
~Kalau udah jatuh cinta mah susah. Pasti Bucin terus. Makan aja pakai disuapi segala.~
.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷
Sekarang, William, Viola, Hendrik dan Zein sedang duduk di Sofa depan tv sambil menyantap makan malam yang dimasak oleh William.
"Ternyata, King bisa masak juga. Gue kira cuma bisa bantai doang." Ucap Hendrik dengan santainya sambil menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya. William hanya menghiraukan ucapan Hendrik yang tidak bermutu itu.
"Iya. Kak Will jago masak juga ternyata." Ucap Zein dengan melakukan aktivitas yang sama dengan Hendrik. William tersenyum tipis kearah Zein.
William baru saja ingin memakan masakannya. Tetapi, matanya menatap Viola yang sama sekali belum menyentuh makanannya.
"Kamu nggak suka?" Tanya William kepada Viola.
Viola menatap kearah William. "Tanganku gemetar."
William tersenyum tipis mendengar ucapan Viola. Setelah itu, William mengambil makanannya Viola dan William pun menyuapi Viola. Viola menerima dengan baik, suapan dari William.
"Ehem.. Kalau udah jatuh cinta mah susah. Pasti Bucin terus. Makan aja pakai disuapi segala." Cibir Hendrik yang melihat William menyuapi Viola.
"Kak Hendrik kalau iri bilang. Mau Zein suapi?" Pekik Zein yang mendapat kekehan kecil dari William dan Viola.
"Eh Bocil. Kadang kamu kan yang minta Viola buat suapi kamu. Masa iya? Seorang Hendrik yang ganteng ini disuapi anak kecil yang belum bisa makan sendiri."
"Enak aja. Zein bisa makan sendiri iya. Nih lihat, Zein bisa makan sendiri." Ucap Zein sambil menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya.
"Iya sekarang bisa sendiri. Tadi aja makan malam di Mansion, Zein suruh Viola buat suapi Zein."
"Terserah Zein dong. Kak Viola aja nggak marah kok, kenapa Kak Hendrik yang sewot sih."
"Eh Bocil. Nggak boleh ngelawan orang yang lebih tua."
"Hahaha.. Kak Hendrik sadar juga ternyata. Kalau Kak Hendrik udah tua. Haha.. Haha.." Tawa Zein menggelegar yang menghentikan perdebatannya dengan Hendrik. Hendrik terlihat sangat kesal dengan ejekan Zein. Sedangkan William dan Viola? Mereka hanya menjadi pendengar setia, sambil sesekali terkekeh dengan tingkah Zein.
.
🥀🥀🥀🥀🥀
Keesokan harinya, Viola pergi ke Apartemen milik Zein. Viola membuka pintu Apartemen. Dia melihat Dita yang masih tidur diatas Sofa depan tv. Viola menggoyang-goyangkan tubuh Dita dengan perlahan.
"Dita.. Dita.." Panggil Viola. Setelah mendengar panggilan Viola, Dita terbangun dan langsung memeluk Viola.
"Dit, Lo kenapa?" Tanya Viola dengan panik, karena tiba-tiba Dita menangis didalam pelukannya.
__ADS_1
"Gue takut, Vi. Tadi malam tiba-tiba ada yang datang kesini. Terus dia nanya soal Lo. Gue takut, kalau Lo bakal diapa-apain sama orang itu, Vi. Dan Lo juga nggak pulang semalaman. Hiks... hiks.." Ucap Dita sambil menangis.
Viola melepas pelukan Dita. "Dita. Maaf, gue nggak kasih kabar ke Lo. Soalnya gue lupa. Lo jangan nangis gitu dong. Lo kan udah lihat, kalau gue nggak pa-pa. Jadi, jangan nangis lagi." Ucap Viola sambil menghapus air mata dipipi Dita. Sedangkan Dita langsung mengangguk dan menuruti perkataan Viola.
"Oh iya. Dimana Zein?"
"Zein ikut Kak Will ke Mansion."
"Oh gitu. Lo nggak kerja, Vi?"
"Kerja kok. Ini gue mau bersih-bersih dulu, terus gue mau berangkat ke kantor."
"Kalau gitu, gue siapin sarapan buat Lo." Dita ingin beranjak dari tempat duduknya. Tetapi, dicegah oleh Viola.
"Nggak usah. Gue udah beli sarapan buat kita, tadi. Jadi Lo nggak usah masak."
"Oh gitu. Iya, udah."
Viola menatap Dita dengan serius. "Dita. Lo beneran belum siap buat keluar dari sini?"
"Nggak kok. Gue udah siap. Gue bakal hadapi semuanya. Kalau gue terus-terusan takut, secara tidak langsung gue mengaku kalah, Vi."
"Nah, itu baru sahabat gue. Jangan takut apapun. Gue selalu ada buat Lo."
Dita kembali memeluk Viola. "Terimakasih, Vi. Lo itu sahabat terbaik gue."
