Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-034~


__ADS_3

~William menutup pintu kamar Viola dan langsung menghampiri Viola. "Sayang." Suara lembut William membuat Viola berhenti menangis dan langsung memeluk William dengan erat.~


.


.


.


.


.


"Bukannya di Mansion ini dijaga dengan ketat, iya? Mustahil, kalau ada penyusup disini." Batin Thalita.


Seseorang yang Thalita lihat tadi, langsung menodongkan Katana dileher Thalita. "Dimana kamar Kekasihku?" Tanya orang berjubah itu.


"Dilantai paling atas. Disebelah kanan tangga." Ucap Thalita dengan santai. Karena dari suaranya, dia tau siapa yang telah menodongkan Katana dilehernya itu.


Seseorang yang berjubah tadi langsung naik ke melalui dinding, seperti Cicak yang menempel di dinding. "Bisa-bisanya orang itu naik lewat dinding." Gumam Thalita melihat orang itu naik tanpa ada keraguan.


Memang, orang itu naik dengan merangkak di dinding. Tetapi, dia dibantu kecanggihan sepatu dan sarung tangan yang telah dimodifikasi sendiri olehnya. Sehingga dia bisa menempel di dinding.


Sekarang, orang berjubah itu telah memasuki lantai paling atas Mansion. Sedangkan Thalita melanjutkan perjalanannya ke Taman dan tidak memperdulikan orang berjubah tadi.


.


🌹🌹🌹🌹🌹


Viola sedang duduk bersama Zein dan Dita di kamarnya, sambil menonton film "Let's Fight Ghost", drama Korea yang disukai Zein. Entah kenapa, Zein malah suka film horor, aksi dan komedi.


"Zein, kenapa kamu nggak nonton film kartun?" Tanya Dita sambil memasukan cemilan ke dalam mulutnya.


"Film kartun itu nggak nyata. Ngapain nonton boneka hidup." Ucap Zein dengan santainya sambil meminum Boba yang dia pesan sendiri tadi.


"Wah, biasanya kan anak seusia kamu sukanya nonton kartun." Ucap Dita.

__ADS_1


"Tapi Zein nggak suka kartun. Mending film horor atau film aksi, biar Zein bisa belajar banyak dari gerakannya."


"Emang, Zein nggak tau gerakannya kalau lihat hantu?" Canda Dita. Sedangkan Viola hanya terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dita.


Zein melempar keripik yang ada ditangannya kearah Dita. "Ih Kak Dita, nggak gitu. Zein itu belajar dari aksinya. Biar Zein bisa mengatur strategi buat menghadapi musuh begitu." Ucap Zein sambil mengambil keripik dari kemasannya lalu memasukkannya ke dalam mulut mungilnya.


"Iya iya, Zein. Kak Dita bercanda." Tawa Dita dibarengi dengan..


BRAK..


Pintu kamar Viola terbuka lebar. Menampakkan seseorang berjubah hitam, memakai sepatu hitam dan sarung tangan hitam.


Viola, Dita dan Zein langsung beranjak dari ranjang dan berdiri menghadap orang itu.


"SIAPA LO?" Teriak Viola.


Seseorang berjubah itu langsung masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu kamar Viola. "Kalian berdua pilih mati atau keluar?" Orang itu menunjuk Zein dan Dita secara bergantian dan memberikan pilihan untuk Zein dan Dita.


"Cih, PAMAN NGGAK TAU AKU SIAPA?" Teriak Zein yang terlihat tidak ada takut-takutnya sama sekali.


"Oh oke. Gue kasih waktu satu menit dari sekarang." Orang itu langsung mundur dan menyenderkan punggungnya ke dinding.


"Viola, Lo beneran mau ngobrol sama orang itu?" Tanya Dita yang terlihat khawatir.


"Mendingan kita bunuh aja sekalian, Kak. Ngapain Kak Viola harus ngobrol sama orang gila itu?" Ucap Zein yang telah mengambil ancang-ancang untuk mengambil senjata yang ada dilaci dekat ranjang Viola.


"Kalian mending keluar aja. Kak Will sebentar lagi pulang kok. Kalian nggak usah khawatir. Gue bisa jaga diri. Kalian sebisa mungkin menjauh dari sini." Ucap Viola meyakinkan Dita dan Zein untuk keluar.


"Tapi, Kak..."


