
~"Iya memang Kak Will udah biasa, Vi." Batin William.~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
Hari yang ditunggu Viola tiba. Hari ini dia akan belajar beberapa senjata dengan William di Taman Belakang Mansionnya.
William mengajarkan cara menggunakan Katana, Belati dan Pedang. William juga mengajarkan beberapa jenis bela diri kepada Viola.
5 jam kemudian.
"Udah, Kak. Viola capek." Viola terengah-engah selesai berlatih dengan William.
"Iya udah, untuk hari ini kita cukupkan." Ucap William yang mendapat anggukan dari Viola.
"Kok Kak Will nggak kelihatan capek sih?"
"Iya memang Kak Will udah biasa, Vi." Batin William.
"Kak Will capek kok." William pura-pura kecapekan dan pura-pura mengusap keringat dikeningnya.
"Kak makan yuk. Viola lapar."
"Iya udah, ayo." Namun tiba-tiba ponsel William berbunyi.
Ddrrttt... Ddrrttt... Ddrrttt...
"Sebentar, Kak Will angkat dulu." Ucap William dengan sedikit menjauh dari Viola.
Call On.
"Apa?" William langsung to the point.
"Gue udah nemuin keberadaannya Tuan Fernandes."
"Dimana?"
"Markas penyiksaan Mafia Blood Tiger."
"Sial. Apa dia masih hidup?"
"Kemungkinan besar masih hidup, soalnya Tuan Fernandes masih bungkam akan suatu hal yang membuat Leader Blood Tiger enggan untuk membunuhnya."
"Hm. Siapkan pasukan sekarang!!!"
"Heh yang bener aja? Kita bakal serang mereka?"
"Lo pikir?"
"Lo tau nggak? Kalau Mafia Blood Tiger bekerja sama dengan Lion Devil?"
"Cih, Lo kemana aja? Leader Lion Devil udah di NERAKA sekarang."
"Yang bener Lo? Kok gue nggak tau?"
"Hm."
"Apa jangan-jangan, Lo yang bunuh dia?"
"Lo nggak salah."
"Sial Lo. Nggak ngajak-ngajak gue. Gue kan udah dari dulu pengin bunuh Edo. Kenapa Lo nggak ajak gue?"
Tut.. Tut.. Tut.. William langsung mematikan telponnya secara sepihak. Karena dia tidak ingin mendengar ocehan Hendrik terlalu lama. Iya, Hendrik adalah orang yang menelpon William tadi.
__ADS_1
Call Off.
.
🌟🌟🌟🌟🌟
Malam harinya, William tengah bersiap untuk menyerang Markas Blood Tiger.
William menjalankan mobilnya menuju Markas besar miliknya, Black WV Diamond Bloods.
Sesampainya di Markas utama Black WV Diamond Bloods, William langsung disambut Hendrik dan 1000 Mafiosonya.
"TUJUAN KITA MENYELAMATKAN TUAN FERNANDES. JADI, APAPUN RINTANGANNYA KITA MUSNAHKAN SEMUA. PAHAM?" Teriak William kepada para Mafiosonya.
"PAHAM, KING." Para Mafioso menjawab dengan tegas dan lantang.
William langsung memakai topeng dan jubah kebesarannya. Tak lupa, Hendrik dan para Mafioso juga melakukan hal yang sama.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di depan Markas Blood Tiger. William dan Hendrik mencoba untuk mencari celah agar bisa memasuki Markas dengan mudah tanpa harus perang. Karena mereka ingin berperang, saat Tuan Fernandes sudah berada didalam perlindungannya.
"Lo bermainlah dengan para Mafioso didepan itu."
"Baik, King." Hendrik langsung mencopot jubah dan topengnya. Namun, dia langsung memakai kacamata hitam yang dia bawa.
Hendrik langsung menghampiri para Mafioso yang berada didepan gerbang. Sesampainya disana, Hendrik langsung dihadapkan dengan pistol milik para Mafioso.
"Maaf, Om. Saya mau tanya." Hendrik mencoba untuk mengalihkan pandangan para Mafioso dengan berakting seperti orang buta yang tidak tau jalan.
"Tanya apa?" Salah satu Mafioso mulai mendekati Hendrik.
"Rumahnya Kakek saya dimana iya?"
"Saya lupa."
"Nama Kakeknya sendiri aja lupa, apalagi nama pasangannya." Cibir salah satu Mafioso.
"Sial. Gue kan masih jomblo. Tapi gue nggak suka dihina, awas aja Lo. Lo bakal jadi orang pertama yang merasakan Belati baru gue." Batin Hendrik.
"Hehehe.." Hendrik mencoba untuk tertawa.
Sedari tadi William mencoba untuk memasuki Mansion. Namun gagal terus. Tetapi, kesempatan selanjutnya dia bisa masuk ke Mansion yang dijadikan Markas oleh Mafia Blood Tiger.
