Gadis Polos Kesayangan Tuan Al

Gadis Polos Kesayangan Tuan Al
53# Saling Berbagi


__ADS_3

"Apa! jadi dia ingin merebut istriku?" teriak Aldyanta mengeraskan rahangnya mendengar ucapan para pengawal kepercayaannya.


"Ia, Tuan. Kami mendengar pembicaraannya dengan asistennya melalui alat penyedot suara yang aku pasang di ruangannya" ucap Dewa langsung saja menceritakan semua yang di dengarnya secara detail tanpa ada tertinggal sedikitpun.


"Apa kalian berhasil menjalankan rencana kita?" ucap Aldyanta langsung saja to the point.


"I... itu dia masalahnya, Tuan. Kami salah menculik orang" ucap Dewa langsung saja menunduk.


"Bagaimana kalian bisa salah menculik orang?" ucap Aldyanta langsung saja menatap tajam Dewa dan Fadli yang terdiam menunduk.


"Kami kira yang mengedarkan narkoba itu adalah penanggung jawab tempat hiburan malam itu, Tuan. Ternyata kami salah. Dia hanya bertugas untuk mengedarkan narkoba pada setiap agen di sini, Tuan. Dia bahkan tidak tau siapa ketua gangter lord" jelas Dewa dengan wajah memelasnya berharap Aldyanta tidak menghukumnya saat itu juga


"Kenapa kamu bisa seceroboh itu, Dew? Apa kamu tidak mencari taunya terlebih dahulu?"


"Itu masalahnya, Tuan. Kami sudah mencari taunya tapi kami hanya melihat Frans di sana. Aku berjanji akan mencaritau siapa ketua gengster itu secepatnya" ucap Dewa cengengesan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ok! terserah padamu. Tapi ingat kamu harus mencaritaunya secepat mungkin" ucap Aldyanta tidak mau ada kegagalan lagi.


"Baik, Tuan" ucap Dewa sigap.


"Jika kali ini kamu gagal lagi maka gajimu aku potong" ancam Aldyanta lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.


"Po... potong gaji. Jangan, Tuan. Cicilanku banyak" ucap Dewa langsung saja mengejar Aldyanta.


"Jika kamu tidak mau gajimu aku potong maka kerjakan tugasmu dengan baik. Aku beri kamu kesempatan dua kali dua puluh empat jam. Jika kamu berhasil mencaritau siapa ketua gengster itu maka aku akan kasih kamu bonus lebih"


"Bo... bonus? oke tuan aku akan mencaritau siapa ketua geng sialan itu secepatnya" ucap Dewa langsung saja semangat mendengar kata bonus.

__ADS_1


"Jika ada bonusnya aku juga ikut, Tuan" ucap Fadli langsung saja membuka suara ketika mendengar bonus. Padahal sedari tadi dia hanya diam menunduk karna takut kena hukum oleh Aldyanta.


"Terserah kalian. Sekarang aku mau merasakan kehangatan bantal gulingku dulu" ucap Aldyanta langsung saja pergi ke kamarnya untuk menemui Delissa yang telah tertidur.


"Dasar! tuan muda bucin" gumam Dewa melihat Aldyanta selalu menghabiskan waktunya dengan istrinya.


"Jangan seperti itu. Nanti jika kamu menemukan pawangmu bisa bisa kamu lebih bucin dari tuan muda" ucap Ervan langsung saja mengoda Dewa.


"Kamu benar, Van. Aku juga melihat ada yang berbeda dari sorot matamu ketika melihat Nona Ayu" ucap Fadli terkekeh kecil.


"Matamu itu yang lagi sengklek. Aku melihat Nona Kecil Ayu sebagai adik kecilku saja. Tidak lebih" ucap Dewa tersenyum sendiri.


"Adik kecil, apa adik kecil yayang?" ucap Fadli terus saja mengoda Dewa.


"Diam kamu!" bentak Dewa sambil menatap tajam Fadli.


"Takut!" ucap Fadli terkekeh lalu mengambil langkah seribu.


"Dasar bocah" gumam Ervan mengelengkan kepalanya melihat tingkah kedua rekan kerjanya itu.


Sedangkan Aldyanta langsung saja masuk kedalam kamarnya. Dia menatap wajah teduh Delissa yang sedang terlelap dalam tidurnya. Aldyanta langsung saja mrmbaringkan tubuhnya di samping Delissa lalu membawa tubuh Delissa kedalam pelukannya.


Rasa takut akan kehilangan Delissa kembali mengusik pikirannya. Dia takut jika Delissa akan pergi meninggalkannya. Apalagi Aldyanta sudah mengetahui niat jahat Frans yang ingin merebut Delissa darinya.


Aldyanta terus saja menciumi wajah Delissa sambil terus memeluknya dengan erat. Karna pelukan Aldyanta yang begitu erat Delissa langsung saja terbangun dari tidurnya karna susah bernapas.


