
~"Nggak usah membela diri. Kamu itu udah salah, diam aja."~
.
.
.
.
.
"Cerita atau hukuman?"
Amarah Viola langsung sirna setelah mendengar pilihan yang dilontarkan William. "Kak, maafin Viola iya. Viola nggak hubungi Kak Will saat ada pemberontak. Viola malah turun tangan sendiri. Viola juga melanggar perintah Kak Will." Ucap Viola dengan lirih dan menunduk.
"Lepas jaketmu!" Perintah William yang langsung dilakukan oleh Viola. Viola melepas jaket milik Hendrik yang dia pakai, karena tadi dia akan bertemu dengan Papa Satria.
William melihat luka-luka goresan dilengan Viola. "Maaf, Kak." Lirih Viola. Dengan cepat, William langsung memeluk Viola.
"Kak Will itu nggak mau kalau kamu sampai terluka. Apalagi sampai kayak gini. Ini nggak cuma sekali atau dua kali sayatan Belati, Viola. Kak Will nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa."
"Iya Maaf, Kak. Habisnya Viola..."
"Nggak usah membela diri. Kamu itu udah salah, diam aja."
.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Di Kamar Thalia dan Thalita.
"Akhirnya kita bisa tinggal disini. Yah walaupun cuma sementara." Ucap Thalita.
"Nggak, kita nggak akan tinggal disini sementara. Kita akan tinggal disini, selama yang kita mau. Karena, sebentar lagi puncak permainannya akan dimulai." Ucap Thalia sambil menyeringai.
"Kak, tapi apa Kakak yakin kalau rencana ini bakal berhasil?"
"Kamu nggak usah khawatir. Karena permainan ini bukan hanya Kakak yang rencanain, tapi ada mereka yang bantu Kakak."
"Emang iya sih, mereka bantu Kakak. Tapi, apa Kakak yakin kalau kita bisa mempercayai mereka?"
"Kakak nggak peduli mereka akan berkhianat atau tidak. Yang terpenting, Kakak bisa mengawetkan mayat William dan menjadikan mayat itu hiasan di kamar rahasia kita. Serta semua aset milik William, menjadi milik kita berdua."
"Iya terserah Kakak. Yang terpenting aku bisa kuasai perusahaan milik William yaitu W'L Company."
__ADS_1
"Kamu tenang aja. W'L Company akan segera berada dibawah kekuasaan kita." Ucap Thalia dengan penuh percaya diri.
.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Pukul 22.00 di ruangan pribadi William.
"Lo heran nggak sih? Kalau ada konspirasi dibalik semua ini? Tiba-tiba ada pemberontak yang menyerang Mansion? Disusul Dua Cabe itu tinggal disini. Apa Lo nggak heran?" Tanya Hendrik sambil memicingkan matanya seperti orang yang sedang mengintrogasi penjahat.
"Gue kan udah nyuruh Lo buat selidiki mereka berdua." Ucap William dengan memberi tatapan tajam kepada Hendrik.
"Gu-gue lupa. Tapi, gue udah suruh beberapa Mafioso untuk jadi mata-mata disekitar Mansion Dua Cabe itu." Ucap Hendrik dengan sedikit gugup.
BRAK
"Bodoh. Lo nggak akan nemuin apa-apa disana. Ayolah, pakai otak Lo." William mengebrak meja yang ada didepannya.
"Oh iya, konspirasi nggak ada terjadi di Mansion mereka. Karena itu Mansion milik Orang tuanya. Otomatis, mereka nggak akan berani berulah kalau di Mansion Orang tuanya. Jadi, kemungkinan besar mereka berdua punya markas rahasia." Ucap Hendrik sambil berusaha untuk tenang.
"Apa Lo udah suruh Mafioso buat mata-matain mereka di luar Mansion?"
"Udah, tapi mereka hanya pergi ke Kantor Orang tuanya, ke Kafe, ke Mall, ke Salon terus ke Club. Udah, cuma 5 tempat itu yang mereka datangi setiap hari." Kini Hendrik telah bersikap seperti biasanya.
"Suruh dua Mafioso berjaga-jaga di Club itu. Sambil cari informasi sedetail-detailnya tentang mereka berdua." Ucap William.
"Ngapain Lo nyuruh-nyuruh gue? Dan iya, Viola juga butuh istirahat, ngapain Lo suruh dia kesini?"
"Lah Lo nggak kasih gue istirahat sekarang. Kan gue juga ikut lawan pemberontak itu tadi siang. Kenapa Lo malah ajak gue kesini?"
