
Jantung Nayra berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat layar ponsel, ia mengusap pelan menerima panggilan masuk dari orang yang sebenarnya sangat ia rindukan.
" Malam Nay"
^^^" Malam bang"^^^
"Belum tidur?"
^^^" Belum, apa kabar?"^^^
" Baik, kamu?"
^^^" Sama, Nay baik-baik saja"^^^
"Tidak merindukanku?"
...Nayra terdiam mendengar ucapan Darel...
"Halo Nay"
^^^" Iya bang"^^^
"Kamu dengar ngga?"
^^^" Dengar bang"^^^
" Kenapa diam kalo gitu?"
^^^"Nay bingung harus jawab apa"^^^
^^^( Nayra keluar dari kamar berdiri di balkon kamarnya)^^^
"Apa kamu marah karna abang tidak pernah memberikan kabar?"
^^^" Tidak juga"^^^
"Boleh minta sesuatu?"
^^^" Hmm katakan"^^^
" Tetap percaya pada abang apapun yang terjadi, kamu mau kan?"
^^^" Tidak ada yang berubah dengan kepercayaan ku pada abang"^^^
" Terima kasih"
^^^" Mmmmm"^^^
" Saat pulang penugasan nanti apa kamu siap untuk abang nikahi?"
^^^"Kita liat nanti bang, aku kan masih kuliah"^^^
" Ya setelah nikah kamu bisa selesaikan kuliahmu, abang tidak akan membatasi mu gimana?"
^^^" Terserah abang aja, aku bilang tidak pun tetap akan terjadi seperti yang abang mau"^^^
"Nayra Adipta aku sangat mencintaimu"
^^^" Terima kasih"^^^
" Sudah malam istirahatlah"
^^^" Iya abang juga istirahatlah, oia bang lupa tolong sampaikan pada bang Candra untuk menelpon Cika"^^^
__ADS_1
" Baiklah nanti abang sampaikan"
^^^" Good Night"^^^
Nayra memutuskan panggilan, kemudian menarik napasnya dalam-dalam ada sebongkah batu yang seakan sedang menindis hatinya terasa sesak.
Kenapa dengan hatiku?aku merasa ada sesuatu yang sedang bang Darel sembunyikan. Batin Nayra.
Zahra yang sudah selesai berganti melihat Nayra di balkon keluar mengikuti Nayra.
" Apa ada yang mengganggu pikiranmu Nay?" Zahra duduk di sofa samping Nayra.
" Eh Ra, tidak aku hanya sedang menikmati udara malam, sejuk kan?" Nayra kembali menghirup udara malam yang segar tanpa adanya polusi seperti di waktu siang.
" Ya, dan disini terasa sangat nyaman" Balas Zahra menyandarkan kepalanya.
" Nay.... Ra" Suara dari dalam kamar Nayra.
" Sini Cik" Sahut Nayra melihat Cika yang sedang mencari mereka di dalam kamar.
Cika duduk di antara Zahra dan Nayra, mereka bertiga sama-sama menatap langit malam yang di penuhi bintang namun tanpa bulan disana.
" Tadi bang Darel telpon Cik, aku sudah bilang ke bang Darel sampaikan ke bang Candra untuk menelpon mu" Ujar Nayra masih memandang langit.
" Makasih Nay, sebentar lagi pasti bang Candra telpon" Balas Cika mengeluarkan ponselnya dari saku piyama tidurnya yang sedang bergetar.
" Nah kan umur panjang" Sambungnya saat melihat layar ponselnya kemudian berdiri dan masuk ke dalam kamar Nayra untuk menerima telpon.
Nayra dan Zahra masih tetap di balkon mereka masih nyaman disana.
" Ra kalo aku nikahnya sebelum wisuda ganggu kuliahku ngga ya?" Nayra balik menatap Zahra meminta pendapatnya.
" Ya tergantung kamu Nay, kalo kamu bisa membagi waktu kuliah sama ngurus suami, bisa aja ngga ada larangan kan?" Jawab Zahra masih menatap ke atas langit.
" Kenapa? bang Darel ajak married?" Zahra memperbaiki posisi duduknya balik menatap Nayra dengan rasa penasaran.
" Jika kamu yakin jalani Nay apapun keputusan kamu aku selalu dukung yang penting kamu bahagia" Lanjut Zahra.
" Entahlah Ra aku harus senang atau gimana, aku masih belum yakin seratus persen dengan rencana bang Darel" Nayra kembali merebahkan kepalanya di sofa dan menatap langit.
" Yakinkan hatimu, sering-seringlah bawa hubungan kalian dalam setiap doa-doa mu Nay, Tuhan maha tahu yang terbaik untuk umatnya" Ujar Zahra yang selalu memberi dukungan untuk sahabatnya.
" Makasih ya Ra selalu ada buat aku" Balas Nayra tersenyum pada sahabat karibnya.
