
Mendengar ucapan Aldyanta, Dewa, Fadli dan Ervan langsung saja berpikir. Mereka juga tidak mau jika Nyonya besar mereka pergi bersama Heri musuh mereka.
"Aku tau!" ucap Dewa tiba tiba hingga membuat sumua yang ada di ruangan itu terkejut.
"Nasib punya anak buah gila" batin Aldyanta sambil mengelus dadanya.
"Apa!" bentak Fadli kesal sambil mengelus dadanya.
"Tuan Muda pura pura sakit saja. Aku yakin jika Tuan Muda sakit Nyonya muda tidak akan tega meninggalkannya" ucap Dewa tersenyum.
Mendengar ucapan Dewa, Aldyanta langsung saja tersenyum lebar. Anak buahnya itu memang terandalkan jika dikaitkan dengan alasan.
"Baiklah, aku setuju" ucap Aldyanta.
"Tapi, melihat penampilan Tuan aku yakin jika Nyonya tidak akan percaya" ucap Fadli menatap penampilan Aldyanta yang segar bugar.
"Aku bisa mengaturnya" ucap Dewa tersenyum sambik menatap Aldyanta.
"Aku serahkan masalah ini padamu. Tapi kamu harus melaksanakan tugas yang di berikan Ervan terlebih dahulu" ucap Aldyanta mengingat Gress.
"Baik, Tuan. Kalau begitu kami langsung pergi saja" ucap Dewa semangat.
"Baiklah. Van aku mau ke markas. Tapi aku mau melihat keadaan istri dan adik adikku dulu. Aku mau kau memberikan pengawasan yang ketat untuk mereka selama aku tidak ada" perintah Aldyanta.
"Baik, Tuan" ucap Ervan menganguk patuh.
Setelah itu Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Namun, saat menaiiki anak tangga Aldyanta berpas pasan dengan Vina. Aldyata tidak memperdulikan Vina yang ada di depannya sehingga membuat Vina merasa terabaikan.
"Al" ucap Vina lirih sambil menahan tangan Aldyanta.
"Ada apa?" ucap Aldyanta dinggin sambil menepis kasar tangan Vina.
"Kenapa kamu sangat kasar kepadaku?" ucap Vina lirih ketika Aldyanta menepis tangannya dengan sangat kasar.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang mau di bicarakan aku permisi dulu. Aku mau melihat istriku" ucap Aldyanta kembali melangkahkan kakinya tanpa menatap Vina.
"Kenapa! kenapa kau selalu memikirkan wanita kampung itu?" bentak Vina kesal karna Aldyanta selalu memanjakan Delissa.
Perlakuan Aldyanta kepada Delissa sangat berbeda jauh dengan perlakuan Aldyanta kepada Vina selama mereka menjalin kasih dulu. Hal itu membuat Vina sangat mersa jengkel dan membenci Delissa. Walaupun sudah menikah dengan Heri tapi Vina tetap ingin merebut Aldyanta kembali.
"Karna aku mencintainya" ucap Aldyanta melirik Vina lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Aku akan merebutmu kembali dengan cara apapun!" ucap Vina tegas hingga membuat Aldyanta kembali menghentikan kakinya lalu menatap Vina tajam.
"Jangan sesekali kau mencoba merusak hubunganku dengan istriku. Atau kau akan tau akibatnya!" ucap Aldyanta mengeraskan Rahangnya hingga membuat Vina melangkah mundur.
Melihat ketakutan Vina, Aldyanta langsung saja tersenyum sinis lalu kembali melangkahkan kakinya. Aldyanta sudah tidak sabar ingin bertemu istri kesayangannya. Walaupun baru beberapa jam berpisah tapi Aldyanta sangat merindukan istrinya.
Sesampainya di kamar Aldyanta langsung saja tersenyum ketika melihat Delissa sedang tertidur dengan lelapnya. Aldyanta langsung saja duduk di samping Delissa sambil mengelus rambut panjang istrinya.
"Sayang kamu cantik sekali. Aku harap kamu baik baik saja selama ketiga iblis itu masih ada di istana kita. Aku janji akan segera menyingkirkan mereka semua secepatnya" ucap Aldyanta sangat menghawatirkan keadaan istrinya.
Aldyanta langsung saja mencium lembut kening istrinya lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya ke kamar kedua adik iparnya yang ada di samping kamarnya.
