
Nayra sudah siap dengan jeans hitamnya di padukan dengan baju kaos dan kameja yang longgar di tubuh Nayra. Setelah drama panjang yang Darel buat akhirnya Nayra dengan terpaksa harus ikut ke acara itu.
Flash Back On.
Di dapur
Nayra berbalik menyembunyikan rasa gugupnya, Darel menarik tangan Nayra merapatkan tubuh Nayra hingga tidak ada jarak antara keduanya.
" Ikut atau aku akan menciummu sekarang?"
" Ba-baikalah aku ikut" Jawab Nayra terbata-bata karena gugup wajahnya sudah merah merona karena wajah Darel yang berada tepat di ujung hidungnya.
" Aku tunggu sebentar malam" Jawab Darel melepaskan Nayra kemudian berlalu kembali ke ruang tengah.
" Aku hanya akan pergi dengan motor, tidak dengan mobil" Ujar Nayra sebelum Darel hilang.
" Okey" Jawab Darel singkat.
Flash Back Off.
Nayra menuruni tangga dengan tatapan datarnya melihat Darel dengan senyum penuh kemenangan menyambutnya. Nayra berjalan melewati Darel langsung menuju ke garasi, diikuti oleh yang lainnya.
Darel hanya menggelengkan kepalanya melihat Nayra yang bersikeras membawa motornya dan menolak ikut mobil Ciko. Namun bagi Darel yang penting Nayra ikut.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di kafe xxxx. Nayra yang baru sampai memarkirkan motornya disamping mobil Ciko, dan mereka yang menunggu Nayra di parkiran masuk bersama-sama kedalam.
" Haiiii" Suara panggilan seseorang yang melambaikan tangannya ke arah Darel.
Darel yang melihat itu berjalan bersama yang lain kearah teman-temannya.
" Haiiii....sudah dari tadi sampainya?" Tegur Darel.
" Lima belas menit yang lalu" Jawab salah satu temannya.
" Ayo duduk" Ajak letingnya yang lain mempersilakan Ciko, Cika dan Nayra.
" Makasih bang" Jawab Ciko mewakili kedua adiknya.
Ada sepasang mata yang mengawasi Nayra sejak masuk tadi, dan baru Nayra sadari saat duduk dan mengarahkan pandangannya ke depan. Tatapan datar yang sulit diartikan, membuat Nayra merasa canggung harus menyapa, tersenyum atau mengabaikan tatapan itu.
" Sodaranya ya Can" Tanya seseorang pada Candra.
" Oohh iya lupa...kenalin ini kak Ciko, ini Cika dan itu Nayra" Candra memperkenalkan pada letingnya yang ada beberapa belum mengenal Ciko, Cika dan Nayra.
Walaupun sebagian sudah sering bertemu karna pernah ke rumah Ciko dan bertemu di kafe beberapa waktu lalu.
Ciko tersenyum ramah diikuti Cika dan Nayra.
Acara tidaklah formal karena mereka hanya sekedar kumpul menghabiskan waktu malam minggu bersama. Beberapa obralan ringan membuat mereka kadang serius dan juga ulah konyol beberapa rekannya yang mengundang tawa.
Nayra yang merasa bosan berdiri dan berjalan ke samping kafe dimana ada pemandangan laut lepas di hiasi lampu kapal para nelayan disana.
" Jadi kamu saudaranya Candra?" Suara dari belakang membuat Nayra memalingkan wajahnya melihat siapa yang menghampirinya.
__ADS_1
" Nggak juga, bang Candra adalah tunangan sepupuku" Jawab Nayra kembali melihat pemandangan didepannya setelah tahu siapa menyapanya.
" Cantik" Pujian yang terlontar dari mulut Fabian tanpa disadarinya saat melihat wajah Nayra di bawah lampu yang remang-remang dari dalam kafe.
" Maaf..." Nayra mendengar Fabian mengatakan sesuatu namun tidak terlalu jelas ditelinganya karena angin pantai.
" Tidak pa-pa" Jawab Fabian mengikuti arah pandang Nayra.
" Jadi abang seleting dengan bang Candra?" Tanya Nayra.
" Hhhhmmmm" Jawab Fabian singkat.
Nayra menarik dalam-dalam napasnya, dan menghembuskannya perlahan. Tatapannya kosong kedepan, begitupun dengan Fabian entahlah ada perasaan bahagia saat melihat gadis yang memenuhi pikirannya beberapa hari ini hingga sore tadi kini berada tepat didepannya membuatnya diam-diam tersenyum saat kembali mencuri pandang pada Nayra agar tidak ketahuan.
Sedangkan didalam ruangan Darel yang dari tadi mengawasi Nayra melihat pemandangan di luar karena kaca yang tembus pandang, membuat Darel mengepalkan tangannya. Candra yang melihat Darel diam mengikuti arah mata Darel, dan menyembunyikan senyumnya saat tahu ada adegan romantis diluar sana.