Viola memegang bahu Zein sambil berjongkok. "Zein dengerin Kak Viola. Kak Viola nggak mau kenapa-napa, mendingan Zein telpon Kak William aja."


Dita dan Zein pun pasrah dan menuruti perkataan Viola untuk keluar dari kamarnya. Sekarang, tinggallah Viola dan seseorang yang berjubah tadi di kamar Viola.


Orang itu langsung melepas sarung tangan dan jubahnya. "ZONI?" Viola kaget, ternyata orang itu adalah Zoni. Seseorang yang pernah menyuliknya dan sangat terobsesi untuk memiliki Viola.

__ADS_1


"Hai, apa kabar kekasihku? Udah lama nggak berjumpa." Zoni mendekati Viola dan ingin menyentuh pipinya. Namun dengan sigap, Viola menepisnya.


"Gue nggak seperti Viola yang dulu. Jadi jangan kaget, kalau Lo bakal mati di sini." Ucap Viola dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Hahahaha... Gue ikhlas dan gue rela kalau gue mati ditangan Lo. Tapi bukan sekarang waktunya, Sayang." Sekarang Zoni berhasil menyentuh pipi kiri Viola.


"Cih, bahkan detik ini pun seharusnya Lo udah mati." Viola mengambil pistol yang ada dilaci, dekat tempat dia berdiri. Viola langsung menodongkan pistol ke arah Zoni.


"Oh santai dong, kita bermain dululah." Zoni malah berjalan mundur dan mengambil jubahnya kembali yang ada dilantai.


Bukannya langsung menembak Zoni, Viola malah menurunkan pistolnya. Karena Zoni mengucapkan sebuah kalimat yang membuatnya kaget. "Bukan gue yang fitnah bokap Lo. Tapi ada seseorang yang membayar gue." Ucap Zoni.


Viola langsung teringat dengan detik-detik kematian Papa tercintanya. "Si-siapa yang bayar Lo?" Tanya Viola dengan menahan air matanya untuk tidak turun dipipinya.


Zoni berjalan mendekati Viola yang masih diam dengan tatapan kosong. "Kalau Lo ingin tau, gue tunggu Lo di hutan barat. Lo harus datang sendiri dan tidak boleh ada pengawalan apapun. Karena Lo tau kan, kalau gue nggak akan sakiti Lo. Obsesi gue buat milikin Lo masih ada sampai sekarang." Ucap Zoni tepat ditelinga Viola. Viola tidak memberontak sama sekali.


Zoni berjalan mendekati pintu kamar sambil memakai jubah dan sarung tangannya lagi. "Gue harap, Lo mengerti semuanya." Ucapan terakhir Zoni, sebelum dia benar-benar pergi dari kamar Viola.


Viola langsung terduduk di lantai, kenangan akan Papanya langsung memenuhi otaknya. Amarahnya pun sudah tidak bisa dikendalikan lagi. "AAARRGGGHHH..." Viola melempar pistol yang dipegangnya tadi.


"Seharusnya gue bunuh Zoni tadi. Dia yang udah bunuh Mama gue. Seharusnya gue nggak diam aja tadi." Viola membanting semua yang ada didekatnya. Tangisannya pun pecah dan bercampur dengan amarah.


"AAARRGGGHHH... BODOH..." Teriak Viola sambil meratakan mejanya yang tadinya penuh dengan skincare dan alat make up nya.


Setalah merasa lelah, Viola duduk disudut kamar sambil menangis dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya yang dia peluk.


Tiba-tiba William, Dita dan Zein datang ke kamar Viola yang sudah seperti kapal pecah. "Bawa Zein ke kamarnya." Perintah William kepada Dita. Dita pun langsung menuruti perintah yang diucapkan William.


William menutup pintu kamar Viola dan langsung menghampiri Viola. "Sayang." Suara lembut William membuat Viola berhenti menangis dan langsung memeluk William dengan erat.


"Siapa dia?" Tanya William yang masih berusaha menenangkan Viola yang berada di pelukannya.


"Zo-Zoni." Ucap Viola dengan lirih. Seketika itu, rahang William mengeras karena menahan amarah.


"Berani-beraninya dia membuat Kekasih seperti ini. Gue pastikan, Lo nggak akan bisa melihat dunia lagi, Zoni." Batin William.

__ADS_1


__ADS_2