
" Nay kamu sudah memberitahu Darel tentang papanya? " Terdengar suara mama Darel dari sebrang.
" Nay Lusa sudah di makamkan jadi kalo bisa besok Darel pulang" Sambung mama Darel
Darel yang mendengarnya terdiam karena syok. Nayra mengambil ponsel di tangan Darel.
" Ma aku lagi sama bang Darel, akan diusahakan besok bang Darel pulang" Ujar Nayra kemudian mengakhiri panggilan.
" Yang kuat ya Bang" Nayra menatap Darel.
" Om yang akan menghadap ke atasan kamu untuk meminta ijin" Sambung om Gio.
Kemudian om Gio dan Candra berjalan ke rumah komandan.
" Bang" Panggil Nayra karena Darel yang diam sejak tadi.
" Aku akan pulang besok" Ujar Darel menatap Nayra, ada tumpukan bening yang ditahan Darel di matanya agar tidak lolos di depan Nayra.
" Pulanglah, abang harus kuat karna perjalanan besok butuh waktu" Jawab Nayra.
Darel hanya menunduk tidak bisa berkata-kata. Dalam diamnya ia ingin sekali pulang saat ini juga, tapi tidak mungkin bagaimanapun ia adalah seorang anggota militer hidupnya sudah di abdikan seutuhnya pada negara.
" Kamu di panggil komandan" Candra datang memberitahukan pada Darel.
" Baiklah kalo begitu kami pamit, Om dan keluarga turut berdukacita yang sedalam-dalamnya" Om Gio memeluk Darel sebelum kembali bersama Nayra.
" Aku pamit bang" Nayra mengembalikan ponsel Darel.
Darel dan Candra berjalan ke rumah komandannya sedangkan Nayra dan om Gio kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Nayra langsung menuju kekamarnya untuk beristiraha karena sudah larut malam.
***
Sudah seminggu Darel pulang ke kampungnya, dan seminggu itu juga Nayra merasa gelisah karena Darel. sama sekali tidak memberi kabar. Dalam hatinya ada kecurigaan yang muncul namun ditepisnya dengan memikirkan hal positif.
Sore ini Nayra ditemani Zahra sedang latihan Voly bersama timnya untuk sebuah turnamen yang di adakan untuk menyambut ulang tahun kesatuan sebuah lembaga.
" Nay ponsel kamu bunyi tuh dari tadi" Ujar Zahra, walaupun mereka bersahabat Zahra tetap menjaga prifasi mereka.
" Makasih Ra" Nayra menerima ponsel dan minunan yang berikan Zahra.
Ponsel Nayra kembali berdering, dan nama Darel yang muncul disana. Nayra dengan tersenyum bahagia menjawab panggilan yang ia tunggu selama beberapa hari ini.
" Halo Bang"
^^^"Apa benar ini Nayra?"^^^
Nayra Mengerutkan keningnya mendengar suara dari sebrang
" Ia ini aku Nayra"
^^^"Kenalkan aku Sanny tunangan Darel"^^^
" Oo ia.... " Jawab Nayra
^^^"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu"^^^
"Bicaralah"
^^^"Berhentilah mengganggu tunanganku"^^^
Nayra tersenyum mendengar ucapan Sanny.
" Apa bang Darel sedang bersamamu? "
^^^"Ia kami sedang berdua"^^^
__ADS_1
"Speakerkan suara ponselmu"
^^^"Sudah"^^^
"Dengarkan aku baik-baik nona Sanny dan tuan Darel yang terhormat, aku tidak pernah mengganggu tunanganmu, tanyakan pada tunanganmu siapa yang mendekati siapa? "
^^^"Aku tidak akan percaya pada mulut manismu"^^^
" Aku tidak memaksamu untuk percaya itu hakmu
bilang pada tunanganmu, menjauhlah dari hidupku"
Nayra langsung memutuskan panggilan telpon.
Zahra yang mendengar pembicaraan Nayra mengangkat alisnya seolah bertanya " ada apa".
" Biasa pasien rumah sakit jiwa yang lepas" Jawab Nayra dengan santai.
Zahra hanya mengangguk ia tidak ingin bertanya lebih jauh, jika Nayra tidak ingin menceritakannya pasti Nayra punya alasan sendiri.
" Sudah selesai latihannya? " Tanya Zahra.
" Sudah besok sore baru dilanjutkan lagi" Jawab Nayra menghabiskan minuman yang masih tersisa di botol.
" Ke kafe xx ya Nay, aku ada janji sama kak Ciko" Ajak Zahra.
" Mau dijadikan obat nyamuk aku disana?" Ujar Nayra
" Ya nggalah Nay"
" Aku ngga ikut Ra, kamu aja deh" Balas Nayra.
" Ngga pa-pa aku tinggal? "Nayra menganggukan kepalanya pada Zahra.
Nayra membawa tasnya menuju ke kamar mandi kampus untuk berganti. Tiga puluh menit kemudian Nayra sudah selesai dan melajukan motornya ke suatu tempat.
