
Mendengar ucapan Aldyanta, Delissa langsung saja mengerti apa alasan Aldyanta sebenarnya pura pura sakit agar Delissa tidak jadi pergi dengan Heri. Delissa juga merasakan ada aura yang berbeda saat berdekatan dengan Julia dan Vina. Apa lagi dengan sikap Julia yang suka berubah ubah kepadanya dan juga kedua adiknya.
"Baik, Kak. Aku akan berhati hati dan menjaga jarak dari mereka" ucap Delissa patuh.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu memang istri yang penurut. Maafkan aku karna pernah membohongimu dengan alasan sakit" ucap Aldyanta merasa bersalah dengan kelakuannya yang membohongi Delissa.
"Tidak apa apa, Kak. Aku sudah memaafkannya. Kakak jangan pernah mengulanginya lagi ya. Lebih baik kakak ceritakan semuanya kepadaku" Delissa langsung saja tersenyum sambil membelai lembut wajah Aldyanta.
"Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Agar kamu dan kedua adik kita aman dari para penjahat itu" Aldyanta langsung saja memeluk Delissa dengan penuh kasih sayang.
"Sudah! lebih baik sekarang kakak istirahat. Besok kakak'kan mau pergi untuk memeriksa keadaan kantor cabang"
"Oh ia. Kakak sampai lupa. Ayo kita tidur, kamu juga pasti lelah. Tapi" ucap Aldyanta langsung saja tersenyum genit ke arah Delissa.
"Aku mau kehangatanmu terlebih dahulu" ucap Aldyanta langsung saja menyerang Delissa. Aldyanta langsung saja menjelajahi tubuh Delissa untuk melakukan pemanasan. Setelah itu mereka berdua langsung saja larut dalam permainan panas mereka.
*****
Heri yang sudah bersiap siap untuk pergi ke kantor cabang langsung saja tersenyum ketika melihat ponselnya berbunyi. Ntah siapa yang menghubunginya sehingga dia langsung saja sebahagia itu.
"Sayang, kamu bahagia sekali" ucap Vina melingkarkan tangannya di leher Heri.
Heri langsung saja mencium lembut bibir Vina lalu kembali tersenyum bahagia.
"Aku ada kabar bahagia untukmu. Tapi, aku harus memeriksanya terlebih dahulu" ucap Heri tersenyum puas sambil melingkarkan tangannya di pinggang Vina.
"Kabar bahagia apa? apa rencana kita berhasil?" tebak Vina.
"Kamu ini jika masalah itu langsung saja tau. Tinggal sedikit lagi rencana kita akan berhasil, Sayang. Kita jalankan saja terus rencana ini. Berlahan tapi pasti" Heri tersenyum sinis.
"Aku percayakan semuanya kepadamu, Sayang. Tapi, aku mau sarapan energimu terlebih dahulu" ucap Vina langsung saja mendorong tubuh Heri ke atas kasur mereka.
__ADS_1
"Kamu ini" ucap Heri tersenyum lalu menjelajahi tubuh Vina dengan rakusnya.
*****
Aldyanta sedang bersiap siap untuk berangkat ke kantor cabang. Dia sengaja tidak membawa Delissa karna dia berencana akan datang sana secara diam diam. Delissa yang sudah mengetahui semua rencana Aldyanta memilih untuk menurut dan mengikuti ucapan suaminya.
Delissa yang sedang duduk di tepi ranjang terus saja menatap Aldyanta yang sedang mengunakan pakaiannya. Aldyanta menatap wajah sang istri yang terus saja menatapnya dari pantulan cermin. Wajah polos Delissa yang begitu menggemaskan membuat Aldyanta ingin sekali melahap istrinya itu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apa aku sangat tampan?" ucap Aldyanta menaik turunkan alisnya.
"Tidak apa apa. Aku hanya merasa seperti mimpi bisa menjadi istrimu seperti sekarang ini" ucap Delissa masih tidak menyangka jika dia kini menjadi nyonya muda di keluarga kusuma.
"Kamu tidak mimpi, Sayang. Kamu memang pantas mendapatkan ini semua. Apa aku perlu menyadarkanmu?" ucap Aldyanta langsung saja mendekatkan wajahnya ke wajah Delissa.
