Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
66# Strategi menyerang


__ADS_3

Di bagian perbatasan Ervan sedang sibuk mengurus semua pemberontak yang berani mengusik wilayah kekuasaan mereka. Ervan membabat habis seluruh musuh tanpa rasa iba sedikitpun. Dia mengunakan senjata api di bagian tangan kirinya dan sebilah pedang di tangan kanannya untuk menyerah musuh yang mendekat.


Namun, dia mencoba berpikir kenapa musuh yang menyerang mereka tidak ada satupun yang mampu menyeimbangi kekuatannya. Ervan merasa ada yang ganjal di dalam pertempuran itu. Karna, musuhnya sepertinya hanyalah angota biasa dan tidak ada satupun dari mereka yang merupakan pertahanan terkuat dari klan mereka.


"Sial! Sepertinya mereka menempatkan angota angota terkuat mereka di penjagaan Nyonya Muda" batin Ervan mulai menyadari jika penyerangan di wilayah perbatasan mereka hanyalah sebagai pancingan semata.


Frans sengaja mengirim anak buahnya yang terlemah untuk menyerang berbatasan wilayah mereka. Sedangkan angotanya yang terkuat segaka dia kirim untuk menjagaan di sekitar Villa. Karna bagaimanapun Frans tau jika Al ada hubungannya dengan Klan Dragons maka mereka akan segera mencari keberadaan Delissa.


Tak mau banyak pikir Ervan langsung saja membereskan semua musuhnya secepat mungkin. Dia yakin jika Aldyanta dan Dewa akan kesulitan untuk menghadapi para musuh karna kekuatan mereka tidak akan seimbang.


Tak menunggu lama akhirnya Ervan berhasil membersihkan seluruh musuhnya sampai bersih. Ervan langsung saja menyuruh anggotanya membereskan lokasi itu. Stelah itu Ervan langsung saja menghubungi Dewa untuk memberitau rencana licik musuh mereka.


"Ada apa?" ucap Dewa singkat dari sambungan telepon.


"Kalian hati hati! Serangan di wilayah perbatasan hanyalah pancingan. Mereka memperketat penjagaan pada Nyonya muda. Kami akan datang secepatnya ke sana mengunakan holikopter" jelas Ervan tanpa basa basi.


"Baiklah! Tapi kalian harus berhati hati karna mereka memiliki penembak jitu yang tersebar di beberapa titik. Aku akan mengirim vidio rekamana pertahanan mereka. Satu lagi sebelum sampai di sekitar lokasi lebih baik kamu meluncurkan robot robot ciptaanku agar kalian tau pertahanan mereka lebih jelasnya" ucap Dewa.


"Baiklah" ucap Dewa mengerti.


Dia langsung saja mengutus para angotanya untuk mempersiapkan keberangkatan mereka. Tidak lupa Ervan juga menghubungi Jay yang bertugas untuk mengurus pemberontakan yang ada di perbatasan bagian barat.


Benar saja disana Jay juga sudah membereskan para musuh dengan sangat mudah. Mendengar itu Ervan semakin menghawatirkan keadaan Delissa. Dia takut jika Aldyanta dan Dewa tidak bisa menyelamatkan Delissa tepat pada waktunya. Tak mau membuang buang waktu Jay dan Ervan langsung saja bergerak cepat ke titik lokasi keberadaan Delissa yang di kirim oleh Dewa.


Sedangkan Dewa dan Aldyanta sedang berpikir bagaimana caranya menyelinap ke tempat penyekapan Delissa. Terutama Al dia sangat menghawatirkan keadaan Delissa apa lagi dia mengetahui jika Frans menyukai istrinya itu.

__ADS_1


"Tuan, kita tidak bisa gegabah. Bukan hanya akan membahayakan nyawa kita tapi, nyonya muda juga" ucap Dewa menghentikan Aldyanta yang ingin langsung menyerang.


"Jadi apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus diam saja? Sedangkan istriku di dalam bersama pria bajingan itu. Aku tidak mau jika dia sampai menyentuh istriku, Dew" ucap Aldyanta frustasi.


"Aku tau, Tuan. Sama seperti tuan aku juga tidak mau jika sampai adikku di sentuh oleh pria bejat itu. Apa tuan lupa jika saat pernikahan tuan aku, Fadli dan juga Ervan sudah mengikat tali persaudaraan kepada Nyonya muda dan juga kedua nono kecil?" ucap Dewa terus terang jika dia juga sangat menyayangi Delissa dan kedua adiknya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" ucap Aldyanta mencoba untuk tenang.


