
Tak terasa hari demi hari berlalu, perut Delissa semakin membesar saja dan menjadikan tubuhnya semakin bulat saja. Aldiyata yang melihat perubahan tubuh istrinya yang dulu langsing kini berubah menjadi gemuk, merasa sangat kasihan melihat usaha istrinya untuk melahirkan buah hati mereka.
Di tambah lagi dengan kaki Delissa yang membengkak membuat Delissa semakin kesulitan untuk bergerak. Aldyanta sebagai suami yang baik berusaha merawat istrnya dengan baik. Bahka Aldyanta juga menyewa perawat terbaik untuk merawat istrinya selama dia tidak ada.
Ayu dan Nana juga merasa sangat bahagia karna sebentar lagi mereka akan mendapatkan keponakan yang sangat imut dari Delissa. Mereka juga membantu merawat delissa dengan cara membantu Delissa mengambil semua yang dia butuhkan.
Sedangkan Dewa, Fadli, Ervan dan Jay terus saja meratapi nasib jomblo mereka. Tapi, walaupun mereka belum beruntung seperti Ardiyan yang telah mendapatkan kebahagiaannya mereka merasa sangat bahagia menyambut kehadiran pewaris kekayaan keluarga Kusuma yang sebentar lagi hadir ke dunia ini.
"Kalian sudah berpikir tidak bagaimana wajah bayi Nyonya Muda nantinya?" ucap Dewa membayangkan bagaiman wajah bayi di dalam kandungan Delissa.
"Pastinya cantik atau tampan seperti tuan dan nyonya muda" ucap Fadli sambil meneguk anggur merah di gelasnya.
"Kita kapan ya bisa seperti tuan muda? Aku juga ingin merasakan memiliki keluarga kecil seperti tuan muda" ucap Dewa tiba tiba sehingga membuat Ervan, Fadli dan Jay menatapnya dengan penuh kebingungan.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu? Wanita mana yang berhasil merubah pikiranmu?" ucap Ervan memeriksa suhu tubuh Dewa.
Bagaimana mereka semua tidak terkejut, Dewa adalah sosok pria cassanova yang suka keluar masuk lobang. Tapi, Dewa tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta dan tidak mau menjalin hubungan serius dengan yang namanya wanita.
"Apa yang salah dengan ucapanku? Aku ini pria normal jadi apa salahnya jika aku ingin memiliki keluarga" ucap Dewa menatap ketiga rekan kerjanya itu dengan penuh kekesalan.
"Jika kau bukan pria normal bagaimana kau bisa menghabiskan setiap malammu dengan wanita penghibur itu" ucap Fadli terkekeh kecil mengingat tingkah Dewa yang hobi bermain wanita.
"Aku tidak mau lagi berhubungan dengan mereka. Aku ingin menbangun masa depanku agar anak istriku kelak tidak kekurangan apapun" ucap Dewa penuh keyakinan.
"Apa kau sudah punya calon istri? Di antara kita berempat kau yang paling muda. Jangan sampai kau mendahului kami semua" ucap Jay membuka suara.
"Kau tenang saja. Aku belum mempunyai calon istri. Bahkan aku juga tidak yakin bisa bersanding dengannya" ucap Dewa menunduk sedih.
Melihat kesedihan Dewa, Fadli, Ervan dan Jay langsung saling lempar pandang. Mereka mencoba berpikir siapa wanita yang berhasil merebut hati Dewa. Tapi, Ervan sepertinya sudah tau siapa gadis yang di maksud Dewa.
"Van, kira kira siapa ya wanita yang berhasil melukis namanya di hati pria pemain wanita seprti Dewa?" bisik Fadli pelan.
__ADS_1
"Sepertinya gadis itu gadis kecil yang selalu bermanja manja dengannya" ucap Ervan menebak.
"Maksudmu Nona Ayu?" ucap Fadli membulatkan matanya terkejut.
"Aku kira itu. Aku melihat ekspersi wajah Dewa selalu berubah jika berhadapan nldengan Nona Ayu" ucap Ervan.
"Aku juga melihat itu. Tapi" ucap Fadli menghentikan kata katanya.
"Sudahlah! Kita tidak perlu membahas itu. Biar saja bocah pisikofat itu yang membuktikan cintanya" ucap Ervan mempercayakan semuanya kepada Dewa.
"Aku setuju. Lebih baik kita berkelana untuk mencari cinta kita" ucap Jay setuju.
