
~"Kak Viola jangan marah sama Kak Will. Kak Will sebenarnya juga nggak mau masuk ke dunia bawah, tetapi keadaan yang memaksanya buat masuk."~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
"Kalau Viola nggak mau berjanji, William nggak pa-pa, Mom. Itu hak dia buat memilih. Jangan terlalu memaksakan kehendaknya." Ucap William yang sedari tadi diam. Dia mencoba untuk tetap tenang, walaupun hatinya menangis dan sangat tidak siap untuk kehilangan Viola.
Viola pun terkejut mendengar pernyataan William. "Sebenarnya apa yang disembunyikan Kak Will selama ini?" Batin Viola.
Zein terbangun karena mendengar percakapan antara Momy Zaskia, William dan Viola. "Ada apa sih?" ucap Zein dengan suara seraknya, khas seseorang yang baru bangun dari tidurnya. Zein mengusap-usap kedua matanya agar melihat sekeliling dengan jelas.
Momy Zaskia, William, Viola dan Hendrik menatap kearah Zein yang masih didalam pelukan Viola. "Viola." Panggil Momy Zaskia dengan memegang bahu Viola.
"Iya?" Viola tampak gelisah dengan apa yang akan diucapkan oleh Momy Zaskia.
"Nak, kamu tahu King Mafia Black WV Diamond Bloods?" Tanya Momy Zaskia dengan hati-hati. Sedangkan Hendrik dan William hanya bisa terdiam dan mendengar semua hal yang akan diucapkan Momy Zaskia dan Viola.
"Iya, Mom. Kenapa?" Viola bertanya dengan rasa penasarannya.
"Hmmm kamu tahu siapa dia?"
"Setahu Viola, nama samarannya adalah King Lido." Viola tampak ragu untuk mengucapkan semua itu. Dia takut salah bicara.
"King Lido itu Kak William Leonardo." Bukan Momy Zaskia yang berkata seperti itu. Melainkan Zein dengan santainya berkata seperti itu.
Viola langsung mematung seketika mendengar itu. William Leonardo? Bukannya itu nama Kak Will? Apa Kak Will itu King Mafia Black WV Diamond Bloods?. Beribu pertanyaan memenuhi otaknya.
"Mom, Viola pergi dulu sebentar." Ucap Viola yang menurunkan Zein dari pangkuannya dan langsung mencium punggung tangan Momy Zaskia.
"KAK, ZEIN IKUT." Teriak Zein mengejar langkah lari Viola. Sedangkan Momy Zaskia, William dan Hendrik hanya terdiam melihat kepergian Viola dan Zein.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Viola mengendarai mobil yang diberikan oleh William.
Viola melajukan mobilnya entah kemana, sekarang pikirannya melayang entah kemana setelah mendengar semuanya. Tangis Viola pecah sambil menambah kecepatan mobilnya.
"Aarrgghhh.." Teriak Viola membanting setir dan menghentikan mobilnya. Untungnya, jalanan yang dia lewati cukup sepi.
"Udah?" Tanya Zein dengan santai. Memang Zein dari tadi duduk dibangku belakang.
"Zein?" Viola terkejut melihat Zein yang duduk dibangku belakang dengan santainya.
"Maaf, Kak Viola nggak sadar kalau kamu ikut sama Kakak. Kalau Kakak tahu kamu tadi ikut sama Kakak, pasti Kakak nggak akan ngebut kayak tadi." Ucap Viola sambil menunduk.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Kak. Zein udah biasa kok, malah lebih ngebut lagi daripada Kak Viola." Zein berkata dengan santai dan membuat Viola tersenyum tipis.
"Kak Viola jangan marah sama Kak Will. Kak Will sebenarnya juga nggak mau masuk ke dunia bawah, tetapi keadaan yang memaksanya buat masuk." Ucap Zein seperti orang dewasa yang mencoba untuk menghibur Viola.
"Kak Viola nggak marah sama Kak Will kok. Kak Viola cuma butuh waktu buat menerima semua ini." Viola mencoba tersenyum.
"Kalau gitu, kita ke Apartemen milik Zein aja."
"Kamu punya Apartemen?"
"Punya lah, Kak. Itu hadiah dari Kak Will buat Zein waktu Zein ualng tahun yang ke 4."
"Anak sultan punya segalanya." Batin Viola.
"Kak Viola boleh tinggal disana buat sementara?" Tanya Viola.
"Boleh lah, Kak. Kapan pun Kak Viola bisa tinggal disana." Zein memegang bahu Viola.
"Makasih, Zein." Viola mengusap-usap rambut Zein.
"You're welcome."
Viola melajukan mobilnya menuju Apartemen milik Zein.
