendam yang membara.

__ADS_1


"Katakan siapa yang membantumu selama ini?" ucap Aldyanta kembali mengulang pertanyaannya.


"Tidak ada, Al" ucap Heri terus saja berbohong.


Jawaban Heri yang terus saja membuat emosi Aldyanta semakin memunjak membuat Aldyanta langsung saja hilang kendali.


"Katakan apa tujuanmu membunuh Mommy dan Deddyku? Ha!" teriak Aldyanta sambil menodongkan senjata apinya tepat di kepala Heri.


"Tuan, jaga emosi anda. Biar saya yang akan memberekannya" ucapa Ervan menenangkan Aldyanta yang telah terbakar amarah.


Ervan tidak mau Aldyanta melakukan kecerobohan. Apalagi mengingat mereka masih berada di kantor dan karyawan mereka pasti akan mendengar suara tembakan Aldyanta.


"Lepaskan gelang yang ada di tangannya" ucap Aldyanta tidak mau jika musuh mengetahui siapa mereka sebenarnya.


Ervan yang mengerti dengan maksud Aldyanta langsung saja menarik gelang yang ada di tangan Heri. Heri yang merasa jika nyawanya sedang terancam langsung saja menunduk ketakutan. Dia tidak menyangka jika rencana mereka yang mereka siapkan secara matang matang ternyata gagal di tengah jalan.


"Bawa dia keluar dari sini. Pastikan dia tidak kabur" ucap Aldyanta kepada para pengawalnya.


Setelah para pengawalnya keluar Aldyanta langsung saja merogoh saku cepananya lalu mengambil ponselnya yang berbunyi. Aldyanta langsung saja membulatkan matanya ketika membuka pesan masuk dari emailnya.


"Delissa?" gumam Aldyanta mengusap wajahnya kasar ketika melihat foto Delissa yang sedang di peluk oleh Frans yang sengaja di kirim orang yang tidak di kenal kepada Aldyanta.


"Ada apa, Tuan?" ucap Ervan ketika melihat raut wajah Aldyata yang berubah.


"Kamu cari tau siapa yang mengirim foto ini" ucap Aldyanta langsung saja memberikan ponselnya ke Ervan.


Aldyanta langsung saja mengontrol dirinya dan duduk di bangku kuasanya. Dia mencoba berpikir apa yang telah terjadi sampai Frans bisa memeluk istrinya. Aldyanta langsung saja bisa menebak jika kejadian itu pasti tidak sengaja. Karna dia tau persis bagaiamana sifat istrinya.


"Saya akan memeriksa cctv yang saya pasang di mension utama, Tuan. Pasti ini ulah kedua nenek lampir itu. Nyonya muda tidak mungkin menghianati anda, Tuan" ucap Ervan takut jika Aldyanta salah paham. Karna sama seperti Aldyanta, Ervan juga tau persis bagaimana sifat Delissa yang sebenarnya.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku tau bagaimana istriku. Jadi aku tidak perlu mencaritau kesalahannya. Biar aku tanyakan saja langsung kepadanya" ucap Aldya ta tidak mau berpikiran buruk terhadap Delissa.


"Baik, Tuan. Bagaimana apa kita akan melakukan rencana kita yang kedua?" ucap Ervan.


"Baiklah, siapkan angota kita. Kita akan berangkat sekarang" ucap Aldyanta langsung saja bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya dengan arogantnya.


Ervan langsung saja melangkahkan kakinya mengikuti langkah Aldyanta. Mereka langsung saja berjalan menuju parkiran, Ervan langsung membukakan pintu untuk Aldyanta kemudian melangkahkan kakinya menuju kursi pengemudi.


Setelah memastiak Aldyanta telah duduk dengan nyaman Ervan langsung saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesuai rencana mereka sesampainya di pertengahan jalan yang sepi sekolompok pria menghalangi jalan mereka.


Aldyanta dan Heri yang kini sedang berada di belakang mobil para pengawal yang sedang membawa Heri. Aldyanta dan Ervan langsung saja keluar dari mobilnya lalu memberi kode kepada para pengawalnya agar tetap berada di dalam mobil.


"Apa yang kalian inginkan?" ucap Aldyanta menatap satu persatu kelompok pria yang ada di hadapannya.


"kami ingin kalian melepaskan pria yang kalian tahan. Atau kami akan merebutnya secara paksa" ucap salah satu pria yang bersetatus sebagai ketua kelompok itu dengan tatapan meremehkan.


"Kalian ambil saja kalau bisa" ucap Alyanta langsung saja menguluh tangan kemejanya.


"Sialan! Ayo kita serang mereka" teriak pria itu lalu menyuruh semua angotanya menyerang Aldyanta dan Ervan.


Belum sempat mereka menyerang Aldyanta sekolopok angota Aldyanta langsung saja datang membantu Aldyanta dan Ervan. Melihat angota Aldyanta yang begitu banyak kelompok pria misterius itu langsung saja panik.


Namun, mereka tidak bisa lagi menghindar, mereka langsung saja memilih untuk melawan sehingga baku hantam tak terhindarkan lagi. Aldyanta langsung saja memberi kode kepada pengawalnya yang membawa Heri untuk pergi meninggalkan lokasi itu.


"Jangan biarkan satupun dari mereka kabur" ucap Aldyanta kepada salah satu angotanya.


"Baik, Tuan" ucap pria yang bertugas sebagai ketua dalam penyerangan itu.


Setelah menyerahkan semuanya kepada angotanya Aldyanta dan Ervan langsung saja kembali ke mobilnya lalu meninggalkan lokasi itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2