
~"Kak Will berlebihan banget deh. Padahal kan cuma makan malam, kenapa harus gue yang masak?"~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
William pulang ke Mansionnya dengan perasaan berbunga-bunga. Karena Viola memberikan begitu banyak perhatian padanya, walaupun Viola masih merasa kecewa dengan William.
Saat masuk di Mansion Pribadinya, William langsung dihadapkan dengan tatapan tajam dari Papanya, Papa Satria dan senyuman tulus dari Momy Zaskia.
"Duduk." Papa Satria memerintah dengan datar dan tegas. Dan William pun langsung mengikuti perintah Papanya.
"Ada apa, Pa? Tumben Papa kesini? Pasti ada hal penting yang mau Papa sampaikan." William berbicara dengan datarnya. Karena dia tau, kalau Papanya sudah memasuki Mansion Pribadinya, pasti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
"Kamu ini tetap aja bersikap kayak gitu. Basa-basi dulu lah sama Papamu ini." Papa Satria yang tadinya bersikap datar, menjadi bersikap baik dan tersenyum kearah William.
Namun, William sama sekali tidak mengubah ekspresi datar diwajahnya. "William nggak suka basa-basi. Papa mau apa kesini?"
"Oke, baiklah. Nanti ada keluarga teman Papa yang akan makan malam disini." Papa Satria berbicara dengan santai.
William mengangkat satu alisnya. "William nggak akan kasih izin."
"Nak, William. Papamu sudah mengundang mereka untuk makan malam disini. Jadi, jangan buat Papamu malu karena harus membatalkannya." Momy Zaskia berkata sambil memegang tangan William.
William menatap wajah Momy Zaskia. "Baiklah. Demi Momy, William izinkan."
"Terimakasih, Nak." Momy Zaskia tersenyum tulus kearah William.
"Tapi ada syaratnya." Ucap William.
"Apa?" Tanya Papa Satria.
"Makan malam nanti yang harus memasak adalah Viola. Dan Viola juga harus ikut makan malam disini." Ucap William dengan datar.
"Viola? Viola siapa?" Tanya Papa Satria.
"Viola itu seorang gadis yang selama ini dicari William, Mas." Ucap Momy Zaskia.
"Viola yang selalu kamu ceritain itu? Kamu udah ketemu sama dia?"
"Iya, William udah ketemu sama Viola." Ucap William.
"Dimana dia sekarang?"
"Viola tinggal di Apartemen bersama Zein."
"Sepertinya, banyak yang Papa tidak ketahui disini."
"Makanya, jangan kerja terus. Kasihan Momy, ditinggal sendiri terus sama Papa." William langsung beranjak pergi menuju kamarnya, dilantai 3.
Setelah kepergian William, Papa Satria langsung menatap penuh tanya kepada istrinya.
"What happen?" Tanya Papa Satria.
"Sebenarnya Viola sudah tinggal di Mansion ini sama William. Tetapi, saat Viola tau kalau William adalah seorang King Mafia, dia memilih untuk menenangkan dirinya. Dan saat itu, Zein mengejar Viola yang akan pergi dari Mansion ini. Makanya, Zein menyuruh Viola untuk tinggal di Apartemennya sementara."
__ADS_1
"Kenapa harus di Apartemennya Zein?"
"Aku pernah menyuruh seseorang untuk mencari tau tentang Viola. Dari informasi yang dia berikan, kalau Viola adalah anak yatim piatu. Rumah peninggalan Mamanya, dia jual. Karena saat itu, William meminta Viola untuk menjadi Sekretaris Pribadinya dan tinggal di Mansion ini."
"Owh gitu. Terus? Kenapa orang tua Viola meninggal?"
"Papa Viola meninggal karena serangan jantung dan Mamanya meninggal, karena ditembak."
"Siapa yang menembak?"
"Seseorang yang terobsesi dengan Viola, namanya Zoni. Dia pernah menculik Viola. Namun, Viola berhasil kabur dengan bantuan dari Hendrik atas perintah William. Saat Viola kabur, Zoni langsung membunuh Mama Viola di kediamannya."
"ZONI?" Papa Satria sedikit terkejut mendengar nama Zoni.
"Kenapa?" Momy Zaskia bingung dengan perubahan sikap suaminya itu.
.
🌻🌻🌻🌻🌻
Pukul 17.00, Viola baru sampai di Apartemen Zein.
"Hello, Zein, Dita." Sapa Viola yang melihat Zein dan Dita sedang duduk makan Snack sambil menonton tv.
"Hay, Kak Viola."
"Hay, Vi."
"Makan apa tuh? Kok aku nggak dikasih?" Tanya Viola yang langsung duduk disamping Zein.
"Iihhhh, Kak Viola bau. Sana pergi mandi dulu." Ejek Zein sambil menutup hidungnya.
"Masa sih?" Viola langsung mengendus badannya. "Iya juga sih. Iya udah aku mandi dulu." Pamit Viola.
30 menit kemudian, Viola sudah selesai mandi. Viola langsung menghampiri Zein dan Dita yang masih setia menonton tv.
