Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
58# Penyerangan


__ADS_3

Dewa dan Fadli sedang mengawal Ayu dan Nana yang sedang belajar di sekolahnya. Dewa melihat jika ada seseorang yang sedang mengawasi mereka di sebuah mobil yang terparkir di gerbang sekolah. Dewa yang kini sedang berada di sebuah warung kopi bersama Fadli langsung saja menatap gerak gerik para pria yang berpakaian seperti seorang preman.


"Fad, kamu lihat para preman itu. Sepertinya mereka sedang mengintai kedua nona kecil kita" ucap Dewa menunjuk ke arah mobil hitam yang tak jauh dari keberadaannya.


"Kamu benar. Aku juga berpikiran yang sama denganmu"


"Apa perlu kita serang mereka sekarang?"


"Jangan! Lebih baik kita perhatikan dulu. Apa kamu lupa apa yang di katakan Tuan Muda jika mereka sedang menjebak orang orang yang ada di belakang kedua nenek sihir dan ajudannya itu. Aku yakin mereka juga ada hubungannya dengan itu" jelas Fadli yang curiga jika para preman itu adalah suruhan Julia dan Vina.


"Kamu benar. Tapi jangan sampai mereka menyentuh kedua nona kecil kita. Karna sudah di pastikan tuan muda akan memengal kepala kita saat itu juga"


"Baiklah! Aku akan perhatikan mereka dari sini. Kamu coba periksa ada berapa banyak mereka" ucap Fadli langsumg saja mengambil posisi yang nyaman untuk memperhatikan gerak gerik para preman itu.


"Kenapa harus aku. Kamu saja sana" ucap Dewa sambil menyeruput kopinya.


"Kamu kan yang paling ahli dalam urusan intai mengintai. Apa kamu mau terjadi sesuatu pada Nona Ayu yang menggemaskan itu" ucap Fadli langsung saja mengambil kelemahan Dewa.


"kamu benar. Aku akan memeriksanya secara langsung" ucap Dewa langsung saja bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah para pereman itu.


Dewa langsung saja menyelinap ke arah kerumunan orang tau yang sedang menunggu kepulangan anak anak mereka. Dewa melihat dengan jelas jika para preman itu sedang menatap ke arah kedua nona kecilnya yang sedang bermain bersama teman teman mereka.


Dewa langsung saja memfhoto plat mobil mereka dan berjalan mendedekati mobil itu. Dewa dengan santai berjalan ke arah mobil itu lalu menempelkan alat placak di mobil itu lalu melangkahkan kakinya kembali ke warung kopi.


"Bagiamana?" ucap Fadli langsung saja penasaran.

__ADS_1


"Mereka ada empat orang. Tapi aku sudah menempelkan alat placak ke mobil mereka. Kita akan menangkap mereka di tempat yang sepi nanti" ucap Dewa melihat di tempat itu banyak orang yang berlalu lalang.


Jika mereka menyerang di sana maka di pastikan akan terjadi baku tembak yang akan membahayakan orang orang yang ada di sana. Mereka akan menyelamatkan kedua nona kecil mereka terlebih dahulu baru membereskan para preman itu.


Tak berselang lama akhirnya bel sekolah Ayu dan Nana berbunyi. Para murid langsung saja berhamburan keluar. Para orangtua juga langsung menemui anak anak mereka masing masing.


Di saat itu salah seorang pria dari dalam mobil itu langsung saja keluar dari mobil mereka. Mereka langsung saja mendekati Ayu dan Nana yang sedang berjalan keluar sekolah. Dengan cepat Dewa da Fadli langsung saja mendekat ke arah Ayu dan Nana.


Melihat Dewa dan Fadli langsung datang menemui Ayu dan Nana pria itu langsung saja melangkah mundur. Dia langsung saja kembali ke mobilnya. Dewa dan Fadli langsung saja melindungi Ayu dan Nana dan membawa mereka kedalam mobil.


