Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-039~


__ADS_3

"Kalau kamu nggak sadar-sadar, akan ku bawa Cabe dewasa kehadapanmu untuk bertunangan denganku." Ucap William tepat ditelinga Viola dengan nada bercanda.


.


.


.


.


.


"Sayang, bangun iya. Nanti aku akan ajak kamu kemana aja yang kamu mau. Asal kamu bangun sekarang juga." Ucap William sambil mencium tangan Viola.


Tiba-tiba. Pintu ruangan Viola terbuka dan menampakkan seseorang berbaju serba hitam dan memakai topeng masuk ke dalam ruangan Viola. "Dimana Zoni?"


William langsung berjalan mendekati orang itu dan mendekatkan mulutnya ke telinga seseorang yang bertopeng itu. "NERAKA." Ucap William dengan penuh penekanan, namun suaranya sangat pelan.


Setelah mengucapkan satu kata itu, William langsung mendorong orang yang memakai topeng itu sampai terpental keluar. Setelah itu, William mengunci ruangan Viola dan dia langsung berlari kearah Hendrik yang masih tidur di Sofa.


William mengambil air yang ada di meja dan menyiramkannya ke wajah Hendrik. Seketika itu, Hendrik terbangun dengan gelagapan karena disiram air oleh William. "Nggak ada otak. Gue kira banjir tadi, terus gue tenggelam." Ucap Hendrik dengan kesal karena dia jadi basah kuyup setelah diguyur air oleh William.


Bukannya minta maaf, William malah memasang buka datar dan memalingkan wajahnya dari Hendrik. "Satu jam dari sekarang, tangkap pria tadi." Ucap William dengan nada datarnya, sambil berjalan kembali kearah Viola.


"Hei, Lo gila iya? Gue aja baru bangun tidur tau. Udah Lo suruh nyari orang lagi. Orang yang mana? Perasaan dari tadi nggak ada orang disini, kecuali kita." Ucap Hendrik sambil menggerutu kesal atas perbuatan seenak jidatnya William sendiri.


William melihat kearah jam tangannya. "50 menit dari sekarang, kalau Lo masih sayang sama kesepuluh jari Lo." Ucap William dengan santainya.


Glek.. Hendrik yang tadinya menggerutu tidak jelas, langsung tak bisa berkata-kata apa-apa. Menelan ludahnya sendiri pun terasa berat. Hendrik melihat kesepuluh jarinya dan membayangkan jikalau William memotong semua jari-jarinya. Hendrik menggeleng dengan cepat dan dia langsung berlari keluar dari ruangan Viola untuk menjalankan perintah William.


.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Om, Tante kalau boleh tau, Viola ada di Apartemen mana? Soalnya saya pengin banget ketemu sama Viola." Tanya Dita yang menghampiri Papa Satria dan Momy Zaskia yang tengah bersantai menikmati senja diatap Mansion Pribadi William.


"Dita, sini duduk disamping Tante." Ucap Momy Zaskia yang langsung dituruti oleh Dita.


"Dita, kamu nggak usah khawatir. Dia ada di Apartemennya William. Dia pasti baik-baik kok. Tinggal menghitung hari kalau kamu pengin ketemu sama Viola." Sambung Momy Zaskia.


"Iya, Dita. Tinggal sebentar lagi kok, kalau kamu pengin ketemu sama Viola." Ucap Papa Satria yang mendukung ucapan Momy Zaskia.

__ADS_1


"Iya, Om, Tante. Dita akan coba menahan rasa rindu Dita pada Viola." Ucap Dita dengan senyuman terpaksa.


"Tapi kenapa gue selalu resah dan selalu kepikiran soal Viola." Batin Dita.


Momy Zaskia mengelus-elus rambut Dita. "Kamu nggak usah cemas gitu. Viola aman kok." Ucap Momy Zaskia dengan tersenyum tulus.


Tak terasa, saat melihat kearah Momy Zaskia, air mata Dita menetes. "Loh kamu kenapa? Kok nangis?" Tanya Momy Zaskia sambil menghapus air mata Dita.


"Nggak pa-pa Tante. Dita cuma kangen aja sama Mama." Ucap Dita.


Momy Zaskia langsung memeluk Dita dan dengan senang hati, Dita membalas pelukan Momy Zaskia. "Kamu boleh kok menganggap Tante sama Om itu orang tua kamu. Kami malah senang, bisa punya anak kayak kamu. Iya kan, Pa?"


