
Aldyanta langsung saja membawa Delissa kembali ke mensionnya. Mereka langsung saja di sambut hangat oleh Julia dan Heri.
"Selamat datang kembali. Kalian pasti sangat lelah. Ayo kita makan siang bersama. Mama sudah masak makanan kesukanaanmu" ucap Julia tersenyum ramah.
"Maaf, Ma. Kami sudah makan. Kami langsung ke kamar saja" ucap Aldyanta langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan Julia.
"Tapi, Nak. Mama sudah memasak untukmu"
"Lebih baik Mama dan Heri saja yang makan ya. Kami sudah makan"
"Baiklah. Tapi kedua adik iparmu mana? Mama membawa oleh oleh untuk mereka. Kamu juga menantuku" ucap Julia tersenyum dan membawa Delissa duduk di sofa.
"Lihat ini hadiah untukmu. Kamu suka kan?" Julia langsung saja menyerahkan beberapa barang breanded untuk Delissa.
"Terima kasih, Ma" ucap Delissa menatap barang barang mewah itu.
"Sama sama, Sayang. Kamu adalah menantu Mama sama seperti Vina. Kamu jangan sungkan sungkan kepada Mama ya" ucap Julia tersenyum ramah.
"Ia, Ma. Terima kasih ya, Ma. Karna mama sudah mau menerima Delissa dan kedua adik Delissa"
"Tidak apa apa, Sayang. Kamu adalah pilihan Al jadi mama yakin kamu adalah wanita terbaik untuknya." ucap Julia tersenyun ramah sambil mengelus wajah Delissa.
Aldyanta terus saja menatap Julia dengan penuh kecuriagaan. Aldyanta langsung saja bisa menebak jika Julia sesang merencanakan sesuatu. Ingin sekali Aldyanta membunuh Julia saat itu juga. Namun, dia harus menahan amarahnya.
Jika Julia mati secepat itu maka Aldyanta tidak bisa menemukan siapa saja orang yang membantunya selama ini. Walaupun Aldyanta sudah mencurigai seseorang tapi dia tidak mau bertindak gegabah.
"Kak apa kalian tidak akan melakukan bulan madu?" ucap Heri terus saja menggengam mesra tangan Vina.
"Kami akan memikirkannya nanti. Bagaimana bulan madu kalian?" ucap Aldyanta.
"Lancar kak. Terima kasih atas hadiah bulan madunya kak" ucap Heri tersenyum.
__ADS_1
"Itu tidak masalah untukku. Tapi, bagaimana dengan perusahaan cabang kita di pingir kota?" ucap Aldyanta mengingat cabang perusahaannya di pingir kota yang dikelola Heri selama dia tidak ada.
"Em. Lancar kak. Tidak ada masalah sama sekali selama kakak hilang" ucap Heri gugup.
Melihat ekspresi Heri, Aldyanta mulai mencurigai sesuatu. Melihat kecurigaan di wajah Aldyanta, Julia langsung saja mengalihkan pembicaraan.
"Bukankah desa Delissa tidak jauh dari perusahaan itu?" ucap Julia.
"Ia" ucap Aldyanta singkat.
"Kamu rindukan dengan kampung halamanmu? Jika kamu mau pergi ke Desamu kamu bisa ikut bersama adik iparmu. Besok dia akan pergi memantau perusahaan yang ada di sana" ucap Julia.
"Benarkah? aku sangat merindukan kampung halamanku. Kak bolehkan besok aku ikut dengan kak Heri?" ucap Delissa penuh semangat.
Melihat semangat Delissa Aldyanta langsung saja menganguk pelan. Ingin rasanya Aldyanta melarang Delissa untuk dekat dengan keluarga tirinya itu. Namun, melihat kebahagiaan Delissa, Aldyanta langsung saja merasa tidak tega.
"Terima kasih, Kak" ucap Delissa langsung saja memeluk Adyanta dengan penuh kebahagiaan.
Melihat Delissa memeluk Aldyanta di depan matanya Vina langsung saja menatapnya geram. Jujur saja Vina telah tergoda dengan ketampanan Aldyanta. Itu sih wajar saja wanita mana yang tidak jatuh hati melihat ketampanan dan kharisma Aldyanta yang begitu memancar.
Mendengar ucapa Aldyanta , Delissa langsung saja mengaguk pelan.
