Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-038~


__ADS_3

~"Bangun Sayang. Pertunangan kita tinggal beberapa hari. Kalau kamu besok nggak bangun, aku akan dijodohkan dengan Thalia si Cabe dewasa." Niat hati William ingin menggoda Viola. Siapa tau, saat mendengar perkataan itu, Viola langsung bangun.~


.


.


.


.


.


🥀🥀🥀🥀🥀


William mondar-mandir didepan ruang Operasi. Dia sama sekali tidak membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum ke Rumah Sakit. Padahal Hendrik dan para Mafiosonya sudah mengantar Viola ke Rumah Sakit.


Kini, Hendrik baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di Rumah Sakit. Dia sudah mandi agar tidak bau amis darah lagi. Setelah itu, dia berjalan mendekati William. "Will, udahlah. Lo tenang aja." Ucap Hendrik sambil memegang bahu William.


"Gue nggak bisa tenang, Drik." William menghempaskan tangan Hendrik dan mulai mondar-mandir lagi.


"Mendingan Lo mandi dulu deh. Gue udah siapin baju buat Lo di mobil. Lo nggak mau kan, kalau Viola nanti sadar, dia nyium bau amis darah dari Lo terus lihat penampilan Lo yang acak-acakan kayak orang gila begini." Ucapan pedas Hendrik langsung membuat William berlari menuju mobil untuk mengambil bajunya. Setelah itu dia membersihkan badannya di kamar mandi.


20 menit kemudian, William sudah selesai mandi. Dan dia langsung duduk disebelah Hendrik di depan ruang operasi. "Gimana?" Tanya William.


"Dokter belum keluar juga dari tadi. Bahkan ini udah satu jam operasinya." Ucap Hendrik dengan tertunduk.


William dan Hendrik sama-sama memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Will, Lo udah kasih tau Papa, Momy sama Dita?" Tanya Hendrik.

__ADS_1


"Kalau Viola sadar, baru gue kasih kabar ke mereka." Ucap William.


2 jam berlalu...


Lampu diatas pintu operasi sudah padam, artinya operasinya sudah selesai. Melihat hal itu, William dan Hendrik langsung berlari dan berdiri didepan pintu ruang operasi.


Ceklek...


Dokter keluar dari ruang operasi. "Astaga." Dokter itu kaget, karena melihat William dan Hendrik berdiri tepat didepan pintu.


"Gimana keadaan Viola?" Tanya William.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya dan kami juga sudah mengambil peluru yang ada di kepalanya. Namun, kemungkinan untung sadar belum bisa kami pastikan. Hanya Tuhan saja yg tau. Tapi...." Ucapan Dokter itu menggantung sekali.


"Tapi apa?" Tanya William.


"Kemungkinan, pasien akan mengalami amnesia. Karena pelurunya sedikit mengenai sel-sel yang ada diotak yang berfungsi untuk mengingat kembali masa lalu. Jadi, sangat sulit untuk mengembalikan ingatan pasien. Ada kemungkinan bisa mengingat kembali, namun itu hanya sekitar 35 persen." Ucap Dokter itu yang membuat William langsung terduduk ke lantai, disusul Hendrik yang mencoba untuk menenangkan William.


.


Sekarang, Viola telah dipindahkan di ruangan VVIP yang lengkap dengan alat kesehatan yang terbilang canggih.


William masih setia duduk disamping Viola yang terbaring lemah di ranjang. "Viola Sayang, kenapa kamu selamatin aku. Seharusnya biar aku aja yang tertembak. Aku lebih sakit melihat kamu berbaring tidak berdaya seperti ini, dibandingkan aku harus mati, Sayang." Tak terasa air mata menetes dipipi William. Sedangkan tangan kanannya tergerak untuk mengelus-elus pipi Viola dengan sangat lembut.


"Maaf iya Sayang. Aku nggak bisa anter kamu ke Rumah Sakit tadi. Soalnya amarah Kak Will tiba-tiba nggak bisa dikendalikan. Kak Will udah nggak bisa menahan amarah. Gimana bisa Kak Will diam aja, lihat kamu ditembak sama cowok brengsek kayak dia. Iya Kak Will bunuh aja dia. Tapi Kak Will belum puas tau, kan Kak Will belum siksa dia. Dia matinya terlalu cepet, jadi nggak ngerasain rasa sakit deh. Hehehe." William terkekeh sambil menangis. Dia mencoba untuk mengajak Viola mengobrol, siapa tau ada keajaiban yang datang kepada Viola.


