Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
64# Di hadapkan dua pilihan


__ADS_3

Frans langsung saja tersenyum ketika melihat Delissa berjalan seorang diri keluar rumah sakit. Dia langsung saja menyuruh angotanya untuk memeriksa area sekitar. Setelah memastikan semua aman dia langsung saja turun dari mobil lalu berjalan mendekati Delissa.


"Delissa! gapain kamu malam malam seperti ini di sini?" ucap Frans ramah.


"Aku mau ke mini market itu kak. Kakak sendiri ngapain di sini malam malam seperti ini?"


"Sama aku juga mau ke sana. Lebih baik kita kesananya barengan aja. Lagian kamu tidak aman malam malam seperti ini keluar sendiri"


Mendengar ucapan Frans, Delissa langsung saja menatap ke daerah sekitarnya. Benar saja area itu terlihat sangat sepi dan gelap. Karna meras takut Delissa langsung saja menurut dan berlajan ke arah mini market yang telah dekat bersama Frans.


Namun, saat Delissa melangkahkan kakinya Frans dengan cepat menutup mulut Delissa yang telah dia taruh obat bius. Melihat Delissa yang sudah pingsan, Frans langsung saja mengendongnya dan membawanya kedalam mobil.


Setelah mereka berhasil mereka langsung saja pergi meninggalkan daerah itu dengan cepat. Frans terus saja tersenyum puas sambil membelai wajah cantik Delissa yang kini telah pingsan di dalam pangkuannya.


"Bawa mobilnya ke Villa yang ada di hutan" ucap Frans tersenyum sinis.


"Baik, Tuan" ucap Angota Frans kini sedang memegang kemudi.


Para angota Frans langsung saja menuju Villa rahasia keluarga Dirgantara yang berada di tengah hutan. Frans juga menyuruh seluruh angotanya untuk memberikan penjagan yang ketat di sekitar Villa itu.


Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya mobik yang di kendarai Frans telah sampai di sebuah Villa yang sangat mewah. Villa itu di kelilingi hutan belantara sehingga semua orang tidak akan menyangka jika di sana ada sebuah Villa. Villa itu di gunakan untuk persembunyian para angotanya yang jadi buronan angota polisi yang ingin mencari tau bisnis ilegal mereka.


Hal itulah yang membuat bisnis Frans tetap aman. Setiap angotanya yang hampir tertangkap langsung saja menghilang dari kota sehingga para polisi menjadi kesulitan mencari bukti tentang bisnis mereka.


Sesampainya di perkarangan Villa itu Fran langsung saja di sambut oleh angota angotanya yang sangat menyeramkan. Tak banyak pikir Frans langsung saja membawa tubuh Delissa kedalam gendongannya.


Melihat wanita cantik yang ada di dalam gendongan bis besar mereka semua angota Frans langsung saja bertanya tanya. Terlebih lagi status Delissa sebagi istri dari Aldyanta sudah terdengar di seluruh penjuru kota. Sebagian angota Frans yang mengetahui itu langsung saja binggung dengan tujuan bis mereka yang membawa istri orang ke Villanya.

__ADS_1


"Apa kalian sudah menyiapkan kamarku?" ucap Frans kepada pelayan yang bertugas untuk membersihkan Villa itu.


"Sudah, Tuan. Kamar Tuan susah kami bersihkan" ucap kepala pelayan itu langsung saja menunduk hormat.


Mendengar ucapan kepala pelayannya Frans langsung saja tersenyum lalu menaiki anak tangga sambil mengendong Delissa. Para pelayan wanita di sana langsung saja menatap pemandangan itu dengan tatapan penuh kecemburuan.


Bagiamana tidak Frans adalah sosok idaman para wanita sehingga banyak para pelayannya yang menjadi pengemar beratnya. Bahkan tak jarang mereka bersedia menjadi pemuas ranjang Frans saat Frans menginap di Villa itu. Mereka bahkan melakukannya dengan senang hati tanpa ada paksaan dari Frans.


Sesampainya di kamarnya, Frans langsung saja meletakkan tubuh Delissa di atas ranjangnya. Dia megelus wajah Delissa sambil menatap tubuh Delissa dengan penuh kekaguman.


