
"Apa sebenarnya yang terjadi?" ucap Aldyanta menatap tajam kedua pengawal untuk kedua adiknya.
"Maaf, Tuan. Tadi saat di sekolah kami melihat beberapa orang yang sedang mengintai kedua nona kecil. Saat mereka ingin mendekati kedua nona kecil mereka akhirnya mundur. Tapi, saat di jalan sepi mereka mengikuti kami dan menyerang kami, Tuan" jelas Fadli.
"Apa kalian berhasil menangkap mereka?"
"Sudah, Tuan. Setepah kejadian kami telah mengirim anggota klan kita untuk membersihkan lokasi dan menangkap para preman itu" jelas Dewa.
"Baiklah! Kalian kirim penjagaan yang ketat kepada kedua adik dan istriku. Aku akan tunjukkan siapa aku sebenarnya" ucap Aldyanta langsung saja mengeraskan rahangnya penuh amarah, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ketiga angotanya.
Ervan yang melihat kemarahan Aldyanta yang sangat mengerikan langsung saja melangkahkan kakinya mengikuti langkah Aldyanta. Sedangkan Dewa dan Fadli langsung saja mengatur penjagaan yang ketat di sekitar area rumah sakit dan juga di depan ruang rawat Ayu.
Aldyanta langsung saja menuju ke markas besar mereka. Tempat di mana para preman dan juga Heri beserta seluruh anak buahnya di tahan. Mendengar suara hentakan sepatu yang beriringan mendekat ke arah ruang tahanan mereka semua orang langsung saja menatap ke arah sumber suara itu dengan penuh ketakutan.
Terutama Heri dia menatap Aldyanta yang kini berdiri di depannya dengan tatapan iblisnya. Aldyanta menatap satu persatu pria yang kini dengan keadaan yang mengenaskan di depannya. Ada yang di rantai dan di ikat di bagian kaki dan juga kedua tangannya.
Ada juga yang mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya akibat luka sayatan dan cambukan dari angota Aldyanta. Darah yang mengalir dari tubuh mereka berhasil membanjiri ruangan itu sehingga membuat bau amis yang sangat menusuk.
Aldyanta langsung saja berjalan menuju seorang pria yang berbadan tegap dan tubuhnya di tubuhnya di penuhi dengan tato. Aldyanta langsung saja berjongkok sambil mencengkram wajah pria itu.
"Katakan apa tujuanmu mengincar kedua adikku?" ucap Aldyanta dingin tak lupa dengan tatapan membunuhnya.
"Ma... Maaf, Tuan. Aku hanya di suruh seseorang" ucap pria itu ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
__ADS_1
"Seorang wanita. Dia sudah berumur tapi wajahnya masih cantik dan terlihat muda. Kalau tidak salah dia adalah bagian dari keluarga anda"
"Apa dia orangnya?" ucap Aldyanta menunjukkan foto Julia ke pada ketua preman itu.
"Ia, dia orangnya, Tuan. Dia berjanji akan membayar saya dengan mahal jika bisa menculik kedua nona kecil itu"
"Apa mereka semua angotamu?"
"Ti... Tidak, Tuan. Kami hanya berempat. Tapi, karna kami melihat kedua pria itu yang mengawasi nona kecil itu kami akhirnya meminta bantuan. Hingga akhirnya nyonya itu mengirim mereka untuk membantu kami"
Mendengar ucapan pria itu Aldyanta langsung saja melepaskan cengkramannya dan berjalan kearah pria yang di katatan ketua preman itu.
"Katakan, siapa yang mengirim kalian untuk membantu mereka?" ucap Aldyanta menatap tajam seorang pria yang ada di depannya.
"Kami tidak akan memberitaunya" ucap pria itu dengan tatapan meremehkan.
Pria itu langsung saja tergulai lemas sambil bersandar di dinding. Tak puas dengan aksinya Aldyanta langsung saja kembali mendekati pria itu.
Arghh.....
Teriak pria itu dengan histeris ketika Aldyanta meremukkan kedua tulang kakinya. Tak puas dengan itu Aldyanta langsung saja melayangkan tinjunya berkali kali sebagai pelepasan amarahnya. Dia mengunakan pria itu sebagai bantalan tinjunya untuk meluapkan semua emosinya.
Setelah melihat pria itu tidak bernyawa lagi Aldyanta kembali menatap para kelompok pria itu dengan tatapan membunuhnya. Melihat salah satu dari mereka telah mati mengenaskan di tangan Aldyanta para rekan pria itu langsung saja menunduk ketakutan.
Melihat ketakutan yang terpancar di wajah para tahanannya Aldyanta langsung saja tersenyum sinis lalu mengeluarkan pisau belatinya. Aldyanta langsung saja menuju pada seorang pria yang telah bercucuran keringat. Aldyanta langsung saja memainkan belatinya di wajah pria itu.
__ADS_1
"Kau bisa pilih. Mau memberitau siapa yang menyuruh kalian atau kamu mau kulitmu ini aku kupas dari dagingmu mengunakan belatiku ini"
"Sa...saya akan memberitau, Tuan. Tapi, tolong jangan bunuh saya" ucap pria itu langsung saja ketakutan setengah mati.
"Baik! Saya tidak akan membunuhmu. Tapi, jawab pertanyaanku dengan benar"
"Baik, Tuan"
"Siapa yang mengirim kalian?"
"Kami di suruh oleh Tuan Andi kepercayaan Tuan besar" ucap pria itu menunduk.
"Andi, apa kalian adalah angota Gengster Lord?"
"I.. Ia, Tuan. Kami adalah anggota Gengster itu. Tapi, kami hanya menjalankan perintah dari tuan besar"
"Kalau begitu katakan siapa ketua kalian?" ucap Aldyanta langsung saja menatap tajam pria itu.
"Sa...saya tidak pernah bertemu dengan tuan besar, Tuan. Karna Tuan Andi dan beberapa angota terpenting yang bisa bertemu dengan tuan besar secara langsung"
Mendengar ucapan pria itu, Aldyanta langsung saja mengepalkan tangannya geram. Jujur saja dia tidak mengenal yang namanya Andi. Tapi fia langsung saja menyuruh Ervan untuk mencari imformasi tentang identitas Andi.
"Kalian urus mereka yang bertugas menculik kedua adikku. Untuk pria itu pindahkan dia ke ruang tahanan yang lain" perintah Aldyanta kepada Jay yang juga angota kepercayaannya.
"Siap, Tuan" ucap Jay menganguk patuh lalu membawa pria yang memberikan imformasi kepada Aldyanta. Aldyanta tidak bisa membiarkan pria itu mati begitu saja karna dia masih membutuhkan banuak imformasi darinya.
__ADS_1
Bersambung....