Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-019~


__ADS_3

~"Nih anak, yang ada dipikirannya apa sih? Keadaan genting kayak gini, masih aja bisa bersikap kayak gitu."~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


William mengambil salah satu mobil yang ada digarasinya. Dan langsung melancarkan gasnya.



Sedangkan Hendrik juga langsung menaiki mobilnya dan mengikuti mobil William.



William dan Hendrik melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Mereka mencari keberadaan Viola karena mobil yang dikendarai Viola tidak diberi JPS.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


DORR..


Viola dan Zein kaget mendengar tembakan yang nyaris mengenai spion mobil yang mereka pakai.


"Aduh, Zein lupa lagi." Zein menepuk keningnya sendiri.


"Ada apa Zein? Ini siapa sih yang nembak segala?" Viola panik mendengar tembakan itu dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Kak, mobil ini itu mobil khususnya Kak Will." Ucap Zein.


DORR... DORR.. DORR...


Viola mencoba untuk menghindar dari tembakan mobil yang berada dibelakangnya.


"Huh, Zein. Gimana nih?" Viola tambah panik.


"Kak Viola tenang aja." Zein yang tadinya panik, tiba-tiba bersikap santai.


Sedangkan Viola, terus menancapkan gasnya dan berusaha menghindar dari tembakan-tembakan itu.


DORR.. DORR.. DORR..


"ZEIN. GIMANA NIH?" Viola sangat panik.


"Balaslah, Kak." Ucap Zein dengan santainya. Dan Zein pun mencoba untuk mengambil sesuatu dikursi belakang.


"Nih, Kak." Sambungnya sambil memberikan pistol kepada Viola.


Viola mengambil pistol itu dari tangan Zein dengan tangan kanannya dan tangan kiri Viola masih menyetir. "Ayo kita mulai." Ucap Viola dengan menurunkan sedikit kaca mobilnya.


"Yey.. Ayo kita main." Ucap Zein dengan melakukan hal yang sama seperti Viola. Karena Zein pun bisa menggunakan pistol.


DORR.. DORR..


Tembakan berasal dari mobil yang ada dibelakang Viola dan Zein. Namun, Viola dengan lihainya bisa menghindari tembakan itu.

__ADS_1


DORR.. DORR.. DORR.. DORR.. DORR.. DORR.. DORR..


Viola dan Zein memberikan beberapa tembakan balik kepada mobil yang ada dibelakangnya. Tembakan mereka mengenai kaca mobil dan ban mobil. Sehingga mobil itu terjadi kecelakaan.


"It's so easy." Ucap Zein sambil kembali ke tempat duduknya dan meniup ujung pistolnya.


"Kamu hebat juga iya." Ucap Viola dengan perasaan yang sedikit lega.


"Iyalah, Zein gitu loh." Ucap Zein dengan sombongnya. Viola yang mendengar perkataan Zein, hanya terkekeh.


Viola melanjutkan acara jalan-jalannya dengan Zein. Sampai dijalan yang lumayan sepi, mobil Viola dihadang dengan puluhan orang didepannya. Orang-orang itu memakai jubah berwarna hitam dan mendapat kilauan cahaya dari mobil yang ada dibelakangnya, sehingga mereka masih terlihat walaupun malam hari.


Viola langsung mengerem mobilnya. "Wah, kayaknya kita salah jalan Kak." Ucap Zein.


"Terus gimana? Keluar? Apa mundur?" Tanya Viola kepada Zein. Namun, mata Viola masih menatap kearah orang-orang itu yang ada tepat didepan mobilnya.


"Kalau kita mundur, berarti kita menyerah dong. Dikamus Zein itu nggak ada kata menyerah." Ucap Zein dengan tenang. Sedangkan Viola? menatap tajam kearah Zein yang duduk dengan santainya.


"Nih anak, yang ada dipikirannya apa sih? Keadaan genting kayak gini, masih aja bisa bersikap kayak gitu." Batin Viola.


Terlihat salah satu orang yang memakai jubah itu mendekati mobil Viola. Sesampainya disamping kaca mobil, orang itu langsung menodongkan pistol kearahnya.


"KELUAR." Teriak orang itu.


"Gimana Zein?" Tanya Viola dengan panik.


"Keluarlah, Kak. Nih ada pistol, katana sama belati. Kak Viola tinggal pakai aja." Ucap Zein sambil minum air mineral yang ada dimobil.


"Bocah ini pengin gue mati apa gimana? Tapi kan? Gue pernah diajarin sama Kak Will. Mungkin saatnya buat gue untuk gunain kemampuan gue. Tapi? Mereka terlalu banyak, mana bisa gue serang mereka sendirian." Batin Viola.


"Kak Viola ngapain bengong? Udah keluar aja. Nanti Zein bantu dari sini." Ucap Zein dengan memegang bahu Viola.


"KELUAR. KALAU LO MASIH MAU HIDUP." Teriak orang berjubah itu.


"Siap." Ucap Zein dengan semangat.


Viola mulai membuka pintu mobilnya. Viola berusaha bersikap datar saat keluar dari mobil. Orang yang berjubah tadi sepertinya terkejut, karena bukan William yang ada dimobil itu, melainkan seorang wanita cantik yang menggunakan dress berwarna biru tua, yaitu Viola. Orang berjubah itu langsung menurunkan pistolnya.