"Gimana? Udah wangi kan?" Tanya Viola.
"Wangi banget kalau ini." Goda Zein.
"Ih, Zein." Mereka bertiga tertawa.
"Oh iya, Vi." Ucap Dita.
"Ada apa?" Tanya Viola.
"Tadi ada orang yang nelpon, nama kontaknya Kak Will." Ucap Dita smabil mengunyah Snacknya.
"Kak Will itu Kakaknya Zein, Kak Dita." Ucap Zein sambil memasukkan cemilan dimulutnya.
"Owh gitu."
"Ada apa dia telpon?" Tanya Viola.
"Dia suruh lo datang ke Mansionnya jam 6. Katanya ada hal penting yang harus lo kerjain disana."
"Oh oke."
"Ngapain Kak Will suruh gue ke Mansion? Ada hal penting apa? Kenapa nggak besok aja? Kan besok masih ada waktu di Kantor. Ah tau ah." Batin Viola.
"Zein ikut iya, Kak." Ucap Zein dengan nada sedikit tinggi dan membuyarkan lamunan Viola.
"Pasti dong. Lo gimana, Dit? Mau ikut?"
__ADS_1
"Gue disini aja, Vi. Gue masih takut buat keluar dari sini." Ucap Dita dan Viola langsung beralih duduk disamping Dita.
"Iya udah. Senyamannya lo aja. Tapi, jangan sampai lo terus-terusan takut buat keluar. Gue disini ada buat lo, lo nggak usah khawatir." Viola memeluk Dita.
"Iya, makasih, Vi." Dita membalas pelukan Viola.
"Zein ikutan dong." Rengek Zein.
Viola dan Dita langsung melepas pelukannya. "Iya udah, sini. Kita berpelukan." Viola merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut baik oleh Dita dan Zein.
.
🌟🌟🌟🌟🌟
Viola dan Zein sudah berada di Mansion Pribadi William.
Saat memasuki Mansion, Viola dan Zein langsung disambut oleh Papa Satria, Momy Zaskia, William dan Hendrik.
"HELLO EVERYONE. ZEIN DATANG. RED KARPETNYA MANA?" Teriak Zein.
"ZEIN." Panggil Papa Satria dengan tegas.
Zein terdiam melihat Papanya dan langsung berlari ke pelukan Papanya. "PAPA. Zein kangen."
Papa Satria membalas pelukan Zein. "Papa juga kangen sama Zein."
Setelah beberapa lama, mereka melepas pelukannya. Viola langsung mencium tangan Papa Satria dan beralih ke Momy Zaskia. Dan Momy Zaskia langsung menarik Viola untuk duduk disampingnya.
"Ini Viola?" Tanya Papa Satria.
"Iya, Om. Saya Viola." Ucap Viola dengan gugup.
Papa Satria langsung melihat Viola dari bawah sampai atas. "Cantik." Satu kata keluar dari mulut Papa Satria.
"Makasih, Om." Viola tersenyum.
"Papa bukan Om."
"Iya, Pa."
William tampak bahagia melihat sikap Papanya kepada Viola. Namun, dia masih berusaha untuk tidak tersenyum dan mamasang wajah datarnya.
"Sudah-sudah. Viola, kamu masak buat makan malam sekarang." Perintah William.
"What? Jadi gue disuruh kesini cuma buat masak untuk makan malam doang? Katanya ada hal penting. Apa pentingnya kalau ini? Kan Kak Will punya banyak Asisten yang bisa dia suruh untuk masak. Kenapa harus gue?" Batin Viola.
"Iya, Kak." Viola hanya menurut perkataan William dan langsung permisi ke dapur untuk memasak.
Viola memasak dibantu oleh Bibi Lina. "Bi, kenapa aku disuruh masak untuk makan malam? Kan disini ada banyak banget asisten yang bisa masak buat orang tuanya Kak Will." Gerutu Viola, tetapi tangannya masih terus memasak.
"Nggak cuma orang tuanya Tuan Muda, Non. Nanti keluarga temannya Tuan Besar bakal makan malam disini. Dan Tuan Muda pengin, kalau Nona Viola yang masak buat mereka." Ucap Bibi Lina.
"Owh gitu."
"Kak Will berlebihan banget deh. Padahal kan cuma makan malam, kenapa harus gue yang masak?" Batin Viola.
Tanpa sepengetahuan Viola, William masuk ke dapur dan menyuruh Bibi Lina untuk pergi dari sana. William langsung memeluk Viola dari belakang, padahal Viola sedang menumis masakannya. Viola pun terkejut dan langsung membalikkan badannya.
Sekarang, wajah Viola dan William hanya berjarak satu sentimeter saja. Jantung Viola dan William pun berdetak dua kali lebih cepat. Bahkan, mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
"Viola, I love you." Bisik William yang langsung memeluk Viola. Viola hanya bisa terdiam tanpa berniat membalas pelukan William. Namun, Viola memejamkan matanya untuk mencium wangi parfum yang dia rindukan selama ini yaitu parfum milik William.
"Ehem..." Deheman seseorang mengganggu aktivitas Viola dan William.
__ADS_1