
~"Kami disini aja. Terus kamu lihat, seberapa jagonya aku masak buat kamu."~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
20 menit berlalu. "Viola lama banget mandinya. Kan gue udah lapar." Gerutu Hendrik.
"Lo tadi udah makan malam. Dan ini baru jam sebelas, masa Lo udah lapar lagi?" Ucap William.
"Tadi kan habis buang tenaga. Jadi energi yang masuk waktu makan malam, udah kebuang deh. Makanya gue lapar lagi."
"Terserah Lo."
"Ini Viola mandi apa tidur sih?"
"Mandilah. Oh iya, gimana keadaannya Tuan Fernandes?"
"Masih belum ada perkembangannya, Will. Tapi, gue udah suruh dokter terbaik di negara ini buat rawat Tuan Fernandes. Gue juga udah suruh beberapa Mafioso untuk jaga disekitar Mansion tempat Tuan Fernandes dirawat."
"Hm, oke."
"Will Lo masak sana." Ucap Hendrik dnegan santainya. Dia lupa kalau William adalah Bosnya.
"Apa Lo bilang?"
"Ya elah. Sekali-kali masak buat gue, Will."
"Lo mau gue racunin?"
"Iya jangan dong. Masa Lo tega racunin cowok ganteng kayak gue."
"Narsis."
"Kalau Lo nggak mau masak, sana Lo panggil Viola."
"Disini yang Bosnya siapa?" William menatap Hendrik dengan tajam.
Tubuh Hendrik tiba-tiba gugup tak karuhan, tapi berusaha dia sembunyikan dengan sikap santainya. "Lo mau? Kalau gue lihat Viola lagi..."
Belum selesai Hendrik berbicara, William sudah pergi terlebih dahulu ke kamarnya Viola.
"Dasar King Bucin. King Posesif, King Gunung Es." Hendrik memaki-maki William didalam hatinya.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
William masuk kedalam kamar, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Saat memasuki kamar, William melihat Zein yang tidur pulas diatas ranjang sendirian. William terus mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Viola disana.
"Viola." Panggil William yang berjalan menuju kamar mandi. William mencoba untuk mengetuk pelan pintu kamar mandi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Viola.." Panggil William. William berusaha membuka pintu kamar mandi, tetapi pintunya dikunci dari dalam.
__ADS_1
"Berarti Viola ada didalam. Tetapi? Kenapa nggak ada sahutan dari dalam? Apa Viola baik-baik saja?" Batin William.
"Vi.. Viola.." William menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Nggak ada cara lain." William mendobrak pintu kamar mandi.
BRAK..
William melihat Viola sedang menutup matanya diatas Bathub yang berisi air dan busa. William langsung menghampiri Viola dan menepuk pelan pipi Viola.
"Vi.. Viola.. Vi. Bangun. Kamu tidur?" Tanya William sambil menepuk pelan pipi Viola. Viola yang merasa terganggu dengan William pun langsung membuka matanya.
"Kak Will? Ngapain?" Tanya Viola yang terkejut melihat William berada di kamar mandi bersamanya. Dan dia masih berada diatas Bathub. Untungnya, Viola masih memakai kaos yang dia temukan di lemari kamar, tadi.
"Kamu ngapain tidur di Bathub? Ini udah larut malam. Nanti kalau kamu masuk angin gimana? Kalau kamu sakit gimana? Cepet ganti baju, sana." William tiba-tiba sangat cerewet kepada Viola.
"Hm." Viola keluar dari Bathub. Namun tubuhnya tiba-tiba lemas dna hampir terjatuh. William yang menyadari itu, langsung membantu Viola untuk berdiri.
"Are you okay?" Tanya William.
"Yes, I'm okay. Kak Will keluar sana. Aku mau ganti baju." Viola mencoba untuk berdiri sendiri. Tetapi, tubuhnya terlalu lemas. Alhasil dia hampir terjatuh, untungnya William selalu sigap menangkapnya.
"Kamu bilang? Ini gak pa-pa? Kamu berdiri aja nggak bisa." Omel William.
"Tapi aku mau ganti baju."
"Iya udah ganti baju aja. Aku nggak bakal ngintip kok. Aku cuma mau bantu kamu aja."
"Iya udah deh, apa boleh buat. Gue juga lemas banget ini." Batin Viola.
"Iya udah. Kak Will jangan ngintip. Awas aja kalau ngintip."
"Iya iya. Nggak kok." Tangan William memegang kedua bahu Viola. William juga menutup kedua matanya agar tidka melihat Viola yang sedang ganti baju.
"Udah." Setelah mendengar ucapan Viola, William langsung membuka matanya dan langsung menggendong Viola ala bridal style. Sedangkan Viola? Dia hanya terdiam sambil mengalungkan tangannya dileher William.