"Kak, aku susah bernapasnya" ucap Delissa serak khas bangun tidur.

__ADS_1


"Ma..maaf, Sayang. Kakak sudah mengangu tidurmu" ucap Aldyanta langsung saja melongarkan pelukannya.


"Kakak kenapa?" ucap Delissa melihat raut ketakutan yang terpancar di wajah Aldyanta.


"Kakak tidak apa apa"


"Kakak jangan bohong. Aku bisa lihat jika kakak sedang tidak baik baik saja"


Aldyanta langsung saja membuang napasnya kasar. Dia mencoba berpikir apa dia harus menceritakan semua masalahnya dengan keluarga Ringgo agar Delissa bisa menjaga jarak dari Frans.


"Kak! apa kakak tidak mengangapku?" ucap Delissa menatap Aldyanta dengan penuh kekecewaan.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Sayang? aku sangat mencintaimu" ucap Aldyanta langsung saja menatap lekat netra mata Delissa.


"Jika kakak mencintaiku maka kakak tidak akan menyembunyikan apapun dariku. Kakak akan menceritakan semua masalah kakak kepadaku. Apa kakak lupa kita ini adalah suami istri yang harus saling mendukung satu sama lain"


"Maaf, maafkan kakak karna tidak mau berbagi denganmu. Kakak akan menceritakan semuanya" ucap Aldyanta langsung saja mengusap wajahnya kasar lalu duduk bersandar di atas ranjang mereka.


Aldyanta langsung saja menarik napasnya pelan. Karna jika dia menceritakan semuanya kepada Delissa, maka sama saja kenangan buruknya akan kehilangan kedua orang tuanya terulang kembali.


"Mommy dan Deddy adalah orang yang sangat baik. Mereka sangat suka menolong dan berhati lembut. Tapi sayang, semua orang malah memanfaatkan kebaikan mereka" ucap Aldyanta dengan mata berkaca kaca mengingat semua kenangannya bersama kedua orang tuanya.


"Dua tahun lalu Mommy meninggal karna kecelakaan. Semua orang mengira dia mengalami kecelakaan tunggal. Tapi, aku yakin jika ada dalang di balik kecelakaan Mommy. Aku, Dewa, Fadli dan Ervan langsung saja mencari tau apa yang terjadi sebenarnya. Benar saja ada seseorang yang menyabotase mobil Mommy. Namun, di saat kami sedang mencari tau siapa orang itu keadaan Mommy malah tiba tiba drop. Dokter bilang jika dia mengalami pemecahan pembuluh darah. Tapi, dari hasil tes darah Mommy yang kami tes kami melihat ada racun yang sangat mematikan di tubuh Mommy" jelas Aldyanta tidak lagi mampu membendung air matanya.


Dia langsung saja bersandar di bahu Delissa sambil menagis kesegukan. Delissa langsung saja mengusap punggung Aldyanta sambil mencoba menguatkan suaminya. Ternyata bukan hanya dia yang mengalami kesedihan yang luar biasa saat kehilangaam kedua orang tuanya. Tapi, Aldyanta juga mengalami hal yang sama.


Aldyanta juga sangat terpuruk saat dia kehilangaan kedua orang tuanya. Namun, perbedaan mereka adalah Aldyanta di tinggal kedua orang tuanya dengan kehidupan mewah. Sedangkan Delissa harus menjadi tulang punggung bahkan harus berhenti sekolah untuk menghidupi kedua adiknya.

__ADS_1


"Di saat kami mencoba mencari tau siapa dalang di balik kematiaan Mommy, Deddy malah bertemu dengan Mama dan mereka terpergok sedang menginap bersama di sebuah hotel. Awalnya aku sangat kecewa dengan Deddy karna dia tega mengantikan Mommy padahal Mommy baru meninggal. Karna tidak ada pilihan Deddy akhirnya menikah dengan Mama dan membawanya ke mension ini. Awalnya aku tidak curiga sedikitpun kepada Mama tapi setelah kematian Deddy satu tahun lalu aku menjadi sadar jika Mama ada di balik kematian Mommy dan Deddy. Aku tidak bisa menuduh Mama begitu saja tapi, aku yakin dia ada di balik semua itu. Aku juga yakin dia di bantu seseorang yang sangat hebat karna kami sangat sulit mendapatkan bukti atas kejahatannya. Tapi, setelah kecelakaanku beberapa waktu lalu Ervan telah kenemukan bukti kuat jika Mama dan Herilah yang ada di balik semua itu. Kami sedang mencaritau siapa yang membantu mereka selama ini. Aku berharap kamu bisa menjaga jarakmu dengan mereka dan Frans kakak Vina" ucap Aldyanta menatap lekat wajah Delissa.


Bersambung.....


__ADS_2