Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-029~


__ADS_3

~Satu ciuman mendarat dipipi kanan Viola. Seketika itu, Viola kembali normal lagi. "Iya udah. Nanti aku selesaikan semuanya, sesuai permintaanmu." Ucap William dengan tersenyum.~


.


.


.


.


.


Viola duduk di balkon lantai dua bersama Zein. Viola yang sibuk dengan berkas-berkas dan laptopnya, hanya sesekali melihat kearah Zein yang sedang menggambar.


Tarikan bibir Viola membentuk senyuman saat melihat Zein yang sangat lucu sekali saat dia sedang serius menggambar.


Dari kejauhan, Thalia dan Thalita menatap Viola dengan rasa benci. "Tangan gue geram banget pengin bunuh dia sekarang juga." Ucap Thalia dengan penuh penekanan dan matanya menatap Viola dengan penuh rasa kebencian.


"Sabar, Kak. Kan Lo bilang, sebentar lagi puncak permainannya bakal dimulai." Ucap Thalita sambil menepuk-nepuk pelan bahu Thalia.


"Gue udah nggak sabar, hari itu akan tiba." Ucap Thalia.


"Disini, kita harus bermain halus Kak. Sesuai dengan kesepakatan kita dengan mereka. Kita nggak boleh salah ambil langkah. Kan Kakak sendiri yang udah ingatin gue."


"Iya, betul kata Lo. Disini kita betul terlalu paham dengan semua sistem yang ada di Mansion ini. Kita harus berhati-hati." Ucap Thalia sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.


Disisi lain, Viola sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan yang William berikan untuknya. Sekarang, dia beralih menghampiri Zein yang masih sibuk menggambar.


"Gimana menggambarnya? Udah selesai belum?" Tanya Viola.


"Udah ini, Kak. Zein gambar Kak Viola, aku sama Kak William." Zein menyerahkan gambarannya kepada Viola.


"Wah, bagus banget. Ternyata kamu pandai menggambar juga iya." Puji Viola.


"Iya-iyalah, Kak. Zein itu udah jago gambar, pinter Bahasa Inggris, jago pakai pistol, dan yang paling penting, Zein juga ganteng."


Viola terkekeh mendengar ucapan Zein. Seketika, Viola langsung mencubit kedua pipi Zein. "Iya-iya, Zein ganteng dan juga pinter banget."


.


🌻🌻🌻🌻🌻


Di Perusahaan W'L Company. William sedang duduk di ruangannya sambil mengerjakan semua pekerjaannya sendiri.


Tiba-tiba telpon dimeja kerjanya berbunyi dan William langsung mengangkatnya.


"Antar Pak Yoky ke ruangan saya sekarang." Ucap William. Karena William sudah tau, kalau Pak Yoky akan datang ke Perusahaannya.


5 Menit kemudian..

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


"Permisi, Pak. Ini Pak Yoky dari Perusahaan Ditky Company yang telah membuat janji pertemuan dengan Pak William." Ucap seorang pegawai.


"Baiklah, kamu boleh pergi." Ucap William. Pegawai itu langsung memberi hormat kepada William dan Pak Yoky dengan menunduk.


"Selamat datang di W'L Company, Pak Yoky." Sapa William sambil bersalaman dengan Pak Yoky.


"Terimakasih, Pak William." Ucap Pak Yoky.


"Silakan duduk." William mempersilahkan Pak Yoky duduk dikursi yang ada di depannya.


"Wah perusahaan ini besar sekali. Kalau aku bisa bekerjasama dengan perusahaan ini, pasti aku akan dapat keuntungan yang sangat besar." Batin Pak Yoky.


"Perusahaan anda ini sangat besar sekali, Pak. Saya akan sangat beruntung jika kita bisa bekerjasama dengan anda untuk memajukan perusahaan kita berdua." Ucap Pak Yoky.


"Itu kita bicarakan nanti. Karena saya ingin berinvestasi ke Perusahaan anda."


"Wah, apakah anda yakin? Saya akan sangat senang jika hal itu bisa terjadi."


"Saya sangat yakin."


"Baiklah kalau begitu. Saya tunggu kehadiran Pak William di Perusahaan kami." Ucap Pak Yoky dengan sumringah.


"Sekretaris saya yang akan mengatur semuanya."


"Baiklah, kalau begitu. Saya dengan senang hati menunggu kehadiran Sekretaris anda di Perusahaan kami."


Pak Yoky tidak bisa mencerna apa yang dikatakan William. "Maksud anda apa iya?"