"Kamu sangat cantik, Sayang. Tapi, kenapa harus Al yang menyentuhmu terlebih dahulu? Seharusnya kita bertemu lebih awal. Tapi, tidak apa apa. Aku menerimamu walaupun kau sudah di sentuh pria lain" ucap Frans tersenyum sinis sambil menyingkirkan rambut Delissa yang menutupi wajahnya.


"Kamu beristirahatlah terlebih dahulu. Karna sebentar lagi aku akan menguras seluruh tenagamu" ucap Frans tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Dia memilih untuk merendam dirinya terlebih dahulu sebelum menikmati tubuh Delissa. Dia tidak ingin menyentuh Delissa saat Delissa masih pingsan. Dia ingin menikmati malam panasnya dengan Delissa secara bersamaan.


Dewa dan Fadli yang tertidur di ruang cctv langsung saja terkejut ketika salah satu angitanya yang bertugas berjaga di luar datang ke ruangan cctv dengan tergesa gesa.


"Tuan, gawat" ucap salah satu angotanya yang bertugas berjaga di luar kamar Ayu.


"Ada apa?" ucap Dewa dan Fadli langsung saja terbangun dari tidurnya.


"Nyo...nyonya muda tidak ada di dalam kamar nona kecil"


"Apa! Bagaimana bisa?" ucap Fadli dan Dewa serentak.


"Kami tadi pergi ke toilet sebentar tuan. Setelah pulang dari toilet kami berjaga lagi. Tapi, tiba tiba Nona Kecil Nana datang mencari keberadaan Nyonya muda" jelas angotanya yang satu lagi.

__ADS_1


"Kenapa kalian pergi secara bersamaan! Apa ke toilet saja kalian harus berdua?" ucap Dewa langsung saja mengacak acak rambutnya frustasi


"Sudah! Kaliam kembali berjaga di kamar Nona kecil. Kami akan menyelesaikan ini" ucap Fadli langsung saja memeriksa cctv rumah sakit.


Benar saja, terlihat dengan jelas di rekaman cctv itu lima belas menit lalu Delissa keluar dari kamar Ayu. Karna hari yang sudah malam para penjaga sudah merasa kelelahan dan tidak terlalu memperhatikan area sekitar. Terlebih lagi keadaan rumah sakit yang begitu padat sehingga Delissa tidak terlihat di kerumunan itu.


Dengan cepat Dewa langsung saja melacak keberadaan Delissa melalui alat pelacak yang dia selipkan di cincin pernikahan Delissa. Sedangkan Fadli langsung saja menghubungi Ervan yang sedang mendatangi jamuan makan malam bersama Aldyanta.


Mendengar istrinya di culik Aldyanta langsung saja murka. Dia langsung saja meninggalkan jamuan makan malam itu lalu kembali ke rumah sakit dengan penuh amarah. Aldyanta langsung saja mengumpulkan para pengawalnya bersiap untuk mrnyelamatkan istrinya tercinta.


"Apa saja kerjaan kalian? Ha!" Terika Aldiyanta penuh amarah kepada Fadli dan Dewa yang telah lalai mengerjakan tugasnya.


"Maafkan kami, Tuan. Kami salah. Kami berhak untuk di hukum" ucap Dewa dan Fadli langsung saja berlutut penuh ketakutan melihat kemarahan Aldyanta.


"Sudah! Lebih baik kita pikirkan bagaimana menyelamatkan Nyonya muda sekarang juga" ucap Ervan langsung saja memeriksa lokasi yang telah di lacak Dewa.


"Tuan! perbatasan wilayah timur dan barat markas besar telah di serang" ucap salah satu angota Aldyanta datang dengan tergesa gesa.


"Apa! Bagaimana ini bisa terjadi" ucap Aldyanta mencoba berpikir.


Dia berada di dua pilihan yang sangat berat. Dimana wilayah yang telah dia bangun dengan susah payah di serang di dua titik sekaligus. Di situ juga istrinya telah di culik dan belum di ketahui keberadaan dan keadaannya saat ini. Dia mencoba untuk membuang napasnya kasar sambil mencoba berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalahnya sekaligus.


Bersambung....


Haii semuanya. Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya temanku ya. Ceritanya sangat bagus di jamin kalian akan suka


__ADS_1


__ADS_2