Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-026~


__ADS_3

~"HE'EM.." Deheman Viola membuyarkan lamunan Hendrik yang menatap wajah Dita sambil memegang pipinya.~


.


.


.


.


.


🥀🥀🥀🥀🥀


"YA AMPUN, VIOLA..." Teriak Dita melihat lengan Viola yang tergores oleh Belati yang tiba-tiba melayang dan menancap ditembok.


Sedangkan Viola, malah dengan santainya berkata "Tenang, Dit. Gue nggak pa-pa kok. Ini cuma luka kecil."


"Walaupun itu luka kecil, harus segera diobati." Ucap Dita sambil akan beranjak dari duduknya. Namun, tiba-tiba Hendrik datang dengan berlari.


"VIOLA, NAIK KEATAS SEKARANG." Titah Hendrik.


Dengan sigap dan cepat, VIOLA langsung berlari ke atap Mansion bersama Hendrik. Sedangkan Dita yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti mereka.


Di atap Mansion.


"Siapa mereka?" Tanya Viola sambil melihat kearah Gerbang utama.


"Gue juga nggak tau, tiba-tiba mereka datang kesini dan menyerang Mansion digerbang utama." Ucap Hendrik dengan serius.


"Apa Lo nggak bisa prediksi dari topeng yang mereka pakai?" Tanya Viola dengan sangat serius. Namun, matanya masih melihat gerak-gerik para pemberontak yang mencoba masuk ke Mansion tapi dihalangi oleh para Mafioso William yang berjaga.


"Sepertinya mereka para Mafioso baru dari Mafia baru juga. Karena selama ini, gue belum pernah lihat bentukan mereka seperti itu." Ucap Hendrik. Iya memang, para pemberontak yang menyerang gerbang utama Mansion, bukan seperti Mafioso dari Mafia-mafia biasa. Mereka hanya memakai topeng dan berpakaian formal berjas tanpa jubah.


Disisi lain, Dita yang tadinya hanya bisa mendengar percakapan Viola dan Hendrik, dia merasa bingung dengan apa yang dibicarakan mereka berdua. Dia juga melihat jika ada pertarungan didepan gerbang utama Mansion. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Dita tanyakan, namun dia sadar bahwa saat itu bukan waktu yang tepat. Sehingga dia memilih untuk diam.


"Sepertinya, kita harus turun tangan." Ucap Viola sambil menyeringai yang membuat Dita bergidik ngeri melihat wajah Viola.


"Ini Viola apa pembunuh bayaran sih. Serem amat." Batin Dita.


"Sebenarnya gue males aja sih buat meladeni hal-hal yang nggak penting gitu. Tapi gimana lagi, Mafioso yang jaga di gerbang utama cuma beberapa doang. Terus yang jaga di Mansion malah nggak ada. Soalnya mereka ada misi khusus dari William." Ucap Hendrik dengan nada mengejek.


"Iya udah, ayo kebawah. Ngapain disini." Ucap Viola sambil melihat wajah Hendrik sebentar.


"Lo disini aja, biar gue yang tangani. Semuanya bakal beres. Kalau Lo ikutan, terus terluka, gue juga yang kena marah William." Ucap Hendrik.


"Eh, Hendrik. Mata Lo dari tadi kemana? Gue udah luka nih. Gegara tadi ada yang lempar Belati."

__ADS_1


"Ya ampun. Kok bisa? Siapa yang lempar?" Hendrik yang tadinya serius, kumat lagi menjadi Hendrik yang bobrok.


"Udahlah nggak penting. Ayo kesana sekarang." Ucap Viola sambil berlari ke kebawah menyiapkan semuanya dan meluncur ke gerbang utama.


Hendrik yang tadinya ingin mengejar Viola pun terhenti. Karena melihat Dita seperti orang bingung dan amnesia. "Lo tunggu di kamar Lo! Terus pintunya Lo kunci! Jangan keluar sampai gue atau Viola yang ketuk pintu kamar Lo. NGERTI!!" Ucap Hendrik dengan tegas, hingga membuat Dita hanya bisa mengangguk untuk meng-iyakan ucapan Hendrik.


Hendrik pun berlari kebawah, disusul Dita yang berlari menuju kamarnya.


.


Di gerbang utama Mansion.


DOR.. Tembakan Viola mengenai salah satu para pemberontak. Viola kini telah menggunakan jubah hitam dan juga topeng, tak lupa senjata lengkap ada dibalik jubahnya.


"LET'S PLAY THE GAME.." Teriak Viola untuk memulai peperangannya. Kurang lebih ada 25 orang yang menyerang. Dan cuma ada 5 Mafioso yang menjaga gerbang utama. Dua diantaranya sudah tumbang. Namun, Viola dan Hendrik datang tepat waktu untuk membantu para Mafioso yang tersisa agar para pemberontak tidak bisa masuk kedalam Mansion.