"Belum saatnya anda tau. Silakan, anda bisa keluar dari ruangan saya."


"Baiklah, saya permisi." Pak Yoky meninggalkan ruangan William dengan kebingungan dan penuh tanda tanya.


.


Flashback On.


Malam hari di kamar William. Viola duduk di Sofa sambil memperhatikan William yang sibuk dengan laptopnya.


"Kak Will. Viola boleh minta tolong nggak?" Tanya Viola dengan ragu.


William langsung meletakkan laptopnya dimeja dan pandangannya beralih ke Viola. "Minta tolong apa, Sayangku?"


"Kak Will bisa tidak, membeli saham di Perusahaan Ditky Company?"


"Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?"


"Perusahaan Ditky Company itu milik Dita yang diambil alih oleh Pamannya, Pak Yoky namanya. Tapi Perusahaan itu masih atas nama Dita. Namun, Pak Yoky memalsukan hak kepemilikan menjadi atas namanya."

__ADS_1


"Wah, berani juga itu orang memalsukan hak milik. Tapi Perusahaan itu tidak terlalu besar sih. Bisa aja, aku hancurkan sekarang juga. Tidak perlu ribet untuk membeli saham di Perusahaan itu."


"Tapi, Kak. Aku mau Pak Yoky menderita secara perlahan. Karena dia udah buat sahabatku sengsara." Mata Viola terlihat menaruh banyak dendam kepada Pak Yoky.


Cup...


Satu ciuman mendarat dipipi kanan Viola. Seketika itu, Viola kembali normal lagi. "Iya udah. Nanti aku selesaikan semuanya, sesuai permintaanmu." Ucap William dengan tersenyum.


Viola langsung memeluk William. "Makasih, Kak. Nanti aku belikan Es Cream."


William melepas pelukan Viola. "Memangnya aku anak kecil apa? Aku bisa kali membeli satu truk yang berisi Es Cream. Bahkan kalau aku mau, aku bisa membeli semua pabrik Es Cream." Ucap William sambil tertawa.


"Iya iya, orang kaya emang gitu." Ucap Viola dengan cemberut.


William yang peka dengan suasana hati Viola pun terus mendekatkan wajahnya kearah Viola, sampai wajah mereka hanya berjarak satu sentimeter. "Apakah malam ini kamu mau menemani tidurku, Sayang?" Tanya William dengan nada yang sangat lembut.


Seketika itu, Viola langsung berlari keluar dari kamar William.


Flashback Off


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Di Mansion, Zein sedang mengerjai Thalia dan Thalita. Karena Viola sedang memasak di dapur bersama Bibi Lina dan Dita.


"ZEIN, JANGAN NAKAL IYA. KEMBALIKAN PONSELKU." Teriak Thalia sambil berlari mengejar Zein yang mengambil ponselnya.


"HAHAHAHA... LEMAH. MASA NGGAK BISA TANGKAP ZEIN SIH." Teriak Zein sambil ketawa.


"THALITA, BANTUIN DONG. CAPEK NIH." Thalia meminta bantuan kepada Thalita yang sedari tadi hanya duduk diam sambil menyaksikan Thalia yang mengejar Zein.


"IYA." Dengan terpaksa, Thalita menuruti permintaan Thalia untuk mengejar Zein.


"DASAR KAKAK-KAKAK LEMAH." Cibir Zein sambil terus berlari.


Kini Zein berlari disekitar kolam renang. "ZEIN KEMBALIKAN PONSEK KAKAK. NANTI KITA BELI MAINAN DI MALL."


"HUHUHU... NGGAK MAU. MALLNYA KAN PUNYA KAK WILLIAM, JADI AKU NGGAK BUTUH MAINAN DARI KALIAN. HAHAHA..... AYO TERUS KEJAR AKU."


"Sial nih anak. Pengin gue bunuh sekarang juga rasanya." Batin Thalia.


"Udah ah, Kak. Gue capek nih kejar Zein." Ucap Thalita sambil berhenti berlari.


"Baru sebentar aja capek." Ucap Thalia.


"INI, KAK. AMBIL AJA KALAU BISA." Teriak Zein yang berdiri di tepi kolam.


Thalia dan Thalita langsung menghampiri Zein yang sudah tidak berlari. Namun, ponsel Thalia dilempar Zein keatas. Thalia dan Thalita berusaha menangkap ponselnya, tapi alhasil mereka tercebur ke dalam kolam.

__ADS_1


BYUUURR...


__ADS_2