
~"Pertunangan gue sama Viola, diadakan seminggu lagi."
.
.
.
.
.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Setelah BBQ-an, Thalia dan Thalita tidak bisa tidur sama sekali. Karena ulah mereka sendiri yang mencampurkan obat pencuci perut dengan dosis yang tinggi diminuman yang mereka buat.
"Aduh, sial." Thalia memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Tubuhnya juga terasa lemas karena harus bergantian dengan Thalita, bolak-balik ke toilet.
"Semua ini gara-gara, Kakak." Ucap Thalita yang sudah tidak bisa bangun lagi dadi ranjang, karena sudah 20 kali dia bolak-balik ke toilet.
"Semua ini gara-gara bocah sialan itu. Kenapa bocah itu bisa lihat perbuatan kita." Ucap Thalia sambil menahan amarahnya.
"Gue kan udah bilang. Kita cari aman dulu kalau ada Zein. Kakak nggak nurut sih." Ucap Thalita dengan suara pelan.
"HIH, BICAH SIALAN." Bisa-bisanya, Thalia masih bisa membanting vas bunga yang ada di meja didekatnya. Padahal tubuhnya terasa sangat lemas.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Thalia dan Thalita.
Tok.. Tok.. Tok...
"MASUK." Teriak Thalia.
Ceklek.. Bibi Lina memasuki kamar Thalia dan Thalita. " Ya ampun, Non. Kok vas bunganya bisa pecah sih?" Tanya Bibi Lina yang kaget melihat vas bunganya telah menjadi berkeping-keping.
"Bacot banget sih. Mau ngapain?" Tanya Thalia.
"Non Thalia dan Thalita disuruh Tuan Muda ke bawah. Katanya ada hal penting yang Tuan Muda mau sampaikan." Ucap Bibi Lina.
"Oke. Tunggu 30 menit."
__ADS_1
.
πΊπΊπΊπΊπΊ
William, Viola, Hendrik, Dita, Thalia dan Thalita sekarang duduk di ruang tengah lantai dua. Sedangkan Zein? Zein sedang bermain bersama Bibi Lina di Taman Belakang.
"PERTUNANGAN GUE SAMA VIOLA, DIADAKAN SEMINGGU LAGI." Ucap William dengan singkat, tegas dan terkesan cuek.
"WHAT?" Ucap Viola dan Thalia berbarengan. Seketika itu, semua pandangan malah tertuju ke Thalia.
"Mampus Lo Cabe." Batin Hendrik.
"Uwih, kayaknya udah ngebet banget pengin cepat-cepat nikah." Ledek Hendrik.
"Malah bagus kali. Kalau mereka cepat nikah." Ucap Dita.
"Kak Will nggak bohong kan? Seminggu lagi itu waktu yang singkat loh." Ucap Viola sambil menatap William yang masih memasang muka datarnya.
"Aku nggak suka kalau dibantah." Ucap William.
"William, apa Lo udah bilang ke Om sama Tante? Gimana kalau mereka nggak setuju?" Tanya Thalia yang berusaha mengontrol emosinya.
"Yang nggak setuju Lo, apa Papa Satria sama Momy Zaskia? Mereka pasti dukung banget keputusan William. Lo nggak tau aja, gimana sikap orang tua William selama ini ke Viola. Dan iya, kalau pun mereka nggak setuju dengan pertunangan Viola dan William. Pasti William nggak akan Sudi jika berhubungan sama Cabe kayak Lo." Ucap Hendrik yang perkataannya langsung menusuk ke hati bahkan sampai tulang-tulangnya Thalia.
Tiba-tiba, William langsung menelpon Momy Zaskia.
Call On.
"Acara pertunanganku sama Viola diadakan Minggu depan." Ucap William dengan wajah datarnya.
"WAH, BENARKAH? MOMY SAMA PAPA HARUS CEPAT PULANG NIH. BIAR BISA SIAPIN SEMUANYA. SEMINGGU LAGI KAN WAKTUNYA NGGAK LAMA. MOMY LANGSUNG PULANG BESOK, BUAT SIAPIN SEMUANYA. MAKASIH KABAR BAIKNYA, SAYANG. LOVE YOU." Momy Zaskia terdengar sangat girang dengan kabar yang diberikan William.
Call Off.
Thalia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, sampai kuku panjangnya melukai telapak tangannya. Tapi, dia tidak merasakan sakit sama sekali. Malah Thalita yang berusaha melepaskan kepalan tangan Thalia dengan hati-hati.
