Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-014~


__ADS_3

~"Viola, Viola. Kamu telah membuatku gila dengan cinta. Kamu milikku dan selamanya akan menjadi milikku."~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Disini lain, di Mansion Pribadinya William. Setelah melihat kepergian Viola dan Zein, Momy Zaskia langsung naik ke lantai 3 untuk beristirahat. Sedangkan William dan Hendrik masih duduk di ruangan yang sama tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Will, gue..." Ucapan Hendrik yang berusaha memecah keheningan pun terpotong, karena William tiba-tiba berjalan menuju belakang Mansion.


Hendrik tidak berniat untuk mengikuti William, karena Hendrik yakin pasti William ingin sendiri dulu diruangan rahasianya.


.


🥀🥀🥀🥀🥀


William berada didalam ruangan rahasianya. Ruangan ini ada dibawah tanah. Ruangan ini biasanya dipakai William untuk menenangkan pikirannya jika dia stress.


Memang ruangan rahasia milik William ini sangat luas dan banyak sekali buku serta senjata terpajang rapi didinding ruangan. Namun, ruangan ini hanya diketahui oleh dirinya dan Hendrik saja. Hingga tidak ada yang tau, kalau Mansion Pribadi William, memiliki ruangan bawah tanah.


William duduk dibangku miliknya, dia memejamkan matanya agar bisa mengontrol emosi yang ingin dia luapkan sekarang.


"Aarrgghhh, SIAL." William berteriak sambil mengobrak-abrik buku beserta senjata yang ada disana.


Tangan William tergerak untuk mengambil sebuah pistol di lantai. Pistol yang tadinya ikut terjatuh saat dia mulai membabi buta mengobrak-abrik dan merusak barang-barang yang ada disana.


"Viola, apalah dayaku jika kau pergi dariku. Hidupku pasti akan menjadi hancur kembali kayak dulu. Kamu adalah orang yang bisa mengubah keterpurukanku menjadi kebahagiaan. Tapi kalau kau tidak mau bersamaku? Apa gunanya hidupku?" William terus menatap pistol itu. Tanpa sengaja, mata seorang King Mafia in the world mengeluarkan air yang terus membasahi pipinya.


"Viola, Viola. Kamu telah membuatku gila dengan cinta. Kamu milikku dan selamanya akan menjadi milikku." William membuang pistol yang dia pegang tadi dan dia langsung kembali duduk dibangkunya. Dia memejamkan matanya dan tertidur disana.


.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


Pukul 07.00. Viola, Dita dan Zein sedang sarapan bersama di meja makan.


"Zein, kamu mau pulang atau disini?" Tanya Viola yang sudah siap dengan pakaian kerjanya. Walaupun dia sedikit kecewa dengan William, bukan berarti dia harus berhenti bekerja. Dia berusaha bersikap profesional.


"Zein disini aja."


"Kamu nggak sekolah?"


"Zein itu homeschooling, Kak. Dan hari ini Zein lagi nggak mau belajar. Pasti Momy juga ngerti kok."


"Iya udah. Kakak kerja dulu, kamu disini sama Kak Dita. Tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi Kak Viola, soalnya kamu pergi sama Kak Viola. Jadi, Kak Viola yang harus bertanggung jawab menjaga kamu."


"Iya iya Kak Viola yang bawel."


"Apa kamu bilang?"


"Kak Viola bawel, Wlee.." Zein menjulurkan lidahnya dengan maksud untuk mengejek Viola.


"Ih gemes." Bukannya marah, Viola malah mencubit kedua pipi Zein.


"Aww.. sakit, Kak." Ucap Zein dengan cemberut.


"Dita, gue berangkat dulu. Gue titip Zein."


"Oke, Vi."


"Bye, Zein. Jangan nakal." Viola mencium kening Zein.


"Bye, Kak. Tenang aja, aku nggak akan nakal kok."


"Anak pintar." Viola mengelus rambut Zein.


Viola keluar dari Apartemen milik Zein dan langsung melajukan mobilnya.


"Oke, Viola. Lo harus profesional. Walaupun Lo kecewa sama Kak Will, tapi Lo nggak boleh melupakan pekerjaan dan tanggung jawab Lo." Gumam Viola sambil menyetir.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Viola kini sudah berada diruangan pribadinya. Ruangannya sangat dengan dengan ruangan William. Iya, namanya juga Sekretaris Pribadi, pasti selalu dekat dengan Bos.


"Oh iya, gue belum bikinin kopi buat Kak Will." Viola langsung berlari keluar dari ruangannya. Dia langsung bergegas ke dapur kantor, untuk membuatkan William kopi.