William menghapus air matanya dan dia langsung mendekat ke telinga Viola dan membisikkan sesuatu. "Bangun Sayang. Pertunangan kita tinggal beberapa hari. Kalau kamu besok nggak bangun, aku akan dijodohkan dengan Thalia si Cabe dewasa." Niat hati William ingin menggoda Viola. Siapa tau, saat mendengar perkataan itu, Viola langsung bangun.


Setelah mengucapkan kalimat itu, William berjalan keluar untuk menemui Hendrik.

__ADS_1


William langsung menarik Hendrik untuk masuk ruangannya Viola dan duduk di Sofa yang telah disediakan. Khusus di ruangan VVIP, dibuat kedap suara.


"Gimana?" Tanya William dengan ketus kepada Hendrik.


"Kastil Brezjine udah rata dengan tanah. Bahkan mayat Zoni telah menjadi abu. Karena setelah diruntuhkan, Kastil Brezjine dibakar oleh para Mafioso." Ucap Hendrik dengan nada formal.


"Terus?"


"Kami juga telah menghilangkan semua bukti yang ada, dari kendaraan bahkan jalan raya untuk ke Kastil Brezjine telah kami tutup. King tenang saja, semua bukti sudah lenyap. Untuk kelanjutan bisnis Papa Satria dengan orang tua Zoni masih berjalan lancar. Mereka belum mengetahui, kalau anaknya telah tiada. Dan satu lagi, kami menemukan bukti bahwa Zoni melakukan Konspirasi bersama Dua Cabe." Ucap Hendrik.


"Udah gue duga." Ucap William sambil menyeringai. Hendrik yang melihat William menyeringai pun merasa ngeri sendiri. Karena Hendrik tau, pasti ada rencana tersembunyi dibalik senyuman maut William.


"Setelah Viola sadar, pertunangan gue sama dia langsung dilakuin." Ucap William dengan santai. Itu artinya, William telah berpindah mode menjadi sahabat untuk Hendrik bukan seorang King lagi.


"Ya elah, ngebet banget pengin cepet nikah nih orang. Sabar dulu kenapa sih? Biar Viola bisa sehat dulu. Kan dia baru aja habis dioperasi." Ucap Hendrik yang tidak habis pikir dengan isi kepala William.


"Titik nggak pakai koma. Nanti setelah Viola sadar, kita adakan pertunangan gue sama Viola di ruangan ini. Tugas Lo kasih tau Papa sama Momy kalau pertunangannya pindah tempat dan hanya kita berdua yang tau. Dan kalau mereka tanya tentang Viola, Lo tau kan apa yang harus Lo lakuin?"


"Iya, gue harus bohong kalau Viola baik-baik aja dan sekarang Viola harus tinggal di Apartemen nggak boleh kemana-mana sampai hari Pertunangan Lo sama Viola." Ucap Hendrik dengan lesu. Karena untuk kesekian kalinya, dia harus berbohong kepada Papa Satria dan Momy Zaskia demi William.


"Good." William mengacungkan ibu jari kanannya kepada Hendrik.


.


Selang beberapa lama, Hendrik akhirnya tertidur di Sofa. Sedangkan William kembali duduk dikursi samping ranjangnya Viola. William menatap lekat setiap rinci yang ada di wjaah Viola. "Andai kamu tau, betapa diriku sangat merindukan senyumanmu, Sayang. Bangunlah Sayang, diriku akan selalu menantikan kamu siuman." Entah kesambet setan dari mana, tiba-tiba William berbicara dengan nada alay.


"Astaga, kenapa gue tadi ngomong kayak banci gitu." Gumam William yang tiba-tiba sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.


"Sayang, bangun iya. Nanti aku akan ajak kamu kemana aja yang kamu mau. Asal kamu bangun sekarang juga." Ucap William sambil mencium tangan Viola.

__ADS_1


Tiba-tiba....


__ADS_2