
~"Nggak pa-pa. Aku cuma khawatir kamu kenapa-kenapa."~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
"Aawww..."
"Eh, maaf. Gue nggak sengaja." Ucap Viola yang tidak sengaja menabrak seseorang.
"Nggak pa-pa."
"DITA." Teriak Viola.
"VIOLA." Dita adalah sahabat Viola pada masa kuliah.
Mereka pun berpelukan.
"Ya ampun Vi, gue itu udah cari Lo kemana-mana tau nggak." Gerutu Dita.
"Maaf, Dit. Setelah Papa gue meninggal, gue pindah ke rumah Mama gue. Tapi baru beberapa hari di sana, Mama gue malah nyusul Papa gue. Hiks.. hiks... hiks.." Ucap Viola dengan menangis.
Dita langsung menarik Viola kedalam pelukannya. "Maaf Vi, gue nggak tau kalau Nyokap Lo meninggal. Dan maaf juga, gue nggak bisa datang ke pemakamannya." Ucap Dita yang meneteskan air matanya sambil mengelus punggung Viola.
"Iya nggak pa-pa, Dit. Lo kan nggak tau." Ucap Viola dengan melepas pelukan Dita.
"Lo tinggal dimana sekarang?" Tanya Dita.
"Gue tinggal di rumah seseorang, Dit. Rumah Mama gue udah gue jual."
"Loh kenapa?"
"Kalau diceritain bakal panjang. Sekarang gue harus pulang, Dit. Gue seneng bisa ketemu sama Lo disini. Semoga, kita bakal ketemu lagi iya."
"Pasti kita ketemu lagi, Vi."
"Gue ke kasir dulu iya. Bye, Dit."
"Bye, Vi."
Viola pergi ke kasir dengan 2 pengawalnya.
"Semuanya 500.000 Mbak." Ucap pegawai kasir.
"Oh oke." Ucap Viola yang mengambil beberapa uang cash ditasnya.
"Ini." Ucap salah satu pengawal yang dibelakang Viola. Pengawal itu memberikan black card ke pegawai kasir.
Setelah dibayar, Viola langsung pergi ke mobil. Didalam mobil...
"Ngapain belanjaan saya dibayar sama Bapak? Ini saya ganti uangnya." Ucap Viola sambil memberikan 5 lembar uang 100.000.
"Nggak usah, Non. Ini perintah dari Tuan Muda." Ucap salah satu pengawal.
Viola menarik uangnya kembali.
"Nanti gue harus bilang ke Kak Will." Batin Viola.
Sesampainya di Mansion Pribadinya William, Viola langsung melangkahkan kaki ke kamar William.
Tok... tok... tok..
"Kak Will." Panggil Viola.
Tok... tok... tok..
"KAK WILLIAM." Teriak Viola.
5 menit menunggu, tidak ada jawaban dari balik pintu kamar.
__ADS_1
"Apa Kak Will udah tidur? Masa jam segini udah tidur sih?" Tanya Viola ke dirinya sendiri.
"Iya udah deh, gue ke kamar aja." Sambungnya.
Saat Viola membalikkan badannya, tiba-tiba..
"Kak Will?" Viola terkejut melihat William berdiri dihadapannya dengan wajah datarnya.
"Ngapain?" Tanya William dengan ketus.
"I-tu Kak, Viola mau nanya ke Kak Will." Viola menunduk karena gugup.
"Apa?"
"Ngapain Kak Will suruh anak buah Kak Will buat bayarin belanjaan Viola? Viola kan punya uang sendiri. Viola juga nggak mau nyusahin Kak Will." Ucap Viola dengan hati-hati.
"Kalau kamu disini, semua kebutuhan kamu adalah tanggung jawabku." Ucap William yang langsung masuk ke kamarnya.
Viola langsung pergi ke kamarnya dengan wajah lesu.
.
🌻🌻🌻🌻🌻
Keesokan harinya terdengar tembakan dari luar. Saat William, Hendrik dan Viola sedang sarapan dimeja makan.
DORR.. DORR.. DORR..
"Shit, sial. Kenapa mereka bisa masuk?"
"Maaf, King. Sepertinya ada mata-mata disini. Soalnya, mereka tau kalau anak buah kita sebagian besar sudah pindah Markas." Ucap Hendrik dengan tertunduk.
Viola hanya terkejut mendengar beberapa tembakan dari luar Mansion.
"MUSNAHKAN SEMUANYA." Perintah William dengan amarah yang memuncak.
Hendrik langsung berlari ke luar Mansion, sedangkan William berusaha meredakan emosinya. Tiba-tiba dia melirik kearah Viola.
"Kamu nggak pa-pa?" Tanya William dengan lembut.
"Viola nggak pa-pa, Kak." Ucap Viola yang berusaha tenang.
William langsung berlari keluar Mansion.
"SHIT."
William langsung bertarung melawan para penyusup.
DORR.. DORR.. DORR..
