
Nayra melihat kekiri dan kanan mencari keberadaan Darel. Nayra berlari ke arah belakang saat mendengar suara dari sana.
" Ampun, kumohon" Pria itu berlutut di hadapan Darel.
" Sehelai rambutnya saja kau sentuh aku tidak akan membiarkanmu melihat matahari besok"
" Aku berjanji tidak akan mengulanginya" Jawab pria itu.
Nayra mendekati Darel, memegang lengan Darel.
" Sudahlah aku juga baik-baik saja" Nayra mencoba menenangkan Darel.
" Nona maafkan tindakanku tadi" Pria itu berbalik dan meminta maaf pada Nayra.
" Saat ingin mengganggu wanita, ingatlah saudari mu atau ibumu, seandainya mereka yang berada posisi itu" Ucapan Nayra membuat pria itu terdiam dan menunduk.
" Kita pulang" Darel memegang tangan Nayra. membawanya kembali ke kafe.
Cika yang melihat Darel dan Nayra masuk ke dalam kafe merasa lega karena mereka baik-baik saja.
" Nay, kamu ngga pa-pa? " Tanya Cika.
" Ngga, Cik aku dluan ya bang Darel minta ditemani" Ujar Nayra memberi alasan yang tepat.
" Aku pamit ya mba" Sambung Nayra berpamitan pada yang lainnya.
" Bro aku balik, mau nyari mencari sesuatu" Pamit Darel saat menghampiri temannya di luar.
" Okey " Jawab mereka.
Candra yang merasa terjadi sesuatu mengerutkan dahinya.
" Sampai bertemu di rumah" Darel mengerti tatapan Candra memberi kode dan Candra mengangguk memahami maksud Darel.
Darel masih berjalan dengan memegang tangan Nayra, sampai di parkiran Darel yang masih diam mangambil helm Nayra memakaikannya dikepala Nayra.
" Bukan aku yang di ganggu bang" Nayra merasa tidak nyaman karna di diamkan Darel.
Darel yang akan naik ke motor kembali menghadap Nayra.
" Siapa yang diganggunya? " Tanya Darel penasaran karna sejak tadi ia kira Nayra yang digoda pria itu.
" Cika" Mendengar nama Cika Darel menarik napas panjang.
" Sekarang kamu pahamkan mengapa abang melarang kamu berpakaian kurang bahan? " Ujar Darel
Nayra mengangguk mengerti, sejak Darel menegurnya waktu itu Nayra tidak pernah lagi keluar rumah dengan celana pendek hingga sekarang.
" Naiklah abang sudah tidak berselera ditempat ini" Ajak Darel.
Darel melajukan motornya ke pantai yang pernah didatanginya bersama Nayra. Mereka duduk di sebuah kedai yang berada di sana.
" Abang tidak mau kamu membahayakan dirimu" Ujar Darel.
" Aku hanya tidak suka mendengarnya merendahkan Cika" Jawab Nayra.
" Bagaimana jika tadi dia membawa senjata tajam" Darel merasa kesal karena bantahan Nayra.
__ADS_1
" Maaf" Nayra tidak ingin memperpanjang perdebatan itu dan memilih untuk mengalah.
Darel menatap wajah Nayra, wajah yang selalu membuatnya rindu, wajah yang membuat seorang Darel takluk kepada yang namanya wanita dan wajah, yang membuatnya hari ini begitu panik.
Ponsel Darel berdering, saat melihat layar ponselnya darel menjawab telponnya.
" Ia Can"
"......."
" Aku masih diluar, ada apa?"
"......."
" Sebentar lagi aku dan Nayra pulang" Kemudian Darel mematikan ponselnya.
" Bang Candra? " Tanya Nayra.
" Ia mengira kita sudah kembali kerumah" Jawab Darel.
" Ooooo" Balas Nayra kembali melihat ke lautan lepas
" Kamu ingin coba berenang dipantai? " Tanya Darel.
Nayra hanya tersenyum
" Aku tidak bisa berenang bang" jawab Nayra.
" Mau abang ajarkan?" Tanya Darel lagi.
Nayra menggelengkan kepalanya.
Darel yang baru tahu jika Nayra punya trauma, menatap Nayra yang terlihat sedih.
" Mau abang bantu menghilangkan traumanya? "
" Tidak untuk sekarang bang" Nayra masih terlalu takut untuk mencoba.
Mereka berdua terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Nayra kembali pada kenangan masa kecilnya yang membuat trauma mendalam pada dirinya sendiri.
Hampir dua Jam Nayra dan Darel berada di pantai, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal.
