Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-027~


__ADS_3

~"Bentar Viola Sayang. Kak Will kangen tau sama kamu." Ucap William sambil mengeratkan pelukannya.~


.


.


.


.


.


"JAGA OMONGAN LO CEWEK NGGAK JELAS..." Teriak Hendrik yang tiba-tiba datang menghampiri Viola dan Dita di balkon.


Dita yang tadinya duduk, langsung berdiri dan menatap tajam Hendrik. Sekarang mereka berdua berhadap-hadapan dengan tatapan tajam seperti Singa yang siap menerkam mangsanya.


"Haduh, bakal mulai lagi pertengkaran yang nggak berfaedah ini." Gumam Viola melihat tatapan keduanya secara bergantian. Tapi, Viola hanya melihat mereka sebentar saja dan Viola langsung kembali menatap langit sambil memasang earphone dikedua telinganya dan memutar lagu kesukaannya di ponsel.


"EH COWOK MANJA, LO ITU UDAH BAWEL, MANJA, NGGAK BISA MENGHARGAI CEWEK, LEMAH LAGI. TERUS..." Ocehan Dita tiba-tiba berhenti karena Hendrik membungkam mulut Dita. Sekarang wajah mereka berdua hanya berjarak sejengkal saja.


"Mulutnya bisa diam nggak? Kalau nggak, ntar gue cium. Paham." Ucap Hendrik dengan pelan namun penuh tekanan dinada bicaranya. Dita hanya diam, terpana melihat wajah Hendrik dari dekat.


Tiba-tiba seorang Mafioso mengganggu momen mereka. Dan menghentikan aktivitas tatap menatap mereka.


"Maaf Tuan, Tuan Besar datang kesini dan beliau menunggu Tuan William dan Tuan Hendrik di ruang tamu." Ucap Mafioso.


"Apa semua mayat udah dibersihkan?" Tanya Hendrik.


"Sudah Tuan. Tuan Besar tidak akan tau kalau tadi habis terjadi peperangan." Ucap Mafioso.


"Baiklah. Saya akan menemuinya. Kamu boleh pergi." Ucap Hendrik. Mafioso itu mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Hendrik, Dita dan Viola yang masih menikmati langit.


Hendrik berjalan mendekati Viola dan langsung menepuk pundak Viola. "Perdebatan kalian udah selesai?" Tanya Viola yang masih menatap langit sambil melepas salah satu earphone nya.


"Papa Satria ada dibawah." Ucap Hendrik yang langsung membuat Viola berdiri dan berlari kebawah. Hendrik yang peka, langsung mengejyViola dan melemparkan jaket yang dia kenakan pada Viola. Karena lengan Viola banyak luka-luka yang baru saja diobati oleh Dita.


Sedangkan Dita, yang belum kenal siapa Tuan Besar itu. Dia langsung pergi ke kamarnya. Karena dia tidak mau tau apa yang terjadi di Mansion ini. Dia sadar diri, kalau dia hanya tamu di Mansion.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Di ruang tamu. "Hai, Pa. Ada apa nih datang kesini?" Tanya Viola sambil bersalaman dengan Papa Satria.


"Hai juga Viola. Akhirnya kamu tinggal disini lagi. Papa senang banget kalau kamu tinggal disini lagi." Ucap Papa Satria sambil tersenyum lebar melihat Viola. Dan Viola pun membalas senyuman Papa Satria.


"Papa Satria ngapain bawa mereka berdua?" Tanya Hendrik yang sedari tadi menatap Thalia dan Thalita yang duduk disamping Papa Satria.


Sedangkan Viola, sedari tadi memang tidak sadar kalau ada Thalia dan Thalita disana.


"Papa mau, Thalia dan Thalita tinggal disini sementara. Karena orang tuanya ada urusan di Luar Negeri selama beberapa minggu. Jadi, orang tua mereka menitipkannya kepada Papa."


"Lah, mereka kan udah dewasa. Orang tua mereka kaya, masa nggak bisa nyewa bodyguard buat jagain anaknya sih." Sewot Hendrik. Karena memang dari pertemuan pertama, Hendrik sudah tidak menyukai Thalia dan Thalita.


"Om Satria, kita tinggal di Mansion Om saja. Kalau Hendrik tidak menerima kami disini." Ucap Thalia dengan lirih.


"Iya, Om. Kami tinggal di Mansion Om aja sama Tante Zaskia." Ucap Thalita.


"Jangan dong. Kalian harus tinggal disini. Karena disini, kalian punya temennya. Disini kan ada Viola, jadi kalian juga bisa belajar banyak hal sama Viola. Kalian kan sama-sama masih muda, jadi nggak ada rasa sungkan pastinya. Iya kan Viola?"