Tiba-tiba terdengar tembakan dari dalam Mansion yang berada dilantai 2. Para penyusup yang melawan anak buah William pun langsung mati seketika karena tembakannya tepat di jantung.
William hanya kaget melihat itu, dan langsung mengeluarkan Katananya.
SREKK...
SREKK..
SREKK...
Kepala para penyusup yang bertarung dengan William langsung terpisah dari badannya.
Hendrik langsung menyeret satu orang penyusut ke dalam mobilnya.
"BERESKAN SEMUA." Perintah William dengan tegas ke anak buahnya.
William langsung berlari ke dalam Mansion dan langsung naik ke lantai dua.
"Viola." Panggil William yang melihat Viola yang berada diatas balkon lantai 2 sambil membawa pistol miliknya.
Viola langsung berlari kearah William dengan gugup.
"Kak Will. Maaf." Viola menunduk ketakutan saat mendapat tatapan dari William.
William langsung memeluk Viola. Viola pun kaget mendapat perlakuan seperti itu dari William.
"Kamu...." Ucap William sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Tadi Viola nggak sengaja nemuin pistol di laci meja yang ada di ruang tengah. Jadi Viola ambil deh. Soalnya Viola udah kangen pengin main dengan pistol." Ucap Viola dengan hati-hati.
"Kan aku udah bilang, kamu dimeja makan aja." Ucap William dengan lembut.
"Maaf, Kak. Maaf."
"Nggak pa-pa. Aku cuma khawatir kamu kenapa-kenapa."
"Maaf."
William langsung menarik Viola untuk duduk dibangku.
"Kamu belajar dari mana?" Tanya William yang tiba-tiba bersikap lembut kepadanya.
"Waktu aku umur 6 tahun aku diajari Kakek bela diri sampai aku lulus SD. Terus setelah itu, aku diajari menggunakan pistol sama Kakek." Ucap Viola dengan hati-hati.
"Hanya pistol?"
"Iya, Kakek hanya mengajariku cara menggunakan pistol dan menembak. Itu saja."
"Sepertinya kamu butuh banyak pelajaran." William tersenyum penuh arti sambil menatap Viola yang masih tertunduk.
"Hah? Pelajaran? Aku kan udah lulus kuliah. Masa dikasih pelajaran lagi?"
William tersenyum melihat tingkah Viola yang seperti anak kecil.
"Siapa Kakekmu?" Tanya William.
"Kenapa Kak Will nanya siapa Kakeknya Viola?" Tanya Viola dengan menatap mata William.
"Udah jawab aja."
"Nama Kakekku adalah Fernandes."
William terkejut mendengar nama Kakek Viola.
"Dimana dia sekarang?" Tanya William dengan rasa ingin tahunya.
"Kakek udah menghilang dari 3 tahun yang lalu. Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda keberadaannya." Ucap Viola yang meneteskan air mata.
William langsung memeluk Viola. "Aku akan bantu kamu mencarinya."
"Terimakasih." Ucap Viola yang mengeratkan pelukan William.
"Sial, kenapa informasi sepenting ini gue nggak tau? Awas aja Lo, Drik." Batin William.
.
🌟🌟🌟🌟🌟
BRAK..
Dengan kasar, William membanting pintu kamar Hendrik.
"Eh Curut lompat tinggi." Latah Hendrik yang kaget mendengar suara pintu yang cukup keras.
William menatap Hendrik dengan tatapan memastikan.
'Glek.' Dengan susah payah, Hendrik menelan ludah dengan kasar setelah melihat amarah William.
"Mampus gue, kalau sampai King Gunung Es ini ke kamar gue, pasti dia marah banget sama gue. Tapi karena apa?" Batin Hendrik.
"A-ada apa Will?" Tanya Hendrik dengan gemetar.
Tanpa berpikir panjang, William langsung menyeret Hendrik untuk pergi ke ruang pribadinya.
"Woy Will gue bisa jalan sendiri kali. Gue jangan diseret gini, kayak anak kucing tau nggak." Gerutu Hendrik, tapi tidak digubris oleh William.
BRAK..
William menendang pintu ruangan pribadinya. Dia langsung melempar Hendrik sampai dia terduduk dengan kasar diatas Sofa yang ada disana.
"Aduh badan gue, untung jatuhnya di Sofa yang empuk ini." Ucap Hendrik sambil meregangkan badannya.
William langsung duduk dikursi kebesarannya, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Setelah itu, William langsung melempar sebuah ponsel kearah Hendrik, dengan cepat Hendrik langsung menangkap ponsel itu.
"Nggak ada akhlak emang, kalau ponsel ini jatuh ke lantai, gue yang disalahin. Tapi, dia sendiri nggak kasih tau kalau mau lempar ponsel. Untung aja gue tangkap, kalau nggak, pasti gue yang disalahin. Emang, King Gunung Es selalu benar." Batin Hendrik.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya Hendrik dengan bodohnya.