Dengan lincahnya, Viola berkelahi dan memainkan Kanata ditangan kanannya serta Pistol ditangan kirinya.


SREK..


DOR..


DOR..


SREK..


SREK..


Tinggal lima orang pemberontak yang tersisa. Namun, mereka memilih untuk kabur. Tapi bukan Viola dan Hendrik namanya, kalau tidak menghabisi para pemberontak semuanya.


DOR..


DOR..


DOR...


DOR...


DOR...


"Hemm, nggak buruklah. Yang mati cuma 4 orang." Ucap Hendrik yang juga mengenakan topeng dan jubah.


"BERESKAN SEMUANYA." Perintah Hendrik.


"Baik." Ucap Mafioso yang masih hidup.


"Kuy lah, kita beres-beres. Temen Lo udah ketakutan tadi. Kayak orang bingung." Ledek Hendrik sambil berjalan duluan meninggalkan Viola yang masih berdiri di depan gerbang.

__ADS_1


"Gue rasa ada yang aneh dari para pemberontak ini. Mereka memakai gelang yang sama semua. Dan anehnya, itu gelang yang sama kayak punya Zoni. Iya gue nggak salah lagi, gue dulu lihat Zoni selalu pakai gelang itu." Gumam Viola. Viola mendekati salah satu mayat pemberontak dan mengambil gelang ada dipergelangan tangan pemberontak itu. Setelah itu, Viola berlari kedalam Mansion.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Disisi lain, Hendrik telah selesai membersihkan badannya. Setelah itu, dia berjalan menuju kamar Dita.


Tok.. Tok.. Tok...


"GUE HENDRIK." Teriak Hendrik.


Ceklek...


Dita langsung memeluk Hendrik karena sedari tadi dia terus overthinking memikirkan Viola dan Hendrik yang melawan para pemberontak.


Sedangkan Hendrik hanya kaget mendapat pelukan dari Dita. Untungnya badannya kuat menahan pelukan Dita yang tiba-tiba.


2 menit berlalu, Dita baru sadar kalau dia memeluk Hendrik. Seketika itu, dia langsung melepas pelukannya. "Eh maaf. Viola nggak pa-pa kan?" Tanya Dita kepada Hendrik yang masih terdiam seribu bahasa.


Bukannya menjawab, tangan Hendrik malah tergerak untuk menghapus air mata dipipi Dita. Dan Dita pun kaget dengan perlakuan Hendrik.


"HE'EM.." Deheman Viola membuyarkan lamunan Hendrik yang menatap wajah Dita sambil memegang pipinya.


"Makanya kalau benci sewajarnya, kalau berantem sekadarnya. Lihat kan sekarang, benih-benih cinta mulai tumbuh nih." Ledek Viola sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan Hendrik dan Dita.


"LO NGOMONG APAAN SIH." Teriak Hendrik dan Dita bersamaan.


"TUH KAN, NGOMONG AJA BARENGAN." Teriak Viola dengan nada mengejek.


"Lo sih. Awas iya Lo." Ancam Dita. Dita langsung berlari mengejar Viola. Karena Dita tadi tidak sengaja melihat luka-luka dilengan Viola. Karena Viola memakai Kaos hitam lengan pendek tadi.


.


Viola duduk sendirian di balkon lantai dua. "Oh iya, gue belum kasih tau Kak Will soal kejadian ini." Viola mengambil ponsel disakunya dan berniat memberitahu semua yang terjadi di Mansion.


"Eh, tapi nggak usah deh. Nanti aja kalau Kak Will pulang." Viola meletakkan ponselnya dimeja yang ada disana.


"Kakek, Papa sama Mama pasti bangga banget sama Viola. Sekarang Viola udah bisa jaga diri Viola sendiri. Viola udah jago berantem sama gunain banyak senjata." Ucap Viola dengan lirih sambil menatap ke langit.


"VIOLA." Teriak Dita yang tiba-tiba datang membawa kotak P3K.


"Ciee.. Lo suka sama Hendrik iya?" Tanya Viola dengan nada meledek.


"Apaan sih, Vi. Lo jangan suka halu deh. Mana mungkin gue suka sama Hendrik." Ucap Dita sambil mengobati lengan Viola.


"Halah, bilang aja suka. Nggak usah gengsi gitu. Ntar Hendrik direbut orang, nangis-nangis Lo."

__ADS_1


"Heh, dalam Kamus gue nggak ada kata menangis buat cowok kayak dia. Kalaupun ada cewek yang mau sama dia. Mungkin cewek itu buta kali."


"JAGA OMONGAN LO CEWEK NGGAK JELAS...


__ADS_2