Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-015~


__ADS_3

~"Bahkan disaat kamu kecewa sama aku, kamu tetap khawatir dan perhatian sama aku. I love you, Ola."~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Setelah puas menangis, Viola langsung kembali ke ruangannya.


Ceklek.. Saat dia masuk, dia terkejut melihat William duduk di kursinya. Dengan pakaian yang acak-acakan dan kedua tangannya terus mengalirkan darah segar.


"KAK WILL." Viola langsung berlari mengambil kotak P3K dan bergegas menghampiri William. Seakan semuanya telah menghilang, rasa kecewa, rasa sakit dan semuanya yang dirasakan Viola mendadak hilang. Saat melihat keadaan William.


Viola mengobati luka yang ada ditangan William dengan hati-hati.


"Kamu bisa mengobati tanganku, tapi kenapa kamu nggak bisa mengobati hatiku?" Tanya William dengan suara pelan. Tanpa terasa air mata Viola meneteskan dipipinya lagi. Namun, dia terus melanjutkan untuk mengobati dan melilitkan perban ditangan William.


Setelah selesai mengobati luka William, Viola langsung menghapus air matanya dan berdiri untuk mengembalikan kotak P3K ketempatnya. Namun belum ada satu langkah dari tempatnya berdirinya tadi, tangan Viola langsung ditarik oleh William. Sekarang Viola berada dipangkuan William dan William langsung memeluk Viola dari belakang.


"Tetaplah seperti ini dulu. Aku sangat merindukanmu." William mempererat pelukannya agar Viola tidak bisa lepas dari darinya. Lagi-lagi, Viola tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes.


"Maafin Viola, Kak." Batin Viola.


Viola hanya diam dan sesekali menghapus air matanya. Sedangkan William malah tertidur sambil memeluk Viola yang ada di pangkuannya.


Tiba-tiba, ponsel Viola bergetar. Drrtttt... Drrtttt.. Drrtttt.. Viola pun langsung mengangkat telpon dari seseorang.


.


Call On.


"Ada apa?" Ucap Viola dengan nada suara yang lumayan pelan.


"Gue ganggu Lo kerja iya?" Tanya Rey, Sekretaris William yang sangat William percayai. Bisa disebut juga sebagai tangan kanan William dalam masalah bisnisnya.


"Nggak kok. Gue lagi nggak sibuk. Ada apa?"


"Kemarin gue disuruh Bos handel Perusahaannya yang ada di Luar Negeri. Dan hari ini, gue udah harus terbang kesana. Kemungkinan besar, gue akan lama tinggal disana. Jadi, Lo nggak pa-pa kan kalau kerja sendiri?"


"Iya nggak pa-pa lah. Lo kan udah kasih tau gue semua tugas-tugas gue. Oh iya, by the way makasih. Lo udah sabar ngajarin gue."


"Sama-sama, gue nggak masalah kok. Gue malah senang bisa ngajarin Lo."

__ADS_1


"Iya udah. Lo semangat kerjanya."


"Thank you. Lo juga."


"Pasti. Ya udah, gue tutup dulu telponnya. Bye."


"Oke. Bye."


Call Off.


.


20 menit berlalu, Viola mulai lelah duduk dipangkuan William. Bahkan William sepertinya sudah tidur dengan lelap, namun kedua tangannya masih sangat erat memeluk Viola.


Tangan Viola tergerak untuk memegang rambut William yang acak-acakan. "Kak Will, Viola juga kangen banget sama Kak Will. Tapi, hati Viola masih belum menerima kenyataan ini. Maaf, Kak." Gumam Viola.


Sepuluh menit setelahnya, pelukan William agak melonggar. Alhasil, Viola bisa melepas pelukan William dan langsung berdiri untuk meregangkan tubuhnya.


"Kalau Kak Will tidur dikursi seperti ini, pasti tubuhnya akan pegal-pegal. Tapi, nggak mungkin juga kan gue bawa Kak Will ke kamar diruangannya. Atau gue panggil Satpam? Eh jangan deh, nanti masalah baru muncul lagi. Kan Satpam kantor ini cerewet semua, padahal mereka laki-laki. Terus ini gimana? Kasihan Kak Will." Viola bingung harus berbuat apa.


"Iya udah deh, gue coba bawa dia ke ruangannya." Viola mencoba untuk memapah William. William yang terusik dengan Viola pun sedikit terbangun namun dia urungkan niatnya untuk membuka mata. Karena dia sangat lemas sekarang.


"Pak William sudah bangun?" Tanya Viola yang kembali dengan keprofesionalannya.


"Hmm." William masih menutup matanya.


"Mari, Pak. Saya antar Bapak ke ruangan. Kalau disini, nanti Pak William bisa sakit." Ucap Viola yang langsung mendapat anggukan dari William.


Sesampainya dikamar yang ada diruangan William, Viola langsung merebahkan tubuh William diatas kasur. Viola juga melepas sepatu dan jas yang William pakai. Sedangkan William? Dia kembali tertidur.


