
~"MUSNAHKAN DAN DAPATKAN. LAKUKAN SEKARANG!" Teriak William dengan menggebu-gebu.~
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Papa Satria dan Momy Zaskia sudah berada di Mansion. Mereka duduk di ruang tamu bersama Zein, Dita, Thalia dan Thalita.
"Gimana, kalian berdua betah tidak tinggal di sini?" Tanya Papa Satria kepada Thalia dan Thalita.
"Betah banget, Om. Di sini kita banyak temennya, jadi bisa ngobrol. Apalagi ada Zein di sini, jadi kita bisa main sama dia." Ucap Thalia dengan senyuman terpaksa.
"Zein yang nggak betah kalau Kakak-kakak tinggal di sini. Suasananya jadi panas." Batin Zein.
"Iya, Om. Viola sama Dita juga menerima kami dengan baik di sini." Ucap Thalita mendukung ucapan Thalia.
"Manis banget sih omongannya. Gula aja kalah manis kalau dibanding omongan Dua Cabe itu." Batin Dita.
"Syukurlah kalau kalian betah di sini. Soalnya orang tua kalian masih belum tau pulangnya kapan. Permasalahan di cabang Perusahaan orang tua kalian di Luar Negeri, lumayan banyak. Jadi belum pasti pulangnya kapan." Ucap Papa Satria.
"Iya, Om. Nggak pa-pa kok. Papa sama Mama kami juga udah kasih tau kami." Ucap Thalia.
"Oh iya, dimana Hendrik sama William?" Tanya Momy Zaskia.
"Kak Will sama Kak Hendrik ada di ruang pribadi." Ucap Zein dengan santai.
"Sepagi ini, mereka udah di ruang pribadi?" Tanya Momy Zaskia.
"Iya, Tante. Kayaknya semalam ada masalah." Ucap Dita.
"Masalah apa?" Tanya Momy Zaskia.
Belum ada yang menjawab pertanyaan Momy Zaskia, tiba-tiba William dan Hendrik turun tangga dengan tergesa-gesa. Bahkan William sama sekali tidak melirik kearah orang tuanya. Dia malah terus berjalan keluar Mansion. Semua yang ada di ruang tamu pun berdiri.
"WILLIAM." Teriak Momy Zaskia. Namun, tidak didengarkan oleh William.
Sedangkan Hendrik mencoba untuk menjelaskan kepada orang tua William. "Papa Satria, Momy Zaskia dan semuanya. Kami harus pergi, soalnya Viola diculik sama seseorang." Ucap Hendrik.
"APA?" Kaget Papa Satria dan Momy Zaskia.
"*Momen yang gue tunggu akhirnya tiba." Batin Thalia.
"Ya ampun, Viola. Lo dimana." Batin Dita*.
__ADS_1
"Terus gimana acara pertunangan William sama Viola?" Tanya Momy Zaskia.
"Momy sama Papa tetap persiapkan semuanya. Masalah Viola, biar kami yang urus semuanya." Ucap Hendrik.
"Pertunangan itu, tidak akan terjadi." Batin Thalia.
"Iya udah cepat kamu susul William. Sepertinya dia terlihat sangat marah tadi." Ucap Papa Satria.
"Iya, Pa." Ucap Hendrik sambil melangkahkan kakinya keluar Mansion.
"KAK HENDRIK." Teriak Zein menghentikan langkah kaki Hendrik. Hendrik pun membalikkan badannya untuk melihat ke arah Zein.
"Lima Nol Enam Satu." Ucap Zein dengan santai. Semua orang disana bingung dengan apa yang diucapkan Zein. Tetapi, Hendrik langsung berpikir sejenak dengan apa yang diucapkan Zein.
Setelah paham maksud kode yang diberikan Zein, Hendrik pun langsung berlari dan mencium Zein. "Makasih, Bocah nakal." Setelah mengucapkan kalimat itu, Hendrik kembali berlari keluar Mansion.
"Cih, Kak Hendrik berlebihan sekali." Ucap Zein sambil mengelap pipinya yang dicium Hendrik tadi.
Sedangkan Papa Satria, Momy Zaskia, Dita, Thalia dan Thalita hanya menjadi penonton saja. Karena mereka tidak tau apa maksud dari ucapan Zein.
"Lima Nol Enam Satu? Maksudnya apa, Zein?" Tanya Momy Zaskia.
Zein meletakkan jari telunjuk kedepan bibirnya. "Ssttt, hanya kami yang tau artinya." Ucap Zein dengan sombong.
"*Apa maksud dari kata-kata Zein tadi?" Batin Thalia.
"Ya ampun, Viola. Semoga Lo baik-baik aja. Bodoh banget gue, masa sahabat gue diculik, tapi gue nggak tau sih." Batin Dita*.
.
Di Markas utama Black WV Diamond Bloods. William berjalan kelantai dua sambil memakai jubah kebesarannya.
