Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-017~


__ADS_3

~Luar biasa. Memang karyamu selalu yang terbaik.~


.


.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷


Sekarang, wajah Viola dan William hanya berjarak satu sentimeter saja. Jantung Viola dan William pun berdetak dua kali lebih cepat. Bahkan, mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing.


"Viola, I love you." Bisik William yang langsung memeluk Viola. Viola hanya bisa terdiam tanpa berniat membalas pelukan William. Namun, Viola memejamkan matanya untuk mencium wangi parfum yang dia rindukan selama ini yaitu parfum milik William.


"Ehem..." Deheman seseorang mengganggu aktivitas Viola dan William.


Tetapi, hanya Viola yang kaget dan berusaha melepas pelukan William. Beda dengan William yang terus memeluk Viola tanpa berniat untuk melepasnya.


"Ehemm.. ehem.."


William terganggu dengan deheman seseorang. Dia pun melepas pelukannya dan berbalik badan.


William mendapat jeweran telinga dari orang itu. "Enak iya? Bukannya siap-siap malah peluk-pelukan di dapur. Kayak nggak ada tempat lain aja. Bawa ke balkon atau ke kamar gitu biar nggak ada yang lihat." Ucap Momy Zaskia. Yah, orang yang mengganggu aktivitas William dan Viola tadi adalah Momy Zaskia.


"Aww.. sakit, Mom. Lepasin." Rintih William karena telinganya terasa sakit. Sedangkan Viola dan Momy Zaskia terkekeh melihat William yang kesakitan. Tetapi, Momy Zaskia merasa tidka tega dengan William. Akhirnya dia melepas jewerannya.


William menggandeng tangan Viola dan pergi meninggalkan Momy Zaskia di dapur. Viola hanya menurut tanpa pemberontakan.


"MAU KEMANA?" Teriak Momy Zaskia.


"KATANYA NGGAK BOLEH DI DAPUR. MAKANYA WILLIAM BAWA KE KAMAR AJA." Teriak William. Momy Zaskia yang mendengarnya hanya terkekeh dengan tingkah anaknya itu.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sesampainya di kamar yang telah William siapkan, Viola langsung melepaskan tangannya dari genggaman William. "Ngapain Kak Will bawa Viola kesini? Viola belum selesai masak." Ucap Viola dengan ketus sambil melangkah kaki keluar. Namun dengan cepat, William mencegahnya dengan menggenggam tangan Viola.


"Kak Will, lepasin nggak." Berontak Viola. Namun, tidak dihiraukan oleh William.


"KALIAN, KELUAR." Teriak William. Seketika ada dua orang perempuan keluar dari kamar mandi yang ada di kamar itu. Viola sedikit terkejut dengan kemunculan mereka.


"Rias kekasihku ini. Saya mau penampilannya yang elegan, namun tetap mewah." Ucap William dengan ketus kepada dua perempuan tadi.


"Kekasih?" Batin Viola.


"Baik Tuan. Tuan tenang saja. Tuan pasti akan kagum melihat karya saya nanti." Ucap salah satu perempuan itu yang bernama Sis Ricka, penata rias dan kostum keluarga Leonardo.


"Oke, selama ini keluarga Leonardo tidak pernah kecewa dengan hasil karyamu. Jadi, saya percaya sepenuhnya." William masih dengan mode datar dna ketusnya.


"Baik, Tuan. Beres pokoknya."

__ADS_1


"Kalau gitu, saya keluar dulu." William mengecup kening Viola. Karena Viola masih bingung dengan apa yang terjadi, jadi dia menerima kecupan William tanpa memberontak. Setelah itu, William meninggalkan Viola, Sis Ricka dan asistennya di kamar itu.


Sis Ricka mendudukkan Viola didepan meja rias. "Saya mau diapakan ini?" Tanya Viola.


"Nona nggak perlu khawatir. Nona hanya perlu diam aja disini." Ucap Sis Ricka.


Viola sudah pasrah mau diapakan aja sama Sis Ricka dan asistennya.


15 menit kemudian.



Viola memakai dress selutut berwarna Biru Tua yang sangat pas dengan lekuk tubuhnya.


"Ngapain sih, saya harus pakai dress ini? Pakai makeup segala lagi?" Gerutu Viola.


"Nona, nanti kan ada acara makan malam. Tuan William memerintahkan saya untuk mendandani Nona." Ucap Sis Ricka.


"Memangnya harus sampai seperti ini? Menurutku ini sangat berlebihan."


"Nggak kok, Non. Nona terlihat sangat cantik." Puji Sis Ricka.


"Masa sih? Saya merasa biasa aja."


Tiba-tiba tanpa mengetuk pintu, William masuk di kamar itu. Matanya langsung terpaku dengan kecantikan Viola. Viola terlihat sangat cantik, sehingga kata-kata kiasan pun tak bisa menggambarkan kecantikannya.


"Gimana Tuan William?" Tanya Sis Ricka.


"Luar biasa. Memang karyamu selalu yang terbaik." Puji William tanpa mengalihkan pandangannya dari Viola.


"Baik, Tuan." Sis Ricka dan asistennya pergi dari kamar itu. Sekarang, tinggallah William dan Viola didalam.


