Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-030~


__ADS_3

~"Nggak mau ah. Nanti kamu fokusnya ke film, bukan ke aku." Ucap William dengan cemberut sambil memeluk Viola kembali.~


.


.


.


.


.


🥀🥀🥀🥀🥀


"Kapan rencana kita dimulai?"


"Santai aja, Bro. Kita main halus dulu, waktunya sebentar lagi akan tiba. Lo yang sabar aja."


"Gimana kerjaan mereka berdua?"


"Mereka berdua, sekarang udah tinggal di Mansion pribadi William. Jadi, kita bisa mengakses dengan mudah, apa aja yang ada di dalam Mansion."


"Suruh mereka berdua untuk berhati-hati, jangan sampai mereka salah ambil langkah. Karena lawan kita bukan Mafia biasa."


"Lo nggak usah khawatir, mereka bukan anak kecil lagi. Pasti mereka tau, apa yang seharusnya mereka lakukan."


"Gue jadi kepikiran mau kasih William sambutan kedua, sebelum permainan puncaknya."


"Terserah apa mau Lo. Yang penting, permainan yang sebenarnya akan lebih menyenangkan."


"Kalau itu pasti. Gue udah nggak sabar melihat mayat William yang berlumuran darah dengan seribu sayatan ditubuhnya."


"Wah, itu akan menjadi pemandangan terindah dalam hidup gue."


.


🌺🌺🌺🌺🌺


William duduk diatap Mansion. Angin malam, bintang dan bulan menemaninya kesendiriannya.


William merebahkan tubuhnya dikursi tempatnya duduk sambil memejamkan mata merasakan kesejukan angin yang membawa rasa capeknya sirna.


Tiba-tiba bunyi ponsel mengganggu ketenangannya.


Call On


"William, ada penyerangan di Markas kedua."


William langsung bangun dari rebahannya. "Musnahkan mereka semua!"


Call Off


"Sial, kenapa ada penyerangan lagi?" William memijat-mijat pelan keningnya.


Namun tiba-tiba, ada seseorang yang memijat kepala William dengan penuh kelembutan. William tau itu siapa. Karena dia hafal dengan aroma parfum yang selalu dia pakai.

__ADS_1


William memejamkan matanya, sambil menikmati pijatan dikepalanya. Rasanya sangat rileks.


"Makasih, Sayang." Ucap William.


"Sama-sama." Iya. Viola yang memijat kepala William.


"Kak Will kalau ada masalah, cerita aja ke Viola. Jangan malah kesini, nanti masuk angin." William menggenggam tangan kanan Viola dan menarik Viola ke atas pangkuannya. Setelah itu, William memeluk Viola dari samping dengan erat.


"Aku butuh kamu." Ucap William.


"Aku tadi cuma pergi sebentar sama Zein. Soalnya Zein pengin ke Mall beli Es Cream. Jadi, aku temani dia tadi."


"Tapi kok lama?" Tanya William yang masih memeluk Viola.


"Iya, soalnya Zein tadi ngajak main dulu di Mall. Makanya lama. Sekarang dia aja udah tidur, mungkin dia kecapekan habis main tadi."


"Kalau gitu, sekarang kamu temani aku."


"Iya udah, aku temani. Tapi jangan disini, nanti masuk angin."


William langsung melepas pelukannya dan beralih menatap Viola. "Di kamar mau?"


Viola menjitak kening William. "Nggak usah aneh-aneh. Di ruang tengah aja. Nanti sambil nonton film."


"Nggak mau ah. Nanti kamu fokusnya ke film, bukan ke aku." Ucap William dengan cemberut sambil memeluk Viola kembali.


"Dasar bayi besar." Cibir Viola sambil terkekeh dengan tingkah William.


Tanpa sepengetahuan Viola dan William, Thalia sedari tadi menatap mereka berdua dengan penuh kebencian. Tangannya sedari tadi sudah mengepal dan ingin rasanya menonjok wajah Viola. Namun, sebisa mungkin dia kendalikan. Karena dia tidak mau, semua rencananya gagal total.


"Lihat saja nanti, Lo akan jadi orang pertama yang gue siksa. Sekarang, Lo bisa tertawa bahagia, tapi lihat saja nanti. Lo akan menjerit kesakitan dan memohon-mohon dikaki gue." Gumam Thalia dengan penuh penekanan dan rasa kebencian.


Pistol itu diarahkan tepat dilengan Viola. Karena Thalia ingin memberi sedikit kejutan untuk Viola.


Dan, yah.... Pelurunya telah dilepaskan oleh Thalia.