Rasakan sakitnya, itulah yang Nayra rasakan saat kamu sedang asyik dengam wanita-wanitamu. Batin Candra.
Fabian tidak melepaskan pandangannya dari Nayra, ia tidak mau mensia-siakan kesempatan yang ia yakin tidak akan terulang. Nayra menikmati aroma pantai membuatnya memejamkan mata, angin yang sepoi-sepoi menyapu lembut wajahnya.
" Apa abang sudah mengenalku dan pura-pura saat sedang bersama Kayla?" Tanya Nayra.
" Tidak"
" Apa aku harus percaya? semua leting bang Candra aku kenal kecuali abang"
" Bisakah panggilannya tidak perlu dirubah?" Balas Fabian mengabaikan pertanyaan Nayra.
" Aku nyaman dengan panggilan kakak" Jawab Fabian mengalihkan pandangannya ke depan.
" Baiklah" Jawab Nayra, berhasil membuat senyuman kecil di bibir Fabian.
Mereka kembali terdiam tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
" Apa kamu sudah punya kekasih?" Pertanyaan yang membuat Nayra ingin rasanya melompat ke dalam lautan didepannya.
Hening........
" Aku tidak memaksamu untuk menjawab, tapi biarkan aku mengenalmu lebih lagi" Ujar Fabian saat melihat Nayra yang enggan menjawab.
" Tidak ada yang menarik dari aku kak" Balas Nayra menatap wajah Fabian.
" Tapi aku ingin" Ujar Fabian.
" Terserahlah" Nayra mengangkat kedua bahunya.
" Ayo masuk tidak baik berlama-lama diluar" Ajak Fabian menarik tangan Nayra.
Nayra yang kaget tangannya dipegang Fabian menahan langkahnya membuat Fabian ikut berhenti dan berbalik melihat Nayra. Fabian mengangkat dagunya seolah menanyakan kenapa? Nayra menatap tangannya yang di pegang Fabian, mengerti apa yang Nayra maksud Fabian melepaskan tangan Nayra dan melanjutkan langkahnya diikuti Nayra.
Nayra kembali duduk ditempatnya, mengabaikan tatapan tajam dan wajah yang membuat Nayra merinding jika harus membalas tatapan itu.
" Minumnya, biar hangat" Fabian memberikan segelas espresso pada Nayra.
__ADS_1
" Makasih kak" Jawab Nayra membuat tatapan membunuh dari Darel semakin memanaskan hawa yang sebenarnya dingin.
Candra yang bisa menebak apa yang akan terjadi hanya menghembuskan napasnya berharap apa yang dipikirkannya meleset.
" Aku pamit balik duluan" Darel bangun dari duduknya.
Nayra yang sudah berwanti-wanti diam melihat sikap Darel yang berubah.
" Apa harus aku gendong keluar dari sini?" Ujar Darel saat berada di depan Nayra namun Nayra masih duduk manis mencicipi minumannya.
Nayra yang tidak ingin memperumit keadaan akhirnya berdiri mengikuti Darel dengan melihat kearah Fabian yang sedang meminta penjelasannya, namun Nayra tidak bisa berbuat apa-apa.
" Malam ini ijinkan aku yang traktir ya bang" Ujar Ciko memecahkan ketegangan karena ulah Darel.
" Serius kak?" Tanya yang lainnya
" Ia bang " Jawab Ciko serius, di sambut senyuman oleh yang lainnya.
Sedangkan di luar, jantung Nayra yang mulai tidak beraturan menebak-nebak apa yang akan terjadi kedepannya.
" Kunci"
Nayra hanya diam tanpa memberikan kunci motornya.
" Apa kamu masih ingin menghabiskan malammu didalam sana?" Darel kembali menatap tajam ke arah Nayra.
" Bicaralah sebelum pergi, aku tidak ingin kamu melampiaskan dijalan sana" Jawab Nayra
" Serahkan kuncinya kita tidak akan menyelesaikannya disini" Balas Darel dengan Dingin.
Nayra memberikan kunci motornya, Darel yang menerima dan langsung menyalakan motor, Nayra ragu naik ke atas motor namun tidak ada pilihan baginya selain pasrah dan mengikuti Darel.
Darel yang menekan emosinya dari tadi melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Nayra mengeratkan tangannya di pinggang Darel.
Darel semakin manambah kecepatan saat jalanan hanya ada beberapa kendaraan, Nayra yang terbiasa ngebut-ngebutan merasa sedikit gugup karena takut terjadi tabrakan atau semacamnya. Saat mendekati lampu merah Nayra merasa lega karena Darel tidak nekat menerobosnya.
" Kumohon jangan lampiaskan dijalanan" Ucap Nayra ditelinga Darel saat menunggu lampu hijau.
Darel hanya diam tidak merespon ucapan Nayra.
*
*
*
*
Terima kasih dukungannya, jangan lupa vote dan hadiahnya 😊😊
Jejaknya ditinggalikan ya pasti outhor balas 😉😉
Next dikasih Visualnya Nayra dan Darel 😍😍
__ADS_1