" Sudah lama nunggu? "
" Lumayan"
" Kangen ya sama aku, makanya ajak ketemuan" Sambung Vicki
" Kangen traktiran kamu" Jawab Nayra.
" Dasarrr.......kirain kangen" Vicki mengacak rambut Nayra.
Nayra hanya tersenyum mendengar ucapan Vicki, namun Vicki yang melihat ekpresi Nayra langsung menarik kembali tangannya.
" Kamu kenapa? ada masalah? " Vicki menatap wajah Nayra yang tidak seperti biasanya.
Nayra menunduk menyembunyikan wajahnya, ia tidak menjawab. Vicki berdiri menarik tangan Nayra keluar dari kafe.
" Motorku Vic" Ujar Nayra saat Vicki membawanya masuk ke dalam mobil.
" Nanti aku yang kembalikan"
Vicki melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Nayra memilih melihat keluar jendela, menahan sesak didadanya. Vicki yang melirik Nayra hanya menarik napasnya dalam-dalam Ia tahu Nayra berada pada mood yang sedang tidak bagus terlihat jelas dari sikapnya.
Setelah sampai di sebuah taman Vicki membukakan pintu mobil untuk Nayra. Mereka berjalan ke sebuah bangku yang berada diujung taman dari sana mereka bisa melihat seluruh pemandangan kota karena keberadaan taman yang berada di dataran tinggi.
" Ceritakan, disini tidak ada siapapun" Ujar Vicki.
Nayra masih diam memandang jauh kedepannya.
" Apa seberat itu sampai kamu tidak ingin menceritakan padaku? " Lanjut Vicki
__ADS_1
Ada beberapa butiran bening yang membasahi pipi Nayra ia balik memeluk Vicki menangis sejadi-jadinya.
" Menangislah sepuasmu jika itu mampu membuatmu merasa lebih tenang" Nayra semakin kuat meramas lengan Vicki dengan tangisnya yang pecah.
" Aku tidak tahu jika rasanya akan sesakit ini Vic" Ucap disela-sela tangisnya.
Vicki mengelus rambut Nayra untuk menenangkan sahabatnya itu.
" Sesakit apapun itu, aku yakin kamu bisa melewatinya" Jawab Vicki walaupun belum tahu apa masalah yang sedang di hadapi Nayra.
" Sakit, sakit sekali rasanya Vic..... Aku benci dia Vic, aku benci bajingan itu" Lanjut Nayra lagi.
Vicki mengerti siapa yang di maksud Nayra dan apa yang menyebab sahabatnya seperti ini. Vicki mengepalkan tangannya, selama bersahabat dengan Nayra ini pertama kalinya ia melihat Nayra menangis dengan suara tangis yang membuatnya turut merasakan sakit hati sahabatnya. Vicki membiarkan Nayra menumpahkan sakit hatinya beberapa saat.
" Heiii Nayra Adipta sudah cukup kamu menangisinya, masih banyak hal yang akan membuatmu bahagia" Bujuk Vicki
Nayra perlahan memperbaiki duduknya melepaskan pelukannya dari Vicki. Vicki menghapus air mata di pipi Nayra.
" Kamu tahu Nay, kamu sangat jelek saat menangis, jadi jangan pernah menangis dihadapan siapapun selain aku" Goda Vicki.
Nayra tersenyum mendengar ucapan Vicki walaupun masih segukan karena sisa tangisnya.
" Nah itu baru Nayra sahabatku" Ujar Vicki saat melihat Nayra kembali tersenyum.
Nayra mulai menceritakan semua tentang Darel pada Vicki mulai dari awal perkenalan hingga kejadian tadi.
" Kamu berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya" Vicki menatap wajah sahabatnya dan memberi semangat agar tidak berlarut dalam kesedihan.
" Aku sudah mengakhiri semuanya" Jawab Nayra.
" Benarkah? " Tanya Vicki.
" Ia"
" Berikan ponselmu" Vicki meminta ponsel Nayra
Nayra memberikan ponselnya, Vicki membongkar ponsel Nayra mengeluarkan simcard Nayra kemudian mematahnya.
" Kita mulai dari sini" Ujar Vicki, Nayra hanya diam.
" Ayo pulang" Ajak Vicki Nayra mengikuti Vicki kemobil.
Vicki mengantar Nayra, sebelum pulang Vicki singgah membeli nomor baru buat Nayra.
" Besok aku antar motor kamu Nay" Ucap Vicki sebelum Nayra turun dari mobil.
" Nay" Vicki menahan tangan Nayra.
" Ia Vic"
" Berjanjilah kamu tidak akan menangis lagi"
" Ia aku janji" Jawab Nayra dengan tersenyum pada Vicki, kemudian turun dari mobil.
*
*
*
*
Jejaknya mana teman-teman?
Ingat Vote dan jempolnya yang banyak ya biar author semangat up 😁😁🙏🙏
__ADS_1