Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-018~


__ADS_3

~"Wah, Viola memang menantu idaman banget iya. Udah cantik, baik, pintar masak lagi. Andai saja saya punya anak laki-laki, pasti saya udah lamar Viola untuk jadi menantu saya."~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Bibi Lina dan beberapa Asisten Rumah Tangga lainnya mulai menyajikan makanan untuk Papa Satria, Momy Zaskia, William, Viola, Zein, Tuan Andika, Istrinya Tuan Andika (Nyonya Nita), Thalia, Thalita dan Hendrik.


"Kak, Zein maunya disuapi Kakak." Ucap Zein kepada Viola yang duduk disampingnya.


Viola tersenyum mendengar perkataan Zein. "Baiklah Pangeran kecilnya Kak Viola." Viola mencubit pelan pipi Zein dan langsung menyuapi Zein dengan telaten.


"Mohon dimaklumi. Anak kami yang paling kecil itu manja banget sama Viola." Ucap Momy Zaskia.


"Nggak pa-pa, Jeng. Namanya juga anak-anak. Viola juga terlihat sangat sayang kepada Zein." Ucap Nyonya Nita.


"Iya, Jeng. Mari, silahkan dinikmati." Ucap Momy Zaskia dan mendapat anggukan dari keluarga Tuan Andika.


"Hmm, makanannya enak Jeng. Jeng Zaskia pandai masak iya." Puji Nyonya Nita sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.


"Ini bukan masakan saya, Jeng. Tapi masakannya Viola."


"Wah, Viola memang menantu idaman banget iya. Udah cantik, baik, pintar masak lagi. Andai saja saya punya anak laki-laki, pasti saya udah lamar Viola untuk jadi menantu saya." Ucap Nyonya Nita.


"Uhuk.. Uhuk.. Uhukk..." William tersedak mendmegar ucapan Nyonya Nita. Viola yang duduk disampingnya pun dengan refleks memberi minum William. Sekarang, mata mereka saling menatap satu sama lain.


Mata Thalia dan Thalita terasa sangat panas melihat adegan yang ada didepannya.


"Nggak boleh dibiarin. Gue harus mendapatkan hati Tuan William biar gue bisa jadi kaya raya." Batin Thalia.


"Tuan William hanya milik gue. Gue harus mendapatkan hatinya dan hartanya. Karena dia itu sangat sempurna." Batin Thalita.


"Ehem.." Deheman Hendrik membuat Viola salah tingkah dan dia langsung kembali menyuapi Zein.


"Mari silahkan dihabiskan. Kalau mau nambah, jangan sungkan." Ucap Papa Satria yang menghilangkan kecanggungan di meja makan.


"Iya."


Zein terus berbicara dengan nada yang lumayan pelan kepada Viola. Yah, walaupun masih bisa didengar oleh semua orang. Tapi, mereka memilih untuk diam dan melanjutkan makan malam mereka. Sedangkan Viola, terus menyuapi dan memandangi Zein yang terus berbicara sambil mengunyah. Kadang Viola tersenyum dengan tingkah Zein sampai Viola tidak ingat kalau dia sama sekali belum menyentuh makanannya.


Tiba-tiba sebuah sendok berisi makanan berada tepat didepan mulut Viola. Viola nampak terkejut dengan hal itu. Sedangkan, Zein yang melihatnya pun berhenti berbicara.


Viola menengok kebelakang, ternyata William yang melakukan hal itu. Kini, hidung mancung Viola dan William tidak sengaja bersentuhan. Dan dengan refleks, Viola menjauhkan beberapa senti wajahnya dari wajah William.


William menarik tangannya yang sedari tadi memegangi sendok yang belum diterima dengan baik oleh Viola. Sekarang, William menyuapkan makanan tadi kearah Viola yang masih terus memandangi wajah William.

__ADS_1


Tanpa penolakan, Viola menerima suapan William. Dia lupa bahwa bukan hanya dirinya dan William saja yang ada disana. Melainkan ada dua keluarga yang sedang duduk makan malam disana. Sedangkan William tersenyum tipis melihat tingkah Viola.


Dua wanita tadi? Thalia dan Thalita sudah tidak sanggup menahan amarah mereka. Jika saja mereka memegang gelas, maka gelas itu akan pecah. Namun, sebisa mungkin mereka menjaga image agar terlihat baik dimata Papanya William.


Selama beberapa saat, pandangan semua orang tertuju kearah Viola dan William. Entah ada angin apa, tiba-tiba Viola sadar dan langsung berdiri dari kursinya.


"Maaf, saya permisi dulu." Viola pamit dengan menunduk dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"KAK, ZEIN IKUT." Zein berteriak sambil mengejar Viola.


.


🥀🥀🥀🥀🥀


Viola berjalan kearah mobilnya, namun ditahan oleh Zein. "Ada apa?" Tanya Viola.


"Kak Viola mau kemana? Kenapa nggak ikut makan malam aja?" Tanya Zein.


"Kak Viola mau ke... ke Supermarket sebentar. Dan kenapa Kak Viola nggak lanjutin ikut makan malam, karena Kak Viola udah kenyang."


