
~William langsung memasukkan ponsel kedalam sakunya dan menatap mata Viola.~
.
.
.
.
.
🌹🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya. Viola, Dita dan Bibi Lina sedang menyiapkan sarapan untuk William dan Hendrik.
"MORNING SEMUA." Teriak Hendrik yang baru sampai di meja makan bersama William.
"Morning Too, Drik. Tumben pagi-pagi udah teriak-teriak?" Tanya Viola sambil menyiapkan sarapan untuk William.
"Gue lagi pengin aja. Eh cewek cerewet, siapin sarapan gue." Ucap Hendirk kepada Dita.
Dita dengan merasa terpaksa, melakukan perintah Hendrik. Sedangkan Viola dan William saling menatap heran dengan Hendrik.
"Nih. Gue kasih racun buat Lo." Dita dengan kasar memberikan piring yang berisi makanan untuk sarapannya.
"WOY. Santai dong. Bar-bar banget jadi cewek."
"Terserah."
"Lo udah kenal sama Hendrik, Dit?" Tanya Viola sambil mengambil sarapan untukknya dan langsung duduk disamping William.
"Nggak."
"Kok kayak akrab banget tadi."
"Cuma nggak sengaja ketemu di Taman." Dita menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Iya nih cewek marah-marah nggak jelas kayak orang gila di Taman. Terus dia lempar kaleng ke kepala gue." Ucap Hendrik sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.
"Eh gue kan udah bilang kalau nggak sengaja. Lo aja yang lebay, minta dibawa ke Rumah Sakit." Sewot Dita sambil menatap tajam kearah Hendrik.
"Tapi nyatanya Lo nggak bawa gue ke Rumah Sakit kan."
"Iya Lo pikir aja. Oh iya lupa, kalau otak Lo kan nggak bisa dibuat mikir." Sindir Dita sambil bergaya cantik dengan menutup mulutnya.
"LO." Marah Hendrik sambil menggenggam kuat sendok yang dia pegang.
"Udah-udah, gue nikahin kalian berdua kalau nggak mau diam." Ucap Viola yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hendrik dan Dita.
William yang sedari tadi diam pun melempar buah jeruk yang ada didepannya ke kepala Hendrik. "Jaga tatapan Lo." Ucapan yang singkat, padat dan terkesan dingin dari William.
"Ya elah, dasar Kang Cemburuan." Cibir Hendrik.
Seketika pisau melayang dan menancap pas didepan piring Hendrik. Yah, dari siapa lagi kalau bukan William yang tadi mendapat ejekan dari Hendrik. "Wow, santai dong." Ucap Hendrik yang tadinya ingin memasukkan makanan kedalam mulutnya, namun terhenti dengan pisau yang tiba-tiba tertancap didepannya.
"Siapa sebenarnya William ini. Kenapa dia sangat cuek sekali." Batin Dita.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
William dan Hendrik sekarang berada di Markas Black WV Diamond Bloods.
"Jadi gimana, Lo mau balas dendam ke Samudra?" Tanya Hendrik.
"Belum waktunya, gue rasa ada seseorang dibalik konspirasi ini. Dan mereka melibatkan Viola untuk melemahkan kita." Ucap William sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Apa kita perlu memberi pengamanan yang ketat buat Viola?"
"Dia bisa jaga diri." Singkat dan cuek adalah ciri khas bicara William.
"Lo nggak takut kalau Viola kenapa-napa? Secara kan Samudra ini adiknya Stevan."
"Gue yakin kalau Viola bisa jaga dirinya sendiri."
"Terserah Lo lah."
"Lo selidiki Thalia dan Thalita."
"Siapa tuh?"
"Lo lupa? Dia anaknya Tuan Andika."
"Oh si cabe-cabean? Ngapain Lo suruh gue selidiki cabe-cabean itu? Nggak ada faedahnya juga kali." Sewot Hendrik.
"Gue rasa, ada sesuatu dari dua orang itu." Tatapan William tajam dan lurus kearah tembok yang kosong.
"Suruh Mafioso lain lah. Mafioso kita kan ada banyak. Masa pekerjaan rendahan kayak gitu Lo kasih ke gue."
"Terserah Lo."
William pergi meninggalkan Hendrik yang masih duduk santai diatas Sofa.
.
Diruangan yang gelap ada canda tawa bahagia dari emapt orang yang telah merencanakan sesuatu.
