Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-042~


__ADS_3

“Pasti, Kek. Dia adalah bidadariku.” Ucap William dengan bangga.


.


.


.


.


.


Hiasan bunga bertebaran diseluruh Mansion William. Bahkan, lantainya pun diberi karpet merah dan hiasan-hiasan lain yang terkesan mewah dan megah. Terlihat, pelaminan telah siap sedia dihiasi dengan bunga-bunga yang akan ditempati sepasang pasutri yang akan resmi menjadi suami dan istri itu untuk ijab dan kabul.


Iya, sebulan berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari dimana William akan mengucapkan ijab dan kabul. Sebelum Viola menyetujui permintaan William untuk menikahinya, Viola terlebih dahulu ingin mengetahui keberadaan orang tuanya. Dan seminggu sebelum acara, William telah menceritakan sebagian masa lalu Viola. Itulah yang membuat Viola yakin untuk menikah dengan William.


William dengan tampan berjalan menggandeng Viola menuruni tangga. Viola tampak sangat cantik menggunakan Baju Pengantin berwarna putih dengan riasan make up yang tidak terlalu tebal dan terkesan natural yang membuat aura bidadarinya keluar dengan sempurna.


Gaun yang indah, mengembang seperti Putri kerajaan dengan gaun yang menjuntai panjang kebelakang. Dan hiasan rambut yang simpel dan elegan namun sangat pas dengan bentuk wajah Viola, sehingga membuat aura nya semakin terpancar.


Senyuman Viola mengembang sempurna, saat dia menuruni anak tangga bersama William yang setia menggandeng tangannya. William memasang muka datar sedikit mengembangkan senyuman tipis, sehingga tidak menyurutkan ketampanannya.


Kini, William dan Viola telah duduk dikursi pelaminan. Disaksikan oleh Orang tua William, Zein, Dita, Hendrik, seluruh kolega bisnisnya dan bisnis orang tua nya, serta semua Dokter dan perawat yang telah menjadi saksi pertunangannya bersama Viola di Rumah Sakit dan yang pasti tidak lupa yaitu Keluarga Tuan Andika, sahabat Papa Satria. Dan tidak lupa, sebagian Mafioso William yang menyamar dan harus menjaga acara pernikahan Leadernya dengan ketat.


Penghulu mulai membacakan Ijab Kabul agar diikuti oleh William.


"SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ENGKAU SAUDARA WILLIAM LEORNARDO BIN SATRIA LEONARDO DENGAN VIOLA QUEENY BISMAWIRA BINTI ALMARHUM TYO BISMAWIRA DENGAN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT, EMAS 100 GRAM, 2 SET BERLIAN MURNI, 2 HELIKOPTER PRIBADI, 2 MOBIL MAYBACH EXELERO, 2 HOTEL DI BALI, 2 PULAU PRIBADI, DAN UANG 2 TRILIUN DIBAYAR TUNAAIII." Penghulu merasa kehabisan nafas saat membacanya.


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA VIOLA QUEENY BISMAWIRA BINTI ALMARHUM TYO BISMAWIRA DENGAN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT, EMAS 100 GRAM, 2 SET BERLIAN MURNI, 2 HELIKOPTER PRIBADI, 2 MOBIL MAYBACH EXELERO, 2 HOTEL DI BALI, 2 PULAU PRIBADI DAN UANG 2 TRILIUN DIBAYAR TUNAAIII." Ucap William dengan lancar, tegas dan dengan satu tarikan nafas.


Semua orang terkejut mendengar mahar yang diberikan William kepada Viola. Sangat fantastis bukan?


Tapi bagi William, itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangannya dulu untuk tidak berpisah dengan Viola.


Disisi lain, Viola juga tidak menyangka dengan mahar yang diberikan oleh William. Rasanya dia ingin pingsan ditempat, tapi dia urungkan rasa ingin pingsannya.


"Apa benar itu tadi mahar pernikahannya? Mahar sebanyak itu untuk apa?" Batin Viola.


Setelah ijab dan kabul berakhir, kini waktunya untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai di altar pelaminan. Satu persatu orang yang datang, memberikan ucapan selamat kepada William dan Viola.


“Selamat sayang, akhirnya kalian menikah juga.” Ucap Momy Zaskia dengan tersenyum bahagia dan memeluk William dan Viola.

__ADS_1


“Selamat buat kalian berdua, Papa sama Momy enggak mau kasih hadiah pernikahan apa-apa. Soalnya semuanya sudah bisa kalian beli sendiri.” Ucap Papa Satria sambil terkekeh.


“Terimakasih Momy, Papa.” Ucap Viola.


“Seenggaknya kasih pistol terbaru dong, Pa.” Ucap William.


“Ya ampun, kamu kan bisa beli sendiri Will. Bahkan kalau mau beli seribu juga bisa.” Cibir Papa Satria.


“Kan kesannya beda kalau dibelikan.” Cibir William.


“Belikan saja, Pa. Biar kita cepat dikasih cucu.” Ucap Momy Zaskia yang berhasil membuat Viola malu.


“Yaudah, besok seperangkat senjata terbaru seribu pieces Papa kirim ke Markas.” Ucap Papa Satria.


“Thanks, Pa.” Ucap William dengan memeluk Papa Satria. Sedangkan Momy Zaskia dan Viola hanya tersenyum melihat tingkah William yang seperti anak kecil itu.


Setelah Momy dan Papa William, kini gantian Hendrik dan Dita yang mengucapkan selamat kepada William dan Viola.