William berjalan dengan waspada dan hati-hati. Setiap dia melihat CCTV, pasti dia tembak dengan pistol tanpa suara miliknya.
Hati William langsung senang saat melihat tulisan ruang penyiksaan di Markas itu. Dengan hati-hati William mencoba untuk memasuki ruangan itu.
"Cih mudah sekali." Cibir William saat bisa memasuki ruangan itu.
Namun, dirinya langsung kaget mendapati Tuan Fernandes sedang tertidur penuh darah diatas ranjang ruangan itu. Kedua kaki dan tangannya diikat dengan rantai yang cukup besar.
PROK.. PROK.. PROK.. PROK.. PROK..
"Wah, King Mafia datang kesini? Ada apa ini?" Tanya Stevan, Leader Blood Tiger yang baru masuk ke dalam ruangan penyiksaan. Sedangkan William masih terdiam dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Sepertinya gue nggak perlu repot-repot buat bawa Lo kesini. Karena sekarang, Lo datang kesini sendiri." Stevan menyeringai dengan puas melihat keberadaan William di ruang penyiksaannya.
William langsung memencet benda pipih didalam jubahnya. Alat itu untuk memberitahu kepada para Mafiosonya untuk menyerang Markas Blood Tiger.
"Oh Leader Blood Tiger." William tersenyum devil sambil melihat kearah Stevan.
"Sepertinya Lo udah nggak sabar buat memulai permainan."
"Oh tentu saja."
"Gue nggak akan takut sama Lo. Walaupun Lo adalah Leader Mafia yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Mafia gue."
"Owh, Lo mengakui kalau Lo dibawah gue."
__ADS_1
"SIAL. AWAS AJA LO." Stevan langsung memulai perkelahian dengan William.
Stevan tampak begitu agresif dalam pertarungan, sedangkan William terlihat sangat tenang.
SREK..
PLAK..
BUGH..
BUGH...
PLAK...
Stevan jatuh ke lantai dengan darah yang terus mengalir di wajahnya. "SIAL. GUE AKAN BUNUH LO."
"Lebih tepatnya, gue yang akan bunuh Lo." Senyuman William terlihat sangat mengerikan.
DORR.. DORR.. DORR..
William terdiam membeku. Melihat apa yang terjadi dihadapannya.
"Aarrgghhh..." Teriak kesakitan mulai menjalar ditubuh Stevan. Iya, Stevan mendapat tembakan dari Hendrik yang baru saja masuk ke ruang penyiksaan.
DORR.. DORR..
"Maaf, tadi meleset." Hendrik kembali menembak Stevan tepat di jantungnya.
"SIAL, KENAPA LO BUNUH DIA?" Amarah William memuncak hingga membuat Hendrik tertunduk ketakutan.
"Ma..Maaf, King."
"MAAF, MAAF. Gue kan belum main sama dia. Gue belum puas lihat dia menderita."
"Gue kira, dia nggak tega kalau sahabatnya. Ops, maksudnya mantan sahabatnya gue bunuh. Ternyata, astaga. Untung dia King. Kalau nggak, udah gue lempar ke kandang Singa dah tuh." Batin Hendrik.
"Nggak usah ngebatin. Bawa Tuan Fernandes ke Markas utama."
"Baik, King."
.
Flashback On.
"Will, gue suka sama seseorang."
"Siapa?"
"Eliva Bidadari Kampus itu loh."
"Oh."
"Respon Lo nggak banget deh. Seharusnya Lo itu kaget kek, atau bahagia gitu."
"Gue kasih saran ke Lo. Mendingan Lo buang rasa suka Lo ke dia. Dia nggak pantes buat Lo." William berjalan meninggalkan Stevan yang masih duduk di kantin Kampus sambil mencerna perkataan William.
Memang, William dan Stevan bersahabat sejak mereka memulai dunia perkuliahan.
.
3 hari kemudian. William mendapat sepucuk surat dari seseorang yang misterius. Surat itu berisikan:
Kalau Lo mau Stevan selamat, temui gue di Bar malam ini jam 21.00. Gue harap Lo kesana sendirian.
"Siapa yang berani mengancam gue?" Gerutu William sambil meremas surat tadi.
.
Malam harinya, William pergi ke Bar sendirian tanpa mengajak Stevan.
William duduk disalah satu bangku yang ada di Bar, sambil menunggu seseorang yang mengancamnya tadi.
"Hai. Akhirnya Lo datang juga." Ucap seorang wanita yang memegang bahu William, tetapi langsung ditepis oleh William. Wanita itu menggunakan baju berwarna merah menyala dan sangat kurang bahan. Make up yang tebal, setebal buku yang memiliki 1000 halaman. Bibirnya pun tidak kalah dari warna bajunya, sangat merah menggoda. Siapapun yang melihatnya, akan langsung tergoda dengan kecantikan dan keseksiannya. Namun itu tidak dengan William. William malah menatap wanita didepannya kini, dengan malas.
__ADS_1