
"Apa kalian adalah kelompok mafia Dragons?" ucap Andi penasaran karna sedari tadi dia hanya melihat tidak ada orang lain yang mengatur jalannya perang selain anak buah Aldyanta.
"Kali ini kamu tidak salah. Kami adalah angota klan mafia dragons. Tapi, kalian salah karna telah membangunkan naga yang sedang tertidur" ucap Ervan dengan penuh keberanian sambil menatap Andi dengan tatapan haus darahnya.
"Apa! Jadi selama ini kami berurusan dengan orang yang salah?" batin Andi mengidik ngeri mengingat kekejaman dan keberingasan klan yang ada di depannya.
"Serahkan saja dia kepadaku. Lebih baik kamu menyelamatkan tuan muda" ucap Jay langsung saja mengambil posisi Ervan.
Andi langsung saja menatap kedua pria di depannya. Dia tidak bisa membiarkan dalah satu dari mereka lolos dan menyusul Aldyanta. Tapi, Andi juga tidak bisa melawan mereka sekali gus. Andi berusaha mencari cara agar bisa mengalihkan perhatian kedua pria yang sangat kuat di depannya.
Sedangkan Ervan langsung saja membawa sebagian angotanya untuk menyusul Aldyanta ke dalam hutan. Melihat itu Andi langsung saja berusaha menyerangnya dan menghentikannya. Tapi, Jay langsung saja menyerang Andi agar tidak menghalagi jalan Ervan dan angotanya.
"Minggir kau. Aku tidak mau berurusan denganmu" ucap Andi geram ketika melihat Jay terus saja menghalangi langkahnya.
"Jika kau mengisik kehidupan tuan mudaku berarti kau juga berurusan denganku" ucap Jay tersenyum sinis.
"Akan ku selesaikan kau secepatnya" ucap Andi langsung saja menyerang Jay.
"Akan ku kirim kau ke neraka secepatnya" ucap Jay tidak mau kalah dan terus membalas serangan Andi.
Dengan tiga kali serangan Andi langsung saja melangkah mundur. Dia tidak menyangka jika pria di depannya sangatlah kuat.
"Kenapa? Apa kau takut?" ucap Jay tersenyum sinis ketika melihat wajah pucat Andi.
"Aku tidak pernah takut dengan siapapun. Terimalah ajalmu!" ucap Andi tidak mau kalah dia langsung saja menyerang Jay dengan membabi buta.
Jay hanya mengelak dan mencoba menghindari setia serangan Andi. Dia memperhatikan setiap gerakan Andi dengan teliti. Setelah melihat Andi telah lengah dia langsung saja melayangkan pukulannya lalu menyerang Andi dengan membabi buta.
Bughhh....
Sekali pukulan Andi langsung saja terjatuh tersung di tanah. Dengan cepat Jay mengambil sebilah pedang yang terletak di hadapannya.
Jlepp....
__ADS_1
Arghh.....
Andi langsung saja berteriak kesakitan ketika Jay menusuk perutnya dan menarik pedanganya kembali.
"Kau salah karna mencoba mengusik naga yang sedang tertidur" ucap Jay tersenyum sinis lalu kembali menancapkan pedangnya di perut Andi. Ketika darah Andi berhasil mengenai tubuh Jay, Jay langsung saja puas. Dia merasa sangat bangga kepada dirinya karna berhasil membunuh musuh dengan tangannya sendiri.
Setelah berhasil membunuh Andi Jay langsung saja membantu Dewa yang sedang melawan anggota Frans seorang diri.
"Apa Ervan telah menyusul tuan muda?" ucap Dewa melihat Jay datang menemuinya.
"Sudah! Dia sudah pergi bersama beberapa angota kita. Lebih baik kita bersihkan sampah ini sekarang juga" ucap Jay memperhatikan para musuh yang masih menyerang.
Sedangkan Aldyanta terus saja berlari ke tengah hutan. Hingga akhirnya dia melihat sebuah gubuk tua di tengah hutan. Aldyanta mencoba memeriksa sekelilingnya setelah melihat semuanya aman Aldyanta langsung saja membawa Delissa kedalam gubuk itu.
Aldyanta langsung saja meletakkan tubuh Delissa di lantai gubuk yang beralaskan papan. Aldyanta mencoba untuk membenarkan pakaian Delissa yang terus saja Delissa mencoba untuk membukanya.
