
~Mama yang tenang disana. Viola sangat menyayangi kamu, Ma.~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
Viola membuka matanya dengan berat, karena sinar matahari tembus sampai ke kamarnya yang berada dilantai 3. William sengaja menyuruh Viola untuk tidur dikamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
Viola langsung mandi dan bersiap-siap. Hari ini dia akan memakamkan jenazah Mamanya.
Saat Viola berjalan keluar kamar, dia berpapasan dengan William. Akhirnya mereka turun bersama untuk sarapan.
Terlihat Hendrik sudah menunggu William dan Viola dimeja makan dengan wajah yang ditekuk.
"Kalian ini lama banget, gue udah nunggu dari setengah jam yang lalu disini." Gerutu Hendrik.
"Lo kepagian." Ucap William dengan datar.
"Silahkan dinikmati Tuan Muda." Ucap Bibi Lina menyiapkan makanannya William.
"Hm."
Hendrik, William dan Viola sarapan dengan tenang.
"Hendrik, Lo ikut nggak?" Tanya Viola dengan hati-hati. Hendrik pun langsung melirik kearah William yang masih sarapan dengan tenang.
"Maaf, Vi. Gue nggak bisa ikut, soalnya gue ada kerjaan penting yang nggak bisa dibatalin." Ucap Hendrik.
"Iya udah deh, nggak pa-pa." Ucap Viola yang tersenyum kecut.
"Gue turut berduka cita atas meninggalnya Nyokap Lo iya." Ucap Hendrik dengan tersenyum.
"Iya, makasih." Viola pun membalas senyuman Hendrik.
"Ehem.." Deheman William membuat Hendrik dan Viola menjadi gugup.
"Ayo." Ajak William yang sudah selesai sarapan.
"Iya." Ucap Viola.
"Hendrik, kita duluan." Sambungnya.
"Iya, hati-hati."
William dan Viola berjalan menuju mobil William. William membukakan pintu mobil untuk Viola.
"Makasih." Ucap Viola.
"Hm."
"Dingin banget sih. Kayaknya, besok gue harus pakai jaket biar nggak kedinginan." Batin Viola.
Didalam mobil mereka hanya terdiam.
30 menit kemudian.
Semuanya telah disiapkan oleh anak buah William. Viola tinggal memakamkan jenazah Mamanya.
Ditempat pemakaman.
"Mama yang tenang disana. Viola sangat menyayangi Mama. Maafin Viola Ma, kalau selama ini Viola belum bisa bahagiain Mama. Maaf Ma, hiks... hiks.. hiks..." Tangis Viola sambil memegang batu nisan dibawah nama Mamanya.
"Mama..." Rintih Viola.
William yang tadinya berdiri, dia ikut berjongkok dan langsung memeluk Viola. Viola hanya pasrah dan membalas pelukan William. Karena dia benar-benar membutuhkan sandaran.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, Viola dan William pulang ke Mansion Pribadinya William.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Viola langsung pergi ke kamarnya.
Viola berbaring diatas kasur.
"Mama, Viola kangen sama Mama. Viola kangen. Hiks... hiks.. hiks.." Viola menangis sampai dia tertidur.
Pukul 15.00 William masuk ke kamar Viola yang tidak terkunci. Dia membawa makanan untuk Viola. Terlihat Mata Viola nampak sembab dalam tidurnya.
William mengelus pipi Viola.
"Aku sedih lihat kamu kayak gini Bidadari Kecilku. Aku akan berusaha membuatmu bahagia disampingku. Aku mencintaimu." Ucap William sambil mencium kening Viola.
Viola yang merasa terganggu pun terbangun, dan melihat William yang tengah senyum menatapnya.
"Tampan." Rintih Viola yang belum sepenuhnya sadar. William hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Viola.
"KAK WILL." Pekik Viola yang langsung tersadar dan segera menyentuh pipi William.
"Ini beneran Tuan William?" Tanya Viola.
"Iya." Ucap William dengan datar, padahal dia menahan tawanya saat melihat tingkah Viola.
"KKYYYAAAA... NGAPAIN KAK WILLIAM KESINI?" Teriak Viola, William pun langsung menutup telinganya.
"Lo belum makan." Ucap William dengan datar.
"Nanti aja, aku belum lapar." Ucap Viola.
"Kamu harus makan, cepat." Ucap William dengan tegas. Dan membuat Viola gugup setengah mati.
"I-iya." Viola makan dengan gugup. Tatapan William tidak lepas dari Viola. William terus menatap Viola sampai Viola selesai makan.
"Udah habis." Ucap Viola.
William langsung pergi dari kamar Viola.
"Coba aja kalau Kak Will senyum tiap hari, pasti dia terlihat sangat tampan. Eh, walaupun dia nggak tersenyum tapi dia tampan juga sih." Gumam Viola.
Hari mulai malam, sekarang sudah pukul 18.30.