Setelah selesai membuat kopi, Viola mengintip dari kaca pintu ruangan William, ternyata William belum masuk ke kantor. Dengan segera, Viola langsung masuk ke ruangan William dan meletakkan kopi yang dia buat diatas meja William.


Saat berbalik badan, tiba-tiba William sudah berada dihadapannya sekarang. Viola tidak tau, kalau William sudah masuk kedalam ruangannya. Dan semua dinding ruangan William sudah dimode gelap dan kedap suara. Viola tau itu, jika lampu yang berada diatas pintu ruangan William berwarna biru, maka semua orang yang diluar tidak bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi didalam dan begitu pula sebaliknya.


"Selamat Pagi, Pak." Viola berusaha bersikap tenang, walaupun rasa gugup dan gemetar menjalar ditubuhnya.


William masih terdiam, dia merasa tidak percaya bahwa Viola sekarang telah berada dihadapannya. Dia kira, Viola akan mengambil cuti agar bisa menghindar darinya.


Viola yang melihat William diam ditempat pun, langsung mengambil inisiatif untuk keluar dari ruangan William. "Saya permisi, Pak." Viola berjalan kearah William. Saat hampir melintasi William yang masih terdiam, tiba-tiba ada sebuah tangan menariknya. Alhasil, sekarang Viola berada dipelukan William.


"Ola, Kak Leon kangen sama Ola. Ola jangan pergi dari Kak Leon." Lirih William yang memeluk Viola dengan erat. Tetapi Viola tidak membalas pelukan William sama sekali.


Tanpa terasa air matanya menetes, padahal dia berusaha untuk tidak menangis. Tapi apa daya Viola, hatinya sakit mendengar rintihan suara William yang masih berada diperlukannya.


"Viola, maafkan aku. Seharusnya, aku jujur dari awal tentang siapa diriku sebenarnya." William sama sekali tidak mau melepas pelukannya.


"Tapi aku takut kalau kamu bakal ninggalin aku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Vi. Kamu tau? Seberapa menderitanya aku waktu kita harus berpisah dulu? Saat sampai pada waktunya, aku kembali untukmu dan langsung mencarimu?. Dan soal Mafia, sebenarnya aku juga tidak mau untuk masuk ke dunia Mafia, tetapi ini perintah terakhir Kakekku sebelum Kakekku meninggal. Dia menginginkan agar aku meneruskan organisasinya dan menjadi King Mafia. Awalnya aku nolak, Vi. Tapi Papa malah menyetujui permintaan Kakek dan akhirnya aku pun mau." Ucap William dengan panjang lebar dan dia masih memeluk Viola tanpa berniat melepasnya. William sangat tidak ingin Viola pergi dari hidupnya. Sedangkan Viola? Masih diam mendengarkan perkataan William.


"Lepasin.." Kata pertama yang Viola ucapkan setelah mendengar perkataan William. Viola mencoba sedikit mendorong tubuh William, tetapi bukannya William melepas pelukannya, malah dia lebih mempererat lagi pelukannya.


"Aku nggak mau lepasin kamu, Vi. Aku nggak mau kalau kamu pergi dariku. I love you." Lirih William tempat ditelinga Viola. Seketika itu, Viola kembali mematung. Dan entah ada kekuatan dari mana, Viola mendorong kasar William sampai William melepas pelukannya.


William kaget dengan tenaga Viola, tetapi dia masih bisa menyeimbangkan dirinya agar tidak terjatuh. Sedangkan Viola langsung pergi dari ruangan William. William pun hanya diam tanpa berkata apapun, saat melihat Viola pergi dari ruangannya.


"AAARRRGGGHHHH... SIAL." William memukul-mukul tembok sampai temboknya retak dan tangannya berdarah.


"Aarrgghhh." Teriak William.


Disisi lain, Viola berlari ke toilet untuk meluapkan semua yang dia rasakan. Sesampainya di toilet, dia langsung menangis sejadi-jadinya.


"Maaf, Kak. Maaf. Viola belum bisa menerima kenyataan ini. Maaf, Kak. Viola udah buat Kak Will kecewa dan marah sama Viola. Hiks.. hiks.. hiks.. Viola akan berusaha untuk menerima Kak Will apa adanya." Viola terus menangis sampai dia terduduk disudut toilet. Toilet itu dikhususkan untuk Viola, Rey dan William saja. Karena berada dilantai 10.


Setelah puas menangis, Viola langsung kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Ceklek.. Saat dia masuk, dia terkejut melihat William duduk di kursinya. Dengan pakaian yang acak-acakan dan kedua tangannya terus mengalirkan darah segar.


"KAK WILL."


__ADS_2