"Cantik." William berjalan mendekati Viola. Dengan refleks, Viola malah melangkahkan kakinya mundur dengan perlahan. Saat ingin menyentuh dinding, tangan William langsung menghalanginya.


"Bahkan dinding pun nggak boleh menyentuh milikku." Ucap William yang sekarang berhadapan dengan Viola. Detak jantung Viola mulai tak karuhan, karena wajah William berada sangat dekat dengan wajahnya.


William mendekatkan wajahnya. Dekat, semakin dekat, semakin dekat dan.. Viola mendorong tubuh William sampai William berjarak dua kaki dari Viola.


"Maaf, Kak." Viola berjalan meninggalkan William sendirian. Sedangkan William, berusaha mengontrol dirinya agar amarahnya tidak memuncak.


Setelah mulai mereda, William langsung berlari mengejar Viola. Akhirnya William bisa menggenggam tangan Viola. "Bersikaplah seperti sepasang kekasih." Bisik William.


"Tidak mau." Tolak Viola sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman William.


"Aku mohon, Vi. Kalau nggak, Papa bakal kenalin aku sama anak temannya." Ucap William.


"I...i-tuu masalah Kakak." Dengan kasar, Viola berhasil melepas tangannya dari genggaman William. Dan langsung pergi menuju ke lantai satu. Sedangkan William? Dia berjalan mengikuti Viola.


.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sesampainya di ruang tamu, Viola menyapa Papa Satria, Momy Zaskia, Hendrik dan Zein yang sudah duduk disana.


"Malam, Pa, Mom, Drik, Zein." Sapa Viola.

__ADS_1


"Malam."


"Wah, Kak Viola terlihat sangat cantik malam ini." Puji Zein.


"Benarkah? Hehe.. Terimakasih." Viola tersenyum dengan tulus.


"Iya, Nak. Malam ini kamu terlihat sangat cantik. Iya nggak, Mas?" Tanya Momy Zaskia.


"Iya." Ucap Papa Satria.


"Terimakasih, Pa, Ma." Viola terus mengembangkan senyuman manisnya.


Tiba-tiba William datang dan langsung menutupi mulut Viola. "Jangan senyum terus. Senyumanmu itu milikku." Bisik William ditelinga Viola. Sedangkan Viola langsung menepis tangan William dari mulutnya.


"King Gunung Es dan King Posesifnya udah datang nih." Cibir Hendrik yang langsung mendapat tatapan tajam dari William.


Satu orang pengawal masuk kedalam Mansion. "Tuan dan Nyonya Besar, mereka sudah sampai." Ucapnya.


"Baiklah. Antarkan mereka semua ke mari." Ucap Papa Satria.


5 menit kemudian. Ada empat orang memasuki Mansion William. Terlihat sepasang suami istri sedang bergandengan tangan dan putri-putri mereka mengikutinya dari belakang.


"Selamat datang, Tuan Andika sekeluarga." Papa Satria langsung memeluk temannya, Andika Ariyan.


"Terimakasih, atas undangan makan malamnya." Ucap Tuan Andika sambil melepas pelukan Papa Satria.


"Perkenalkan, ini istriku Nita dan kedua putri kami, Thalia dan Thalita." Sambungnya. Thania dan Thalita memakai dress berwarna merah.




"Cabe, kayak warna dress mereka." Batin Viola.


"Salam kenal, Jeng. Saya Zaskia, istrinya Tuan Satria." Momy Zaskia dan istrinya Tuan Andika bercipika-cipiki.


"Iya, Jeng."


Sedangkan kedua putri Tuan Andika langsung mencuri-curi pandang dengan William yang memasang muka datarnya. Sedangkan Viola mulai risih dan panas melihat kedua putri Tuan Andika yang terus melirik kearah William. Hendrik gimana? Hendrik yang menyadari kecemburuan Viola pun hanya bisa menahan tawanya didalam hati.


"Kayaknya kalau ada perang antara ketiga cewek ini bakal seru nih. Nanti gue videoin mereka, terus gue upload di media sosial, terus viral. Terus gue jadi terkenal. Eh, tapi kan mereka yang gue videoin. Pasti mereka yang terkenal, dan gue nggak dong. Berarti kalau gitu, nggak jadi gue videoin deh." Batin Hendrik.


"Oh iya. Perkenalkan ini putra-putra kami, William, Hendrik dan Zein." Ucap Papa Satria sambil menunjuk William, Zein dan Hendrik satu persatu.


"Kalau gadis itu?" Tanya Tuan Andika sambil menunjuk kearah Viola.


"Dia Ke.." Ucap William.


"Saya Sekretaris Pribadinya Pak William." Viola memotong ucapan William dan langsung mendapat tatapan tajam dari William. Bukan hanya dari William, Viola juga mendapatkan tatapan penuh tanya dari Momy Zaskia, Papa Satria, Zein dan Hendrik.


"Saya kira calon istrinya William. Karena dia terlihat sangat cantik. Dan sangat serasi jika disandingkan dengan William." Puji Istri Tuan Andika dan langsung mendapat senggolan lengan dari suaminya.


"Hmm, kalau gitu. Mari kita makan malam dulu. Soalnya, ini sudah terlewat jam makan malam." Ucap Papa Satria.


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2