"Viola Lo nggak boleh sedih terus. Pasti Mama udah bahagia disana. Viola Lo kuat. Lo harus balas dendam atas kematian Mama Lo." Viola terus menyemangati dirinya sendiri.
Viola melihat bulan dari balik jendela kamarnya. Bulannya terlihat sangat indah, dengan sinar terangnya.
"I love you, Mom." Rintih Viola.
Setelah puas memandangi bulan, Viola langsung turun menuju dapur.
"Malam, Bi." Sapa Viola.
"Malam, Non." Ucap Bibi Lina yang sedang memasak.
"Bibi masak sendiri?" Tanya Viola.
"Iya, soalnya Tuan Muda selalu menyuruh Bibi masak sendiri. Katanya hanya makanan buatan Bibi saja yang pas dengan seleranya."
"Kalau boleh, Viola mau bantu Bibi memasak."
"Eh, jangan Non. Nanti Tuan Muda marah sama saya."
"Kalau Kak Will marah, biar Viola yang tangani. Viola boleh ikut memasak iya? Soalnya Viola udah kangen pengin masak." Mohon Viola.
"Baiklah, Non." Ucap Bibi Lina sambil tersenyum.
Viola dan Bibi Lina memasak bersama.
Pukul 19.00 makanan sudah siap dimeja makan.
Hendrik dan William berjalan menuju meja makan. Sedangkan Viola, sudah menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
"Silahkan dicoba, Tuan Muda." Ucap Bibi Lina sambil memberikan makanan dipiring William.
William pun mencoba makanan itu.
"Rasanya gimana, Tuan?" Tanya Bibi Lina dengan hati-hati. William pun langsung melepas sendok dan garpu yang ada dikedua tangannya sampai menimbulkan suara.
"Apa Kak Will nggak suka sama masakan gue?" Batin Viola.
"Lo kenapa, Will?" Tanya Hendrik.
"Nggak pa-pa."
"Ini masakan siapa?" Tanya William.
"I-tuu itu..." Bibi Lina sangat gugup untuk menjawabnya.
"Maaf, Kak. Itu masakannya Viola." Ucap Viola dengan tertunduk.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Hendrik pun tersedak mendengar ucapan Viola. Dia pun langsung minum air yang ada disampingnya.
"Besok Viola aja yang masak." Ucap William dengan datar dan langsung melanjutkan makan malamnya.
"Hah?" Viola belum mengerti dengan ucapan William. Sedangkan Bibi Lina hanya tersenyum mendengarnya.
"Masakan Lo enak banget, Vi. Gue kira Bibi Lina lagi coba-coba resep baru. Ternyata ini masakan Lo?" Hendrik pun menghujani pujian untuk Viola.
"Iya, itu masakan gue." Ucap Viola dengan tersenyum.
"Apa Kak Will suka sama masakan gue? Syukurlah kalau Kak Will suka." Batin Viola.
Setelah makan malam, mereka semua kembali ke kamar masing-masing.
Viola yang merasa bosan pun, langsung memberanikan diri untuk ke kamar William.
Tok.. tok.. tok..
"Ada apa?" Tanya William dengan membuka pintu kamarnya.
"Kak, Viola boleh ke Supermarket nggak? Ada beberapa barang yang perlu Viola beli." Ucap Viola dengan hati-hati.
"Boleh, kamu ajak supir sama beberapa pengawal." Ucap William dengan datar dan langsung menutup pintu kamarnya.
"Tap.." Ucapan Viola terputus karena ulah William.
"Berlebihan banget, kan gue cuma mau ke Supermarket. Gue juga nggak akan lama. Ngapain bawa pengawal segala sih." Gerutu Viola yang masih didepan kamar William.
Tiba-tiba pintu kamar William terbuka. Dan membuat Viola terkejut.
"Kalau nggak mau pergi sama pengawal, nggak usah pergi sekalian." Ucap William yang kembali menutup pintunya.
Viola masih terdiam melihat tingkah William.
.
💫💫💫💫💫
Dengan terpaksa, Viola pergi ke Supermarket dengan 2 pengawal.
Viola memilih beberapa cemilan dan minuman untuknya. Tiba-tiba..
"Aawww..."
"Eh, maaf. Gue nggak sengaja." Ucap Viola yang tidak sengaja menabrak seseorang.
"Nggak pa-pa."
"DITA." Teriak Viola.
"VIOLA." Dita adalah sahabat Viola pada masa kuliah.
Mereka pun berpelukan.
"Ya ampun Vi, gue itu udah cari Lo kemana-mana tau nggak." Gerutu Dita.
"Maaf, Dit. Setelah Papa gue meninggal, gue pindah ke rumah Mama gue. Tapi baru beberapa hari di sana, Mama gue malah nyusul Papa gue. Hiks.. hiks... hiks.." Ucap Viola dengan menangis.
__ADS_1