" Kita balik sekarang ya" Ajak Darel
" Ia bang" Jawab Nayra
Mereka kembali kerumah. Candra yang melihat Darel dan Nayra masuk menarik napas lega, Candra tau seperti apa seorang Darel jika sedang marah. Mendengar cerita Cika saat pulang tadi membuat Candra gelisah Darel akan melakukan sesuatu yang akan berdampak pada karir mereka. Apalagi sekarang status mereka adalah Tentara baru yang belum melakukan tugas kedinasan di kesatuan.
" Bang aku ke kamar ya" Pamit Nayra meninggalkan Darel dan Candra.
Candra berjalan mengikuti Darel ke kamar.
" Beritahu tunanganmu berpakaianlah yang lebih sopan saat ditempat umum" Ucap Darel saat sudah berada dalam kamar
Candra hanya diam mendengar ucapan Darel, Candra sebenarnya sudah sering mengingatkan Cika tapi diabaikan.
" Kamu baik-baik sajakan? " Tanya Candra.
__ADS_1
" Seperti yang kamu lihat" Jawab Darel, kemudian menuju kekamar mandi untuk membersikan tubuhnya.
Kejadian hari ini membuat Darel menyadari satu hal, betapa takutnya dia saat melihat Nayra dalam bahaya. Seluruh tubuhnya bergetar saat melihat pria tadi, tapi Nayra juga yang mampu menenangkannya saat emosi menguasai diri Darel.
Keesokan harinya
Hari ini Nayra akan tanding difinal. Sudah bisa di tebak siapa yang memenangkan kompetisi itu. Om Gio dan bu Fani tersenyum bangga saat melihat ponakannya menerima medali di podium.
Darel yang juga ada disana tersenyum melihat kekasihnya berdiri diatas podium, begitupun dengan Brian, Luisa, Vicki, Ciko, Cika dan Candra yang berada disana.
Saat pulang Nayra dan Darel menggunakan motor, sedangkan yang lain pulang bersama mobil Ayah Gio karena tadi mereka brangkat bersama dari rumah.
Darel menarik tangan Nayra mengeratkan pelukan Nayra di perutnya saat berada di lampu merah, dan kembali melajukan motor saat lampu berubah ke warna hijau.
Memasuki pekarangan rumah mobil om Gio belum ada disana, Darel memasukan motor ke dalam garasi.
" Nay, besok abang kembali ke markas" Ujar Darel saat berjalan ke dalam rumah.
" Ia bang" Jawab Nayra.
" Malam ini bolehkan kita berdua" Pinta Darel, Nayra mengangguk kemudian menuju kekamarnya untuk mandi.
Om Gio dan yang lainnya sudah sampai, Candra dan Ciko membawa beberapa belanjaan ditangan mereka. Tadi sebelum pulang Ciko membeli beberapa kue dan cemilan kesukaannya dan Nayra, karena hanya mereka berdua yang sangat menyukai cemilan didalam rumah.
" Bi tolong ya di atur setelah itu simpan aja di atas meja ruang tengah" Ciko menyerahkan kantong bawaannya dan Candra pada bibi.
" Ia Den" Jawab bibi menundukkan badannya.
" Makasih ya bi" Ucap Ciko kemudian meninggalkan dapur.
Nayra yang sudah selesai mandi berjalan ke dapur. Melewati ruang keluarga Nayra melihat beberapa toples yang terisi penuh di atas meja.
"Bi tumben cemilannya banyak di atas meja" Nayra bertanya pada bibi yang sedang menyiapkan makan malam.
" Tadi Den Ciko yang bawa non" Jawab bibi. Nayra membantu bibi menyiapkan makanan di atas meja
" Non tadi menang lagi ya? " Tanya bibi.
" Ia bi" Jawab Nayra dengan tersenyum
" Non Nayra keren ya, udah cantik, baik, ramah jago bela diri juga, kalo bibi punya anak laki-laki bibi jodohin sama non" Ujar bibi panjang lebar.
Nayra hanya tertawa mendengar ucapan bibi
" Kalo bibi jodohin Nayra aku mau di kemanakan bi?" Suara yang muncul dari belakang membuat Nayra dan bibi kaget karna sedang serius.
" Eehhh Den Darel, bibi hanya becanda den"
" Bibi harus carikan wanita lain yang sama persis dengan Nayra buat aku" Lanjut Darel dengan tersenyum pada Nayra yang menggelengkan kepalanya mendengar ocehan bibi dan Darel.
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa vote ya teman-teman 😊😊
Maksih 🙏🙏