William membawa Viola keluar dari kamar mandi dan menidurkan Viola seranjang dengan Zein.
"Makasih, Kak."
"Sama-sama. Kamu lapar nggak?"
"Hmmm, lumayan."
"Iya udah. Aku masak dulu buat kamu."
"Beneran?"
"Iya. Kamu meremehkan skill memasak aku?"
"Lumayan."
"Kamu nggak percaya?"
"Sedikit."
"Ih kok gitu? Gimana kalau kamu ikut ke dapur? Biar kamu bisa lihat sendiri."
"Boleh. Tapi, badan aku lemas, Kak."
William kembali menggendong Viola dan berjalan keluar dari kamarnya.
Di Sofa depan tv. Hendrik masih fokus menonton Film yang dia sukai. Tetapi, perutnya terus berteriak meminta makan. "Ini, Viola kemana sih. Cacing diperut gue udah pada memberontak nih." Gerutu Hendrik.
__ADS_1
Setelah menggerutu tidak jelas. Mata Hendrik langsung melihat pemandangan yang diluar dugaannya. "Gilaa. Ini nyata? Apa tuh pemain filmnya keluar dari kaca tv?" Hendrik melihat William menggendong Viola sambil melintasinya begitu saja. Mereka berdua mengacuhkan Hendrik yang masih setia melihat mereka berdua tanpa berkedip.
2 detik.
10 detik.
45 detik.
Ting.. Otak Hendrik kembali bekerja. "WOY WILL. ANAK ORANG LO APAIN?" Teriak Hendrik sambil beranjak menghampiri William dan Viola.
William mengacuhkan teriakan Hendrik. Dan sesampainya di dpaur, William langsung mendudukkan Viola diatas bangku. "Kami disini aja. Terus kamu lihat, seberapa jagonya aku masak buat kamu." Ucap William dan mendapat anggukan dari Viola.
William mulai memasak untuk Viola. Setelah beberapa detik, Hendrik datang ke dapur dengan Zein.
"Hay, Kak." Ucap Zein yang baru bangun.
"Kok Zein bangun sih?" Tanya Viola.
"Gara-gara Kak Hendrik nih. Teriak-teriak kencang banget. Jadi, Zein kebangun deh."
"Kamu juga sih. Kenapa telinganya dibuka lebar-lebar kalau lagi tidur." Cibir Hendrik.
"Emang bisa, kalau sebelum tidur telinganya ditutup dulu?" Zein berbicara dengan songongnya.
"Iya bisalah. Ntar Kak Hendrik kasih tau caranya."
"Nggak mau. Kak Hendrik kan suka mengada-ada."
"Masa? Beneran nggak mau coba?"
"Nggak."
"Beneran nih? Ntar nyesel loh." Mata Hendrik yang tadinya tidak fokus kearah dapur, tiba-tiba matanya terbuka lebar.
"Wow. It's amazing. Akan ada keajaiban di dunia ini." Mata Hendrik menatap William yang sedang memasak tanpa berkedip.
Zein mengikuti arah penglihatan Hendrik. Zein terkejut melihat William yang sedang memasak. "Itu beneran Kak Will? Wow.." Ucap Zein yang tidak percaya melihat William memasak. Sedangkan Viola? Hanya bisa menahan tawanya melihat raut muka Hendrik dan Zein.
"Will. Tadi katanya nggak bisa masak?" Cibir Hendrik sambil menghampiri William.
"Siapa bilang gue nggak bisa?" Pekik William dengan ketus tanpa melihat kearah Hendrik.
"Iya nggak ada sih."
Zein menghampiri William dan Hendrik. "Kak Will beneran masak?"
"Iyalah, Zein. Zein nggak lihat kalau Kak Will lagi masak? Masa iya Kak Will lagi lakuin pembantaian." Ucap William dengan santainya tanpa melihat kearah Zein.
"Untung Kakaknya Zein. Kalau nggak..." Batin Zein.
"Butuh bantuan nggak?" Tanya Hendrik dengan tiba-tiba.
"Nggak usah. Gue lagi pengin masak spesial buat Viola."
"Kalau udah Bucin mah susah." Cibir Hendrik.
"Udahlah, Kak. Kan Kak Will lagi jatuh cinta. Nanti kalau Kak Hendrik jatuh cinta juga sama kayak Kak Will."
"Eh, Bocil. Kecil-kecil udah tau soal jatuh cinta, jatuh cinta segala."
"Kecil-kecil gini udah pernah bunuh 100 orang dengan 50 tembakan." Ucap Zein dengan sombongnya.
"Aku juga bisa kali." Ucap Hendrik yang nggak mau kalah dengan Zein.
__ADS_1
"Gimana kalau kita adu pistol aja?" Ide Zein yang gila, tiba-tiba terlintas diotaknya.