Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-009~


__ADS_3

~Maaf, Kak Will nggak bermaksud buat bentak kamu. Kak Will cuma takut kamu sakit.~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Hari ini, William pergi sendirian ke Markas Lion Devil yang berada di hutan bagian barat. Dan tidak lupa, William selalu memakai topeng kebesarannya. Yang menunjukkan bahwa dirinya adalah Leader dari Mafia Black WV Diamond Bloods, Mafia terkejam nomor 1 di dunia.


Lion Devil adalah Mafia terkejam nomor 5 di dunia yang diketuai oleh Sepupu William sendiri yang bernama EDO BASTIAN.


Edo Bastian sangat membenci William dari dulu hingga sekarang. Karena William selalu disanjung-sanjung oleh orang tuanya. Bahkan dia selalu dibanding-bandingkan dengan William karena William sudah sukses diusia yang cukup muda.


Sampai orang tua Edo meninggal pun, mereka masih sempat meminta sesuatu yaitu bertemu dengan William. Saat itu juga, Edo langsung mencari William untuk memenuhi permintaan orang tuanya yang sudah diambang kematian. Namun, William pergi ke Luar Negeri. Alhasil, orang tua Edo meninggal tanpa bertemu dengan William diujung hidupnya.


Saat itu juga kebencian Edo semakin menjadi-jadi kepada William. Bahkan dia bersumpah akan membuat hidup William sengsara dan menderita.


.


🌻🌻🌻🌻🌻


Sesampainya didepan Markas, William langsung dihadapkan dengan pistol-pistol para Mafioso Lion Devil.


"Mau apa anda kesini?" Tanya salah satu Mafioso yang sudah siap menembak William kapan saja.


William tidak menghiraukan pertanyaan dari Mafioso itu dan dengan cepat William langsung menebas kepala Mafioso yang ada didepannya. Terjadilah baku hantam dan tembak-menembak antara William dan para Mafioso Lion Devil.


Para Mafioso Lion Devil berjumlah cukup banyak, kurang lebih ada 100 orang yang menjaga didepan Markas. Namun, William dengan gesitnya melawan semuanya hingga tumbang.


20 menit berlalu, William telah memusnahkan para Mafioso Lion Devil yang ada di Markas.


"Cih, sampah." Cibir William. Setelah itu, dia berlari kelantai atas untuk mencari Ketua Lion Devil.


BRAK...


William menendang sebuah pintu yang bertuliskan Leader Lion Devil.


Disana terlihat ada 2 wanita yang memakai pakaian kurang bahan, sedang bergelayut manja dilengan Edo yang sedang duduk di Sofa. Seketika, mereka menatap dengan ketakutan ke arah William yang tiba-tiba masuk dan menendang pintu, kecuali Edo.


Edo merasa acuh tak acuh dengan kedatangan William.


"Oh, Lo bersenang-senang disini. Padahal semua anak buah Lo udah mati." William berjalan kearah Edo dengan senyum devil mematikan yang dia miliki.

__ADS_1


"APA? LO BUNUH ANAK BUAH GUE?" Edo terkejut mendengar perkataan William. Dengan refleks, dia berdiri dan pistolnya telah siap membunuh William kapan saja.


"Cih, punya anak buah sampah semua. Apa jangan-jangan, Leadernya juga sampah." William tertawa menakutkan. Hingga membuat kedua wanita tadi merinding.


"JANGAN BANYAK BICIT LO. KALAU LO NGGAK MAU MATI DISINI."


"Iihh takut... Tapi bohong. Hahahaha..." Tawa William semakin menjadi-jadi dan membuat nyali Edo menciut mendengarnya.


"JANGAN BUAT GUE MARAH."


"Oh Lo marah? SEHARUSNYA GUE YANG MARAH." Suara William kini mengelegar ke penjuru Markas. Edo yang memegang pistolnya pun sedikit gemetar, tapi dia berusaha bersikap santai.


DORR...


"Sial."


"Cih Leader apaan. Nembak musuh didepannya aja nggak bisa." Memang William menangkap peluru yang keluar dari pistol Edo dengan kedua jarinya.


William dengan senyuman devilnya mendekati Edo yang masih mengumpat tidak jelas.


"Kenapa Lo serang Mansion Pribadi gue?" William bertanya kepada Edo.


"GUE NGGAK MAU HIDUP LO BAHAGIA. GUE MAU LO MENDERITA SELAMANYA."


"TURUNKAN NADA BICARA LO."


"CIH, SELAMA INI GUE UDAH SABAR DENGAN ULAH LO. LO UDAH GANGGU KENYAMANAN GUE. TAPI GUE NGGAK PERNAH BALAS PERBUATAN LO, KARENA MOMY GUE SELALU NGELARANG GUE BUAT BALAS DENDAM SAMA LO. SEKARANG NGGAK AKAN ADA YANG BISA NGELARANG GUE, BUAT BALAS DENDAM SAMA LO." Teriakan William membuat Edo dengan susah payah menelan ludahnya sendiri.