"Baiklah coba tuan perhatikan ini. Di belakang Villa ada celah untuk tuan bisa menyusup. Tuan masuklah dan selamatkan Nyonya muda secepatnya. Sedangkan aku dan para angota kita akan menyerang dari depan untuk mengalihkan perhatian mereka" ucap Dewa menunjukkan jalan yang aman untuk Aldyanta bisa menyelinap secara diam diam ke Villa itu.


"Baiklah! Kamu hati hati" ucap Aldyanta langsung setuju dengan ide Dewa.


"Bawa ini, Tuan. Tuan harus berhati hati. Jangan sampai tuan salah jalan. Bawa ini untuk mengetahui ancaman yang mendekati anda" ucap Dewa menghawatirkan keadaan Aldyanta sambil memberikan alat penditeksi musuh yang dia ciptakan untuk Aldyanta.


Satu kelompok untuk mengawasi dan memberi perlindungan kepada Aldyanta dan menyerang pertahanan di bagian belakang Villa. Kelopok kedua Dwwa kirim untuk menyerang penembak jitu yang sedang berjaga di area pertahanan dan melindungi kelompok tiga. Sedangkan Dewa mengikuti kelompok tiga untuk menyerang secara langsung.


Dorr...Dorr....


Kelompok satu sudah melakukan penyerangan di bagian pertahanan belakang Villa. Mendengar suara tembakan itu Aldyanta langsung tau jika Dewa telah mengatur penyerangan. Dia dengan cepat berjalan menyusup ke Villa itu. Dari alat penditeksi yang di berikan Dewa, Aldyanta langsung tau di mana letak para penjaga Villa itu.


Mendengar ada suara tembakan para penembak jitu yang berjaga di daerah pertahanan langsung saja membidik senjata mereka ke arah suara tembakan itu. Namun, belum sempat mereka menembakkan peluru mereka kelompok kedua sudah terlebih dulu menyerang mereka.


Dor...dor...


Dari tempat yang telah kelompok dua pilih mereka dengan mudah mengenai sasaran mereka. Berlahan semua penembak jitu yang berada di pertahanan langsung saja tumbang. Setelah itu Dewa dan kelompok tiga langsung saja menyerang dan berusaha menerobos Villa itu.

__ADS_1


Dewa dengan ganasnya membabat habis setiap musuh yang mencoba menghalangi jalannya. Dia mengayunkan pedang yang ada di kedua tangannya dengan santainya. Tidak ada ampun Dewa terus saja menebas setiap musuhnya dengan membabi buta.


Melihat kelompok Dewa sudah mulai menyerang Andi yang bertugas sebagai ketua penjagaan di Villa itu langsung saja mengirim semua angota terbaiknya untuk menyerang Dewa. Sesampainya di gerbang masuk Villa itu Dewa langsung saja di hadang oleh lima pria berbadan kekar.


Kelima pria itu langsung saja menatap remeh Dwwa yang terlihat masih bocah ingusan bagi mereka. Melihat tatapan meremehkan kelima pria itu Dewa langsung saja tersenyum sinis.


"Haii... Bocah! Kau tidak pantas berada di tempat ini. Lebih baik kamu pulang sana minta di kelon sama mamamu" ucap salah satu pria itu tertawa mengejek.


"Aku memang bicah ingusan. Tapi, setidaknya aku tidak seperti kalian. Banci" ucap Dewa santai.


"Apa kau bilang?" ucap pria yang satunya lagi tidak terima dengan sebutan banci dari Dewa.


"Tidak hanya banci ternyata kamu tuli juga ya? ok aku akan mengatakannya sekali lagi. Kalian semua adalah banci" ucap Dewa tersenyum sinis sambil menunjuk ke arah lima pria itu.


"Dasar kau!" ucap para pria itu langsung saja menyerang Dewa.


Jlepp....


Bersambung......


Haiii semua terima kasih ya atas dukungannya🥰😙. Jangan lupa tinggalkan jejak kaliannya agar tetap bisa menyaksikan kelanjutan cinta Al dan Delissa😊😊.


Tapi, sambil nunggu up mampir juga di karya temanku ya😅. Ceritanya sangat menarik di jamin kalian akan suka🥰


__ADS_1


__ADS_2