"Lo juga sahabat terbaik gue, Dit."
Dita melepas pelukannya. "Oh iya, Vi."
"Gue baru ingat. Kalau orang tua gue, memberikan semua asetnya ke gue. Kecuali Perusahaan yang Paman gue jalankan."
"Berarti, Paman Lo itu menjalankan Perusahaannya Bokap Lo?"
"Iya."
"Dan selama ini, Lo tinggal di rumah Lo sendiri? Bukannya itu rumah Paman Lo?"
"Bukan, Vi. Sebelum orang tua gue meninggal. Bokap gue kasih Perusahaannya ke Paman gue. Di surat wasiat juga tertulis, kalau Paman gue harus menjaga gue sampai gue menikah. Seperti layaknya tugas seorang Ayah. Tapi, setelah 3 tahun Paman dan Bibi gue tinggal di rumah gue. Mereka harus pindah ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Sampai 5 tahun disana, dia baru balik kesini."
"Kenapa Lo nggak pernah cerita ke gue?"
"Gue kan udah pernah cerita ke Lo. Gimana sikap Paman sama Bibi gue selama 3 tahun itu. Dia menganggap gue sebagai pembantu. Masa-masa indah saat SMA ku direnggut oleh mereka. Masa dimana, gue harusnya belajar dan mengenal dunia. Malah mereka renggut dengan pekerjaan rumah tangga. Bahkan, mereka memecat 5 pembantu di rumah gue agar gue bisa mereka siksa. Mereka menyiksa gue bahkan gue pernah dipukul dan dicambuk, kalau gue berbuat kesalahan." Air mata Dita tiba-tiba turun begitu saja.
Viola memeluk Dita. "Iya, Dit. Kalau soal itu, Lo udah pernah cerita ke gue. Maksud gue, kenapa Lo nggak pernah cerita soal rumah itu. Rumah itu kan atas nama Lo. Lo akan dengan mudah untuk mengambilnya."
"Gue takut kalau mereka akan balas dendam karena gue ambil rumah itu, Vi. Gue takut kalau mereka akan mencelakai Lo. Karena sekarang, gue hanya punya Lo di dunia ini."
Viola melepas pelukannya dan menatap mata Dita dengan penuh ketulusan. "Apapun risikonya. Rumah itu adalah hak Lo. Gue akan bantu buat urus semuanya. Lo nggak usah khawatir. Lo tenang aja. Gue akan baik-baik saja. Dan rumah Lo itu, akan kembali kepada pemiliknya."
"Terimakasih, Vi. Gue nggak tau lagi, harus bilang apa."
"Sama-sama. Iya, udah. Gue bersih-bersih dulu. Takutnya telat berangkat ke Kantor."
__ADS_1
"Iya, Vi."
.
🌟🌟🌟🌟🌟
Viola menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi menuju Kantor. Dia sangat terlambat saat ini. Untungnya, jalanan terbilang cukup sepi.
Namun, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menyalipnya dan menembakkan peluru ke spion mobil Viola. Dengan mendadak, Viola langsung mengerem mobilnya.
Viola keluar dari mobilnya dan mengecek kondisi spion mobilnya. "Siapa dia? Berani-beraninya serang gue dipagi hari kayak gini. Nggak tau apa, kalau gue lagi buru-buru."
Saat Viola ingin masuk ke mobilnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki bertopeng, mengunci pergerakannya dari belakang. Sambil menodongkan Katana ke leher Viola.
"LEPASIN GUE... SIAPA LO?" Viola mencoba untuk terus memberontak. Namun tenaga laki-laki bertopeng itu cukup kuat.
"Lo nggak perlu tau siapa gue."
Viola menendang perut laki-laki bertopeng itu dan membanting tubuhnya ke depan sambil merampas Katana yang dipegangnya tadi.
"Kesalahan Lo adalah, Lo berani serang gue dari belakang. Cih, Lo laki-laki apa bukan? Beraninya serang gue dari belakang." Cibir Viola sambil menodongkan Katana kearah laki-laki bertopeng itu yang tergeletak dijalan.
"KELUAR KALIAN. DAN SERANG DIA." Laki-laki bertopeng itu teriak. Dan muncullah 20 orang yang memakai topeng seperti dia.
"Wah, pagi-pagi bakal dapat vitamin nih. Untung firasat gue, suruh gue pakai celana. Emang iya, firasat seorang perempuan itu tidak pernah salah." Batin Viola.
Mereka semua, mulai menyerang Viola.
SREK..
BUGH..
BUGH..
SREK..
SREK..
PLAK..
BUGH...
SREK..
Tersisa laki-laki bertopeng tadi yang menodongkan Katana kearah Viola.
"AJALMU. SEMAKIN DEKAT." Teriak Viola yang langsung menyerang laki-laki bertopeng itu dengan bruntal.
BUGH..
BUGH..
BUGH..
__ADS_1
SREK..
"Aww..." Rintih Viola.