"Gue masih menunggu waktunya."
"Gue nggak sabar, kalau harus berhadapan dengan William."
"Lo boleh menghabisinya. Kalau perlu, kita buat dia memohon-mohon dikaki kita biar dia nggak lenyap dari bumi ini."
"Jangan kasih ampun. Biar semua Mafioso dan kekayaan William bisa jadi milik kita."
HAHAHAHAHA.... HAHAHA....
"Tapi gue nggak gila akan kekayaannya William. Yang terpenting, gue bisa balas dendam ke dia. Itu aja udah buat hidup gue tenang."
"Sabar, Bro. Waktunya sebentar lagi. Kita main cantik dulu sekarang."
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pukul 19.30 Viola mengajak Dita keliling Mall bersama William dan Hendrik. Awalnya William tidak ingin ikut, namun rayuan Viola membuat William pasrah dan mengikuti kemauan Kekasihnya.
Disebuah toko baju, Viola dan Dita mulai mencari-cari baju yang sesuai dengan mereka. Hingga mereka lupa kalau membawa William dan Hendrik kesana. Alhasil, William dan Hendrik hanya menunggu dikasir sambil duduk di Sofa yang telah disiapkan.
"Gimana sih, ngajak ke Mall tapi malah ditinggalin." Gerutu Hendrik.
Sedangkan William hanya memainkan ponselnya tanpa ingin membalas perkataan Hendrik.
__ADS_1
Disisi lain, Viola dan Dita dengan senangnya memilih baju untuk mereka pakai sehari-hari.
"Vi, ini kayaknya bagus deh buat Lo." Ucap Dita sambil memberikan Dress selutut berwarna hitam yang terlihat sangat elegan tapi mewah.
"Wah iya bagus sih Dressnya. Tapi gue udah punya. Gimana kalau buat Lo aja, kayaknya cocok juga kalau Lo yang pakai." Ucap Viola.
"Masa sih?"
"Iya, Dit. Coba aja."
"Gue coba dulu iya." Dita berjalan ke ruang ganti.
"Oke, gue tunggu disini."
10 menit kemudian....
Dita keluar ruang ganti dengan memakai Dress hitam pilihannya. "Gimana, Vi? Bagus nggak?" Tanya Dita.
"Cocok banget kalau Lo yang pakai. Langsung bungkus." Ucap Viola yang membuat Dita tersenyum malu.
"Ayo cari yang lain." Ajak Viola.
"Eh bentar, kayaknya tadi kita nggak berdua doang." Ucap Dita.
"Oh iya, Kak Will sama Hendrik mana?"
"Mungkin nunggu disebelah kasir. Kalau nggak iya mereka balik ke parkiran terus nunggu di mobil."
"Bisa jadi. Iya udah, kita cari baju lagi yuk."
"Ayo."
2 jam berlalu dengan cepat.
"Mereka lama banget sih. Mereka mau beli baju apa ketiduran diruang ganti sih." Gerutu Hendrik yang sudah bosan menunggu Viola dan Dita. Sedangkan William masih sibuk dengan ponselnya.
Tidak lama setelah itu, Viola dan Dita datang membawa 3 pakaian ditangan Viola dan 4 pakaian ditangan Dita.
"Kalian lama banget sih. Lo beli baju apa keliling Mall, kok lama banget." Ucap Hendrik yang beranjak dari tempat duduknya.
"Lo nggak lihat, kalau kita bawa baju." Sewot Dita.
"Lama banget kayak orang mati."
"Masa orang mati bisa hidup lagi. Mikir dong." Dita memukul keningnya sendiri. "Oh iya lupa, Lo kan nggak punya otak." Sindir Dita.
"LO." Hendrik menatap tajam kearah Dita.
Sedangkan Viola sudah bosan dengan pertengkaran Dita dan Hendrik pun langsung duduk disebelah William.
William langsung memasukkan ponsel kedalam sakunya dan menatap mata Viola. "Gimana belanjanya?" Tanya William.
"Seru banget, Kak. Tapi Viola tadi bingung banget pilih bajunya. Kak Will nggak ikut Viola sih tadi. Biar kasih pendapat gitu sama baju Viola."
"Kan udah ada Dita."
"Iya sih, tapi kan..."
Tiba-tiba... "Permisi." Ada seorang pria yang terlihat lebih tua dari William menghampirinya dan Viola.
"Apa benar ini Tuan William?"
__ADS_1