Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
43# Buaya Darat


__ADS_3

Gress dan anak buahnya langsung saja membulatkan matanya ketika melihat siapa pria tegap yang menyeramkan berdiri di depanya.


"Kau! te..ternyata kau" ucap Gress ketakutan ketika melihat wajah Aldyanta yang penuh amarah.


Aldyanta terus saja menatap Gress dan anak buahnya dengan tatapan tajamnya sehingga membuat wajahnya sangat menakutkan.


"Ia, aku! aku adalah ketua klan ini. Kau salah karna telah berani mengusikku" ucap Aldyanta sambil mencengkram keras wajah Gress.


Melihat amarah Aldyanta, Gress langsung saja merinding ketakutan. Dia tidak menyangka jika Aldyanta yang dia kira lemah ternyata memiliki jiwa yang sangat menyeramkan. Aldyanta memang tidak pernah memperlihatkan jati dirinya yang sebenarnya kedepan umum sehingga membuat semua lawan bisnisnya selalu meremehkannya.


"Katakan siapa yang menyuruhmu?" ucap Aldyanta tanpa basa basi.


"Ti..tidak ada. Tidak ada yang menyuruhku" ucap Gress menantang.


Melihat keberanian Gress, Aldyanta langsung saja tersenyum sinis. Dia menatap kagum keberanian wanita yang telah di penuhi luka itu. Walaupun Aldyanta bisa melihat ketakutan di wajah Gress. Tapi, Gress berusaha untuk menyembunyikannya.


"Baiklah. Aku akan mengunakan caraku agar kau buka mulut" ucap Aldyanta tersenyum sinis sambil meminta pisau ke Ervan.


Ervan langsung saja memberikan pisau belati kepada Aldyanta. Aldyanta langsung saja menerimanya lalu memainkan pisau itu teoat di depan Gress.


"Pisau kesayanganku. Kau pasti sangat haus kan? hari ini kau akan minum sepuasmu" ucap Aldyanta tersenyum sinis.


Matanya menatap satu persatu orang yang tergeletak di depannya. Semua orang yang ada di sana langsung saja merinding ketakutan ketika melihat tatapan Aldyanta. Tatapan yang haus akan darah dan juga tatapan yang memancarkan jiwa iblis yang ingin segera menghabisi lawannya.


Arghhhh.....


Salah satu anggota Gress langsung saja meringgis kesakitan ketika Aldyanta menancapkan pisaunya di perut pria itu.


Jlepp...


Arghhh....


Aldyanta terus saja menusuk pria itu dengan membabi buta. Aldyanta langsung saja tertawa puas ketika darah pria itu mengenai wajah tampannya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung saja menunduk ketakutan. Mereka menatap salah satu rekan mereka yang telah terkapar dengan kondisi mengenaskan di lantai.


Tak hanya berhenti di situ. Aldyanta terus saja menatap siapa yang akan menjadi mangsanya yang berikutnya.


"Katakan apa tujuanmu menculik kedua adikku?" ucap Aldyanta kepada anak buah gress yang lainnya.

__ADS_1


"Ma..maaf Tuan. Saya hanya mendapat perintah untuk menculik gadis kecil itu" ucap pria itu menunduk ketakutan sambil bersujut meminta ampun.


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Di..dia" ucao pria itu menunjuk ke arah Gress.


Aldyanta langsung saja menatap Gress dengan geram. Dia langsung saja tau jika kelompok itu di ketuai oleh Gress. Aldyanta langsung saja berjala mendekati Gress sambil menatapnya dengan tajam.


"Apa mereka sudah menyelesaikan tugasnya?' ucap Aldyanta tanpa menatap Ervan yang ada di belakangnya.


"Akan saya periksa, Tuan" ucap Ervan langsung saja merogoh sakunya dan mengambil ponselnya mencoba menghubungi Dewa dan Fadli.


"Ada apa?" sahut seseorang dari sebrang sana.


Namun, Ervan langsung saja mengerutkan keningnya itu ketika merasa suara itu sangat dekat dengannya. Ervan langsung saja menoleh kebelakang.


"Astaga!"


Bugh....


Ervan repleks langsung saja memukul kepala Dewa karna terkejut. Bagaimana tidak Dewa tiba tiba berdiri di belakangnya dengan mengunakan topeng hitam yang masih melekat di kepalanya.


"Aww... Sakit tau" ucap Dewa kesal sambil mengelus kepalanya yang sakit.