"LO SIAPA?" Teriak orang berjubah itu.


"Lo mau apa?" Bukannya menjawab pertanyaan dari orang berjubah itu, Viola malah berbalik nanya kepadanya.


"DIMANA KING LIDO?" Tanya orang berjubah itu. King Lido adalah nama samaran William.


"Nggak ada." Ucap Viola dengan ketus.


"JANGAN BOHONG. DIMANA DIA?" Orang itu menodongkan pistol kearah Viola.


"Cih, King Lido bukan seorang yang pengecut kali. Mana mungkin dia sembunyi disini." Ucap Viola dengan ketus.


DORR.. DORR.. DORR..


Tiga tembakan dilayangkan Zein dari dalam mobil. Sehingga orang yang menodongkan pistol kearah Viola tadi, mati seketika karena tembakan Zein tepat sasaran.


"Aduh Zein, Zein. Nih bocah malah memulai peperangan." Batin Viola.


"Yey.. Dia tumbang juga. Makanya jangan berani-berani menaikkan pistol kearah Kak Violanya Zein." Teriak Zein dari dalam mobil.


Orang-orang berjubah yang tadinya diam, langsung mengeluarkan senjata mereka saat melihat salah satu anggotanya mati dihadapan mereka.


"SERANG.."


"Serang ajalah." Viola berlari menyerang puluhan orang-orang berjubah itu.

__ADS_1


Tetapi belum ada satu menit, ada dua orang yang langsung turun tangan membantu Viola. Karena Viola sangat fokus dengan perkelahiannya, Dia tidak sadar bahwa sudah ada dua orang yang membantunya. Sedangkan Zein? Masih menembak dari kaca mobil.


DORR.. DORR... DORR.. DORR..


SREK..


DORR..


PLAK..


SREK..


DORR.. DORR.. DORR..


10 menit berlalu. Akhirnya semua orang yang berjubah itu sudah tumbang ditangan Viola dan kedua orang yang membantunya.


Setelah peperangan selesai, mata Viola langsung tertuju kepada sosok laki-laki yang berjalan menuju kearahnya. Orang itu memakai jubah berwarna hitam dan ada tulisan Leader Black WV Diamond Bloods disana.


"Kamu nggak pa-pa?" Tanya Leader Black WV Diamond Bloods itu yang tidak lain adalah William. William ingin memegang pipi Viola, tetapi Viola langsung memeluk William dengan erat.


"Kak Will telat." Viola menangis dipelukan William. Entah kenapa, Viola selalu luluh dipelukan William.


"Maafin Kak Will, Vi." William melepas pelukan Viola dan langsung membawa Viola kedalam mobil.


Setelah William dan Viola duduk dikursi belakang, Hendrik langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Yah, William dan Hendrik yang membantu Viola tadi.


Setelah peperangan, Hendrik langsung berjalan kearah mobil untuk mengetahui keadaan Zein. Makanya dia menduduki kursi kemudi.


"Gimana aksi Zein?" Tanya Zein dengan sombongnya.


"Hmm, nggak terlalu buruk." Ucap William dengan melepas jubahnya.


"Bilang aja hebat atau bagus gitu, Kak. Biar Zein seneng." Ucap Zein dengan cemberut.


"Aksi Zein hebat banget kok. Kak Viola aja nggak percaya, kalau Zein bisa lakuin itu." Ucap Viola dengan tersenyum.


"Nah, ini baru Kakaknya Zein." Senyuman mengembang dibibir mungil Zein.


"Dasar Bocil." Cibir Hendrik sambil menyetir mobil.


"Biarin. Wlee.." Zein menjulurkan lidahnya kearah Hendrik.


.


🌺🌺🌺🌺🌺


William dan Hendrik membawa Viola dan Zein ke Apartemen milik William. Sebenarnya, William mengajak Viola dan Zein kembali ke Mansionnya. Tetapi Viola menolak, karena sekarang dressnya penuh dengan darah.


Di Apartemen William. Ada 2 kamar disana. Zein terlihat lelah, dia pun langsung merebahkan badannya keatas ranjang disalah satu kamar.


Berbeda dengan Hendrik, William dan Viola. Mereka memilih untuk mandi, karena tubuh mereka dipenuhi dengan darah. William mandi di kamar mandi, kamar utama. Viola mandi di kamar mandi, yang sekamar dengan Zein tidur. Sedangkan Hendrik, mandi di kamar mandi dekat dapur.


10 menit berlalu. William dan Hendrik sudah selesai mandi. Kini William dan Hendrik sedang duduk di sofa depan tv.


20 menit berlalu. "Viola lama banget mandinya. Kan gue udah lapar." Gerutu Hendrik.


"Lo tadi udah makan malam. Dan ini baru jam sebelas, masa Lo udah lapar lagi?" Ucap William.


"Tadi kan habis buang tenaga. Jadi energi yang masuk waktu makan malam, udah kebuang deh. Makanya gue lapar lagi."


"Terserah Lo."


"Ini Viola mandi apa tidur sih?"

__ADS_1


__ADS_2