
~Duh, gue gugup nih. Kak Will kenapa ngomongnya datar banget sih.~
.
.
.
.
.
π·π·π·π·π·
"Apa ini?" Tanya Hendrik dengan bodohnya.
"Ponsel." Ucap William dengan datar.
"Ngapain gue nanya iya? Jelas-jelas ini ponsel. Yang bodoh disini siapa sih?" Batin Hendrik.
"Lo yang bodoh." William masih memasang muka datarnya.
"Iya gue yang bodoh, puas lo." Hendrik terus memaki-maki William dalam hati.
"Sangat."
"Terus, ngapain Lo kasih ponsel ke gue?" Tanya Hendrik.
"Buka rekaman suara yang ada disana."
Hendrik langsung menuruti perkataan William. Rekaman suara itu berisikan ucapan William dan Viola tadi siang.
Deg..
Hendrik nampak sangat gugup setelah mendengar semua rekaman itu.
"KENAPA INFORMASI SEPENTING ITU, LO NGGAK KASIH TAU KE GUE?" Teriak William yang sedari tadi menahan amarahnya hingga memuncak.
"Maaf, Will. Gue juga nggak tau. Semua informasi tentang Viola udah gue cari. Tapi, gue hanya dapat informasi soal orang tua Viola bukan Kakek maupun Neneknya." Hendrik terlihat sangat berhati-hati saat berbicara.
"Kan gue udah suruh Lo buat cari tau soal Tuan Fernandes."
"Yang gue tau hanya yang gue kasih tau ke Lo. Bahwa Tuan Fernandes menghilang tanpa jejak."
"Sekarang apapun risikonya, Lo harus cari tau tentang Tuan Fernandes. Kalau Lo belum tau keberadaannya, Lo nggak usah pulang ke Mansion." Ucap William dengan datar.
"Tapi selama ini, gue udah cari tau tentang Tuan Fernandes. Sepertinya, ada konspirasi dibalik semua ini. Orang yang menculik Tuan Fernandes kemungkinan bukan orang biasa."
"Apapun itu sebelum Lo tau keberadaan Tuan Fernandes, mendingan Lo tinggal di Apartemen gue."
"Apartemen yang mana?"
"Dekat Markas, biar sekalian Lo pantau disana."
"Oke." Ucap Hendrik dengan lesu dan langsung pergi dari ruangan William.
"Gue bukannya tega sama Lo, Drik. Tapi, gue benar-benar butuh informasi soal Tuan Fernandes. Tuan Fernandes sangat berarti dalam hidup gue." Gumam William.
.
π₯π₯π₯π₯π₯
Keesokan harinya setelah sarapan, Hendrik langsung pergi keluar Mansion. Hendrik pergi tanpa membawa barang-barangnya, karena disana kebutuhannya sudah disiapkan oleh William.
"Lo ikut gue." Ucap William yang langsung menarik tangan Viola. Viola hanya pasrah mengikuti William.
45 menit kemudian. William dan Viola sampai disebuah Perusahaan yang bernama W'L Company.
William berjalan dengan tegap berwibawa. Sedangkan Viola hanya mengikutinya dari belakang.
Beberapa karyawan menatap sinis kearah Viola, dan sebagian menatap kearah William dan Viola dengan penuh tanya. Karena selama ini, William tidak pernah membawa seorang perempuan bersamanya tanpa ada janji atau pekerjaan yang penting.
William masuk kedalam lift bersama Viola yang masih bingung harus berbuat apa.
Lift terbuka dilantai 10, disinilah tempat pribadi William. Dilantai ini hanya terdapat satu ruangan yang snagat besar dan satu ruangan lagi yang lumayan besar juga.
__ADS_1
"Pagi, Will." Sapa Sekretaris William yang bernama Rey. Memang William sendiri yang menyuruh Rey untuk memanggilnya dengan sebutan nama saja, tanpa imbuhan Tuan maupun Pak (kecuali saat rapat).
"Pagi." William langsung masuk ke ruangannya.
Viola masih bingung, harus berbuat apa. Dia hanya bisa mengikuti langkah William.
Rey terus menatap William, "Kenapa gue sanggup jadi Sekretarisnya William si Gunung Es itu? Mungkin karena gajinya besar. Hehehe. Oh iya, tumben William bawa perempuan ke ruangannya, biasanya aja kalau ada perempuan yang masuk ke ruangannya pasti gue disuruh ikut. Lah ini nggak. Eh, ngapain gue ngebatin yak." Batin Rey.
Sesampainya di ruangannya, William langsung duduk dikursi kebesarannya. Disana terdapat tulisan CEO W'L COMPANY.
Viola langsung kaget saat membacanya.
"Duduk."
"I-iya." Viola nampak gugup.
"Ngapain Kak Will bawa Viola kesini?" Tanya Viola.
"Tanda tangani ini." Ucap William yang langsung memberikan Viola sebuah berkas.
"Ini apa, Kak?"
"Kamu tanda tangan aja langsung, kamu percaya kan sama aku?"