"Iya, Ma." Ucap Papa Satria dengan tersenyum.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


50 menit kemudian, Hendrik memasuki ruangan Viola dengan rambut dan pakaiannya yang acak-acakan.


"Lapor, tersangka telah diamankan." Ucap Hendrik dengan formal dan bergaya seperti seorang polisi yang melaporkan tugasnnya kepada Komandannya.


"Ya elah, ini semua kan perintah Lo. Hampir aja orang itu mau mati tadi. Kalau gue nggak ingat pesan Lo, pasti udah gue tebas tuh kepalanya." Ucap Hendrik dengan menggerutu tidak jelas. Namun, dia tetap berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Bagus kalau Lo masih bisa kontrol emosi Lo. Karena, gue sendiri yang bakal turun tangan buat siksa dia." Ucap William dengan menyeringai seram.


Tatapan William kembali kearah wajah Viola yang terlihat pucat dan beberapa alat medis pun menutupi sebagian wajah cantiknya. "Kalau kamu nggak sadar-sadar, akan ku bawa Cabe dewasa kehadapanmu untuk bertunangan denganku." Ucap William tepat ditelinga Viola dengan nada bercanda.


Seketika itu, keajaiban datang tiba-tiba dan jari-jari Viola mulai bergerak. William tersenyum bahagia dan matanya berbinar-binar melihat jari Viola yang bergerak. Seketika itu, William menekan tombol yang ada didinding dekat ranjang Viola untuk memanggil Dokter.


.


Setelah 15 menit berlalu, Dokter telah selesai memeriksa Viola dan Viola telah kembali sadar sepenuhnya. Namun prediksi Dokter tidak meleset, benar adanya kalau Viola hilang ingatan. Tetapi kabar baiknya, ingatan kecil Viola masih ada.


"Sayang.." Ucap William dengan nada lembut sambil mengelus pipi Viola.


"Kamu siapa?" Ucap Viola dengan lemas.


"Aku William, Sayang. Kita sebentar lagi mau tunangan." Ucap William.


"William? Tunangan?" Viola memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. "Arrgh"

__ADS_1


"Udah sayang, jangan dipaksa dulu. Nanti kamu juga ingat kok. Sekarang kamu istirahat iya." William mencium kening Viola dengan perlahan. Sedangkan Viola, hanya terdiam menerima ciuman dari William.


.


🌻🌻🌻🌻🌻


Keesokan harinya, "HALLO EVERYBODY... ZEIN DATAAANNGGG.." Teriak Zein di Mansion Pribadi William.


Dita langsung berlari dari dapur untuk menemui Zein yang berteriak dari ruang tamu.


"Hay, Zein ganteng." Dita langsung mencubit pipi Zein.


"Aww.. Sakit, Kak." Zein memasang wajah imutnya..


"Hehehehe, maaf Zein. Oh iya, kamu dari mana? Ini masih pagi loh, kamu udah keluyuran aja."


"Zein tadi dari Supermarket, Kak. Zein pengin Es Cream soalnya." Ucap Zein dengan cengengesan.


"Loh, bukannya Es Cream di kulkas masih, Zein?"


"Ya ampun, Kak. Zein kan beli Es Cream sambil jalan pagi."


"Kok Kak Dita nggak diajak." Ucap Dita sambil berpura-pura kesal.


"Nggak mau. Soalnya Kak Dita bawel banget, nanti Kak Dita ceritaaaaa terus disepanjang jalan. Bikin telinga Zein panas. Kan masih ada pengawal buat jagain, Zein." Ucap Zein sambil mengeledek.


"ZEIINNN...." Ucap Dita yang pura-pura marah.


"Stop, Kak Dita jangan marah-marah. Soalnya Zein ada info penting." Ucap Zein dengan memasang wajah serius dan sedikit berbisik.


Dita pun jadi kepo dengan info yang akan dikasih tau Zein. "Apa?" Dita mendekatkan telinganya kearah Zein.


"10 menit dari sekarang. Bakal ada orang yang datang untuk mencari Kak William sama Kak Hendrik. Tapi bilang aja, kalau mereka berdua ke Luar Negeri. Biar nggak ada bencana yang datang." Ucap Zein tepat ditelinga Dita.


Dita seakan tidak percaya dengan ucapan Hendrik. Namun, dia hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan Zein. Setelah itu, Zein berlari menuju kamarnya. Sedangkan Dita, hanya bisa terdiam dan menatap Zein yang berlari.


10 menit kemudian...


Ada 2 orang yang datang ke Mansion Pribadi William...


Siapakah mereka?

__ADS_1


__ADS_2