Genggaman Mafia

Genggaman Mafia
~GM-040~


__ADS_3

"Viola, Sayang. Malam ini kita akan bertunangan." Ucap William dengan lembut sambil memainkan rambut Viola.


.


.


.


.


.


10 menit kemudian...


Ada 2 orang yang datang ke Mansion Pribadi William...


Siapakah mereka?


"Dimana Tuan William dan tangan kanannya?" Tanya salah satu pria yang memakai pakaian serba hitam itu.


"Kata Zein, gue harus bilang kalau mereka ada di Luar Negeri. Okame, baiklah." Batin Dita.


"Mereka di Luar Negeri." Dita berusaha bersikap datar untuk menyembunyikan kebohongannya.


Tanpa basa-basi, 2 pria tadi langsung pergi setelah Dita berkata seperti itu. Namun, sesampainya mobil mereka didepan gerbang Mansion terdengar suara tembakan yang mengenai kaca Mansion Pribadi William.


DORRR


DORRR


Seketika itu, para mafioso yang menjaga Mansion William langsung menembak ban mobil kedua pria tadi. Tapi sialnya, kedua pria tadi bisa kabur.


Sedangkan Dita? Dia hanya menatap kejadian tersebut dari pintu Mansion. "Setelah gue tinggal disini, gue makin terbiasa dengan suara tembakan." Ucap Dita yang langsung berjalan kedalam Mansion untuk menemui Zein.


Zein terlihat sedang asik minum Jus Jeruk di balkon Mansion. "Dasar lemah." Cibir Zein sambil melihat apa yang terjadi di gerbang Mansion.


"ZEEIINNN.... ZEEIINNN...." Teriak Dita sambil memanggil Zein.


"APA, KAKK??" Tanya Zein sambil melihat Dita yang terlihat kecapean karena harus naik ke balkon.


"Huh... Siapa mereka?" Tanya Dita sambil berjalan mendekati Zein dan meminum paksa minuman Zein.


"Mereka cuma serangga kecil pengganggu. HAHAHAHAA..." Ucap Zein sambil tertawa terbahak-bahak tidak jelas.

__ADS_1


Sedangkan Dita, hanya menatap Zein dengan heran. "Ini anak manusia apa anak Iblis?" Batin Dita.


.


🌹🌹🌹🌹🌹


Seperti yang dikatakan William sebelumnya, bahwa dia akan bertunangan dengan Viola saat Viola tersadar dari koma. Dan ini lah waktunya.


"Viola, Sayang. Malam ini kita akan bertunangan." Ucap William dengan lembut sambil memainkan rambut Viola.


Viola hanya terdiam, karena dia benar-benar lupa siapa dirinya dan siapa orang yang ada dihadapannya sekarang. Tapi, ingatan kecilnya sebagian ada yang ingat. Namun, hanya sebatas nama bukan rupa dari seseorang yang memiliki nama itu.


Lima menit kemudian, Hendrik masuk ke ruangan Viola. Hendrik membawa dua buah cincin berlian yang sangat cantik dan harganya pasti sangat mahal.



"William, ini cincin yang Lo pesan. Dan ya, 30 menit lagi Momy, Zein sama Dita sampai." Ucap Hendrik sambil memberikan cincin itu kepada William.


1 jam yang lalu, memang William berubah pikiran. William memberitahu semua yang terjadi kepada Papa Satria dan Momy Zaskia. Dan tak lupa juga, niatnya untuk langsung bertunangan dengan Viola.


Awalnya, Papa Satria ingin sekali melihat pertunangan anaknya dengan Viola. Tapi, Papa Satria mendadak harus pergi ke Luar Negeri untuk menjalankan bisnisnya.


30 menit kemudian, mereka semua sampai. Dita dan Momy Zaskia langsung memeluk Viola sambil menangis.


"Viola, Lo jahat banget. Kok Lo gak kasih tau gue sih, kalau Lo dirawat di Rumah Sakit." Tangisan Dita pecah, karena dia merasa gagal sebagai sahabat Viola.


Sedangkan Viola hanya terdiam dan menatap heran ke semua orang yang ada disana.


Karena merasa ucapannya tidak direspon oleh Viola, Dita langsung melepas pelukannya. "Lo gak kangen sama gue?" Tanya Dita sambil menatap mata Viola.


Mulut Viola terasa berat ingin berbicara, karena dia tidak tau harus berkata apa.


"Dita, Viola hilang ingatan sementara. Berdoa saja, semoga Viola segera kembali ingat sama kita." Ucap Momy Zaskia.


