Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-032~


__ADS_3

~"Gue akan menunggu sampai waktunya tiba." Ucap Viola sambil melihat Thalia dan Thalita berjalan meninggalkannya di atap sendirian.~


.


.


.


.


.


Sesampainya di atap Mansion, Viola dan Dita terkejut melihat apa yang terjadi di sana.


"ZEIN." Teriak Viola yang tidak percaya, kalau Zein menodongkan pistol kearah Thalia dan Thalita.


Viola berusaha mendekati Zein. "Zein, buang pistolnya." Perintah Viola. Bukannya menurut, Zein malah tertawa sangat keras.


"HAHA... HAHA... Pistolnya bagus, Kak." Ucap Zein.


"Iya. Pistolnya bagus, tapi itu berbahaya Zein. Buang sekarang juga, oke." Seketika Zein itu, menembak peluru disamping kakinya dan langsung membuang pistol yang dia pegang sampai terjun kelantai bawah Mansion.


Viola langsung memeluk Zein. "Zein, tadi ngapain?" Tanya Viola.


"Main, Kak. Kan pistolnya punya kakak-kakak itu." Ucap Zein sambil melepas pelukan Viola dan langsung mengarahkan jari telunjuknya kearah Thalia dan Thalita.


"Tadi Zein lihat Kak Thalia pegang pistol itu. Bentuk pistolnya bagus, Kak. Jadi, Zein rebut aja dari Kak Thalia. Soalnya, kalau Zein minta baik-baik pasti nggak dikasih." Lanjut Zein.


"Ngapain Thalia bawa pistol? Oh apa jangan-jangan orang yang dimaksud Kak Will itu dia? Oh dia yang udah berusaha nembak gue, tapi malah ditangkap Kak Will. Awas aja Lo Thalia. Lo harus mati ditangan gue." Batin Viola.


"Bocah sialan. Koleksi pistol favorit gue malah dia buang begitu saja. Awas aja itu bocah. Gue bunuh Lo nanti malam." Batin Thalia.


"DITA, TOLONG BAWA ZEIN KE KAMARNYA." Teriak Viola. Karena Dita masih tidak bergerak ditempat dia berdiri.


"Oh, oke." Dita seakan baru sadar dengan apa yang terjadi. Dia langsung menghampiri Zein dan membawanya ke kamar.


Sekarang, Viola berada di atap bersama Thalia dan Thalita. "Oh jadi Lo yang udah berusaha nembak gue semalam?" Tanya Viola dengan santai sambil berjalan mendekat kearah Thalia dan Thalita.


"Apa buktinya? Kalau gue nembak Lo?" Tantang Thalia. Sedangkan Thalita hanya diam menyaksikan perdebatan Thalia dan Viola.


"Pistol yang pegang Zein tadi adalah pistol tanpa suara yang berisi peluru berjenis peluru tajam dan itu persis seperti peluru yang semalam melukai Kak Will karena dia berusaha melindungi gue."


"Lo tau dari mana? Kalau jenis peluru itu adalah peluru tajam?"


"Sebelum Zein membuang pistol tidak berguna itu, dia menembak pistol itu tepat disamping kakinya. Apa Lo nggak lihat? Oh mungkin mata Lo buta kali."

__ADS_1


Thalia mengangkat tangannya untuk menampar Viola. Namun, tidak ada rasa takut sama sekali diwajah Viola, malah wajah Viola seperti seseorang yang menyimpan dendam yang sangat mendalam dan akan siap meluapkan rasa dendamnya kapan saja.


"Kenapa? Mau nampar gue? Silakan." Ucap Viola sambil menantang Thalia. Tapi Thalia malah mengurungkan niatnya untuk menampar Viola.


"Cih.. Penakut." Cibir Viola.


"Lo lihat aja nanti. Siapa yang lebih pantas menyandang gelar sebagai penakut." Batin Thalia.


"Awas aja Lo. Gue akan jadi orang pertama yang akan membantai Lo habis-habisan. Tunggulah, waktunya sebentar lagi akan tiba." Ucap Thalia sambil menyeringai. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Viola, disusul Thalita yang hanya mengikuti langkah Thalia.


"Gue akan menunggu sampai waktunya tiba." Ucap Viola sambil melihat Thalia dan Thalita berjalan meninggalkannya di atap sendirian.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


William, Hendrik, Viola, Dita, Zein, Thalia dan Thalita sudah berada di atap Mansion. Karena malam ini, mereka mengadakan acara BBQ-an.


"Kenapa Lo ajak Dua Cabe itu sih? Tanya Hendrik sambil berbisik disamping William.


