Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-011~


__ADS_3

~"Mereka orang tua ku. Yang akan menjadi calon mertuamu." William tiba-tiba datang dengan membawa godaan untuk Viola.~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Flashback On.


"Will, gue suka sama seseorang."


"Siapa?"


"Eliva Bidadari Kampus itu loh."


"Oh."


"Respon Lo nggak banget deh. Seharusnya Lo itu kaget kek, atau bahagia gitu."


"Gue kasih saran ke Lo. Mendingan Lo buang rasa suka Lo ke dia. Dia nggak pantes buat Lo." William berjalan meninggalkan Stevan yang masih duduk di kantin Kampus sambil mencerna perkataan William.


Memang, William dan Stevan bersahabat sejak mereka memulai dunia perkuliahan.


.


3 hari kemudian. William mendapat sepucuk surat dari seseorang yang misterius. Surat itu berisikan:


Kalau Lo mau Stevan selamat, temui gue di Bar malam ini jam 21.00. Gue harap Lo kesana sendirian.


"Siapa yang berani mengancam gue?" Gerutu William sambil meremas surat tadi.


.


Malam harinya, William pergi ke Bar sendirian tanpa mengajak Stevan.


William duduk disalah satu bangku yang ada di Bar, sambil menunggu seseorang yang mengancamnya tadi.


"Hai. Akhirnya Lo datang juga." Ucap seorang wanita yang memegang bahu William, tetapi langsung ditepis oleh William. Wanita itu menggunakan baju berwarna merah menyala dan sangat kurang bahan. Make up yang tebal, setebal buku yang memiliki 1000 halaman. Bibirnya pun tidak kalah dari warna bajunya, sangat merah menggoda. Siapapun yang melihatnya, akan langsung tergoda dengan kecantikan dan keseksiannya. Namun itu tidak dengan William. William malah menatap wanita didepannya kini, dengan malas.


"Mau apa, Lo?" Tanya William dengan datar.

__ADS_1


"Jangan ketus gitu dong. Gue kan mau main disini sama Lo." Wanita itu bergelayut manja dilengan William. Namun, William langsung mendorong tubuh wanita itu dengan kasar tanpa memandang dia seorang wanita.


"William, kok Lo kasar banget sama gue." Wanita itu marah kepada William yang telah mendorongnya dengan kasar hingga dia hampir terjatuh.


"Itu belum seberapa buat jal*ng kayak Lo." William memberikan tatapan tajam kearah wanita itu.


'Glek' Dengan susah payah, wanita itu menelan ludahnya sendiri dengan kasar.


William mengambil minuman yang dia pesan tadi dan langsung meminumnya. William tidak tahu, bahwa minuman itu telah dicampur dengan obat tidur oleh wanita itu.


"Minumlah William, minum. Sebentar lagi Lo bakal jadi milik gue." Batin wanita itu.


5 menit setelah meminum minuman tadi, kepala William terasa berat dan dirinya juga sangat mengantuk.


"Sial, pasti jal*ng ini udah kasih obat tidur buat gue. Bego banget sih, kenapa juga gue minum tadi." Batin William.


Karena tubuhnya sudah agak lemas, William berusaha untuk keluar dari Bar. Namun naas, belum 5 langkah dari tempat duduknya, William sudah tergeletak dilantai.


Senyuman mengembang diwajah wanita itu, yang sedari tadi mengungkap agar William segera merasakan efek obatnya.


Wanita itu langsung menyuruh para bodyguardnya untuk membawa William ke kamar yang telah dia sewa di lantai 3 Bar.


William direbahkan diatas ranjang yang lumayan besar disebuah kamar. Wanita itu langsung mendekati tubuh William dan mencoba untuk berpura-pura bahwa dirinya lah yang sudah dinodai oleh William.


Tiba-tiba.. BRAK..


Rahang Stevan mengeras melihat Eliva yang menangis ketakutan dan William yang masih tertidur diatas ranjang dengan tenangnya. Padahal, Eliva sedang melakukan akting untuk menarik perhatian Stevan. Ini semua telah dia rencanakan, agar persahabatan Stevan dan William hancur. Dia juga menginginkan agar William merasa bersalah kepadanya dan menikahinya.


Stevan langsung mendekati Eliva yang menangis. "Lo tenang iya, ada gue disini."


"Gue takut, Van. Dia mencoba untuk melecehkan gue. Hiks.. hiks.. hiks.." Eliva memeluk Stevan dan mengeluarkan air mata palsunya.


Stevan langsung membawa Eliva pergi dari sana, meninggalkan William yang belum sadarkan diri.


"Gue bersumpah akan buat hidup Lo menderita, Will. Gue sekarang bukan sahabat Lo, tapi gue akan menjadi musuh terbesar Lo. Selama ini gue udah percaya sama Lo, tapi apa yang Lo lakuin? Lo rusak kepercayaan itu. Owh gue paham, Lo pernah kasih saran ke gue buat jauhi Eliva. Ternyata, Lo sendiri suka sama dia? Kenapa Lo nggak bilang? Kalau Lo bilang ke gue, hal ini nggak akan terjadi." Batin Stevan.