Tiba-tiba, ponsel William berdering didalam jasnya. Awalnya Viola enggan untuk mengangkat. Namun, sudah kedua kalinya ponsel William berbunyi. Dia tidak mau ada yang menganggu tidur William. Sehingga, Viola keluar dari kamar dan mengangkat telpon seseorang di ponsel William.


.


Call On.


"Woy Will. Lo udah makan siang belum? Tadi pagi nggak sarapan. Masih mending gue pikirin Lo, kalau nggak, nggak bakal gue telponin Lo. Lo juga kenapa nggak angkat telpon gue yang tadi? Bikin orang khawatir aja." Gerutu Hendrik. Saat Viola ingin berbicara, ada suara orang lain dari ponsel Hendrik.


"William, kamu jangan jadi seperti anak kecil. Momy yakin, kalau Viola sangat mencintai kamu. Jadi, kamu jangan siksa dirimu sendiri, Nak. Yakinlah, bahwa Viola akan kembali. Momy percaya itu." Ucap Momy Zaskia.


Viola terharu mendengar ucapan Momy Zaskia. "Maaf, Mom. Ini Viola, Kak Will lagi istirahat dikamar. Sepertinya, dia sangat lelah."


"VIOLA? INI BENERAN KAMU?" Teriak Momy Zaskia.


"Iya, Mom."


"Nak, Momy minta tolong sama kamu. Jangan pernah membuat William sedih, Nak. Dia bisa nekad kalau sudah buntu jalan pikirannya."


"Iya, Mom. Viola akan berusaha untuk tidak membuat Kak Will sedih."

__ADS_1


"Terimakasih, Nak."


"Iya, sama-sama. Udah dulu iya, Mom. Soalnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus Viola urus."


"Oke, baiklah. Momy tutup telponnya."


"Iya."


Call Off.


.


Viola kembali ke kamar William. "Segitunya Kak Will nggak mau kehilangan Viola? Maaf, Kak. Viola sepertinya nggak pantas buat Kak Will. Viola hanya orang biasa yang udah tidak punya apa-apa, bahkan orang tua pun Viola udah nggak punya, Sedangkan Kak Will? Seorang King Mafia dan CEO sekaligus pemilik Perusahaan ini. Bahkan, Perusahaan Kak Will udah membuka cabang dibeberapa negara." Tangan Viola mengelus pipi William.


"Siapa bilang kalau kamu orang biasa?" Ternyata William sedari tadi sudah bangun dan mendengar semua ucapan Viola. Viola pun kaget dan langsung menarik tangannya dari pipi William. Viola berdiri dan langsung pergi dari kamar William.


Ternyata Viola pergi membelikan makanan untuk William. 15 menit kemudian, Viola datang kembali ke ruangan William. Disana William sudah duduk dikursi kebesarannya.


"Dari mana?" Tanya William.


"Saya dari Kantin, Pak. Ini saya belikan makanan buat Bapak. Soalnya ini sudah lewat jam makan siang. Dan tadi, Hendrik kasih tau saya kalau Bapak belum sarapan." Ucap Viola sambil memberikan makanannya.


"Viola, nggak usah bersikap formal kalau kita lagi berdua. Kamu boleh memanggilku Kak Will." Ucap William dengan santai dan langsung mendapat anggukan dari Viola.


Saat William akan membuka makanannya, Viola teringat kalau kedua tangan William sedang terluka. Akhirnya, Viola ambil makanan itu.


"Why? Kenapa diambil?" Tanya William.


"Kak Will kan tangannya sakit. Jadi Viola aja yang suapi Kak Will." Viola mulai menyuapi William. Dan dengan senang hati William menerimanya.


"Bahkan disaat kamu kecewa sama aku, kamu tetap khawatir dan perhatian sama aku. I love you, Ola." Batin William.


"Kamu udah makan?" Tanya William yang mulutnya masih terus mengunyah makan siangnya.


"U..udah kok." Ucap Viola berbohong.


"Kamu tidak pandai berbohong, Vi."


"Iya, aku belum makan siang. Tapi, nanti setelah aku selesai suapi Kak Will. Aku langsung pergi makan siang."


"Kalau gitu, aku udah makannya."


"Kok udah? Baru sedikit loh. Ayo makan lagi." Viola menyodorkan makanan kedepan mulut William.


"Aku akan melanjutkan makan siangku, kalau kamu juga ikut makan bersamaku."


"Oke." Ucap Viola yang tidak mau berdebat dengan William.


Setelah William menerima suapannya, Viola langsung makan dari makanan William dengan sendok yang sama, dengan yang William pakai. Karena dia juga sudah lemas, jadi dia malas untuk beranjak mengambil sendok lagi. Sedangkan William? Dia tersenyum sangat lebar melihat tingkah Viola.

__ADS_1


"Makan disuapi, satu sendok juga sama orang yang aku cintai. Uh, nikmat yang paling indah." Batin William.


__ADS_2