Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-025~


__ADS_3

~"Kayak suami yang pamit ke istrinya." Gumam Viola sambil senyum-senyum sendiri.~


.


.


.


.


.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Permisi." Ada seorang pria yang terlihat lebih tua dari William menghampirinya dan Viola.


"Apa benar ini Tuan William?"


William menengok kearah pria itu. "Iya."


Pria itu menyodorkan sebuah dokumen kepada William. "Ini Tuan, semua berkas-berkas yang harus Tuan tanda tangani untuk proses jual beli Mall ini."


William mengambil berkas itu dan membaca semua dokumennya dengan teliti. Sedangkan Hendrik, Dita dan Viola hanya terkejut tidak percaya, kalau William akan membeli Mall ini gara-gara menunggu Viola berbelanja.


Viola memegang lengan William. "Kak Will beneran mau beli Mall ini?" Tanya Viola.


William mengalihkan pandangannya kearah Viola. "Iya Viola sayang, kan biar kamu nggak kelamaan milih bajunya. Kamu bisa tinggal ambil semua yang kamu perlukan di Mall ini tanpa harus membayar." William mengusap lembut pipi kanan Viola. Viola hanya tersenyum dan tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi, karena dia lagi nggak ingin berdebat dengan William.


Dan ini pertama kalinya Dita melihat sikap William yang tidak cuek dan dingin.


"Ternyata hanya sama Viola, sikap William nggak cuek dan dingin." Batin Dita.


Tiba-tiba Hendrik membisikkan sesuatu ditelinga Dita karena sedari tadi, mereka berdiri dengan berdampingan. "Lo kaget iya lihat sikap William. Tapi jangan dibatin, soalnya dia punya indera keenam. Jadi, jangan sampai Lo disantet sama dia." Canda Hendrik dengan suara pelan.


"Gue yang bakal santet Lo, supaya Lo mati biar hidup gue tenang." Ucap Dita dengan pelan namun penuh penekanan.


.


🌻🌻🌻🌻🌻


Keesokan harinya, William berniat untuk ke Markas. Namun, langkahnya terhenti melihat Viola yang murung dipinggir kolam renang. Dengan rasa penasaran, William mendekati Viola.

__ADS_1


"Heemm, kayaknya sinar matahari pagi ini kurang cerah. Sampai-sampai nggak bisa buat Kekasihku ini tersenyum." William duduk disamping Viola sambil mencubit pipi kanan Viola.


Bukannya memberontak atau merintih kesakitan, Viola malah tetap diam sambil memandang wajah William. "Kenapa? Segitu gantengnya diriku sampai kamu nggak bisa berkata-kata saat memandang wajahku ini?" Ucap William dengan nada tak biasa. Hingga membuat Viola terkekeh kecil.


"Kamu kenapa?" Untuk kesekian kalinya William berbicara dan bertanya kepada Viola.


"Aku tiba-tiba ingat Kakek, Kak. Aku masih yakin kalau Kakek aku masih hidup. Tapi entah dimana Kakekku sekarang. Kakekku yang udah rawat aku sejak kecil sampai aku lulus SMP. Semua kasih sayangnya diberikan ke aku, Kak." William menyandarkan kepala Viola ke dadanya. Seketika itu, Viola tidak bisa menahan kesedihannya.


"Oh iya." Viola menarik kepalanya dari pelukan William. "Semalam aku mimpi, kalau Kakek akan kembali, Kak. Tapi entah kapan hari itu akan tiba." Ucap Viola.


"Sebenarnya aku udah pengin kasih tau kamu, Vi. Tapi aku akan nunggu Tuan Fernandes sembuh dulu. Biar kamu nggak ikutan sakit melihat Kakekmu terbaring lemah diatas ranjang." Batin William.


Tiba-tiba ponsel William berdering......


"Sebentar, Kak Will angkat telfon dulu." Ucap William dan mendapat anggukan dari Viola.


Call On.


"King, Tuan Fernandes sudah memberikan sinyal kesadarannya. Dokter bilang, satu jam lagi Tuan Fernandes bakal siuman." Ucap Mafioso yang menelfon William tadi.


Tanpa menjawab dan berpikir panjang, William langsung mematikan telfonnya.


"Viola, Kak Will pergi dulu. Ada sesuatu yang harus Kak Will urus. Kamu di Mansion aja, jangan kemana-mana. Kalau ada apa-apa langsung telfon Kak Will. Kamu tau kan, kalau Mansion ini sering diserang? Kak Will tau, kalau kamu pandai berkelahi dan menggunakan senjata, tapi jangan sampai kamu melukai dirimu sendiri. Dan.." Ucap William panjang dan lebar sehingga ucapannya dihentikan oleh jari telunjuk Viola yang tiba-tiba ada didepan bibirnya.