Semenjak saat itu, Stevan menghilang tanpa kabar. William juga sudah mengetahui apa yang terjadi dimalam itu. Ingin rasanya dia menceritakan yang sebenarnya kepada Stevan, tepi dia sudah pergi entah kemana.


Flashback Off.


.


💫💫💫💫💫


Hari ini weekend. William dan Viola hanya menonton tv di Mansion Pribadinya William.


Tiba-tiba pintu Mansion terbuka, dan suara seseorang menggelegar dipenjuru Mansion.

__ADS_1


"HALO EVERY BODY. I AM COME BACK NIH. MANA RED KARPETNYA. PANGERAN HENDRIK KEMBALI." Iya, Hendrik kembali ke Mansionnya William setelah selesai mengurus Tuan Fernandes.


"Hendrik, kemana aja Lo? Gue nggak pernah lihat Lo kesini?" Viola snagat penasaran kepada Hendrik. Karena sudah beberapa hari, Hendrik tidak berada di Mansion.


"Gu.. Gue disuruh nemenin Momy Zaskia. Soalnya, Papa Satria pergi ke luar kota." Hendrik mencoba untuk berbohong kepada Viola.


"Momy Zaskia? Papa Satria? Mereka siapa?"


"Mereka orang tua ku. Yang akan menjadi calon mertuamu." William tiba-tiba datang dengan membawa godaan untuk Viola.


"Apaan sih, Kak Will nggak usah bercanda deh." Viola tampak sangat malu dengan godaan William. Walaupun William sedang menggoda Viola, wajah datarnya tidak kunjung pudar dari wajahnya.


"Wait wait wait. Kalian pacaran?" Hendrik bertanya kepada Viola dan William. Yah memang, Hendrik telah move on dari Viola. Move on kok cepet banget? Iya, itulah Hendrik. Sangat cepat untuk move on, tapi sangat sulit untuk mencintai.


"Eng..Enggak kok, gue nggak pacaran sama Kak Will." Viola mulai gugup mendengar pertanyaan dari Hendrik.


"Tapi kenapa..." Ucapan Hendrik terhenti saat merdengar suara yang membuat gendang telinga pecah.


"HALO EVERY BODY. ZEIN YANG CUTE DAN IMUT INI DATANG. RED KARPETNYA MANA NIH? WOY, ZEIN GANTENG DATANG." Semua yang mendengar teriakan Zein pun langsung menutup telinga mereka.


"Kecil-kecil udah mau bikin gendang telinga gue pecah, gimana nanti kalau dewasa?" Batin Hendrik.


Zein masuk bersama Momy Zaskia menuju ke ruang tamu.


"Momy Zaskia." Hendrik mencoba untuk tersenyum kepada Momy Zaskia.


"Tumben senyum ke Momy? Mau minta apa?" Momy Zaskia seakan tahu sama pikirannya Hendrik.


"Momy Zaskia tahu aja kalau Hendrik mau minta.."


"Nikah." Celetuk William yang memotong omongan Hendrik.


"BUKAN ITU BEGO."


"Bego teriak bego. Cih."


Momy Zaskia sudah terbiasa dengan perdebatan kecil antara William dan Hendrik maupun Hendrik dan Zein.


"Heh, kamu diam aja." Zein memerintah Hendrik untuk diam. Dan Hendrik pun menurut. Entah ada angin apa, Hendrik tiba-tiba ogah berdebat dengan Zein. Padahal setiap ketemu, pasti ada aja yang diperdebatkan.


"Loh ini siapa?" Tanya Momy Zaskia yang baru menyadari keberadaan Viola disana. Momy Zaskia langsung menghampiri Viola dan duduk disebelahnya.


"Itu Kak Viola, Mom. Itu loh yang pernah Zein ceritain." Memang Zein pernah bercerita kepada Momy Zaskia saat Zein bermain di kolam bersama Viola dulu.


"Owh ini yang namanya Viola. Cantik iya?. Tapi kok, sepertinya namanya nggak asing buat Momy." Momy Zaskia merasa kalau dia pernah mendengar nama Viola sebelumnya.


"Gimana mau asing, kalau setiap minggu pasti William cerita ke Momy Zaskia soal Viola yang dari dulu dia cari. Bahkan kalau ke Hendrik malah setiap detik cerita tentang Viola dengan cerita dan alur yang sama. Hingga Hendrik hafal diluar kepala dengan ceritanya." Hendrik dengan spontan berbicara kepada Momy Zaskia mengenai apa yang dia rasakan. Hal itu langsung mendapat tatapan tajam dari William yang membuat bergidik ngeri. Sedangkan Viola malah tersipu malu mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2