"Iya, Kak." Tanpa berpikir panjang, Viola langsung menandatangani berkas yang diberikan oleh William.
"Sekarang kamu resmi jadi Sekretaris Pribadiku. Nanti kamu tanya Rey, apa saja tugas-tugasmu."
Deg..
"APA? Aku jadi Sekretaris Pribadi Kak Will?"
"Iya."
"Makasih, Kak." Viola yang sangat senang sekali, hingga refleks langsung berlari memeluk William.
Deg... Deg... Deg...
Jantung William berdetak tak karuhan saat Viola tiba-tiba memeluknya. William hanya tersenyum tipis saat Viola memeluknya.
"Will, ini..." Ucapan Rey terpotong.
"Eh, maaf." Rey yang melihat Viola memeluk William pun langsung kembali menutup pintu ruangan William dan pergi dari sana. Sedangkan Viola, langsung melepas pelukannya dan dia pun tampak malu dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Maaf, Kak." Lirih Viola.
"Nggak pa-pa."
.
πππππ
Setelah mengantar Viola pulang ke Mansionnya, kini William sedang berada di ruangan penyiksaan yang ada di Markasnya.
"Siapa yang suruh Lo?" Tanya William dengan datar dan tatapan yang mematikan.
"GUE NGGAK AKAN BILANG, SIAPA YANG UDAH SURUH GUE BUAT SERANG MANSION LO."
"BICIT." William langsung mengambil pisau tumpul yang ada di ruangan itu. William menggoreskan pisau itu ditangan penyusup sampai membentuk tulisan 'BICIT'.
Aarrgghhhh....
Teriak penyusup itu yang merasa kesakitan. Namun hal itu membuat William tertawa puas.
"KATAKAN CEPAT." Bentak William.
"GUE NGGAK AKAN KASIH TAU LO."
"Ternyata, Lo setia juga." William tersenyum sinis. William langsung menguliti kaki penyusut itu.
Aarrgghhh...
Aarrgghhh...
"Teruslah teriak, gue suka teriakan Lo." Ucap William. Setelah puas menguliti penyusup itu, William mengambil sebuah pisau daging untuk memotong jari penyusup itu.
__ADS_1
Aarrgghhh... SAKIIITT...
Satu persatu jari penyusup itu pun lepas dari tangannya, hingga hanya tertinggal satu jari.
"Oke, gue kasih tau." Ucap penyusup itu yang sudah lemas.
"Bagus."
"Leader Lion Devil."
DORR... DORR.. DORR..
William melayangkan beberapa tembakan tepat di Jantung penyusup itu.
"BERSIHKAN SEMUANYA." William berteriak saat dia baru saja keluar dari ruang penyiksaan.
"Baik, King." Ucap 2 Mafioso yang ada didepan ruang penyiksaan.
William langsung naik ke lantai dua dan membersihkan badannya yang terkena darah. Tak lupa, dia juga berganti pakaian.
Setelah selesai, William pun memutuskan untuk kembali ke Mansionnya.
.
πΊπΊπΊπΊπΊ
35 menit berlalu, kini William sudah sampai di Mansion.
Saat memasuki ruang tamu, Indra penciuman William langsung menangkap sesuatu.
"Hmm, wangi." Gumam William sambil mencari sumber bau wangi itu.
Sampailah William di meja makan, disana terlihat Viola dan Bibi Lina sednag menyiapkan makanan diatas meja. William langsung mengambil duduknya, sedangkan Viola dan Bibi Lina terkejut melihat kedatangan William yang tiba-tiba.
Tanpa berpikir panjang, Viola langsung menyiapkan makanan untuk William. Seperti seorang istri menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Silahkan dinikmati, Kak."
"Terimakasih." Ucap William dengan datar. Padahal didalam hatinya, dia ingin terbang melayang ke angkasa karena Viola menyiapkan makanan untuknya.
Bibi Lina yang tau akan situasi dan kondisi pun, meninggalkan Viola dan William untuk makan malam bersama.
Tidak ada pembicaraan antara Viola dan William, hanya suara alat makan saja yang terdengar.
"Kak Will." Ucap Viola yang sudah selesai makan.
"Apa?" Ucap William dengan datar.
"Duh, gue gugup nih. Kak Will kenapa ngomongnya datar banget sih." Batin Viola.
"Emm... Kak Will.."
"Apa, Vi?"
"Viola pengin belajar senjata sama Kak Will." Ucap Viola dengan hati-hati.
William terkejut mendengar pernyataan Viola, tapi sebisa mungkin dia tutupi dengan wajah kedatarannya. "Boleh, tapi ada syaratnya."
"Apapun itu, akan Viola lakukan." Viola tampak bersemangat mendengar ucapan William.
"Turuti semua perintahku."
"Oke, Viola setuju."
"Oke." William tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Oh iya, Kak Will jangan ketus gitu dong kalau ngomong sama Viola."
"Kenapa? Kamu nggak suka?"
"Emmm, Viola lumayan takut kalau Kak Will bicara dengan nada datar gitu."
"Terus, kamu maunya aku gimana?"
__ADS_1