Melihat mobil yang di kemudikan Dewa telah melaju para preman itu langsung saja mengikuti mereka. Dewa dapat melihat jika para preman itu terus mengejar mereka dari alat pelacak yang dia tempelkan. Dewa langsung saja mengambil senjata api yang sengaja dia letakkan di kaos kakinya.


"Nona menunduklah. Jangan kalian mencoba melihat kebelakang apapun yang terjadi" ucap Dewa langsung saja membawa mobilnya ke arah jalanan sepi.


Dor... Dor....


Suara tembakan langsung saja berbunyi dari para preman itu. Fadli yang duduk di samping Dewa tidak tinggal diam. Dia langsung saja menyalahkan senjata apinnya lalu membidik tepat di kepala sang pengemudi mobil yang ada di belakang mereka.


Dor... Dor....


Walaupun meleset tapi Fadli berhasil mengenai kaca depan mobil sehingga membuat mobil itu oleng dan mengantam pepohonan. Namun, di saat Dewa dan Fadli merasa lega beberapa mobil berwarna hitam datang menyerang dan menembak ke araha mereka.


Dor...Dor...


Suara tembakan terus saja bersahutan. Dewa terus saja berkonsentrasi untuk mengemudi aga mobil yang mereka kendarai tidak hilang kendali. Sedangkan Ayu dan Nana terus saja berlindung di bawah bangku. Di saat Dewa tak sengaja menabrak lobang senjata apinya tak sengaja jatuh ke belakang.

__ADS_1


Ayu yang melihat itu langsung saja mengambil senjata api milik Dewa lalu menembak ke arah mobil yang kini ada tepat di saping mereka.


Dor....


Sekali tembakan Ayu berhasil mengenai pelipis pengemudi mobil itu sehingga membuatnya hilang kendali dan menbrak tiang pembatas jalan. Dewa dan Fadli yang mengetahui itu langsung saja tercengang. Mereka langsung saja menatap Ayu dengan penuh rasa tidak percaya.


"Kakak! awas di depan" pekik Ayu ketika melihat sebuah mobil hitam menghalangi jalan mereka.


Dewa yang menyadari itu langsung saja meningikan laju mobilnya bersiap untuk menabrak mobil yang menghalangi jalan mereka. Sedangkan Fadli langsung saja menebak seorang pria yang ada di dalam mobil itu sedang mencondongkan senjata api ke arah mereka.


"Nona muda! Berlindung!" teriak Fadli ketiak Dewa mengantap mobil di depannya lalu menyeretnya sekita lima puluh meter.


Dewa langsung saja meninggikan kecepatan mobilnya setelah berhasil menyingkirkan mobil yang menghalangi jalam mereka. Dewa dan Fadli langsung saja menarik napas lega ketika mereka berhasil memasuki area jalan raya.


Fadli langsung saja menghubungi angotanya untuk membereskan lokasi pertempuran tadi mengirim lokasinya kepada mereka. Dengan cepat para angota Fadli yang keberadaannya tidak jauh dari lokadi itu langsung bergerak dan mengkap para preman yang masih hidup.


Sejak awal Fadli dan Dewa memang mengetahui rencana mereka. Tapi, saat Fadli meminta bantuan angota mereka belum sampai dan baku tembak itu telah terjadi. Mau tidak mau mereka harys menyerang lawan mereka dengan kedua tangan mereka sendiri.


Fadli langsung saja menatap ke belakang. Alangkah terkejutnya Fadli melihat pelipis Ayu yang mengeluarkan darah. Saat Dewa menghantam mobil yang menghalangi jalan mereka di saat itu juga Ayu terbentur dan mengakibatkan pelipisnya bocor.


Melihat itu Dewa langsung saja melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Dewa langsung saja mengendong tubuh Ayu dan berlari ke dalam rumah sakit. Melihat pengawal keluarga Kusuma datang kerumah sakit dengan keadaan sangat kacau.


Para suster dan Dokter langsung saja berjamburan keluar lalu memberikan pertolongan kepada Ayu. Dewa dan Fadli langsung saja menunggu di ruang tunggu dengan sangat frustasi sambil menenangkan Nana yang terus saja menangis


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2