"ihh, tega amat sama adik kecilmu ini" ucap Dewa dengan wajah cemberutnya.


"Tuan, kami sudah mendapatkan beberapa imformasi tentang mereka" ucap Fadli tidak memperdulikan pertengkaran Dewa dan Ervan.


"Kita bicara di luar. Dew, urus mereka" ucap Aldyanta langsung saja mempercayakan masalah Gress dan anak buahnya kepada Dewa.


Ervan dan Fadli langsung saja mengikuti langkah Aldyanta keluar meninggalkan ruangan yang sangat menyeramkan itu.


"A..aku kenapa harus aku" ucap Dewa berlari mengejar kedua rekan kerjanya itu.


"Apa kamu tuli? sana! kerjakan perintah tuan muda" ucap Ervan menghentikan langkah Dewa dengan meletakkan jari telunjuknya ke kening Dewa.


"What? kenapa jika masalah seperti ini tuan selalu menggandalkan aku sih" ucap Dewa kesal sambil menatap Gress dengan jijik.


"Baiklah, sesuai permintaanmu selama ini. Kita akan bersenang senang dengan gayaku" ucap Dewa menyeringai sambil mengambil pisau belati kesayangannya.

__ADS_1


*****


Di dalam ruangan khusus Aldyanta, Fadli dan Ervan sedang memeriksa data lengkap tentang Gress. Ervan terus saja mengotak atik leptopnya dengan serius. Dia langsung saja tersenyum ketika melihat data data tentang Gress dan Klan Gangsternya di layar leptopnya.


"Tuan, benar saja wanita itu adalah salah satu angota gangster Lord. Tapi, saya tidak bisa menemukan siapa ketua mereka" jelas Ervan karna dia tidak bisa menemukan siapa ketua klan gangster itu.


"Apa Tuan Ringgo" ucap Fadli tiba tiba.


"Kita tidak bisa langsung menuduhnya. Lebih baik kita cari imformasi tentang klan itu terlebih itu. Sebelum kita mendapatkannya kita harus lebih waspada lagi. Seban kali ini kita tidak tau siapa lawan kita yang sebenarnya" jelas Aldyanta.


"Baik, Tuan. Saya akan memperketat penjagaan untuk Nona kecil dan juga Nyonya muda" ucap Ervan mengerti.


"Baiklah. Aku harap kalian bisa menjaga hartaku itu dengan baik" ucap Aldyanta.


"Harta? harta apa, Tuan?" ucap Fadli dan Ervan binggung.


"Hartaku yang paling berharga. Istriku dan juga kedua adikku" ucap Aldyanta tersenyum.


Ntah mengapa ketika membicarakan istri dan juga adik kesayangannya wajah Aldyanta langsung saja berbinar.


"Nyonya muda memang telah berhasil jadi pawang handal anda tuan" ucap Fadli terkekeh kecil.


"Memangnya aku buaya, pakai pawang segala"ucap Aldyanta.


"Ia, Tuan. Buaya darat" ucap Ervan tertawa.


"Dasar! anak buah sialan!" ucap Aldyanta kesal.


Melihat kekesalan Aldyanta, bukannya takut Fadli dan Ervan malah semakin tertawa renyah. Hingga membuat Dewa yang berjalan ke ruangan mereka langsung saja berlari karna penasaran.


"Ada apa? apa aku ketinggalan berita heboh malam ini" ucap Dewa langsung saja menerobos masuk.


"Ada kamu lakukan tugasmu setelah aku selesai mandi" ucap Aldyanta langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihka dirinya.


Aldyanta tidak mau jika dirinya menemui Delissa dengan darah yang mengenai tubuhnya. Aldyanta langsung saja membersihkan tibuhnya sebersih mungkin agar Delissa tidak bisa mencium bau amis darah di tubuhnya.


Setelah selesai menghabiskan sabun satu botol penuh Aldyanta langsung saja keluar dengan begitu segarnya. Melihat tubuh Tuan mudanya yang begitu wangi Fadli, Dewa dan Ervan langsung saja terkekeh geli.


"Tuan muda mandi kembangnya. Wangginya sampai tercium sangat jelas" ucap Dewa mengirup wangi tubuh Aldyanta.

__ADS_1


"Ia aku mandi kembang. Mandi kembang agar di jauhkan dari hantu gila yang ada di tubuh kalian"


Bersambung.....


__ADS_2