
~"Aku siap mati ditanganmu, Sayang." Ucap Zoni dengan santainya sambil menyeringai.~
.
.
.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jam 15.00, Viola pergi diam-diam dari Mansion karena William dan Hendrik pergi ke Markas Mafia mereka sejak pagi tadi. Dita dan Zein sedang berkeliling Mall untuk membeli keperluan mereka, dengan dijaga oleh beberapa Mafioso. Sedangkan Thalia dan Thalita sudah pergi dari Mansion setelah selesai sarapan dan belum kembali sampai sekarang.
Viola mengendarai mobil pemberian William dulu. Kecepatan Viola mengendarai mobil menuju ke Hutan barat melebihi batas rata-rata. Terlihat, Viola menahan amarahnya yang akan siap meledak kapan saja.
Di Hutan barat, Zoni telah menunggu kedatangan Viola. Zoni duduk diatas mobilnya, sambil melihat kearah jalan. Memastikan semuanya aman dan terkendali. "Permainan dimulai." Ucap Zoni saat melihat mobil Viola yang sudah terlihat dari kejauhan.
Tepat di depan mobil Zoni, Viola menghentikan mobil yang dikendarainya. Viola keluar dengan menggunakan jubah yang didalamnya lengkap dengan senjata.
Zoni turun dari atas mobilnya. "Wah, Sayang. Kamu terlihat sangat menggoda hari ini." Ucap Zoni sambil berjalan mendekati Viola dan mencolek dagu Viola.
"Nggak usah banyak bacot, cepat katakan! Siapa yang udah fitnah bokap gue?" Tanya Viola dengan ketus.
"Oh santai dulu dong. Mari kita bermain dulu, gue udah lama memendam rasa kangen ini." Zoni memeluk Viola dengan erat. Tapi Viola sama sekali tidak membalas pelukan Zoni. Dia hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ini akan sedikit menyakitkan, Sayang. Tapi ini tidak bertahan lama." Batin Zoni.
Zoni menusuk bahu Viola dengan jarum suntik. Karena amarah Viola telah menguasai tubuhnya, Viola tidak merasakan suntikan yang diberikan Zoni kepadanya.
Zoni melepas pelukannya. "Katakan sekarang atau mati?" Tanya Viola dengan cuek sambil memasang muka datarnya. Tangan kanan Viola telah mengeluarkan Katana dan menodongkannya di leher Zoni.
"Aku siap mati ditanganmu, Sayang." Ucap Zoni dengan santainya sambil menyeringai.
Saat Viola ingin menebas kepala Zoni, kepala Viola tiba-tiba terasa pusing dan Viola pun pingsan. "Harus dengan cara ini, baru gue bisa bawa Lo ke tempat yang seharusnya hanya kita berdua yang ada di sana." Ucap Zoni sambil berjongkok dan mengusap pipi Viola yang tergeletak di jalan.
__ADS_1
Zoni langsung mengambil ponsel disakunya dan menelpon seseorang.
Call On.
"Target pertama udah ada digenggaman gue. Gue akan bawa dia ke suatu tempat yang tidak akan bisa diakses oleh seorang pun." Ucap Zoni.
"Oke kalau gitu. Lo bersenang-senanglah bersamanya. Langkah selanjutnya, biar mereka yang urus."
Call Off.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
Pukul 21.05.
"EVERYBODY HOME. HENDRIK YANG GANTENG INI UDAH PULANG. RED CARPET NYA DONG." Teriakan Hendrik yang sangat membangongkan itu, membuat Zein dan Dita menutup telinga mereka. Karena Dita dan Zein sedang duduk di ruang tamu. Sedangkan William? William yang berjalan disamping Hendrik pun harus periksa telinga besok, karena gendang telinganya terasa mau pecah.
"WOY, BERISIK. NGGAK USAH TERIAK-TERIAK. UDAH BENAR NGGAK TERIAK-TERIAK LAGI, EH SEKALINYA TERIAK MALAH TAMBAH PARAH." Teriak Zein. Sekarang, Zein membuat gendang telinga Dita pecah, karena Zein duduk disebelah Dita.
Dita mengusap-usap telinganya. "Aduh, Zein. Telinga aku rasanya sakit banget dengar teriakkan kamu sama Hendrik." Ucap Dita.
Hendrik dan William sekarang berdiri di depan Dita dan Zein. "Kak Viola dari tadi sore nggak ada di Mansion. Dan Kakak-kakak itu, juga belum balik ke Mansion dari tadi pagi." Lapor Zein, seperti dia udah tau apa yang akan ditanyakan William kepadanya.
"Kakak hanya pengin tau soal Kak Viola." Ucap William dengan ketus.