Aldyanta langsung saja tersenyum lebar ketika melihat kedua adik iparnya sedang tertidur dengan lelapnya. Aldyanta langsung saja menghapiri keduanya lalu mencium lembut kening Ayu dan Nana secara bergantian.
Setelah memastikan semuanya aman Aldyanta langsung saja keluar dari kamar Ayu dan Nana. Aldyanta langsung saja melangkah keluar menuju markasnya yang sudah lama dia tidak lihat.
*******
Dewa dan Fadli telah sampai di rumah Gress. Mereka berjalan menyelinap secara pepan pelan memasuki rumah Gress sambil mengikuti arahab Ervan yang telah Ervan sampaikan sebelumnya.
Tak menunggu lama akhirnya mereka sampai di kamar Gress. Dewa menatap Kamar yang begitu rapi dan bersih dengan lekat.
"Ternyata wanita gila itu suka kebersihan juga" ucap Dewa tersenyum.
"Sudah, jangan banyak tanya. Kita cari saja hal yang bersangkutan dengan identitas wanita itu" ucap Fadli langsung saja mengeleda kamar itu.
__ADS_1
"Fad. Bukankah ini?" ucap Dewa melihat berbagai jenis narkoba beserta alat pengunaannya di lemari Gress.
"Kamu bawa saja. Nanti Ervan yang menyelesaikannya. Coba cari bukti lain" ucap Fadli terus saja mengeleda kamar itu.
Hingga akhirnya mata Fadli tertuju ke leptop Gress yang tersimpan rapi di meja kerjanya. Fadli langsung saja membuka leptop itu dan mulai memainkan jarinya mengotak atik leptop itu dengan sangat lincah.
Fadli langsung saja membulatkan matanya terkejut ketika melihat data Gress.
"Dew, lihat ini" ucap Fadli menunjuk ke arah layar leptop.
"Apa! ternyata dia anggota gangster Lord" ucap Dewa membulatkan matanya terkejut.
"Lebih baik kita memasang ini terlebih dahulu. Ervan akan memeriksa semua isi leptop ini. Kau rapikan semua ini. Jangan sampai ada orang yang curiga jika kita masuk ke sini" perintah Fadli langsung saja memasang alat ke leptop Gress.
Setelah memastikan semuanya aman, Fadli dan Dewa langsung saja keluar dari rumah Gress dengan sangat hati hati. Mereka langsung saja berlari ke arah mobil mereka yang mereka parkir agak jauh dari lokasi rumah Gress.
"Hufff aku tidak menyangka jika musuh kita selama ini adalah geng gangster sialan itu" ucap Dewa kesal melihat gangster Lord adalah gangster yang selalu membuat resah di kota mereka.
Gangster Lord adalah pedangan Narkoba terbesar di kota mereka. Bahkan Gangter itu juga banyak melakukan bisnis haram yang meresahkan para warga sekitar. Gangster itu juga selalu bertolak belakang dengan kelompok Mafia Al. Namun, mereka sama sama tidak mengenal siapa lawan mereka yang sebenarnya.
"Sudahlah. Lebih baik kita pergi ke markas secepat mungkin" ucap Fadli langsung saja menghawatirkan keadaan Nona kecil dan juga Nyonya mudanya.
Setelah mengetahui jika musuh mereka selama ini bukan orang biasa. Fadli langsung saja merasakan kecemasan yang luar biasa. Walaupun kelompong gangster itu tidak ada apa apanya di banding kelompok mafia mereka tapi tetap saja Fadli merasa khawatir. Apalagi dengan keadaan Nyonya muda dan juga kedua Nona kecilnya yang kemungkinan besar akan jadi sasaran lawan mereka.
******
Di sebuah ruangan gelap, ada beberapa orang yang sedang terkurung dengan keadaan yang begitu menyedihkan. Mereka mengalami luka di sekujur tubuh mereka sehingga ruangan itu di penuhi bau amis karna darah mereka yang mengalir di latai ruangan itu.
Mereka langsung saja ketakutan ketika mendengar suara hentakan sepatu mewah mulai mendekat ke arah mereka. Mata mereka langsung saja tertuju kepada seorang pria tegap yang berdiri di depan mereka.
"Kau!"
Bersambung.....
__ADS_1