"Gimana? Udah dengar sendiri kan. Kalau Momy Zaskia udah setuju. Dan Lo jangan berharap lagi ke William." Ucap Hendrik sambil menunjuk-nunjuk kearah Thalia.
"Sial. Nggak boleh ada seorang pun yang rebut William dari gue. Gue nggak akan tinggal diam." Batin Thalia.
__ADS_1
Thalia dan Thalita langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mereka.
"Wah gila Lo. Udah gangguin cabe-cabean." Ledek Viola.
"Biarin, kalau gue kepedesan masih ada Dita yang mau ambilin air buat gue. Iya nggak Dit?" Hendrik merangkul leher Dita. Namun, seketika itu Dita menghempaskan tangan Hendrik dengan kasar.
"Gue bukan babu Lo. Paham!" Ucap Dita dengan mata melotot kearah Hendrik.
"Kak Will, gimana kalau Hendrik sama Dita sekalian tunangan Minggu depan?" Canda Viola.
"Bukan ide yang buruk." Ucap William dengan mengacak-acak rambut Viola.
"OGAH, AMIT-AMIT." Ucap Dita yang langsung pergi dan berlari.menuju lantai bawah.
"Udah, kejar sana." Ucap William yang langsung diangguki dan dilaksanakan oleh Hendrik.
Sekarang tinggal William dan Viola yang tersisa. "Kak Will serius? Mau nikah sama aku?" Tanya Viola dengan ragu.
William menatap lekat mata Viola. "Apakah dimataku ada kebohongan?" Tanya William.
Viola langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku serius, Sayang. Malah dua rius lagi. Aku ingin, menjadikanmu sebagai ratuku. Aku ingin selalu bersamamu selamanya. Bahkan maut tidak bisa memisahkan kita." Ucap William dengan sangat serius. Sedangkan Viola hanya tertegun dengan ucapan dan tatapan mata William. Hingga, Viola kesuliymenelan ludahnya sendiri karena saking gugupnya.
William memegang pipi kanan Viola. "Kamu itu milikku selamanya. Tidak ada yang bisa mengambil kamu dari pelukanku." Ucap William sambil menarik Viola ke dalam pelukannya. Viola hanya pasrah dengan perbuatan William. Dia juga sangat bahagia dengan perkataan William, senyuman merekah tergambar jelas dibibir mungil Viola.
.
π₯π₯π₯π₯π₯
Di kamar Thalia dan Thalita. Thalia menghancurkan semua barang-barang yang ada di kamarnya. Dia meluapkan emosinya dengan membanting Gucci, Vas bunga dan melempar semua kosmetik, parfum dan semua hiasan yang ada di meja. Sedangkan Thalita, hanya duduk santai diatas Sofa. Karena dia tau, kalau Thalia sedang marah, tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikannya kecuali dia merasa lelah. Kalau Thalia merasa lelah, dia hanya akan menangis dan terdiam.
"SIAL. GUE NGGAK TERIMA. AAARRGGGHHH...." Thalia membuat kamarnya seperti kapal pecah. Karena serpihan-serpihan kaca dimana-mana. Semua produk skincare dan kosmetik yang Thalia dan Thalita punya, berserakan dilantai. Bahkan berbagai senjata yang dia bawa, semuanya berceceran dilantai.
Baju dna rambut Thalia sudah mulai acak-acakan. Setelah itu, matanya tertuju pada Pisau kecil yang sangat runcing dan tajam. Dia pun mengambilnya. "Gue akan membunuh Lo sekarang juga." Ucap Thalia seperti orang yang frustasi.
Thalita mengambil paksa pisau yang dipegang Thalia. "KAK, SADAR. TUJUAN AWAL KITA TINGGAL DISINI ITU UNTUK APA. LO MASIH PUNYA BANYAK WAKTU BUAT HABISIN VIOLA. TAPI BUKAN SEKARANG WAKTUNYA. LO MAU? SEMUA PENGORBANAN KITA INI SIA-SIA?" Ucap Thalita dengan menggebu-gebu. Namun, dia langsung keluar dari kamar dan mengunci Thalia. Agar Thalia tidak bisa kemana-mana sebelum dia tenang.
"Sementara gue kurang dia dulu. Sekarang, gue ke Taman depan aja deh. Sambil nunggu dia tenang." Ucap Thalita sambil berjalan ke Taman depan.
Sesampainya Thalita di Taman depan, sudut matanya langsung menangkap bayangan seseorang yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
__ADS_1
"Bukannya di Mansion ini dijaga dengan ketat, iya? Mustahil, kalau ada penyusup disini." Batin Thalita.
Seseorang yang Thalita lihat tadi, langsung menodongkan Katana dileher Thalita.