Seketika itu, tangisan Dita kembali pecah. Dia langsung memeluk Viola kembali. "Viola, ini gue Dita sahabat Lo." Ucap Dita sambil melepas pelukannya.


Viola hanya tersenyum, tanpa berkata apapun.


"Sudah-sudah, pertunangan akan dimulai." Ucap William dengan datar karena dia sudah tidak tahan dengan semua orang yang ada disini. Dia hanya ingin berduaan bersama Viola.


Zein yang tadinya diam, tiba-tiba mencibir Kakaknya sendiri. "Cih, bilang aja pengin cepet-cepet berduaan sama Kak Viola." Ucap Zein sambil berjalan dengan santai mendekati Viola.


Sedangkan Hendrik, dengan berusaha keras menahan tawanya. Karena hanya Zein lah, William merasa terpojokkan.

__ADS_1


"Hai, Kak Viola. Kenalin aku Zein, adiknya Kak William yang Bucin itu." Ucap Zein sambil mengulurkan tangannya ke arah Viola. Sedangkan William, dia sudah naik pitam gara-gara ejekan Zein tadi. Tapi, William berusaha menahannya karena Zein kan adiknya sendiri.


"Awas aja bocah kecil, gak akan aku kasih Pulau Pribadi yang kamu inginkan." Batin William.


Viola menerima uluran tangan Zein sambil tersenyum. "Hai, Zein ganteng." Ucap Viola yang membuat Zein tersipu malu.


"Aku memang ganteng, Kak. Jadi gak usah diperjelas." Ucap Zein yang membuat keadaan sedih tadi berubah menjadi tawa.


.


Setelah semuanya siap, William sekarang sudah memakai Jas dan Viola juga dibantu memakai Dress yang telah disiapkan William sebelumnya.


Walaupun Viola hanya bisa sambil duduk, tapi William tidak mau jika pertunangannya dengan Viola terkesan sederhana. William memanggil semua staf dan Dokter di Rumah Sakit itu. Mereka semua menjadi saksi cinta antara William dan Viola.


Viola hanya terdiam dan menuruti semua perkataan William.


"Entah kenapa, hati gue berkata kalau semua ini benar adanya. Dan pria yang sekarang akan bertunangan dengan gue adalah pria yang gue cintai." Batin Viola.


Di ruangan VVIP Rumah Sakit yang sangat luas itu, keluarga William, sahabat Dita, dan semua Dokter serta Staf Rumah Sakit akan menjadi saksi pertunangan William dan Viola.


Setelah bertukar cincin, semua orang yang ada disana bertepuk tangan dengan meriah. Karena di ruangan tersebut kedap suara.


William langsung mencium tangan Viola dan juga kening Viola. Sedangkan Viola, hanya tersenyum bahagia dan menyambut ciuman William dengan senang hati.


"TERIMAKASIH ATAS KEDATANGANNYA. UNTUK PERNIKAHAN KAMI, AKAN DILAKSANAKAN SATU BULAN DARI SEKARANG. DAN SEMUA YANG ADA DISINI SAYA UNDANG. " Ucap William dengan berwibawa.


"SILAKAN MENINGGALKAN TEMPAT INI, DAN AMBILLAH SOUVENIR KALIAN." Lanjut William.


Memang William telah menyuruh Hendrik untuk membuat Souvenir pertunangannya dan Viola.


Souvenirnya berupa cek sebesar 50 juta, Emas Murni 50 gram, Tiket liburan 5 hari ke Paris yang jadwalnya bisa mereka sesuaikan sendiri komplit beserta hotel, konsumsi dan fasilitas-fasilitas lain yang mungkin akan dibutuhkan di Paris nanti.


.


Sekarang, hanya tinggal Viola dan William di dalam ruangan. Tadinya Dita, Zein dan Momy Zaskia kekeh ingin menunggu dan menemani Viola, tapi mereka dibujuk Hendrik untuk pulang agar mereka bisa istirahat. Akhirnya mereka mau pulang juga.


Dengan ragu, Viola bertanya kepada William. "William, dimana orang tua ku?"


Disisi lain, William sedikit kecewa karena Viola lupa dengan panggilan Kak Will nya. Namun sekarang, William bingung harus mulai menjawab pertanyaan Viola dari mana.


"Sayang, kamu istirahat dulu ya. Kalau kamu sudah pulang ke rumah, nanti aku ceritakan semuanya ke kamu." Ucap William sambil tersenyum dan memegang tangan Viola.


Viola hanya mengangguk dan menuruti perkataan William.

__ADS_1


__ADS_2