"Baiklah! Misi untuk menghabisi musuh sudah selesai. Sekarang waktunya melakukan misi untuk mendapatkan pendamping hidup" ucap Jay semangat.
"Aku setuju" ucap Fadli semangat.
"Kalian bersenang senanglah. Aku mau istirahat" ucap Dewa melangkahkan kakinya meninggalkan Ketiga sahabatnya itu.
****
Yang sedang tertidur tiba tiba terusik dengan gerakan Delissa yang mengoyangkan ranjang mereka. Delissa merasakan keram pada perutnya terus saja merubah posisi tidurnya dengan harapan kram di perutnya bisa berkurang.
"Sayang ada apa?" ucap Aldyanta panik sambil mengelus perut Delissa.
"Perutku sakit, Kak. Sedari tadi mau pipis saja" ucap Delissa berusaha menahan sakit pada perutnya.
Aldyanta melihat ke arah ************ Delissa. Dengan seketika Aldyanta membulatkan matanya terkejut melihat air yang keluar dari bagian intim Delissa.
"Sayang, kamu mau melahirkan? Ketubanmu sudah pecah" ucap Aldyanta mengingat tanda tanda orang yang mau melahirkan yang telah di beritau dokter yang terus mengontrol kandungan Delissa.
"Kamu tahan dulu ya, Sayang. Kita akan kerumah sakit" ucap Aldyanta mencoba membawa tubuh Delissa kedalam gendongannya.
__ADS_1
Aldyanta membawa Delissa dengan tergesa gesa. Ayu dan Nana yang kebetulan ingi ke dapur untuk mengambil air minum mencoba menghampiri Aldyanta yang keluar sambil mengendong Delissa yang sedang kesakitan.
"Kakak! Kan Delissa kenapa?" ucap Ayu dan Nana panik.
"Kak Delissa mau melahirkan. Kalian hubungi Kaka Dewa untuk menemani kalian di sini. Kakak akan membawa Kak Delissa kerumah sakit" ucap Aldyanta.
"Kami mau ikut" ucap Ayu dan Nana yang menghawatirkan keadaan Delissa.
"Tidak perlu, Sayang. Hari sudah malam. Lebih baik kalian istirahat saja. Besok kalian datang ke rumah sakit bersama Kak Dewa, ya" ucap Aldyanta mencoba membujuk Ayu dan Nana.
"Baik, Kak" ucap Ayu menganguk patuh.
"Tapi, Kak" ucap Nana yang bersikeras untuk ikut.
"Lebih baik kita ikuti saja perkataan Kak Al. Lihat Kak Delissa sedang kesakitan" ucap Ayu mencoba meyakinkan Nana.
"Baiklah, Kak. Tapi jangan lupa kabari kami ya kak" ucap Nana akhirnya mengerti.
"Baiklah! Kalian hati hati ya. Kakak pergi dulu" ucap Aldyanta mencoba melangkahkan kakinya kembali.
Aldyanta mencoba membaringkan tubuh Delissa di bangku belakang lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aldyanta memang telah siap siaga untuk menyambut kelahiran buah hatinya. Dia telah memarkirkan salah satu mobilnya di di halaman mension agar ketika Delissa mengalami kontraksi mereka bisa langsung berangkat.
Aldyanta melirik Delissa yang terus merintih kesakitan dari kaca spion depan. Dengan seketika air mata Aldyanta mengalir membasahi wajah tampannya ketika melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan buah hati mereka.
"Kamu yang kuat, Sayang. Aku yakin kamu bisa melewati ini karna kamu adalah wanita kuat" bati Aldyanta terus saja melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit Aldyanta mengendong tubuh Delissa memasuki koridor rumah sakit dan berteriak meminta bantuan. Melihat Aldyanta meminta bantuan para suster yang ada di sana langsung bergerak cepat.
Mereka membawa bangsal dorong untuk membawa Delissa. Aldyanta langsung meletakkan tubuh Delissa di bangsal itu lalu mendorongnya bersama para suster. Aldyanta terus mengengam tangan Delissa dengan harapan dia bisa memberi kekuatan untuk Delissa.
"Sakit, Kak" rintih Delissa karna kontraksi yang semakin kuat.
__ADS_1
"Kamu yang kuat, Sayang. Aku akan selalu ada di sampingmu" ucap Aldyanta mengengam kuat tangan Delissa.
Bersambung....