"SERIBU MAFIOSO SIAP, KING." Teriak salah satu Mafioso yang ditunjuk William untuk mengumpulkan semua Mafioso di lantai satu. Karena, lantai satu bisa dilihat dengan jelas dari lantai dua.
"MUSNAHKAN DAN DAPATKAN. LAKUKAN SEKARANG!" Teriak William dengan menggebu-gebu. Karena Hendrik telah memberi tau rencana William dan Hendrik ke salah satu Mafioso sebelum mereka berangkat ke Markas.
"BAIK, KING." Teriak para Mafioso yang berjumlah 1.000 orang.
Setelah semua Mafioso bubar, Hendrik baru saja datang dan langsung memberi tau William. "Lima Nol Enam Satu." Ucap Hendrik.
"Siapa yang bilang?" Tanya William dengan ketus.
"Zein yang kasih tau ke gue soal kode ini." Ucap Hendrik.
"Lima Nol Enam Satu." William mencoba berpikir mengenai kode itu. "Kastil Brezjine?"
"Iya, itu dia. Gue tadi juga berpikir kayak gitu." Ucap Hendrik.
"Kenapa Zein bisa tau Kastil ini. Bahkan Kastil ini terletak sangat jauh dari sini. Di Kastil itu tidak ada penghidupan sama sekali."
__ADS_1
"Lo nggak ingat, kalau Zein juga pernah kasih kode ke kita waktu Momy Zaskia diculik?"
.
Flashback On.
Satu tahun yang lalu. Momy Zaskia diculik oleh musuh bebuyutan William yaitu Leader Lion Devil, Edo Bastian. Padahal Edo Bastian adalah sepupu William, namun William sangat membencinya begitu pula sebaliknya.
Motif Edo menculik Momy Zaskia adalah agar William mengaku kalah dan menyerahkan warisan Kakek William kepadanya.
"Kak, Tiga Sembilan Dua." Ucap Zein yang masih berumur tiga tahun itu. Dia memberi William dan Hendrik kode, saat William dan Hendrik sudah seperti orang yang frustasi. Karena mereka sudah seharian mencoba untuk mencari Momy Zaskia.
"Maksud Zein apa?" Tanya Hendrik. Sedangkan Zein langsung berjalan meninggalkan William dan Hendrik di ruang tamu.
"Tiga Sembilan Dua." William mengulangi perkataan Zein.
"Itu kan kode rahasia Mansion Pribadinya Edo. Gimana Zein bisa tau?" William mencoba untuk memahami semuanya.
"Oh, pasti Momy Zaskia ada di Mansion Edo." Ucap Hendrik dengan girang.
"Go." William berlari keluar Mansion diikuti oleh Hendrik.
Di Mansion Pribadi Edo. William dan Hendrik mencoba untuk masuk secara diam-diam karena pengamanannya tidka terlalu ketat. Hingga William naik ke lantai dua melalui dinding. Sedangkan Hendrik, memilih untuk berjaga-jaga di bawah.
Sampailah William disalah satu kamar. Dia memiliki insting yang kuat dengan kamar itu, akhirnya dia memasuki kamar itu dan langsung disambut oleh Edo dan beberapa Mafiosonya beserta Momy Zaskia yang diikat diatas kursi.
"Nak, berjanjilah jangan bunuh Sepupu kamu." Ucap Momy Zaskia dengan menangis.
"Momy udah diculik pria brengsek ini, tapi masih saja Momy belain dia?" Tanya William dengan ketus.
"Bagaimanapun dia adalah sepupu kamu, Nak." Ucap Momy Zaskia.
"Cih drama keluarga." Cibir Edo.
"Mau Lo apa?" Tanya William dengan ketus.
"Serahkan para Mafioso Lo dan cium kaki gue. Baru Momy Zaskia gue bebasin." Ucap Edo dengan sombong.
"Cih, jangan harap." William memilih untuk berkelahi dengan beberapa Mafioso. Sedangkan Edo melepas ikatan Momy Zaskia dan berniat untuk membawa pergi Momy Zaskia. Namun, gerakannya kurang cepat. Alhasil, William menembak kaki Edo dan Edo pun langsung tersungkur.
"Gue masih kasih Lo kesempatan buat hidup." Itulah kalimat terakhir William, sebelum William membawa Momy Zaskia pergi dari sana.
Flashback Off.
.
"Berangkat." Ucap William sambil berlari kearah mobilnya. Sedangkan Hendrik langsung menelpon salah satu Mafioso untuk menyuruh para Mafioso ke Kastil Brezjine sambil berlari mengikuti William dan masuk ke mobil William.
Call On.
__ADS_1
"Kastil Brezjine." Dua kata terlontar dari mulut Hendrik. Setelah itu, dia mematikan teleponnya.
Call Off.