"Iya udah kalau gitu. Zein ikut Kak Viola ke Supermarket."


"Zein disini aja. Kak Viola bisa sendiri kok."


"Nggak mau. Pokoknya Zein harus ikut." Zein cemberut.


"Aduh gimana nih? Kan gue nggak mau ke Supermarket beneran." Batin Viola.


"Iya udah. Zein boleh ikut." Ucap Viola yang membuat senyuman Zein mengembang.


"Eh jangan. Kita pakai mobil Kak Viola aja." Ucap Viola.


"Nggak mau. Pokoknya kita pakai mobil Kak Will aja. Zein kangen pengin naik mobilnya Kak Will." Rengek Zein.


"Iya udah iya. Kita pakai mobil yang mana? Mobil Kak Will kan banyak."


"Pakai mobil Lamborghini yang warna hitam itu." Zein menunjuk sebuah mobil digarasi mobil yang ada di Mansion William.



"Oke, baiklah." Viola dan Zein berjalan kearah mobil itu. Dan langsung melajukan mobilnya. Sebelum keluar Mansion, Viola menyuruh salah satu Mafioso yang menjaga gerbang untuk memberitahu, bahwa Viola dan Zein pergi membawa mobilnya.


Viola mengemudi dengan kecepatan sedang. "Kak, kita jalan-jalan dulu yuk." Ajak Zein.


"Boleh."


"Kak Viola membosankan."


"Why?"


"Kak Viola itu kalau bawa mobil kayak siput, lambat banget." Cibir Zein.


"Kak Viola lagi nggak pengin kebut-kebutan, Zein." Viola mengelus rambut Zein dengan satu tangannya.

__ADS_1


"Ayolah, Kak. Biar seru gitu."


"Apapun untuk Pangeran kecilnya Kak Viola." Viola tersenyum kearah Zein dan Zein pun membalas senyuman Viola.


Saat Viola ingin menambah kecepatan mobilnya, tiba-tiba..


DORR...


.


🌻🌻🌻🌻🌻


Di Mansion Pribadinya William. Setelah makan malam, Papa Satria, Momy Zaskia, William, Tuan Andika, Istrinya Tuan Andika (Nyonya Nita), Thalia, Thalita dan Hendrik duduk di ruang tamu.


"Gimana, Tuan Satria? Bisa tidak kalau putri-putri kami menjadi menantu anda. Kan serasi kalau Thalia disandingkan dengan William dan Thalita disandingkan dengan Hendrik." Ucap Tuan Andika.


"*Hendrik? Nggak pa-pa deh. Yang penting ganteng dan kaya." Batin Thalita.


"Bukan tipe gue. Tipe gue itu cewek berkelas. Dan cewek itu? Banyak dijual diluaran sana." Batin Hendrik.


"Viola lebih sempurna." Batin William.


"Bagus Papa. Kalau gue disandingkan dengan William, pasti kita nggak bakal kekurangan uang tujuh turunan." Batin Thalia*.


"Emmm... Kalau saya terserah ke putra-putra kami saja." Ucap Papa Satria.


"Gimana?" Tanya Papa Satria.


"OGAH." Ucap Hendrik dan William bebarengan dengan wajah datar dan ketus.


"WILLIAM, HENDRIK." Teriak Papa Satria.


Tiba-tiba seorang Mafioso yang diamanatkan Viola tadi, menghadap ke William.


"Ada apa?" Tanya William dengan ketus.


"Ada masalah serius Tuan." Ucap Mafioso itu. William dan Hendrik pun langsung berdiri dan Hendrik menarik lengan Mafioso itu untuk mengikutinya. Sedangkan Papa Satria, Momy Zaskia, Tuan Andika, Istrinya Tuan Andika (Nyonya Nita), Thalia dan Thalita hanya bisa diam menatap kepergian William dan Hendrik.


Di teras Mansion. "Nona Viola pergi keluar membawa mobil anda King." Ucap Mafioso.


"Terus? Masalahnya apa?" Bukan William yang menjawab. Tetapi malah Hendrik yang bertanya.


"Dari informasi yang diberikan dari Markas Utama, ada seseorang yang akan menyerang anda malam ini."


"Terus?"


"Dan Nona Viola memakai mobil yang biasanya dipakai oleh King saat melakukan penyerangan. Jadi, para musuh hanya mengenali King dari mobil itu saja."


"Terus? Kenapa Lo nggak cegah Viola?" Hendrik mulai geram dengan ucapan Mafioso itu. Sedangkan William masih memasang wajah datarnya.


"Saya sudah berusaha..." Ucapan Mafioso itu terpotong, karena Hendrik dan William sudah berjalan ke dalam Mansion meninggalkannya sendirian di teras.


Di ruang tamu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Papa Satria saat melihat William dan Hendrik berjalan kearahnya.


"Kami pamit dulu." Bukannya menjawab pertanyaan Papanya, William malah pamit kepada mereka semua dan langsung berjalan keluar. Sedangkan Hendrik, mengikutinya dari belakang. Semua orang yang ada di ruang tamu, bingung dengan sikap William dan Hendrik.


__ADS_2