"Lo itu Laki tau. Istirahatnya nanti aja. Kalau urusan kita udah kelar."
"Oke kalau gitu. Terserah Lo Tuan William Leonardo yang terhormat. Tapi, kalau Lo mau mengungkap siapa dibalik pemberontakan tadi siang, hanya Viola yang tau."
"Dasar bodoh Lo. Viola udah kasih tau semuanya ke gue."
"Eh Gunung Es, kenapa Lo nggak bilang dari tadi. Kan kita bisa langsung ke intinya aja. Biar gue bisa tidur cepet."
"Dia adalah orang dari masa lalu Viola. Gue yakin, dia kembali untuk mengambil Viola dari gue."
"Sebentar. Maksud Lo Zoni bukan sih? Kan dia yang terobsesi banget sama Viola dulu."
"Iya betul."
"Kalau itu bukan masalah besar. Gue udah pernah lawan anak buahnya. Mereka nggak ada apa-apanya sama sekali. Gue aja bisa lawan dua puluh lima anak buahnya tanpa senjata dulu. Hama kecil, nggak usah dipikirkan."
__ADS_1
"Lo jangan meremehkan dia, sekarang. Karena dia datang tidak sendirian dan dia balas dendam bukan hanya dengan sebuah permainan. Pasti dia udah merencanakan semuanya secara matang." Ucap William dengan datar dan menatap lurus kearah dinding.
Sedangkan Hendrik, dengan susah payah menelan ludahnya karena melihat ekspresi William.
"Iya udah sana. Lo tidur." Ucap William sambil berjalan meninggalkan Hendrik yang masih diam tak berkata sedikit pun.
.
πππππ
"HELLO EVERYBODY ZEIN YANG GANTENG INI DATANG. RED KARPETNYA MANA." Teriak menggelegar Zein menganggu William, Hendrik, Viola, Dita, Thalia dan Thalita yang sedang sarapan.
Viola yang mendengar suara Zein pun langsung berlari menghampirinya. Sedangkan yang lain, masih duduk menikmati sarapan mereka.
"Hai, Zein." Sapa Viola yang langsung mendapat pelukan hangat dari Zein.
"Zein kangen sama Kak Viola." Ucap Zein.
"Kak Viola juga kangen sama Zein." Viola melepas pelukan Zein dan langsung mengajak Zein ke meja makan.
"HALLO SEMUA." Teriak Zein untuk menyapa semua orang yang ada di meja makan.
"Hai Zein ganteng. Kamu masih kecil aja udah ganteng banget." Puji Thalita.
"Iya, apalagi kalau besar nanti. Pasti sebelas dua belas lah sama Kak William." Sahut Thalia.
"Iya-iyalah mirip. Orang mereka adik kakak. Pengin gue bunuh mereka sekarang, terus jantungnya gue masak dan kasih ke Kucing pinggir jalan. Muak banget lihat mereka." Batin Hendrik.
Memang, Hendrik sedang tidak pengin berdebat sama Zein. Karena Hendrik memilih untuk diam dan mengintai gerak-gerik Thalia dan Thalita.
"Dari tatapan Hendrik. Dia nggak suka sama Thalia dan Thalita. Ah, nggak ada urusannya juga sama gue." Batin Dita.
"Kak Viola, kenapa Kakak-kakak itu ada disini?" Tanya Zein yang sudah duduk dipangkuan Viola.
"Oh mereka disuruh Papa buat tinggal disini sementara." Ucap Viola.
"Oh gitu. Jadi makin banyak dong yang main sama Zein. Kan Zein juga disuruh tinggal disini sementara. Soalnya Mama sama Papa ada urusan bisnis di Luar Negeri." Ucap Zein.
"Pantesan kamu kesini dianter supir. Kamu udah sarapan belum? Kak Viola masak nasi goreng spesial loh."
"Wah Zein mau nasi goreng."
"Iya-iya, ini Kak Viola suapi." Viola menyuapi Zein dengan telaten.
Tatapan sinis Thalia dan Thalita terlihat oleh mata Hendrik. Tatapan mereka melihat kedekatan Viola dan Zein seperti tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Aku pergi dulu." Ucap William sambil menghadap kearah Viola dan mencium kening Viola. Viola hanya mematung atas perlakuan William yang secara tiba-tiba menciumnya. Sedangkan William sudah melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Sial pemandangan macam apa ini? Pagi-pagi udah bikin gue emosi." Batin Thalia.