"Dengan berat hati, gue bohong ke Papa Satria. Biar Papa Satria senang." Batin Viola.


"I-iya, Pa." Ucap Viola dengan nada yang terpaksa.


"Hendrik." Panggil Papa Satria dengan tatapan penuh arti.


"Oke, Hendrik nggak pa-pa kalau mereka tinggal disini selama beberapa minggu. Tapi, apa Papa udah tanya ke William?" Tanya Hendrik.


"Gue harap William segera pulang dan menolak Dua Cabe itu tinggal disini." Batin Hendrik.


"Kalau masalah William...." Ucapan Papa Satria terhenti karena langsung dipotong oleh ucapan William yang tiba-tiba datang. "William setuju kalau mereka tinggal disini." Ucapan William tadi membuat Hendrik dan Viola ternganga dan tak percaya.


Setelah berbicara seperti itu, William langsung naik keatas menuju kamarnya. Dia tidak memperdulikan Papanya yang duduk di ruang tamu beserta Viola, Hendrik, Thalia dan Thalita.


"Dasar anak aneh." Cibir Papa Satria.


"Aneh juga itu anak Papa." Sahut Hendrik.


"Kamu juga aneh, Drik. Setelah sekian lama kamu tinggal sama William, kamu malah ketularan anehnya nggak kepintarannya."

__ADS_1


"Papa kalau ngomong suka benar aja nih. Tapi kan Hendrik memang aneh dari dulu, tapi Hendrik juga pintar loh. Papa aja yang nggak tau." Ucap Hendrik dengan santainya.


"Udah-udah. Papa banyak kerjaan. Oke, udah sepakat iya. Kalau Thalia dan Thalita tinggal disini. Mulai dari ini sampai beberapa minggu kedepan. Papa pergi ke Kantor dulu." Ucap Papa Satria.


"Iya, Pa. Hati-hati dijalan." Ucap Viola sambil bersalaman dengan Papa Satria. Begitu juga Hendrik, Thalia dan Thalita.


"Kalian berdua, kalau diapa-apain Hendrik, bilang ke Om." Ucap Papa Satria kepada Thalia dan Thalita.


"Baik, Om." Ucap Thalia dan Thalita.


"Idih, siapa juga yang mau apa-apain mereka. Nggak level gue. Mending gue kerjain Dita aja yang lebih seru. Eh, kenapa gue malah kepikiran sama Dita. Haduh, konslet nih otak gue." Batin Hendrik.


Papa Satria pergi dari Mansion.


Viola langsung memanggil Bibi Lina untuk memberi tau kamar Thalia dan Thalita dimana. Setelah itu, Viola langsung ke kamar William untuk meminta semua penjelasannya dan memberi tau semua yang telah terjadi di Mansion selama dia pergi.


Di depan kamar William. Viola langsung masuk kedalam kamar, karena kamar William terbuka sedikit tadi.


Tapi tubuh Viola langsung ditarik oleh William dan jatuh kedalam pelukan William. Sedari tadi, William bersembunyi dibalik pintu untuk mengagetkan Viola. Karena dia tau, pasti Viola akan ke kamarnya untuk menjelaskan semua yang terjadi di Mansion.


Sebenarnya William sudah tau semuanya, tapi dia ingin Viola yang menjelaskan langsung kepadanya.


"Kak Will lepasin." Ucap Viola sambil sedikit memberontak.


"Bentar Viola Sayang. Kak Will kangen tau sama kamu." Ucap William sambil mengeratkan pelukannya.


Viola hanya bisa diam menerima pelukan mendadak dari William.


5 menit kemudian, William baru melepas pelukannya.


"Kak Will penginnya sih peluk kamu lama-lama. Tapi Kak Will takut kalau kamu kehabisan nafas." Ucap William sambil tertawa.


"Ih Kak Will. Aku mau marah nih sama kamu. Kenapa Kak Will nggak larang Cabe-cabean itu tinggal disini? Kak Will malah setuju lagi, kalau Cabe-cabean itu tinggal disini." Ucap Viola dengan cemberut.


William mencubit kedua pipi Viola. "Nanti kamu bakal tau sendiri. Oke." Ucap William sambil berjalan kearah Sofa yang ada di kamarnya.


William duduk di Sofa dan membiarkan Viola dengan wajah cemberutnya.


"Sini, duduk samping aku." Ucap William. Entah kenapa, walaupun Viola marah kepada William, dia tidak bisa menolak perintahnya.

__ADS_1


Sekarang, Viola duduk disamping William. William langsung menghadapkan wajah Viola kearahnya.


"Cerita atau hukuman?"


__ADS_2