Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
45# Mengikuti Permainan.


__ADS_3

Julia langsung saja melemparkan tubuhnya di atas sofa di dalam kamar Heri. Dia merasa sangat geram karna rencana yang dia buat gagal begitu saja. Dia mengira jika Delissa akan ternamakan ucapan manisnya.


Tapi, dia melihat jika Delissa tidak sepolos yang dia kira. Apa lagi tadi Delissa bicara begitu lantang dan tegas di depannya. Dia langsung saja merasa jika Delissa tidak mudah untuk di manfaatkan.


"Kita harus buat rencana lain" ucap Julia mengigit kukunya membayankan wajah tegas Delissa tadi.


"Aku punya rencana. Bagaimana jika bunuh saja dia seperti kita membunuh Mommy Al dulu" ucap Vina santai.


"Tidak semudah itu. Dulu wanita itu tidak memiliki penjagaan seketat wanita udik itu. Mama melihat Aldyanta memberikan pengawasan yang cukup ketat untuknya. Jadi kita tidak akan mudah untuk menyentuhnya" ucap Julia.


"Kalian tidak boleh ceroboh. Jika kalian membuat kesalahan sedikit saja maka perjuangan kita selama ini akan sia sia" ucap Heri sambil merapikan jasnya.


"Kita coba ambil hatinya saja terlebih dahulu. Setelah itu kita hancurka dia secara berlahan. Aku yakin jika kita bisa menyingkirkan wanita udik itu maka kita dengan mudah akan menghancurkan Al" ucap Julia tersenyum sinis ketika mengetahui jika Aldyanta sangat mencintai Delissa.


Sudah pasti jika mereka bisa menahan Delissa dan kedua adiknya maka mereka akan dengan mudah mengendalikan Aldyanta. Orang licik seperti Julia memang sering mengandalkan kelemahan lawannya yaitu istri dan juga keluarganya. Karna menyentuh Aldyanta secara langsung tidak akab mudah.


"Aku serahkan wanita itu kepada kalian. Aku mau mengurus perusahaan cabang dulu" ucap Heri licik ingin segera menjalankan rencananya merebut perusahaan cabang milik Aldyanta terlebih dahulu.


"Baik, Sayang. Kamu serahkan saja semuanya kepada kami" ucap Vina manja sambil merapikan jas Heri.


"Aku tau apa yang kamu inginkan. Ini kan?" ucap Heri tersenyum sambil memberikan kartu kredit kepada Vina.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang suami terbaikku" ucap Vina tersenyum lalu mengecup wajah Heri dan mengambil kartu kredit yang ada di tangan Heri.


Heri langsung saja berpamitan lalu berangkat ke kantor cabang. Setelah kepergian Heri, Julia dan Vina langsung saja bersiap siap untuk pergi shoping.


*******


"Apa! Gress gagal menculik kedua bocah itu?" ucap seorang pria misterius berbadan tegap sambil mengeraskan rahangnya.


"Ia, Bos. Mereka berhasil menyusuo ke gedung temoat Gress menahan kedua bocah itu" ucap salah satu anak buahnya sambil gemetar ketakutan.


"Sial! dimana Gress beserta anak buahnya?"

__ADS_1


"Gress di bawa bersama anak buahnya yang masih hidup, Bos. Kami berusaha mencari keberadaan mereka tapi mereka tidak dapat di temukan sampai sekarang"


Brakkk...


"Kurang ajar! siapa kau sebenarnya?" ucap pria itu frustasi sambil melempari barang barang yang ada di dekatnya.


"Apa kalian sudah mencari tau imformasi tentang Al dan juga anak buahnya?" ucap pria itu langsung saja berpikir jika Aldyanta bukan orang sembarangan seperti yang selama ini dia pikirkan.


"Sudah, Bos. Tapi hasilnya sama saja. Kami tidak bisa menemukan informasi lainnya selain tentang identitasnya yang selama ini" ucap anak buahnya yang hanya mengetahui jika Aldyanta hanya pengusaha ternama.


"Dasar tidak berguna! lebih baik kalian keluar" bentak pria itu geram.


Melihat kemarahan bosnya itu anak buah yang mengirim imformasi itu langsung saja mengambil langkah aman. Dia langsung saja pergi meninggalkan bosnya itu seorang diri.