"Kak! Ayo aku mohon. Aku sudah tidak kuat lagi" ucap Delissa sambil memegang wajah Aldyanta sambil terus saja mencoba menahan hasratnya.
"Apa kamu yakin akan melakukannya di sini?" ucap Aldyanta menatap sekeliling gubuk itu. Pasti Delissa tidak akan merasa nyaman jika mereka melakukan penyatuan di sana. Apa lagi tubuh Delissa yang hanya beralaskan papan saja.
Jlep...
Di saat mereka sedang beradu lidah tiba tiba Frans datang dan mencoba menusuk Aldyanta dari belakang. Namun, Aldyanta yang mrnyadari kedatangan Frans langsung saja mengelak sehingga serangan Frans meleset dan hanya mengenai lengannya.
"Kakak!" ucap Delissa lirih ketika melihat pisau menapcap di lengan Aldyanta. Terlebih lagi darah segar yang mengalir deras dari luka Aldyanta.
Aldyanta langsung saja menatap Frans dengan tatapan membunuhnya. Dia langsung saja mengapil pisau yang menancap pada lengannya tanpa merasakan sakit sedikitpun.
"Sayang! Kamu di sini dulu ya" ucap Aldyanta dengan lembut sambil mencium kening Delissa.
"Habisi dia" ucap Frans pada seluruh angotanya.
Mendengar perintah tuan mereka para angita Frans langsung saja menyerang Aldyanta. Aldyanta langsung saja menyuruh Delissa untuk bersembunyi lalu melawan setiap musuh yang menyerangnya.
__ADS_1
Aldyanta langsung saja menusuk dan menyayat leher setiap musuh yang mendekat. Walauoun hanya mengunakan satu tangan Aldyanta masih bisa menyeimbangi kekuatan para musuh. Dia tetap saja kuat demi melindungi istrinya tercinta.
Melihat Aldyanta yang sedang sibuh melawan angotanya Frans langsung saja mendekati Delissa yang sedang berlindung di sudut ruangan gubuk itu. Dengan tangan gemetaran Delissa terus saja mencoba menahan dirinya. Dia menatap Aldyanta yang terus berjuang melindunginya walaupun dengan keadaan terluka.
Frans secara diam diam mencoba menutup mulut Delissa dari belakang sambil berusaha membawa Delissa pergi dari gubuk itu. Sadar jika Frans telah menyekap mulutnya Delissa langsung saja mencoba meminta tolong. Namun Frans telah menutup mulutnya sehingga membuat Delissa tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Kamu diam saja, sayang. Kita akan menikmati malam indah ini" ucap Frans langsung saja memeluk Delissa dari belakang.
Delissa langsung saja berusaha melawan. Walaupun tubuhnya sudah melemah tapi Delissa terus saja mencoba memberontak. Dia terus saja mencoba meminta tolong kepada Aldyanta tapi Aldyanta masih sibuk melawan setiap lawannnya yang begitu banyak.
Arghhh...
Teriak Frans ketika Delissa menginjak kakinya sekuat tenaganya. Tidak sampai di situ saja Delissa langsung saja memukul perut Frans mengunakan sikunya sehingga Frans langsung saja melepaskan pelukannya.
"Kakak!" teriak Delissa langsung saja berlari ke arah Aldyanta.
"Delissa" ucap Aldyanta langsung saja mencoba mengejar Delissa.
Bukkk.....
Karna lengah Aldyanta terkena pukulan salah satu angota Frans sehingga membuatnya terjatuh tersungkur di tanah. Melihat Aldyanta yang terjatuh semua angota Frans langsung saja menghajarnya dengan membabi buta.
"Kak Al" ucap Delissa meneteskan air matanya terus mengejar Aldyanta.
Namun, Frans langsung saja menahan tangannya. Tidak tingal diam Delissa melihat pisau yang tergeletak di tanah. Dia langsung saja mengambilnya lalu menyayat tangan Frans.
Jlep...
Delissa langsung saja menusuk salah satu angota Frans. Dia langsung saja mencoba membantu Aldyanta. Melihat itu Frans langsung saja menarik Delissa lalu menyeretnya keluar dari gubuk itu. Delissa terus saja melawan namun, kini Frans memperlakukannya dengan sangat kasar sehingga Delissa tidak mampu lagi melawan.
Brukk.....
Bersambung....
__ADS_1
Haii kak... Sambil nungu up jangan lupa mampir di karya temanku ya. Ceritanya sangat menarik di jamin kalian suka.