"Biar seru." Ucap William dengan nada datarnya.


"Seru dia bilang? Cih, bikin gue muak aja kalau ada Dua Cabe itu." Batin Hendrik.


"Kakak-kakak itu sangat mencurigakan. Tapi nggak terlalu jelas, mereka masukin apa aja kedalam minumannya. Ah, mungkin perasa minuman yang udah disiapkan Kak Will." Batin Zein.


Hendrik menggelar karpet untuk mereka makan bersama. "Ayo kita makan. Ini dagingnya udah matang semua." Ucap Viola yang membawa semua daging yang dia masak bersama William.


Semuanya duduk di karpet yang telah disiapkan Hendrik, tanpa terkecuali.


Seperti biasa, Zein akan memilih duduk diantara William dan Viola.


"Ini bocah. Nggak tau apa, kalau Kakaknya pengin duduk disamping Viola. Kalau bukan adik gue, udah gue dorong dari sini, biar patah tulang sekalian." Batin William.


"Kak Viola, Zein mau dagingnya." Ucap Zein.


"Ini Kak Viola ambil daging yang banyak buat Zein." Viola mengambil banyak sekali daging di atas piringnya. Kemudian dia langsung memberikannya kepada Zein. Dan Zein pun makan sendiri daging itu.


"Bisa tidak, kalau malam ini jangan ganggu Kakak. Kamu duduk disampingnya Kak Hendrik aja. Biar Kakak bisa duduk berdampingan sama Kak Viola." Ucap William yang berbisik ditelinga Zein. Zein pun mengerti dengan ucapan William, namun dia hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan daging.


Zein pun langsung pindah tempat. Sekarang, dia duduk diantara Thalita dan Hendrik.


"Ngapain duduk disini?" Tanya Hendrik yang melihat Zein baru saja duduk disampingnya.


Zein langsung menarik telinga Hendrik. "Kak William pengin duduk disampingnya Kak Viola." Ucap Zein sambil berbisik.

__ADS_1


"Oh, oke."


"Wah, dagingnya empuk banget. Enak lagi." Puji Dita.


"Iya lah. Kan ini dibuat dengan persatuan cinta antara Viola dan William." Ucap Hendrik sambil menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya.


"Cih, terlalu berlebihan." Batin Thalia.


"Emang iya, kalau dibuatnya penuh CINTA emang beda rasanya." Ucap Dita yang sengaja menekan kata 'Cinta' agar Thalia merasa panas.


"Apaan sih, Dit. Emang dagingnya aja yang kualitasnya bagus." Ucap Viola.


"Jangan merendah untuk meroket, Vi." Ucap Hendrik.


"Nggak jelas banget Lo, Drik." Ucap Viola sambil terkekeh.


Karena William begitu gemas dengan Viola, tangannya tergerak untuk mengacak-acak rambut Viola. "Jangan umbar senyuman manismu." Ucap William.


"Waduh, sekalinya bicara langsung buat semua orang meleleh." Ledek Hendrik.


"Emang iya, kalian itu pasangan yang SERASI banget." Ucap Dita.


"*Sial. Pasti ini semua rencana mereka. Biar gue merasa panas dan kebakar api cemburu. Tapi gue harus bisa kontrol emosi gue. Huh, sabar." Batin Thalia.


"Kalau gue jadi Kakak, pasti udah gue bunuh si Viola sekarang juga." Batin Thalita*.


"Oh iya, ini tadi gue sama Thalita bikin minumannya. Semoga kalian suka." Ucap Thalia yang berusaha bersikap baik dan ramah.


"Gue nggak yakin dengan minuman ini." Batin Viola.


Dita mengambil minumannya, karena tenggorokannya terasa sangat kering. "Eh, sebentar Kak Dita." Ucap Zein saat melihat Dita ingin meminum minuman yang dibuat Thalia dan Thalita.


"Ada apa, Zein?" Tanya Dita.


"Suruh kakak-kakak ini untuk coba minuman buatannya dulu." Ucap Zein.


"*Mampus, kenapa bocah sial ini malah suruh gue sama Thalita yang minum minumannya dulu." Batin Thalia.


"Bagus, Zein. Suruh mereka berdua mencobanya dulu. Ternyata, kita sepemikiran iya." Batin Viola.


"Bagus bocah bawel." Batin Hendrik*.


"Memangnya kenapa?" Tanya Dita.


"Haduh, Kak Dita ini banyak nanya. Udah, ikuti aja perintah Zein."

__ADS_1


__ADS_2