"Kak Will kan pergi cuma sebentar? Kenapa sekhawatir itu ke Viola. Kak Will tenang aja, semuanya bakal baik-baik aja kok. Kak Will kan cuma pergi beberapa jam doang kan. Kayak mau pergi berbulan-bulan aja." Ucap Viola.


William mengacak-acak rambut Viola dengan pelan. "Iya udah, Kak Will berangkat. Bye." William mencium kening Viola dan beranjak pergi dari Mansionnya.


"Kayak suami yang pamit ke istrinya." Gumam Viola sambil senyum-senyum sendiri.


"VIOLA" Teriak Dita sambil berlari menghampiri Viola yang masih duduk dipinggir kolam.


"Kenapa Lo?" Tanya Dita sambil duduk disamping Viola.


"Gue nggak pa-pa kok." Ucap Viola.


"Vi, gue barusan dapat kabar, kalau Zoni kembali ke Kota ini." Ucap Dita dengan nada tinggi.


"Emangnya selama ini dia kemana?" Tanya Viola. Sebenarnya Viola sudah tidak ingin tau mengenai Zoni. Tapi, dia ingin tau rencana Zoni selanjutnya seperti apa.


"Selama ini dia pergi ke Luar Negeri, katanya sih disuruh Bokapnya buat kembangkan Perusahaan Bokapnya yang ada disana. Tapi, gue heran aja sih. Masa seorang Zoni mau kerja di Perusahaan. Seumur-umur kan Zoni cuma beban keluarga yang hanya mengandalkan uang orang tua buat dia berfoya-foya. Apa ada suatu hal dibalik semua ini? Apa dia masih seperti Zoni yang dulu iya?" Ucap Dita yang seperti orang berpikir.

__ADS_1


"Mungkin dia mau berubah. Biar punya manfaat buat orang lain." Ucap Viola dengan nada seadanya.


"Mungkin dia mau tobat." Ucap Dita dengan spontan.


"Gue nggak yakin kalau Zoni bakal berubah. Tapi, kalau memang dia masih kayak Zoni yang dulu. Nggak bakal gue biarin dia hidup dengan tenang kalau masih cari gara-gara sama gue." Batin Viola.


"Eh Vi." Panggilan Dita membuyarkan lamunan Viola yang membatin soal Zoni.


"Ada apa, Dit?" Tanya Viola.


"Kita ke Mall lagi yuk. Mumpung kita bisa ambil aja sepuasnya. Kan Mall yang semalam udah dibeli sama Pacar Lo." Ledek Dita.


"Pergi sendiri sana. Kak Will nggak bolehin gue keluar seharian ini."


"Lah emangnya, nanti Lo nggak ke kantor?"


"Nggak, Dit. Soalnya kerjaannya udah gue handle dari sini. Jadi nggak perlu ke Perusahaan lagi."


"Enak iya Lo, bisa kerja dari rumah. Lah sedangkan gue? Belum punya kerjaan dan uang tabungan gue juga tinggal sedikit lagi."


"Emang uang tabungan Lo tinggal berapa?" Tanya Viola yang berniat hanya bercanda pada Dita.


"3 Milliar sih."


"Eh, buset dah. 3 Milliar itu sedikit Lo bilang? Kayaknya Lo perlu berobat deh." Ucap Viola sambil tertawa untuk menghibur Dita dan dirinya sendiri.


"Eh, tau nggak. 3 Milliar itu tuh sedikit tau. Ini juga uang terakhir gue, cuma satu card aja yang nggak sengaja kebawa dikantong gue dulu pas gue kabur."


Viola menepuk bahu Dita. "Udah, Lo tenang aja. Lo bisa minta kerjaan ke Hendrik." Ledek Viola.


"WHAT THE ****. DEMI APA? Ogah gue. Mendingan gue nggak usah kerja sekalian kalau harus minta kerjaan ke dia." Ucap Dita sambil mengetuk pelan kepalanya sambil bilang "amit-amit."


"Jangan gitu. Dia itu duitnya banyak loh." Bisik Viola.


"Bodo amat. Mau duitnya se-truk kek, se-gunung sekalipun. Ogah gue." Ucap Dita dengan lebay.


Tawa Viola lepas saat melihat gaya bicara Dita tadi. Namun, tawa Viola langsung terhenti saat dirinya mendapat serangan berupa Belati.


SREK..


"YA AMPUN, VIOLA....

__ADS_1


__ADS_2