"Iya nih, Zein. Ngapain kamu kasih laporan soal Dua Cabe, eh maksudnya Thalia sama Thalita ke Kakak kamu." Ucap Hendrik.
"Iya, siapa tau Kak Will pengin tau soal kakak-kakak itu." Ucap Zein dengan santainya.
"Viola kemana?" Tanya William yang sekarang beralih ke arah Dita.
"Gue nggak tau. Tadi sore gue sama Zein ke Mall. Tapi pas kita balik ke Mansion, Viola udah nggak ada di sini. Dan sampai sekarang, dia belum pulang." Ucap Dita.
"Lacak keberadaan Viola. Sepuluh menit dari sekarang." Ucap William dengan tegas. Sedangkan Hendrik langsung mengambil ponsel disakunya, karena dia tau. Perintah William tadi adalah perintah untuknya.
5 menit...
__ADS_1
10 menit...
"Mobil Viola berada di Hutan barat. Tapi, belum pasti. Apakah Viola ada...." Ucapan Hendrik belum selesai, namun William langsung pergi begitu saja. Sedangkan Hendrik langsung mengejar William, namun langkahnya terhenti karena panggilan Zein.
"KAK HENDRIK." Panggil Zein.
"APA?"
"ZEIN IKUT." Rengek Zein.
"Astaga, bocah itu selalu bikin kehidupan gue ribet aja." Batin Hendrik.
Hendrik berjalan kembali mendekati Zein. "Zein di sini aja. Ini kan udah malam dan besok juga Papa sama Momy bakal pulang kan. Zein tidur aja, oke." Bujuk Hendrik.
"Okelah kalau gitu." Ucap Zein dengan pasrah.
"Jaga diri kalian baik-baik." Ucap Hendrik sambil menatap Dita sekilas. Setelah itu, Hendrik lun berlari dan langsung mengambil mobilnya. Dia pun melajukan mobilnya menyusul William ke Hutan barat.
.
Di Hutan barat. William telah sampai di sana. Dia langsung mengecek mobil Viola yang masih terparkir ditepi jalan yang ada di Hutan barat.
"AAARRGGGHHH... SIAL." William menendang mobil Viola seperti orang yang frustasi. Dia juga memukul-mukulkan kepalanya di mobil Viola.
Tidak lama, Hendrik datang dan mencoba menenangkan William. "HEI, LO GILA? KALAU KEPALA LO PECAH GIMANA? SIAPA YANG BAKAL CARI VIOLA, HAH? LO MAU, VIOLA DIMILIKI ORANG LAIN?" Hendrik mencoba untuk menyadarkan William yang sudah seperti orang gila.
"Gue akan habisi orang itu." Ucap William sampai rahangnya terasa sangat keras.
Hendrik memegang bahu William. "Tenang, besok kita cari Viola." Ucap Hendrik. Bukannya menuruti perkataan Hendrik, William malah menarik kerah baju Hendrik.
"Cari Viola sekarang atau bunuh gue sekarang." Ucap William sambil menatap tajam Hendrik.
Hendrik menepis tangan William. "LO BODOH, WILL. GARA-GARA CINTA, LO NGGAK BISA BERPIKIR RASIONAL."
"JAGA OMONGAN LO." Ucap William yang kembali menarik kerah baju Hendrik.
"ASAL LO TAU, KALAU PUN SEKARANG KITA CARI VIOLA. KITA MAU CARI KEMANA? INI UDAH LARUT MALAM. MASIH ADA HARI ESOK, KITA BISA CARI VIOLA. KITA BISA KASIH PERINTAH KE SEMUA MAFIOSO DAN HACKER YANG ADA DI MARKAS. APA LO NGGAK BUTUH ISTIRAHAT? KITA SEHARIAN UDAH MATI-MATIAN BUAT STRATEGI, DITAMBAH LAGI URUSAN LO DI KANTOR TADI. APA LO NGGAK BITUH ISTIRAHAT? LO BOLEH CINTA SAMA VIOLA, TAPI LO JUGA HARUS JAGA DIRI LO SENDIRI. KALAU LO SAMPAI TUMBANG, TERUS SIAPA YANG BISA BAHAGIAIN VIOLA? LO PIKIR ITU BAIK-BAIK." Hendrik menepis tangan William dan langsung berjalan menuju mobilnya. Hendrik meninggalkan William seorang diri di Hutan barat agar William bisa mencerna dengan baik apa yang dikatakan Hendrik barusan.
__ADS_1
"Gue harap Lo mengerti apa yang gue katakan. Bukannya gue melarang Lo untuk mencintai Viola, tapi gue sayang sama Lo Will. Lo lebih dari segalanya buat gue. Karena Lo yang buat hidup gue kembali berwarna." Batin Hendrik.