Namun tiba-tiba, mata Viola melihat seseorang yang dia kenal sedang duduk dipinggir jalan.
Viola langsung menghentikan mobilnya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Zein yang sekarang sudah berada dibangku mobil sebelah Viola.
"Kamu tunggu disini iya. Jangan kemana-mana. Kakak cuma sebentar kok." Viola mengelus pipi Zein dan langsung mendapat anggukan dari Zein.
"Dita." Ucap Viola sambil memegang bahu wanita yang duduk dipinggir jalan tadi. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya, Dita.
"Viola." Dita langsung berdiri memeluk Viola.
"Lo kenapa?" Tanya Viola.
Dita melepas pelukannya dan langsung menatap wajah Viola. "Dia kembali, Vi. Dia kembali." Ucap Dita.
"Dia siapa?" Tanya Viola.
"Paman gue." Tangis Dita pecah saat mengucapkan kata itu.
"Apa? Beneran?" Viola kaget mendengar ucapan Dita. Dan langsung mendapat anggukan dari Dita.
"Lo yang tenang, okay. Lo ikut gue aja. Lo jangan balik ke rumah neraka itu. Lo tinggal sama gue aja." Viola memegang kedua bahu Dita.
"Beneran, Vi?" Dita menatap Viola dengan penuh harapan.
"Iya. Lo tinggal aja sama gue. Lo nggak perlu khawatir."
"Makasih, Vi."
"Iya, sama-sama."
Viola menuntun Dita berjalan kearah mobilnya. Dita masuk ke mobil Viola dan dia langsung duduk dibangku belakang dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Dia siapa, Kak?" Tanya Zein yang melihat Dita masuk dimobil Viola.
"Dia sahabat Kakak. Namanya Dita."
"Oh."
"Emm, Zein. Apa dia boleh tinggal sama Kak Viola?"
"Boleh, Kak. Yang penting jangan bawa laki-laki, nanti Kak Will marah sama Zein."
"Baiklah, Pangeran kecilnya Kak Viola." Ucap Viola yang langsung mendapat senyuman tulus dari Zein.
.
🌟🌟🌟🌟🌟
Sesampainya di Apartemen Zein.
"Zein, disini ada berapa kamar?" Tanya Viola.
"Ada 2 kamar, Kak." Ucap Zein.
"Kamu tidur sendirian apa sama Kak Viola?"
"Zein tidur sama Kak Viola aja."
"Baiklah." Viola tersenyum mendengar ucapan Zein.
Viola menghampiri Dita yang masih terdiam. "Lo aman disini, gue yang jamin. Jadi jalani hidup lo seperti biasanya." Ucap Viola sambil menepuk bahu Dita. Dita mengangguk dengan senyuman tipis untuk Viola.
Dita menghampiri Zein yang sedari tadi melihat Viola dan dirinya.
"Hay, nama kamu siapa? Kita belum kenalan loh." Ucap Dita.
"Zein." Ucap Zein dengan singkat, padat dan jelas. Viola tersenyum melihat tingkah Zein yang sama seperti saat pertama Zein bertemu dengannya.
"Zein, yuk kita tidur. Pasti kamu capek kan?" Tanya Viola yang mendapat anggukan kecil dari Zein. Zein langsung berjalan menuju kamar.
"Dita, Lo tidur istirahat sana. Jangan ambil hati sikap Zein, Zein memang gitu, dia itu cuek sama orang baru." Ucap Viola.
"Emangnya dia siapa, Vi? Bukannya Lo nggak punya adik, iya?"
"Ceritanya panjang pokoknya. Yang penting Zein udah gue anggap seperti adik gue sendiri."
"Oh gitu."
"Iya udah, Lo istirahat sana."
"Makasih, Vi." Ucap Dita yang mendapat anggukan dari Viola.
Viola berjalan menuju salah satu kamar yang ada di Apartemen Zein.
"Zein kok belum tidur?" Viola baru memasuki kamar dan mendapati Zein yang masih terjaga sambil rebahan diranjang.
"Zein nunggu Kak Viola. Zein pengin dipeluk sama Kakak." Rengek Zein.
"Uuhh, manja banget Pangeran kecilnya Kak Viola. Iya udah, sini Kak Viola peluk." Viola naik ke atas ranjang dan memeluk Zein sampai tertidur.
__ADS_1
"Gue bisa sedikit melupakan kejadian tadi, walaupun hanya sebentar. Gue harus bisa menerima kenyataan ini, mungkin ini adalah takdir gue. Karena gue udah sayang sama Kak Will semenjak dia jadi pahlawan buat gue waktu kecil." Batin Viola.