"Kakak, kamu jangan nakal" ucap Delissa manja sambil mendorong pelan wajah Aldyanta agar menjauh dari wajahnya.
"Aku nakal hanya denganmu, Sayang" ucap Aldyata langsung saja melingkarkan tanganya di pinggang Delissa.
"Ada apa?" ucap Aldyanta dingin sambil melemparkan tatapan tajamnya kepada Ervan sehingga Ervan harus menghentikan langkahnya.
"Tidak apa apa, Tuan. Saya hanya ingin menyampaikan jika semua telah siap" ucap Ervan menunduk.
"Hanya itu? hanya ingin menyampaikan itu, kamu sampai mengangu moment romantisku bersama istriku?" ucap Aldyanta melemparkan tatapan tajamnya ke Ervan.
"Ti... tidak, Tuan. Aku tidak berniat mengangu, Tuan. Hanya saja tuan yang tidak menutup pintu terlebih dahulu" ucap Ervan jujur karna saat dia ingin mengetuk pintu kamar Aldyanta dia melihat pintunya yang terbuka setengah.
"Kamu ini aku ini sudah menikah. Jadi kamu harus hati hati jika masuk ke kamarku. Jika tadi istriku sedang tidak memakai baju bagaimana?" ucap Aldyanta kesal karna bagaimanapun Ervan harus berhati hati saat ingin masuk ke kamarnya.
"Ma... maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi" ucap Ervan merasa bersalah.
"Kak, sudah jangan seperti itu. Kak Ervan pasti tidak sengaja" ucap Delissa menenangkan suaminya.
__ADS_1
"Ia, Sayang kakak tau. Tapi dia harus di peringati. Bagaimana tadi jika kamu masih mengunakan baju dinasmu?" ucap Aldyanta kesal.
"Ia, aku tau. Tapi kakak bisa bilang secara baik baik kepada Kak Ervan. Apa kakak lupa jika kita semua adalah saudara maka kita harus saling menasehati bukan memarahi" ucap Delissa bijak.
"Ia, Sayang. Kakak minta maaf ya. Van, kamu tunggu di luar" ucap Aldyanta langsung saja patuh dengan ucapan Delissa.
"Ha... ha... ternyata macan bisa juga jinak jika sudah bertemu pawangnya" batin Ervan tersenyum sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Aldyanta.
"Kakak berangkat dulu ya. Ingat jangan kemana mana. Kamu juga hari selalu waspada ya. Karna musuh bisa menyerang kapan saja. Ini ponselmu jangan di tingal tingalkan. Jika terjadi sesuatu langsung saja telpon kakak atau Dewa" oceh Aldyanta sehingga membuat Delissa hanya diam menganguk.
"Apa kamu dengar apa yang kakak bilang? jangan asal menganguk saja" ucap Aldyanta melihat Delissa hanya diam menganguk.
"Ia, Kak. Kakak tenang saja. Aku bisa jaga diri dengan baik" ucap Delissa tersenyum berusaha meyakinkan Aldyanta.
"Kakak percaya kepadamu. Satu lagi kamu jangan makan apapun pemberian mama dan Vina. Jika kamu mau makan pelayan harus mencobanya terlebih dahulu" ucap Aldyanta.
"Ia, Kak"
Mendengar ocehan Aldyanta yang tidak ada ujungnya Delissa hanya mampu menganguk mengerti. Melihat Delissa yang terus saja menanguk patuh Aldyanta langsung saja mengeluarkan jurus jahilnya.
"Sayang pagi ini aku minta protein lagi dari sini ya" ucap Aldyanta menunjuk ke arah puncak kembali Delissa.
"Ia, Kak" ucap Delissa tanpa sadar.
Mendengar itu Aldyanta langsung saja tersenyum lebar lalu membuka kancing baju Delissa.
"Kakak!" ucap Delissa kesal namun dia telah terlambat. Aldyanta telah berwisata di gunung kembarnya lalu meninggalkan jejaknya di sana. Setelah itu Aldyanta langsung saja menatap Delissa dengan napas memburunya.
"Kita lanjutkan nanti ya, Sayang. Kakak mau kerja dulu" ucap Aldyanta tersenyum lalu mencium lembut kening Delissa.
Bersambung....
__ADS_1