"KALAU KALIAN MASIH PENGIN HIDUP, KELUAR DARI SINI." William memerintahkan kedua wanita tadi untuk pergi dari ruangan Edo. Dengan cepat, kedua wanita tadi berlari terbirit-birit dari sana.


"Let's play the game my cousin." William tersenyum devil dan berjalan kearah Edo. Seketika tubuh Edo menegang dan pistol digenggamannya terjatuh.


William mengeluarkan Belati dari saku kanannya. "Lo mau sebentar atau lama?"


"GU-GUE NGGAK AKAN MATI DITANGAN LO."


"Cih." William langsung mendorong Edo hingga dia terduduk di Sofa. Setelah itu, dia mengunci pergerakan Edo hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali.


William menggoreskan Belati itu diwajah mulusnya Edo hingga membentuk tulisan 'SAMPAH'.


Aarrgghh.. Aarrgghhh..


"Bagus juga karya gue." William memuji hasil karyanya diwajah Edo. Sekarang wajah Edo penuh dengan darah segar yang mengalir.


Tiba-tiba William mengambil gelas yang ada didekatnya dan mengumpulkan semua darah yang keluar dari tubuh Edo. Karena gelas belum penuh, William kembali menggoreskan Belatinya ke tangan Edo.


"Aarrgghhh.. Aarrgghhh... Dasar Iblis."


"Gue suka pujian Lo." William masih bermain-main dengan tangan Edo hingga gelasnya terisi penuh dengan darah.

__ADS_1


Akhirnya, gelas tadi sudah penuh dengan darah segar milik Edo. William tampak puas melihat darah itu. Seketika, William langsung memaksa Edo untuk meminum darahnya sendiri.


"MINUM!!!"


"NGGAK, GUE NGGAK MAU."


"Udahlah minum aja, buat nambah tenaga Lo. Gue udah berbaik hati kasih darah segar ini buat Lo." William berakting layaknya aktor Protagonis yang memelas memberikan minuman.


"DASAR IBLIS." Ucap Edo yang malah mendapat suapan gelas yang berisi darahnya dan sekarang sebagian darah itu sudah berada di mulutnya.


BBBYUUURRR..


Edo menyeburkan darahnya tadi ke wajah William, tetapi hanya terkena sedikit saja di wajah William. Karena dia tadi dengan sigap menghindar dari semburan Edo.


"CIH. NGGAK GUNA." William langsung berdiri dan mengeluarkan pistol kesayangannya.


DORR.. DORR.. DORR..


3 tembakan tepat di jantung Edo. Edo pun mati seketika.


"Sorry, Mom. Momy pasti kecewa sama William, karena William udah bunuh Edo. Tapi, William udah capek dengan semua perbuatan Edo selama ini. Dan William nggak mau, kalau Edo sampai menyakiti Viola." Gumam William yang melihat tubuh Edo penuh dengan darah.


.


🥀🥀🥀🥀🥀


Setelah mandi dan mengganti pakaian di Markas miliknya (Markas Black WV Diamond Bloods), William langsung menancapkan gas menuju W'L Company.


William berjalan dengan cool dan berwibawa, hingga membuat semua mata selalu tertuju padanya. Bukan hanya berwibawa, namun William juga sangat tampan walaupun dengan muka datarnya.


William langsung naik ke lantai 10, ruangan pribadinya.


"Kak Will dari mana saja? Viola udah nunggu lama banget." Gerutu Viola dengan cemberut saat melihat William baru memasuki ruangannya. Karena sedari tadi, Viola menunggu William di kantor. Karena William janji, akan membawa Viola pergi makan siang bersama.


"Maaf, Kak Will ada urusan mendadak." William mengelus puncak kepala Viola.


"Iya kalau ada urusan, bilang ke aku biar aku nggak nunggu lama. Lah ini, Viola udah nunggu 4 jam lebih. Bahkan sebentar lagi waktunya pulang." Viola masih kesal dengan William.


"Kak Will minta maaf. Kamu udah makan siang?" Tanya William dengan lembut.


"Iya belumlah, kan Viola nunggu Kak Will gimana sih." Gerutu Viola.


"APA? KENAPA BELUM MAKAN SIANG? NANTI KALAU SAKIT GIMANA?" Bentak William yang membuat Viola terkejut dan menunduk takut.


"Maaf, Kak Will nggak bermaksud buat bentak kamu. Kak Will cuma takut kamu sakit." William memeluk Viola dengan tulus.


"Iya udah, ayo pergi makan." Lirih Viola yang masih dipelukan William. Sedangkan William hanya tersenyum mendengar ucapan Viola.


Tanpa aba-aba, William langsung menggendong Viola ala bridal style dan membawanya keluar dari ruangannya. Karena dia tahu, bahwa Viola sangat lemas. Sedangkan Viola hanya terdiam dan menyembunyikan wajahnya kedalam dada William. Karena tubuhnya sangat lemas dan lesu.

__ADS_1


__ADS_2