" Kan sama Nay kamu juga selalu ada buat aku, bahkan kamu sudah seperti seorang kakak buat aku" Zahra merasa bersyukur karena bertemu dengan Nayra dan menjadi sahabat dari gadis yang berada di depannya saat ini.
" Masuk yuk udaranya sudah mulai dingin" Ajak Nayra.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar, Cika yang melihat Nayra dan Zahra masuk berpindah duduk ke sofa dekat jendela agar Nayra dan Zahra bisa rebahan di tempat tidur.
" Jangan mengganggunya dia sedang kena demam rindu dan baru mendapatkan obatnya malam ini" Ujar Nayra pada Zahra saat sudah berada di atas tempat tidur, Cika yang tahu sepupunya itu sedang menyindir dirinya mengejek Nayra dengan mengeluarkan lidahnya membuat Nayra dan Zahra tertawa dengan tingkah kekanakan nya.
Tak berselang lama Cika mengakhiri panggilan telponnya dan ikut bergabung di ranjang Nayra, mereka bertiga memulai sesi curhat dan pembahasan-pembahasan yang tidak penting sampai entah siapa yang terlebih dahulu tertidur dan perlahan tidak ada lagi suara yang saling sahut hanya terdengar hening dan suara pepohonan yang ditiup angin.
*
*
Matahari pagi ini menembus jendela kamar Nayra, ketiga gadis cantik itu masih terlelap dan tenggelam dalam alam mimpi. Bu Fani yang ingin memanggil mereka untuk sarapan masuk ke kamar Nayra karena pintu yang tidak di kunci, melihat mereka bertiga yang masih terlelap bu Fani kembali keluar dan menutup pintu perlahan-lahan agar tidak membangunkan mereka.
" Mereka masih tidur, biarkan sepertinya semalam mereka begadang" Ujar bu Fani duduk di samping suaminya.
" Mereka?" Tanya Ciko
__ADS_1
" Ia mereka bertiga tidur bersama dikamar Nayra" Jelas bu Fani pada putranya.
Ciko melanjutkan sarapan dengan kedua orang tuanya karena ini hari libur ia memilih bersantai hari ini di rumah.
" Cik belikan Zahra baju, pasti Zahra tidak membawa baju ganti semalam" Ujar Bu Fani setelah selesai makan.
" Ia ma nanti Ciko pesankan biar langsung di antar" Ciko mengeluarkan ponselnya menelpon toko langganannya.
Di kamar Nayra yang merasakan pantulan matahari dari kaca perlahan menggerakkan badannya yang sedang di peluk Cika.
Ni anak kebiasaan deh tidur jadiin aku bantal guling nya. Batin Nayra memindahkan kaki dan tangan Cika pelan-pelan agar Cika tidak terbangun.
Nayra turun dari ranjangnya menuju ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Nayra kembali ke kamar setelah menyelesaikan ritual paginya di kamar mandi.
" Sudah bangun Ra" Sapa Nayra melihat Zahra yang turun dari ranjang....
"Mmmmm aku ke kamar mandi dulu" Zahra yang masih stengah sadar berjalan cepat ke kamar mandi karena sudah tidak bisa menahan lagi rasa ingin pipisnya.
Tok
Tok
Tok
Bunyi ketukan di pintu kamar Nayra, Nayra membuka pintu ada Ciko disana.
" Kasih Zahra Nay, baju gantinya" Ciko memberikan sebuah paper bag pada Nayra.
" Iya kak, dia lagi di kamar mandi ntar lagi kami turun kak" Balas Nayra menerima paper bag itu.
Nayra menutup kembali pintu kamarnya setelah Ciko berlalu pergi.
" Jam Berapa Nay" Suara khas baru bangun tidur dari Cika.
" Jam delapan Cik Nayra membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam kamar.
" Aku telat berarti" Ujar Cika masih dengan mode ngantuk nya.
" Ini hari libur Cik" Balas Nayra tersenyum melihat tingkah Cika yang random.
" Serius Nay? aku mau lanjut tidur kalo gitu, kamar kamu nyaman sekali Nay besok aku tidur lagi disini" Cika yang dari tadi berbicara dengan mata yang setengah terbuka kembali menutup matanya dan tidur.
Ngigo kali ini Anak. Nayra menggelengkan kepalanya karena tingkah sepupunya itu.
" Ra, ini baju dari kak Ciko" Nayra memberikan paper bag dari Ciko tadi saat melihat Zahra keluar dari dalam kamar mandi.
"Makasih Nay" Zahra kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi, tadi dia keluar untuk meminjam baju Nayra, tapi tidak jadi.
*
*
*
*
*
Terima kasih buat semua dukungannya readrs 🙏🙏
Mana semangatnya buat author? 😁😁😁😁
Daaannnn untuk semua pembaca setia Darel dan Nayra mampir ke novel terbaru author yuuuuuukkkk
__ADS_1
👇👇