Sepeninggalan anak buahnya pria misterius itu langsung saja mengotak atik leptopnya. Dia berusaha untuk menerobos pengamanan tentang identitas Aldyanta beserta ketiga anak buahnya. Tapi, sama saja, dia tidak menemukab satu pun imformasi tentang Aldyanta yang sesunggubnya.


"Aku tau kau memang sangat licik Al. Kita lihat saja siapa yang lebih licik. Aku akan ikuti permainanmu" ucap pria itu tersenyum sinis sambil merencanakan sesuatu.


******


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Kakak bohong kan?"


"Bohong soal apa?"


"Kakak bohong jika kakak sakit" ucap Delissa langsung saja melipat tangannya sampil menatap tajam Aldyanta.


"Tidak! kakak tidak bohong. Kakak beneran sakit"


"Jadi ini apa?" ucap Delissa mengoles wajah Aldyanta dengan jarinya dan benar saja belas bedak Aldyanta menempel di jari Delissa.


Melihat itu Aldyanta langsung saja kelatipungan mencoba mencari alasan untuk membujuk Delissa. Delissa terus saja menatap tajam Aldyanta hingga membuat Aldyanta terus aaja salah tingkah.

__ADS_1


"Ini semua bukan rencanaku. Tapi, rencana Dewa. Jika kamu mau marah marahi saja Dewa. Karna, aku sudah menolak tapi dia terus saja memaksaku" ucap Aldyanta langsung saja melimpahkan semuanya ke Dewa.


"Sudahlah! aku kecewa sama kakak" ucap Delissa langsung saja bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.


Melihat amarah Delissa, Aldyanta langsung saja bangkit lalu mencoba mengejar Delissa. Dia terus saja mencoba membujuk Delissa.


"Bu..bukan seperti itu sayang. Maafkan kakak. Kakak hanya tidak mau kamu pergi bersama Heri. Sebab..."


Brakkk....


Belum selesai Aldyanta menyelesaikan ucapannya Delissa langsung saja menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras. Tanpa sadar Delissa mengenai hidung mancung Aldyanta saat menutup pintu.


Aldyanta langsung saja memegang hidungnya yang memerah karna benturan pintu yang begitu keras. Aldyanta terus saja menatap pintu yang tertutup rapat di depannya. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya karna telah membohongi istrinya.


"Sayang, maafkan kakak. Kakak melakukan ini untuk kebaikanmu juga. Aku tidak mau kamu juga mengalami hal yang sama seperti Mommy dan Deddy" ucap Aldyanta lirih sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.


Degh....


"Maksud Kak Al apa?" gumam Delissa ketika mendengar ucapan Aldyanta.


"Tapi, kakak tetap salah. Dia tidak bisa seenaknya saja membohongiku seperti tadi. Apapun itu alasannya" gumam Delissa tidak mau memaafkan Aldyanta begitu saja.


Mau bagaimana pun Aldyanta tidak bisa membohonginya seperti tadi. Jika Aldyanta melarangnya pergi dengan Heri dia bisa berbicara dengan jujur kepada Delissa. Bukannya mencari kebohongan agar Delissa tidak jadi pergi.


Setelah selesai berdebat dengan pikirannya Delissa langsung saja membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi Delissa langsung saja keluar dengan handuk kimono yang melilit di tubuhnya.


"Astaga!" ucap Delissa terkejut ketika melihat Aldyanta masih setia menunggunya di depan pintu.


"Sayang, maafin kakak" ucap Aldyanta penuh permohonan.


"Kakak sudah kelewatan. Tidak sewajarnya kakak berbohong hanya untuk mengikuti keinginan kakak" ucap Delissa langsung saja melangkahkan kakinya menjauhi Aldyanta.


"Kakak tau kakak salah. Kakak menyesal, Sayang" Aldyanta terus saja mengikuti kemanapun langkah Delissa. Sambil terus merengek meminta ampun

__ADS_1


Delissa terus saja diam tidak memperdulikan Aldyanta. Dia terus saja menyibukkan dirinya tidak peduli dengan Aldyanta yang terus saja mengikutinya sambil merengek meminta maaf.


Bersambung.....


__ADS_2