Namun, peluru itu malah ditangkap oleh William. Seketika itu, Thalia langsung berlari pergi ke kamarnya.


"Sial." Ucap William.


"Kenapa, Kak?" Tanya Viola sambil melepas pelukan William dan berdiri dari pangkuan William.


"ASTAGA." Kaget Viola melihat telapak tangan William yang mengeluarkan darah segar dan terdapat peluru yang masih dia genggam.


Viola langsung berlari ke dalam Mansion untuk mengambil kotak P3K. Setelah itu, dia membuang peluru itu dan mengobati tangan William.


"Kok aku nggak dengar ada penembakan." Ucap Viola yang masih mengobati tangan William.


"Peluru itu dari pistol tanpa suara. Makanya nggak ada suara penembakan, Sayang."


"Tapi kok Kak Will bisa menangkap peluru itu?"


"Kayak kamu baru kenal aku aja. Aku kan King Mafia, semua jenis senjata dan pergerakan para musuh pun aku tau." Ucap William dengan menyombongkan dirinya agar Viola tidak merasa khawatir kepadanya.


"Iya-iya, KING MAFIA." Ucap Viola yang baru saja selesai mengobati tangan William dan langsung ingin beranjak pergi. Namun, tangan William menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Mau kemana? Di sini aja."


"Nggak mau ah. Udah larut malam. Nanti kalau ada penembakan lagi gimana?" Tanya Viola yang melepas pegangan tangan William dan langsung melangkahkan kakinya pergi.


"KALAU DI DALAM, MALAH LEBIH BERBAHAYA." Teriakan William menghentikan langkah Viola. Viola pun membalikkan badannya dan langsung menatap wajah William.


"Maksudnya?" Tanya Viola.


William berjalan mendekati Viola. "Karena yang melakukan penembakan itu, seseorang yang ada di dalam Mansion." Ucap William dengan perlahan.


"Kak Will tau siapa?"


William malah meninggalkan Viola yang masih belum tau siapa yang melakukan penembakan. Kini, malah William yang sudah berada di dalam Mansion. Sedangkan Viola masih bertanya-tanya kepada dirinya sendiri di atap Mansion.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan paginya. William, Viola, Thalia, Thalita, Zein dan Dita sedang sarapan di meja makan.


"Viola, Hendrik kemana sih?" Tanya Dita dengan berbisik, karena tempat duduk mereka bersebelahan.


"Cye, Hendrik nggak ada dicariin." Ledek Viola.


"Apaan sih, Vi. Gue kan cuma mau nanya doang."


"HE'EM." Deheman William mengagetkan Dita yang berbisik kepada Viola.


"Hendrik ada kerjaan di luar Kota." Ucap William yang mengagetkan Dita, karena dia merasa, dia tidak berbicara dengan keras-keras.


"Kan gue nanya ke Viola. Kok dia bisa tau? Kan jarak tempat duduk kita lumayan jauh." Batin Dita.


"Tuh dengarkan." Ucap Viola kepada Dita.


"Kayaknya, sekarang gue harus berhati-hati kalau bicara didekat William." Ucap Dita sambil berbisik kepada Viola. Sedangkan Viola hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Dita.


"Obrolan pagi yang nggak guna." Batin Thalia.


"Wah, tumben nih. Zein makan sendiri. Biasanya kan minta disuapi." Ucap Thalia yang berusaha baik di depan William dengan berbasa-basi kepada Zein.


"Terserah Zein dong. Lagian, Zein kan nggak pernah minta disuapi sama Kakak." Ucap Zein dengan ketus.


"Sial." Batin Thalia.


"Kakak kelihatan banget capernya." Batin Thalita.


"Rasain. Kerja bagus, Zein." Batin Viola.


"Kok kamu ngomong gitu sih, Zein." Ucap Thalia dengan berakting sedih. Sedangkan adiknya, Thalita ingin sekali tertawa melihat Kakaknya diacuhkan oleh Zein.


"Bodo amat." Ucap Zein sambil memasang wajah datarnya.


"Pengin rasanya gue robek itu mulutnya si Bocil." Batin Thalia.


"Aku pergi dulu." Ucap William kearah Zein dan Viola secara bergantian. Viola hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil.

__ADS_1


"Hati-hati, Kak." Ucap Zein yang diangguki William. Setelah itu, William pergi dari Mansion.


"Sial, gue disini seperti orang yang tidak dianggap. Tiap hari makan hati terus. Tapi gue harus sabar, orang sabar akan membantai musuhnya dengan penuh kemenangan." Batin Thalia.


__ADS_2