"Ma, kami ke kamar dulu ya" ucap Delissa ramah lalu mengikuti langkah Aldyanta pergi meninggalkan ruang tamu itu.
"Hufff... tisu mana tisu? mama harus membersihkan tangan mama dari kuman kuman wanita udik itu" ucap Julia langsung saja merasa jijik dengan tangannya karna menyentuh Delissa.
"Mama sih! pakai pegang pegang wanita udik itu segala" ucap Vina langsung saja memberikan kotak tissu untuk Julia.
"Mama tidak sabar ingin segera menyingkirkan para serangga itu. Heri kamu atur besok" ucap Julia tersenyum penuh kelicikan.
"Baik, Ma" Heri langsung saja menganguk patuh.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamarnya Aldyanta terus saja menatap wajah gembira Delissa karna besok mau pergi ke kampung halamannya. Delissa terus saja bercerita panjang lebar membayangkan hari esok yang telah lama dia nantikan.
Delissa memang sudah sangat merindukan tanah kelahirannya. Mendengar Heri mau membawanya ke sana hati Delissa langsung saja bahagia.
Aldyanta terus saja berpikir bagaimana caranya agar Delissa tidak pergi bersama Heri. Aldyanta tidak bisa membiarkan Delissa pergi jauh tanpa pengawasan darinya. Apa lagi jika Delissa pergi bersama Heri orang yang dengan jelas ingin mencelakainya.
Tapi jika Aldyanta langsung saja melarang Delissa untuk pergi Aldyanta takut jika Delissa akan kecewa dan merasa bersedih. Aldyanta langsung saja mengingat ketiga anak buahnya yang sangat genius jika di hubungkan dengan sebuah alasan demi alasan.
Aldyanta langsung saja memutuskan untuk menemui ketiga angotanya untuk memecahkan masalahnya, setelah ketiga angotanya kembali dari kelas ilmu bela diri Ayu dan Nana.
"Kakak kenapa diam saja" ucap Delissa tiba tiba ketika melihat Aldyanta hanya diam saja mendengarkan semua ocehannya.
"Tidak apa apa, Sayang. Kakak hanya ikut bahagia membayangkan kamu bisa menginjakkan kakimu lagi di kampung halamanmu"
"Ia, Kak. Aku juga sudah sangat merindukan Bu Marni dan juga Bidan Nita. Pasti mereka sangat senang melihat aku kembali"
"Ia, Sayang. Sudah ceritanya. Kamu istirahat dulu ya. Pasti kamu sangat lelah" ucap Aldyanta langsung saja membaringkan tubuh Delissa di atas ranjang mereka.
"Kakak benar. Jika aku tidur waktu pasti berjalan dengan cepat. Jadi aku tidak perlu lelah menunggu hari esok" ucap Delissa langsung saja bersiap untuk tidur.
Deg....
Jantung Aldyanta langsung saja berdetak mendengar ucapan Delissa. Delissa sangat menantikan hari esok dimana dia bisa pergi ke kampung halamannya. Tapi, dia malah berencana untuk mengagalkan kebahagian Delissa itu.
Tapi, Aldyanta mencoba meyakinkan dirinya dengan keputusannya. Karna bagaimanapun itu semua demi kebaikan Delissa juga. Dia tidak bisa membiarkan Delissa berada dalam masalah.
Melihat Delissa sudah memejamkan matanya, Aldyanta langsung saja mencium lembut kening Delissa. Aldyanta langsung saja turun dari ranjang mereka dengan pelan berharap Delissa tidak terusik.
Aldyanta langsung saja pergi ke balkon kamarnya menatap pemandangan di luar sana. Pemandangan seluruh area mensionnya terlihat sangat jelas dari sana. Walaupun cuaca sangat panas trik Aldyanta mencoba untuk duduk bersantai di sana.
Aldyanta menatap kearah taman mensionnya. Berlahan senyuman di wajah Aldyanta terpancar ketika mengingat sang Mommy yang selalu menghabiskan waktunya berkebun di taman bungga itu. Taman yang begitu luas dan di penuhi bungga bungga yang sangat indah.
__ADS_1
"Mommy dan Deddy tenang di sana ya. Aldyanta janji akan membalas semua orang yang telah mengirim Mommya dan Deddy ke sana"
Bersambung.....