“Selamat, Tuan Muda William yang Terhormat. Jangan lupa live malam pertama.” Cibir Hendrik sambil memeluk William. Seketika itu, William langsung memukul Hendrik dengan perlahan.


“Selamat Viola, akhirnya kamu menikah juga.” Ucap Dita sambil memeluk Viola.


“Bacot itu mulut, cepet menyusul.” Ucap William.


“Iya, cepat menyusul. Dita jangan digantung terus.” Cibir Viola dengan terkekeh. Sedangkan Dita, malah tersenyum malu.


Melihat wajah Hendrik yang tertekan dengan cibiran istrinya, William pun ikut tersenyum simpul. Sedangkan Hendrik, langsung turun dari altar meninggalkan Dita, setelah mendapat cibiran dari pasutri baru itu.


“KAK WILL, KAK VIOLAAA.” Zein berlari menuju altar disaksikan banyak orang, karena suaranya yang sangat menggelegar.


“Ya ampun, Zein. Hati-hati.” Ucap Viola sambil dipeluk oleh Zein.


Zein memberikan kode kepada William, kalau semuanya telah siap. Seketika itu, William pergi meninggalkan Viola bersama Zein di altar.


“William mau kemana ya.” Batin Viola.


Tiba-tiba semua lampu dimatikan, ruangan yang tadinya terang dengan gemerlap lampu yang sangat indah, tiba-tiba gelap seketika. Namun, sebuah lampu menyorot kearah pintu. Terlihat William berdiri dibelakang seseorang yang menggunakan kursi roda.


“Cucuku sangat cantikk...”


“Pasti, Kek. Dia adalah bidadariku.” Ucap William dengan bangga.

__ADS_1


William mulai mendorong kursi roda itu menuju ke altar. Disaksikan oleh semua orang yang ada disana. Viola yang masih belum ingat sepenuhnya, terlihat sangat bingung dengan seseorang yang dibawa oleh William kearahnya.


“Cucuku, aku ingin memelukmu.” Viola menurut saja dengan perkataannya. Viola merasakan kenyamanan saat dipeluk oleh beliau.


Setelah merasa puas memeluk cucunya, beliau melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Viola. “Aku Fernandes, Sayang. Aku kakekmu.” Ucap beliau, yang ternyata adalah kakek Fernandes yang selama ini menghilang entah kemana selama beberapa tahun.


Viola tampak kebingungan dengan apa yang terjadi didepannya. Viola menatap lekat Kakek Fernandes yang tersenyum menahan air matanya. Namun, tatapannya kini berpindah kearah William yang tengah berdiri dibelakang Kakek Fernandes, seakan membutuhkan jawaban dari apa yang terjadi. Sedangkan William mengangguk tersenyum melihat Viola bisa bertemu dengan Kakek Fernandes.


“Kakekku?” Tanya Viola yang masih kebingungan.


Kakek Fernandes langsung mengangguk cepat mendengar ucapan Viola.


DORR...


Satu tembakan tepat mengenai bahu Viola.


“VIOLAAA..........” Sebagian orang histeris mencari tempat yang aman karena selama acara berlangsung, tidak boleh ada yang meninggalkan acara pernikahan. Sedangkan Hendrik dan para Mafioso langsung mencari pelaku yang melakukan penembakan.


“CIH BERANI SEKALI DIA..”


William langsung memeluk Viola yang tubuhnya terhuyung ke belakang dengan merintih kesakitan.


“Permainan akan dimulai, Baby. Hari pernikahanmu, akan menjadi hari terakhirmu untuk bahagia di dunia ini.” Ucap seseorang dari kejauhan.


William langsung membawa Viola ke kamar terdekat, beruntung banyak Dokter yang di undang di acara pernikahannya, sehingga dia tidak perlu menunggu lama agar Viola diobati. Sedangkan Kakek Fernandes, dibantu Dita dan Zein untuk menyusul William.


“Viola Sayang, kamu disini dulu ya. Aku harus menyelesaikan semuanya.” Ucap William sambil menatap Viola dengan penuh kasih sayang.


“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku disini. Tetaplah disini, William.” Ucap Viola yang menahan rasa sakitnya. Namun air matanya tidak bisa tertahan untuk tidak keluar.


William mencium kening Viola. “Aku harus menyelesaikan semuanya, agar kita bisa hidup bahagia Sayang. Aku janji, aku akan segera kembali kesini.” Setelah mengatakan hal itu, rela tidak rela akhirnya Viola mengizinkan William keluar.


William memohon restu kepada Kakek Fernandes, “Kakek, saya titip Viola ya.” Ucap William.


“Pasti, Will. Kamu tenang saja. Dan yakinlah dengan kata hatimu, lawanmu kali ini cukup berbahaya. Kakek hanya berpesan, jangan tertipu dengan wajah-wajah semua orang diluar. Ingat, hanya orang tuamu dan Hendrik yang berhak untuk dipertahankan.” Ucapan Kakek Fernandes mendapat anggukan dari William. Setelah itu, William keluar dari kamar meninggalkan Viola, Kakek Fernandes, Dita, Zein dan beberapa Dokter disana.


“Hendrik bisa jaga dirinya sendiri, Gue yakin dia pasti bisa.” Batin William.


Keadaan diluar sangat tidak kondusif, beberapa orang menangis dan ketakutan. William langsung mengambil alih dari atas pelaminan. “SEMUANYA TENANG, YANG MASIH INGIN HIDUP. SILAHKAN NAIK KE LANTAI DUA.” Teriak William.


Semua orang berbondong-bondong naik ke lantai dua.

__ADS_1


__ADS_2